Blooming Life

Blooming Life
O17. Hutang Budi



Setelah meninggalkan rumah sakit tempat Bulan dirawat, Bintang tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia menemui Farrel dan Dika di depan kantor polisi. Selin berhasil ditangkap akan tetapi tidak dengan Brian. "Gue yakin Brian pasti sembunyi di suatu tempat sampai keadaan tenang dan yang pasti ada yang lindungin dia ... kaya dulu."


Setelah mendengarkan ucapan Dika tersebut, Bintang langsung meninggalkan kantor polisi tanpa berkata apa pun. Lelaki itu memacu mobilnya menuju rumah. Saat langit mulai bercahaya, Bintang memarkirkan mobilnya di depan rumah. Dia masuk rumah dan langsung menuju kamar papanya, tetapi tidak ada orang di sana. Kemudian Bintang menuju ruang kerja sang papa, tetapi di sana juga tidak ada. Yang ada hanya catatan yang ditinggalkan sang papa, lalu Bintang baru teringat bahwa papanya ada perjalanan bisnis sejak tiga hari lalu dan kemungkinan baru akan sampai rumah pagi nanti.


Dengan tubuh yang sudah lemas, Bintang pergi ke kamarnya lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Lelaki itu menatap langit-langit kamar sembari merenungi perbuatannya. Berandai-andai jika saja dia tidak mencoba menjalankan rencana apa pun. Jika saja dia tidak berusah menyembunyikan identitas Ein sampai akhir. Pikirannya kacau, akan tetapi tubuhnya lebih lelah. Matanya terasa berat dan perlahan mulai terpejam.


Rasanya baru sebentar dia terpejam, ternyata sudah nyaris lima jam Bintang tertidur lelap begitu saja. Lelaki itu bangun dengan sedikit panik. Lalu ketika tersadar dari tidurnya, Bintang langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hanya butuh tiga puluh menit bagi lelaki itu mandi lalu merasa lebih segar. Setelah itu dia turun ke lantai satu rumahnya, menuju dapur. Saat itulah dia mendapati papanya sudah pulang dan sedang makan siang dengan sup.


David—papa Bintang—baru saja menyelesaikan makan siang sekaligus sarapannya saat Bintang duduk di samping pria itu dengan membawa dua buah roti panggang yang disatukan dengan selai nanas favoritnya. Bintang menghabiskan makanannya di meja bar sembari terdiam, dia kebingungan untuk memulai pembicaraan dengan papanya. Selalu terasa canggung bagi Bintang untuk berbicara dengan pria yang jarang di rumah itu. Sedangkan David tetap mengecek email di ipad-nya meskipun sadar bahwa Bintang terus menatap ke arahnya dan tampak ingin membicarakan suatu hal.


"Papa pasti sudah mendengar beritanya, kan?" tanya Bintang tanpa repot-repot menatap David. Akhirnya Bintang buka suara setelah menyelesaikan makannya.


David langsung menghentikan aktivitasnya pada ipad. Ketika tadi pagi pertama kali mendengar berita tentang Brian dari sekretarisnya, David langsung tahu bahwa cepat atau lambat putranya akan mengungkit hal tersebut lagi. David memejamkan mata sejenak lalu menatap lurus ke depan. "Iya, tadi pagi Papa udah dengar dari Eddy ... Bintang, apa kamu nggak bisa bersikap seolah nggak tau apa pun tentang Brian?"


Seketika Bintang menatap Papanya dengan tatapan kesal. Dia mengeratkan giginya. "Kenapa? Kenapa Papa selalu minta Bintang buat diam sama kelakuan dia. Sebenernya Papa sama Brian punya hutang budi apa? Apa Papa segitu cintanya sama uang sampai hati nurani Papa ikut dijual?"


David diam sejenak, dia meletakkan ipad yang dia pegang dan melepaskan kaca mata yang sejak tadi sudah bertengger di wajahnya. Kemudian pria itu menatap putranya dengan tatapan menyesal. "Iya ... Papa punya hutang dengan dia."


