Blooming Life

Blooming Life
OO1. Bulan dan Bintang



──────── ・ 。゚☆☽☆゚. ────────


"Ngomong-ngomong nama kita sepasang loh. Yang punya nama apa nggak mau sekalian jadi pasangan?" —Bintang


──────── ・ 。゚☆☽☆゚. ────────


Ponsel Bintang berdering beberapa kali. Sembari berjalan menuju gerbang sekolah, Bulan mengangkat panggilan dari kontak yang dia namai "Mamma" dengan tambahan emotikon hati di belakannya. Begitu Bulan menggeser ikon berwarna hijau, seseorang diseberang sana langsung mengintrogasi Bulan dengan topik apakah Bulan bersama Chan atau tidak.


"Iya, Ma. Ini Bulan pulang sama Chan, Kok. Ini udah dijemput ... Iya, tenang--bukti?!" Tanpa sadar Bulan meninggikan suara pada kata terakhirnya. Dia pun panik lalu dengan asal menyambar tangan seorang lelaki yang baru saja dia lewati. Bulan menggenggam tangan lelaki tersebut untuk difoto lalu mengirimkan hasil fotonya kepada sang mama. Meminta maaf kepada pemilik tangan bisa nanti, yang terpenting sekarang kirim bukti dulu daripada kena omel dan urusannya jadi panjang. Bulan tidak ingin Chan--tunangannya yang playboy itu mendapat celah untuk membuat cerita yang tidak-tidak tentang Bulan.


"Sudah Bulan kirim ya, Ma." Kemudian sambungan telepon berakhir dan Bulan berniat untuk meminta maaf kepada sang pemilik tangan yang masih dia gandeng. Akan tetapi sebelum Bulan sempat mengangkat kepalanya, lelaki itu sudah berbicara terlebih dahulu.


"Gue tau gue ganteng, populer, banyak yang suka gue, banyak yang haluin gue jadi pacarnya. Tapi kalau lo mau ngehalu jadi pacar gue di depan nyokap lo, seenggaknya bilang dulu, dong."


"Bintang?" Bulan terkejut lalu segera melepaskan genggamannya dari tangan Bintang tetapi lelaki itu berbalik menggenggam tangan Bulan. Secara bergantian, Bulan menatap Bintang yang sedang mengangkat alisnya dan tengannya yang berbalik digenggam Bintang dengan kuat.


"Maaf ... jangan salah paham, gue bisa jelasin. Tapi pertama-tama gue minta maaf dulu." Bulan tampak panik karena yang dia hadapi adalah Bintang. Mungkin jika dia adalah orang lain, maka akan lebih mudah diatasi. Akan tetapi, ini Bintang si biang onar sekolah. Trouble maker yang berada di daftar paling atas guru konseling sebagai pembuat masalah dan juga berada paling atas pada daftar orang yang harus dihindari Bulan.


"Jadi ...?" Bintang masih menunggu penjelasan Bulan.


"Jadi tadi nyokap gue minta foto gue sama tunangan gue--"


"Wahh," Bintang memotong ucapan Bulan dengan sengaja. Berniat menggoda gadis itu. "Lo ... wah gue nggak habis pikir. Lo bukan cuma haluin gue sebagai pacar tapi juga sebagai tuanangan?"


"Bukan gitu!!" Karena kesal, tanpa sadar Bulan meninggikan suaranya. Jujur saja, Bulan sudah cukup malu dan masih ditambah lagi Bintang terus berusaha menggodanya. Selain itu, orang-orang juga mulai melihat ke arah mereka.


"Iya, terus gimana, Bulan?" Bintang tersenyum, membuat Bulan semakin gugup karena takut harus berurusan lebih lama lagi dengan si pembuat masalah.


"Pertama, gue udah punya tunangan dan gue cinta sama tunangan gue. Kedua, gue gak pernah sekali pun ngehalu tentang lo apalagi ngehalu jadi tunangan lo. Gak akan pernah! Ketiga, kalau lo tanya kenapa harus tangan lo, karena gue tadi buru-buru harus kirim bukti dan kebetulan lo lewat. Kalau seandainya gue tadi tau kalau itu lo, gue gak akan pernah ngelakuin itu ke lo." Bulan berbicara dengan begitu cepat karena tidak ingin disela lagi oleh Bintang.


"Wahh." Tiba-tiba Bintang mengeluarkan ekspresi kagum. "Kayaknya lo berbakat jadi penulis. Pinter banget ngarang ceritanya."


Mendengar komentar Bintang, Bulan semakin tidak sabar. "Haish, terserah lo, lah!" bentak Bulan sembari menghempaskan tangan Bintang sehingga genggaman mereka terlepas. Kemudian Bulan pergi begitu saja.


