
Setelah menempelkan kartu pada sensornya, terdengar bunyi khas yang menandakan bahwa pintu berhasil dibuka. Cemas, takut, marah bercampur menjadi satu di dalam tubuh Bintang. Dalam satu sentakan, pintu dibuka oleh lelaki itu. Bintang yang pertama masuk langsung berbalik, melarang yang lain untuk masuk.
"Tahan dulu!" perintah Bintang. Kemudian lelaki itu berjalan menghampiri Bulan yang sudah duduk meringkuk di ujung tempat tidur dengan sesenggukan, dia menutup rapat-rapat seluruh tubuhnya dengan selimut.
Bintang tidak bodoh, dia tahu apa yang sudah terjadi. Dengan tangan terkepal erat, dia mendekati Bulan perlahan. "Lan ...," lirihnya. Tidak ada jawaban dari Bulan hanya suara sesenggukan dan tubuh yang masih bergetar ketakuan.
Tanpa bermaksud macam-macam, Bintang berniat untuk menenangkan Bulan dengan menepuk-nepuk pundak perempuan itu. Akan tetapi, Bulan langsung mendongakkan kapala dan menyingkirkan tangan Bintang. "Jangan sentuh gue, Tang. Gue kotor, gue gak pantas disentuh siapa pun," ucap Bulan dengan suaranya yang terdengar sengau. Bulan langsung berjongkok di samping tempat tidur dengan frustasi.
"Bulan ... Bulan, lo gak kayak gitu. Lo sama sekali gak kotor, okay? Kalau emang lo merasa kotor, tinggal mandi. Selesai, Bulan. Jangan pernah mikir kayak gitu, ya? Lo gak kayak gitu, ini bukan salah lo." Bintang berusaha membujuk Bulan. Yang dibujuk hanya terdiam setelah itu.
Bintang kembali berdiri dari tempatnya setelah beberapa saat. Lelaki itu menatap lurus ke arah pintu yang di sana terdapat Dika yang sudah siap dengan sebuah kursi roda. Tanpa sepatah kata pun, Dika langsung paham bahwa dia harus membawa kursi roda tersebut masuk. Setelah Dika sampai di dalam, Bintang mengeratkan selimut yang menempel pada tubuh Bulan. "Lan, kita ke rumah sakit dulu, ya?" ucap Bintang sebelum memindahkan tubuh Bulan ke atas kursi roda dengan perlahan karena dia tidak ingin membuat Bulan merasa lebih terkejut.
Dengan tatapan kosong dan tanpa ekspresi, Bintang membawa keluar Bulan dari kamar 267 yang untuk seumur hidup akan terus melekat dalam ingatan Bulan sebagai salah satu ingatan paling buruk yang harus dia miliki.
"Tolong pastiin videonya tetep aman," pesan Bintang kepada Dika sembari berbisik sebelum Bintang benar-benar keluar dari kamar 267.
。゚☆☽☆゚
Setelah pemeriksaan oleh dokter, Bulan hanya diam termenung di tempat tidurnya. Dia duduk dengan menatap ke luar jendela tetapi sebenarnya tatapan Bulan begitu kosong, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya semenjak kalimat terakhir yang dia ucapkan di kamar hotel. Bintang yang melihat Bulan seperti itu merasa sangat sedih dan bersalah.
Wajah Bintang tampak sangat kacau, rambutnya berantakan. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, sudah beberapa jam sejak Bintang membawa Bulan ke rumah sakit dan perempuan itu masih diam saja.
"Bulan," panggil Bintang pelan yang tidak mendapat respon apa pun. "Lan, kalau lo pengen nangis, nangis aja. Gue gak masalah kok. Lebih baik lo nangis yang kenceng, teriak-teriak, marah atau apa pun asal jangan diem gini. Hem?"
Bintang baru saja akan menelungkupkan kepalanya di samping tubuh Bulan, saat tiba-tiba dia bersuara. "Bintang, kenapa lo masih ada di sini? Udah malam, lo gak tidur?" tanya Bulan dengan senyuman yang menyertai wajahnya. Kemudian Bulan kembali menatap kosong ke luar jendela.
Untuk sesaat Bintang terkejut dengan respon yang diberikan Bulan. Bintang langsung menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam salah satu tangan Bulan. "Bulan ...." Tangisan Bintang pecah. Bukan, itu bukan tangisan bahagia. "Lan, kalau lo emang perlu buat luapin emosi lo, luapin aja. Jangan senyum gini, jangan bersikap seolah lo baik-baik aja."
"Bulan memang baik-baik saja. Dia bukan berpura-pura baik-baik saja." Tiba-tiba sebuah suara muncul di belakang Bintang. Di ambang pintu, berdiri lah seorang wanita paruh baya--Revallia.
Tangan Revallia terangkat, menunjuk tepat pada pintu. "Silakan keluar. Saya tidak ingin melihat kamu bersama atau sekedar berdekatan dengan anak saya lagi."
