Blooming Life

Blooming Life
O11. Bantuan



Jam menunjukkan pukul delapan malam saat Bintang terbangun karena mendengar dering telepon. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Bintang langsung mengangkat panggilan tersebut lalu menempelkan ponsel ke telinga. Kesadarannya masih belum benar-benar pulih saat bertanya, "Halo, ini siapa?"


Sang penelepon menyebutkan namanya, lalu Bintang baru tersadar bahwa orang itu tidak ada di daftar kontaknya. "Iya, ada apa telepon jam segini?"


Bintang mengucek mata kirinya dengan jari telunjuk saat mendengarkan penjelasan dari lawan bicaranya. "Iya, terus?" Bintang mengerutkan dahi, sesaat kemudian dia mengubah posisi tidurannya menjadi duduk. Matanya kini terbuka lebar. "Serus? Lo yakin mau bantuin? Apa pun itu?"


Sebuah senyum tipis menghiasi wajah Bintang. "Okay, gue jamin identitas lo bakal gue rahasiain dari yang lain. Ya ... ya, cuma gue yang tau. Okay, gue kasih tau detailnya nanti."


。゚☆☽☆゚


"Lan, mending lo jauhin temen lo yang cowok itu. Dari pada kena marah terus sama Tante Reva," ucap Chan saat Bulan baru saja memasuki mobilnya. Bulan seketika memutar bola mata malas. Biar Bulan tebak, paginya akan jadi menyebalkan.


"Apa urusan lo?" tanya Bulan malas. "Lo aja bisa gonta ganti pacar. Nyuruh gue pura-pura jadi sepupu lo. Tapi gue temenan deket sama cowok aja gak boleh."


Chan menahan kakinya yang sudah hampir menginjak gas. "Karena gue sama lo beda, Lan. Lo--"


"Gue cewek dan lo cowok?" Bulan menatap sengit pada Chan. Kemudian yang ditatap menghela napas berat. "Atau karena lo anak atasan Mama?


"Bukan itu maksud gue ... udah, lah. Pokoknya bukan cuma Tante Reva yang gak suka lo deket-deket sama cowok lain. Gue juga gak suka. Lo tau, kita makin sering berantem akhir-akhir ini." Chan mulai menjalankan mobilnya.


"Turunin gue di sini," ucap Bulan tiba-tiba setelah diam selama bermenit-menit.


Chan hanya memelankan mobilnya untuk dapat menatap Bulan yang sudah menatapnya dengan ekspresi datar. Dahi Chan berkerut bingung. "Apa lagi salah gue?"


"Apa lagi?" Bulan tertawa sesaat, kemudian kembali menatap Chan dengan datar. "Gue capek sama lo. Gue capek gak pernah lo akui bahkan lo suruh pura-pura jadi sepupu lo."


Hari ini Chan sedang ingin menahan dirinya. Dia ada kuis yang cukup penting pagi ini. "Tahan sampai kita pulang, Lan. Kita bahas lagi setelah pulang, gue hari ini ada kuis. Gue mohon ...."


Entah apa yang merasuki Chan pagi ini, dia memberikan tatapan memohon pada Bulan. Tidak seperti Chan yang biasanya akan benar-benar menurunkan Bulan saat gadis itu minta. Bulan pun diam setelah itu. Dia bahkan keluar dari mobil begitu saja setelah sampai halte bus dekat sekolahnya.


Tanpa semangat, Bulan melewati gerbang sekolahnya yang sudah mulai ramai hingga tanpa sadar nyaris melewati Dika begitu saja jika seandainya lelaki itu tidak memanggilnya.


"Bulan," sapa Dika sembari tersenyum tipis. Bulan menghentikan langkah saat melihat Dika berjalam ringan ke arahnya.


Bulan balas tersenyum dan melambaikan tangan singkat. "Ada apa?" tanya Bulan.


Dika sedikit mendekatkan wajah ke telinga Bulan. "Bintang udah dapat orangnya," bisik Dika kemudian kembali menegakkan tubuh.


Bulan langsung menatap Dika dengan senyum merekah. Ekspresi Bulan langsung berubah 180 derajat dari sebelumnya. "Beneran? Secepat itu?"


"Iya," jawab Dika yakin. "Semalem dia bilang di grup chat terus dia bilang kalau ketemu lo suruh nyampein dia udah dapat orangnya terus nanti pulang sekolah ketemu di tempat biasa."


"Kenapa gak bilang sendiri coba," gumam Bulan yang masih terdengar oleh Dika.


"Bukannya lo gak tukeran kontak sama siapa pun diantara kita bertiga?" Mendengar pertanyaan Dika, Bulan langsung tersenyum kikuk lalu menggelengkan kepala.


Bulan segera mengeluarkan ponsel dari tasnya. "Gue tukeran kontak sama lo aja, ya. Males sama Bintang."