Ketika Bintang melihat Bulan melangkah pergi, dia sama sekali tidak berniat menahan Bulan. Dia hanya sedikit berkomentar, "Loh, kok pergi gitu aja? Makasihnya mana? Oh, iya. Ngomong-ngomong nama kita sepasang loh. Yang punya nama apa nggak mau sekalian jadi pasangan?"


Bulan mengubah langkahnya menjadi berlari. Di dalam hati dia mengumpat berkali-kali karena ucapan Bintang yang begitu lantang tadi membuat Bulan malu setengah mati. Tidak bisa begini. Lain kali Bulan akan langsung kabur begitu bertemu Bintang. Masa SMA-nya harus tanpa masalah dan untuk itu Bulan harus menghindari si pembuat masalah.


 


 


Bulan berhenti berlari setelah sampai di sebuah halte bus yang berjarak 200 meter dari sekolah. Sembari mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah, Bulan mencoba untuk menghubungi Chan yang belum juga sampai untuk menjemput Bulan. Biasanya Chan selalu mengantar atau menjemput Bulan di halte bus tersebut. Chan bilang dia tidak ingin ketahuan siapa pun bahwa dia adalah tunangan Bulan, nanti bisa-bisa reputasinya ternodai.


Belum sampai Bulan menekan layar untuk menelepon Chan, terdengar suara klakson yang mengagetkan Bulan. Sebuah mobil Honda Accord berwarna putih baru saja berhenti di hadapan Bulan. Perlahan jendelanya terbuka, menampilan Chan dan seorang perempuan yang Ambar ketahui sebagai pacar terbaru Chan. Iya, baru satu minggu lalu. Nanti juga tiga bulan lagi sudah ganti pacar. Dan jika Chan menjemput Bulan dengan membawa sang pacar, itu artinya Bulan harus berpura-pura menjadi adik sepupu Chan.


Bulan tersenyum kepada Chan dan pacarnya lalu masuk ke dalam mobil tersebut, duduk di kursi belakang. "Lama banget, sih," komentar Bulan begitu masuk mobil.


Tidak langsung menjawab pernyataan Bulan, Chan terlebih dahulu memperkenalkan Bulan kepada kekasihnya. Dia tidak ingin sang kekasih salah paham. "Ghe, kenalin ini adek sepupuku yang aku ceritain tadi."


Perempuan yang dipanggil Ghe itu menoleh ke belakang, melemparkan senyum kepada Bulan. "Hai, gue Ghea. Calon kakak ipar lo."


Bulan mengangguk sembari tersenyum tipis meskipun di dalam hatinya merasa sedikit risih. "Gue Bulan, adek sepupunya Chan."


Setelah sesi perkenalan singkat itu selesai, Bulan segera beralih kepada ponselnya. Sebuah pesan berupa protes masuk dari mamanya. "Bulan, kamu nggak bohong, kan? Kok nggak kayak tangan Chan?" Bulan menghela napas setelah membaca pesan tersebut.


"Bulan jangan bohongi Mama, ya. Cepat Chan suruh kirim pesan suara." Lalu masih ada sederet lagi pesan protes lainnya dari yang meminta telepon sampai video call.


"Haish!" Bulan berdesis kesal. "Chan! Mama minta bukti nih kalau lo udah jemput gue."


"Panggil kakak dulu nanti baru gue bantuin." Setelah itu Bulan langsung saja menendang dengan keras punggung sandaran kursi pengemudi yang di duduki Chan.


"Buruan!!" Bentak Bulan sembari menyodorkan ponselnya. Suasana hatinya mendadak jadi tidak cukup bagus untuk bersabar lebih banyak lagi. Sudah cukup bagi Bulan urusannya dengan Bintang, dicurigai sang mama, satu mobil dengan pacar tunangannya.


"Iya, iya," jawab Chan sembari mengambil alih ponsel Bulan lalu mengirimkan sebuah pesan suara kepada Revillia--mamanya Bulan. "Tenang aja, Tante. Ini Bulan sudah sama Chan, kok. Aman!"


"Udah, nih." Chan mengembalikan ponsel di tangannya kepada sang pemilik.


Sesaat setelah Chan menjalankan mobilnya, Ghea melontarkan sebuah pertanyaan kepada Bulan. "Mama kamu posesif banget ya, Bulan? Sampai minta bukti segala."


"Iya, Sayang. Mamanya Bulan emang posesif banget, sampai-sampai cuma aku yang dibolehin antar jemput dia. Iya, kan, Lan?"


"Iya ...." Kemudian Bulan tertawa garing.