Blooming Life

Blooming Life
O18. Perasaan



"Maaf karena saya memutuskan untuk tidak dapat melanjutkan hubungan kedua anak kita. Tetapi saya berjanji akan membantu Bulan dan memastikan pelakunya tertangkap lalu dihakimi dengan adil sesuai hukum." Andreas--ayah dari Chan-- datang ke rumah Bulan setelah perempuan itu keluar dari rumah sakit.


Mendengar kabar tersebut, untuk sesaat Bulan merasa lega. Akan tetapi setelah beralih menatap ekspresi kecewa Revallia, kelegaan Bulan lenyap seketika. "Kami benar-benar minta maaf, Revallia. Kamu bisa tetap bekerja seperti biasa di kantor, tidak ada yang berubah. Hanya saja anak-anak kita tidak bisa bersama. Selain membantu menangkap pelaku, saya juga akan membantu Bulan mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri seperti yang selalu dia inginkan. Jadi kamu tidak perlu khawatir."


///———


2 Bulan Kemudian


"Akhirnya besok kelulusan!" pekik Farrel dengan senang. Sedangkan Bintang dan Dika tampak berkebalikan dengan Farrel, mereka berdua tampak nelangsa dan enggan menghadapi kelulusan yang tinggal besok.


"Males banget gue, masih pengen seneng-seneng. Tapi kayaknya habis ini udah harus hidup serius," ucap Bintang yang memikirkan bahwa setelah ini dia harus berkuliah di jurusan ekonomi dan mulai membantu urusan perusahaan orang tuanya.


"Heem, emang udah waktunya. Udah delapan belas tahun juga hidup kita isinya main-main mulu, Tang." Dika pun nasibnya sama seperti Bintang.


Bulan hanya tersenyum menatap tingkah laku ketiga sahabatnya. Ya, akhirnya Bulan mengakui mereka sebagai sahabat. Bukan lagi para pembuat onar tetapi sahabatnya, yang melindungi dan menemani saat dia berada di bawah. Bahkan Bulan tidak menyalahkan mereka setelah kejadian itu karena jika tanpa diselamatkan Bintang hari itu, mungkin sudah dari lama Bulan menjadi korban dari Brian. Dan jika saat itu Bulan menjadi korban Brian, hal itu akan terus berlanjut sampai saat ini tanpa Bulan dapat melaporkannya pada siapa pun. Bulan juga mungkin masih harus terikat dengan Chan.


"Nah, sadar udah delapan belas tahun, tuh. Udahan main-mainnya," timpal Bulan.


"Gak kerasa ternyata gue udah hidup selama itu." Farrel tersenyum sekilas. "Ngomong-ngomong, lo mau lanjut ke mana, Lan?"


"Iya, juga. Lo yang paling gak pernah cerita sama kita, lo mau ke mana habis ini?"


Bulan tersenyum sembari menatap satu persatu sahabatnya. "Gue ... kemarin dapat pemberitahuan kalau gue lolos seleksi beasiswa ke Amerika." Bulan pun tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum lebar. Sedangkan Bintang, Dika, dan Farrel menunjukkan keterkejutan dengan cara mereka sendiri-sendiri.


"Woah." Bintang yang paling tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan senyumannya.


Kemudian satu persatu dari Bintang, Dika, dan Farrel mengucapkan selamat kepada Bulan. Setelah itu mereka pun menghabiskan sore hari mereka di rooftop sekolah, sore terakhir sebagai anak SMA. Kemudian begitu matahari terbenam, mereka turun dari rooftop untuk pulang ke rumah dan bersiap untuk acara kelulusan besok. Seperti biasa, sudah menjadi seperti rutinitas selama tiga bulan terakhir bagi Bintang untuk mengantar Bulan pulang--terkadang juga menjemput Bulan untuk berangkat ke sekolah.


"Lo habis ini mau ke mana, Tang? Masih jurusan ekonomi?" tanya Bulan saat mereka berada di dalam mobil.


Bintang menganggukkan kepala. "Tapi di mananya gue belum tau, sih. Kayaknya bakal bareng sama Dika." Lelaki itu pun terkekeh.


"Bagus, dong. Ada temennya. Berarti tinggal Farrel, ya. Dia kayaknya masih bingung mau ke mana." Bulan mengingat Farrel yang sebulan terakhir selalu mengeluh kebingungan untuk melanjutkan ke mana.


"Iya. Padahal dengan prestasinya, dia tinggal milih mau ke mana. Tapi justru karena itu dia malah bingung." Bulan mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengar ucapan Bintang. "Gue gak nyangka lo beneran bakal kuliah ke luar negeri, Lan. Yah ... gue bakal kangen antar jemput lo, Lan."


Bulan tersenyum. "Ya nanti kalau gue mau berangkat, lo bisa antar gue ke bandara," gurau Bulan yang setengahnya juga serius.


Bintang menatap Bulan sekilas lalu kembali fokus ke jalan. "Emang nggak diantar Tante Revallia? Dia masih diemin lo, ya?" tanya Bintang spontan.


Bulan memainkan jari-jari tangannya sendiri. "Ya ... gitu, deh. Nggak diemin banget. Cuma masih cuek dan ngomong juga seperlunya. Gue gak yakin dia mau antar gue waktu berangkat nanti."