Dika geleng-geleng kepala sembari tersenyum. "Bintang gak seburuk itu tau, Lan," bela Dika tetapi tetap menerima ponsel Bulan.


"Dasar. Pokoknya jangan lupa nanti pulang sekolah." Dika menyodorkan kembali ponsel Bulan pada pemiliknya setelah memasukkan kontaknya ke daftar kontak di ponsel Bulan.


"Okay," jawab Bulan lalu melanjutkan berjalan menuju kelasnya dengan suasana hati lebih baik.


。゚☆☽☆゚


"Kenapa dia gak datang aja langsung ke sini?" tanya Farrel saat Bulan baru saja memasuki basecamp tempat Bintang dan kawan-kawannya berkumpul.


Fokus semua orang untuk sesaat teralih kepada Bulan yang langsung mengambil tempat duduk di sofa panjang, di samping Bintang tepatnya. Dika duduk di sebuah kursi biasa yang terletak tepat di samping pintu masuk. Farrel duduk di atas single sofa dengan kaki terangkat ke atas meja.


"Siapa yang langsung ke sini?" tanya Bulan penasaran dengan maksud Farrel.


"Lo tau kalau kita udah dapatin umpan?" tanya Bintang.


Bulan mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, gue tau tapi ... hina banget kayaknya dia lo panggil umpan," protes Bulan dengan tanpa sadar sedikit mengerucutkan bibirnya.


Sebenarnya sebelum Bulan datang, Bintang sedikit emosi karena Farrel bersikeras untuk mengetahui identitas orang yang akan membantu mereka. Akan tetapi, sekarang Bintang sedang berusaha mengulum senyum karena ekspresi Bulan dan protes gadis itu. Bintang diam sesaat untuk meredam senyumnya.


"Okay, kita sebut aja dia Relawan," putus Bintang. Tidak ada yang membantah. Bintang kembali melanjutkan penjelasannya. "Jadi si Relawan ini gak mau diketahui identitasnya. Dia pengen cuma gue yang tau identitas dia. Bahkan kalian nggak boleh tahu. Tapi Farrel pengen Relawan ngasih tau identitasnya dan gue gak setuju--"


"Dia terlalu mencurigakan, Tang," sela Farrel. "Lagian gimana jelasin rencananya kalau dia gak datang ke sini?"


Bintang kembali menatap Farrel. "Makanya dengerin gue dulu."


Farrel menurunkan kakinya kemudian melipat kedua tangan di depan dada dengan posisi tubuh yang duduk bersandar pada sofa, lalu balas menatap Bintang. "Oke, gue dengerin." Dika dan Bulan hanya menyaksikan kedua orang itu bersitegang.


"Kita bakal komunikasi sama dia lewat telepon selama diskusi dan dia bakal nyamarin suaranya. Itu yang dia bilang sama gue."


Bulan menghela napas. "Apa gak mau cari orang lain aja yang gak perlu seribet ini?" Gadis itu juga menampakkan kecurigaannya.


"Waktu kita tinggal tiga hari lagi, Lan. Kayaknya bakal susah," ucap Dika yang mulai angkat bicara setelah diam sejak tadi.


Bintang mengangguk setuju. "Bener apa yang dibilang Farrel. Tinggal tiga hari lagi, kita mau nyari relawan lain di mana? Gue bisa aja bayar orang tapi kalau orang itu aja bisa gue bayar maka dia juga bisa dibayar sama orang lain dan itu terlalu beresiko."


"Jadi menurut lo Relawan ini gak beresiko?" tanya Bulan. "Dengan dia yang minta identitasnya dirahasiain apa lo gak curiga? Selain itu kenapa dia mau bantuin kita?"


"Itu dia, alasan dia bantuin kita yang juga menguntungkan kita." Bintang menatap satu persatu temannya yang ada di ruangan tersebut. "Dia salah satu korbannya Brian dia pengen lepas dari si brengsek itu makanya dia bantuin kita. Selain itu dia juga udah punya ikatan sama Brian jadi kemungkinannnya kecil Brian bakal curiga dan rencana juga akan jadi lebih mudah dijalanin."


Dika mengangguk-angguk setuju. "Masuk akal," ucapnya.


Bulan berpikir sejenak sampai dia menyetujui ucapan Bintang. "Oke."


Kemudian Bintang, Bulan, dan Dika kini beralih menatap Farrel yang belum memberikan suara. Lelaki itu menghela napas. "Meskipun gue masih punya firasat buruk tapi ... oke, gue setuju." Farrel tersenyum pada ketiga temannya.


"Sip! Gue telepon dia sekarang." Bintang langsung mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi si Relawan. Pada dering ke empat terdengar bunyi yang menandakan panggilan Bintang diterima.


"Halo."