"Tapi, Tante ... ini salah saya sampai Bulan mengalami ini. Saya akan bertanggung jawab atas apa pun yang harus di hadapi Bulan di masa depan. Saya akan pastikan tidak ada yang mengetahui tentang kejadian ini, tidak akan ada berita-berita yang menyebar dengan memuat nama Bulan, dan kehidupan sekolah Bulan akan tetap aman. Tolong beri saya kesempatan, Tante." Bintang rasanya tidak dapat merelakan dirinya meninggalkan Bulan begitu saja.
Revallia langsung memalingkan pandangannya dari Bintang. "Iya, ini memang salah kamu. Tapi kamu bukan siaa-siapa Bulan. Jadi saya tidak memerlukan tanggung jawab apa pun dari kamu. Silakan pergi!" ucap Revallia mutlak. Bintang menatap Bulan sekilas, dia berpikir bahwa dia tidak bisa membuat keributan di sini dengan kondisi Bulan yang sekarang. Lalu dengan tidak ikhlas, Bintang meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah memastikan Bintang benar-benar meninggalkan ruang perawatan Bulan, Revallia duduk di samping tempat tidur Bulan. Revallia mengambil salah satu tangan Bulan untuk dia genggam, akan tetapi putri Revallia satu-satunya itu langsung menarik tangan seolah tidak mau disentuh siapa pun. Revallia menghela napas.
"Mama gak akan maksa kamu untuk mau Mama sentuh. Kamu harus segera sehat lagi dan keluar dari rumah sakit. Orang tua Chan belum tau tentang kejadian ini dan Mama sudah minta Chan untuk merahasikan kejadian ini. Mama akan cari alasan yang bagus kenapa kamu dirawat di rumah sakit. Mama cuma mau kamu senyum dan kelihatan baik-baik aja kalau seandainya ada temen Mama atau orang tua Chan ke sini."
Alih-alih memikirkan kondisi Bulan, Revillia masih lebih mementingkan reputasinya di depan teman-temannya dan orang tua Chan. Revillia bahkan berpikir, jika diperlukan dia rela mengeluarkan uang berapa pun untuk membuat laporan palsu tentang kesehatan Bulan agak orang tua Chan percaya.
Apa Bulan tidak merasa sakit hati dengan ucapan Revallia? Tentu saja itu sangat menyakitkan bagi Bulan. Bahkan setelah apa yang terjadi, harga diri mamanya seolah masih lebih penting dari apa pun. Akan tetapi, Bulan terlalu lelah untuk sekedar menangisi ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut Revallia. Terlepas dari kejadian beberapa jam lalu, Bulan sudah cukup muak menjalani hidupnya selama ini. Dia lelah, terlalu lelah untuk sebuah perlawanan.
Setelah saling diam cukup lama, Revallia mengeluarkan sebuah tablet obat dari tasnya. Lalu disodorkannya tablet obat tersebut kepada Bulan. "Minum." Bulan hanya menatap obat tersebut dan mamanya secara bergantian.
"Obat kontrasepsi. Minum, Mama gak mau kamu hamil anak pemerkosa." Dalam batin Bulan rasanya dia ingin berteriak, kenapa sang mama begitu mudah mengucapkan kalimat itu.
"Minum, Bulan!" tegas Revallia saat Bulan tidak kunjung mnuruti perintahnya.
Lalu Bulan pun meraih obat yang sudah disodorkan Revallia. Dia mengeluarkan sebuah pil dari tempatnya, tetapi Revallia mengeluarkan satu lagi dan meletakkannya di atas telapak tangan Bulan. Setelah itu Revallia menyodorkan segelas air putih yang tadinya berada di nakas. Sebenarnya Bulan merasa mual sendiri untuk membayangkan harus memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya.
Di saat Bulan akan memasukkan dua pil tersebut ke dalam mulutnya, ponsel Revallia berdering pertanda sebuah panggilan masuk. Sekilas Revallia menatap ponselnya, lalu kembali menatap Bulan. "Minum obatnya, Mama mau angkat telepon." Kemudian Revallia berjalan dengan cepat keluar dari ruang perawatan Bulan setelah meletakkan kembali gelas air putih ke atas nakas.
Bulan kembali menatap dua buah pil yang berada di tangannya. Alih-alih meminum pil tersebut, Bulan justru meletakkannya di samping gelas air putih di atas nakas. Kemudian dengan tertatih, Bulan turun dari tempat tidur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Revallia kembali masuk ke dalam ruang perawatan Bulan dan menemukan putrinya tidak ada di tempat serta dua buah pil yang tergeletak utuh di atas nakas. Revallia celingukan mencari keberadaan Bulan, kemudian wanita itu langsung terpikirkan untuk mencari di kamar mandi. Dengan kesal, Revallia menghampiri Bulan di kamar mandi. Namun, ternyata pintu kamar mandi dikunci dari dalam. Revallia pun menjadi panik sendiri karena memikirkan apa yang mungkinm saja dilakukan Bulan di dalam kamar mandi. Revallia menggedor-gedor dan memanggil nama Bulan tetapi tidak ada jawaban.