Bintang mengerutkan dahinya. Meskipun dia bertanya tentang apakah papanya memiliki hutang kepada Brian tetapi Bintang tidak menyangka bahwa jawaban itu akan keluar dari mulut David. "Papa berhutang nyawa kepada, Brian. Papa bisa hidup sampai sekarang berkat dia, kamu bisa lihat Papa hidup sampai sekarang karena dia, jadi tolong lepaskan dia, Bintang. Hanya kali ini. Jika lain kali dia masih tertangkap berbuat seperti itu, Papa akan membiarkanmu mengejarnya sampai mati," lanjut David.


David pikir, Bintang akan berhenti dengan penjelasannya itu. Akan tetapi, Bintang justru memalingkan wajah dengan muak, "Itu juga yang Papa bilang dua tahun lalu. Bahkan setelah Lucy meninggal seperti itu."


"Lucy depresi setelah dilecehkan, Pa. Dia dilecehkan! Jangan lupakan itu." Bintang berbicara dengan menekankan setiap katanya. Bintang mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lelaki itu kembali menatap David dengan sengit. "Dan Papa masih mau melindungi kriminal seperti dia?"


"Bukankah tadi sudah Papa bilang jika Papa berhutang nyawa pada Brian?! Dia yang mendonorkan ginjal pada Papa saat Papamu ini sekarat, Bintang!" David mulai meninggikan nada suaranya.


Tentu saja, Bintang tidak akan tetap berbicara dengan tenang saat David sudah mulai meninggikan suaranya. "Apa Papa akan membayar hutang seumur hidup dengan melindungi kriminal seperti itu? Brengsek, dia brengsek, Pa. Aku yakin dia juga akan memberikan harga mahal untuk sebelah ginjalnya dan Papa juga pasti membayarnya, bukan? Jadi aku rasa setelah semua uang itu, Papa gak perlu berhutang budi lagi!"


David mulai menampilkan ekspresi kesalnya. "Papa bukan sekedar berhutang ginjal, Bintang! Tetapi Papa berhutang nyawa, hutang budi!"


"Tapi membayar hutang budi tidak harus dengan cara seperti itu, Pa! Dia kriminal dan tetap kriminal seberapa kali pun dia pernah menyelamatkan nyawa Papa." Kini mereka berdua saling menatap dengan sengit. "Jika Papa terus begini, Papa tidak ada bedanya dengan kriminal!"


Plak! David secara refleks menampar pipi kiri Bintang. Yang ditampar dengan yang menampar pun sama-sama terkejut setelahnya. David menatap tangan kanan dan putranya secara bergantian dengan tidak percaya bahwa dia telah menampar putranya sendiri. Sedangkan Bintang teramat kecewa dengan tindakan Papanya sehingga lelaki itu hanya bisa terdiam.


Di tengah keterdiaman yang menegangkan di antara David dan Bintang, ponsel Bintang bergetar di saku celananya. Nama Dika tertera di sana. Setelah menggeser ikon berwarna hijau, Bintang menempelkan ponselnya pada telinga. "Ada apa?"


Setelah mendengar sebuah kalimat dari Dika, Bintang langsung mematikan teleponnya. Lalu bergegas menuju mobil tanpa menghiraukan Papanya lagi yang masih terkejut. Bintang melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Lelaki itu dilanda kepanikan setelah apa yang diucapkan Dika di telepon. "Tadi Bulan telepon gue, dia gak bilang apa dan cuma nangis." Begitu ucapan Dika yang tidak di dengarkan Bintang sampai selesai.


Setelah sampai rumah sakit dan memarkirkan mobilnya, Bintang berlari menuju kamar tempat Bulan dirawat. Begitu sampai di sana, Bintang melihat Bulan tengah terduduk di lantai menangis sesenggukan. Di samping Bulan, berdiri tegak sebuah tiang infus yang selang infusnya sudah tidak lagi terpasang pada lengan Bulan. Dapat di tebak bahwa benda tersebut telah dilepaskan secara paksa.


Bintang pun ikut mendudukkan diri di lantai secara perlahan, kemudian memeluk Bulan dengan erat. Digunakannya tangan kanan oleh Bintang untuk menepum-nepuk pelan punggung Bulan. "Mereka ... m--mereka semua per ... gi."