"Eh, Lan," panggil Bintang yang menghentikan gerakan tangan Bulan saat akan membuka pintu mobil. Bulan kembali duduk dan menatap Bintang. "Besok pagi sebelum acara kelulusan lo ada acara?"


Bulan berpikir sejenak. "Kalau pagi sekitar jam delapan gue ada janji sama psikiater. Terus sekitar jam sebelas, kata Mama gue harus ke salon."


"Oh, iya. Ada konsultasi, ya. Lo ke psikiater sendiri?"


Bulan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, biasanya juga sendiri. Kenapa?"


Bintang menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Mau gue antar?" tanya Bintang yang sepertinya lelaki itu selalu punya waktu luang jika untuk mengantarkan Bulan.


Setelah mendengar tawaran Bintang, Bulan pun melebarkan senyumnya. "Dengan senang hati," terima Bulan sembari menatap Bintang tepat ke dalam matanya.


"Oke, besok gue jemput sebelum jam delapan." Setelah itu Bulan keluar dari mobil Bintang. Bulan juga masih sempat melambai-lambaikan tangannya saat mobil Bintang mulai melaju pergi meninggalkan rumah Bulan.


。゚☆☽☆゚


Keesokan paginya, Bintang menjemput Bulan pukul setengah delapan. Setelah itu dengan sabar Bintang menunggu Bulan sampai pukul setengah sepuluh. Melihat Bintang yang akhir-akhir ini semakin perhatian dengan Bulan, rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perut perempuan itu. Bulan juga semakin tidak bisa memalingkan pandangannya dari Bintang. Bulan pun tau dengan pasti apa yang saat ini tengah dia rasakan.


Setelah semua hal yang sudah dan sedang terjadi sempat-sempatnya dia jatuh cinta, terkadang Bulan ingin menertawakan dirinya sendiri karena hal tersebut. Akan tetapi, di sisi lain Bulan juga menikmati perasaan itu dan berniat untuk terus menikmatinya. Hanya menikmatinya, membiarkan dirinya jatuh cinta pada Bintang. Hanya sampai sana, tidak perlu Bintang membalas perasaan itu, tidak perlu Bintang mengetahui perasaan itu. Karena sekarang masih ada lebih banyak hal lain yang perlu Bulan urus terutama menyangkut masa depannya. Sayangnya, niat Bulan untuk menyimpan perasaan itu untuk dirinya sendiri gagal.


Bintang mengajak Bulan makan es krim seusai Bulan menemui psikiaternya. "Lan, bikin instagram, dong," usul Bintang disela-sela mereka berdua yang sedang menikmati es krim.


Bulan menaikkan kedua alisnya lalu menyendokkan sepucuk es krim ke dalam mulut sebelum kemudian bertanya, "Kenapa?"


"Kalau lo udah kuliah di luar negeri terus lama gak ketemu, nanti kalau gue lupa sama wajah lo gimana?" Bintang mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang merajuk. Untuk pertama kalinya Bulan melihat ekspresi Bintang seperti itu yang membuatnya tertawa seketika.


"Apa, sih, Tang? Pakai manyun-manyun segala lagi, kayak anak kecil aja ... Gue tuh lebih nyaman hidup tanpa media sosial. Lagian emang yakin lo bakal lupa sama wajah dan senyum gue yang manis ini?" Bulan menunjukkan senyum lebarnya kepada Bintang. Lesung pipit perempuan itu benar-benar manis hingga nyaris membuat Bintang tenggelam ketika memandangi Bulan.


Bintang terkekeh. "Yah, gimana gue bisa lupa kalau gula sekarung aja kalah manis sama senyuman lo, Lan."


Bulan mendengus. "Gombal, jijik." Sembari sedikit memanyunkan bibir, Bulan kembali memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutnya.


Lagi, Bintang terkekeh. "Nggak apa-apa. Gue gombalnya sama lo doang." Bulan membalas ucapan Bintang dengan memicingkan mata lalu tersenyum. Setelah itu Bintang hanya menatap Bulan yang sedang menikmati es krimnya. Sedangkan yang ditatap tau betul bahwa ada sepasang mata yang mengawasinya dengan lekat dan hal itu sukses membuat jantungnya berdegup dengan kencang.


Setelah cukup hanya menatap Bulan, Bintang menarik kedua tangan Bulan. Mengambil gelas dan sendok es krim dari tangan perempuan itu dengan lembut. Kemudian Bintang menggenggam kedua tangan Bulan dengan kedua tangannya yang sedikit lebih besar sehingga tangan Bulan terasa begitu pas di dalam genggamannya. Bulan yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam, dia bingung harus merespon bagaimana. Ada sebuah firasat dan pemikiran yang terbersit dalam diri Bulan, entah harus dia sebut itu firasat baik atau buruk.


Bintang menatap Bulan tepat ke dalam matanya, membuat dua pasang bola mata cokelat gelap itu saling memikat satu sama lain.


"Gue suka sama lo, Lan ... Bukan, bukan suka lagi." Bintang mengoreksi kalimatnya. "Gue jatuh cinta sama lo, Bulan."