Blooming Life

Blooming Life
OO5. Nakal Yang ... Sewajarnya



"Tadi lo bilang mau balik ke kelas, kan? Ayo, gue antar sekalian traktir lo es krim di kantin." Bulan menggelengkan kepala seketika. Sudah cukup bagi Bulan terjebak di sini. Dia tidak ingin orang-orang melihat dan beranggapan bahwa Bulan dan Bintang sekarang adalah teman baik.


"Gue bisa balik ke kelas sendiri." Bulan buru-buru keluar dari ruangan itu, tetapi Bintang juga buru-buru menyusul Bulan.


Bintang hanya berjalan di belakang Bulan, tetapi Bulan yang risih karena merasa di ikuti. "Tang, gue bisa ke kelas sendiri," ucap Bulan sembari berhenti di tengah-tengah tangga antara rooftop dan lantai tiga.


Bintang ikut menghentikan langkahnya. "Siapa yang ngikutin lo? Gue mau ke kantin kali."


Bulan menatap ke belakang sejenak, memberikan tatapan kesal pada Bintang kemudian lanjut berjalan. Bintang pun kembali mengikuti Bulan sembari bertanya, "Lo kenapa kayak gak mau banget sama gue, sih? Padahal gue ini ganteng, baik, rajin--"


"Karen lo bermasalah dan gue masih malu gara-gara kejadian beberapa hari lalu," jawab Bulan lalu setelahnya dia merasakan tangannya dicekal sehingga langkahnya ikut terhenti tepat sebelum tangga terakhir. Bulan hanya diam di tempatnya tanpa menoleh, enggan menatap Bintang. "Lepasin, Tang."


"Padahal ya, Lan. Gue ini sebenernya gak sebermasalah itu dibanding yang lain, loh. Seenggaknya gue gak pergi tawuran atau balap liar, gak pernah ketahuan mabuk pakai seragam sekolah juga. Cuma emang gue ini agak bandel, susah dibilangin. Suka bikin orang kesel aja. Tapi kayanya itu nakal yang masih sewajarnya anak remaja, deh."


Bulan menghel napas, barulah dia mau menghadap Bintang. "Iya, sih. Emang lo nggak senakal itu. Cuma ...."


"Cuma, karena gue anak yang punya sekolahan jadi kelihatan lebih menonjol badungnya?" Mau tidak mau Bulan menganggukkan kepala karena itu benar.


Bintang memicingkan matanya sekilas lalu kembali menatap Bulan dengan normal. "Apa gue harus pura-pura mati terus balik pakai identitas baru?"


"Ngaco!" ucap Bulan sembari melepaskan cekalan Bintang yang longgar. Bulan kembali berjalan menuju kelas, tetapi Bintang sudah tidak berniat mengikuti Bulan. Bintang cukup mengawasi gadis itu dari tangga sampai Bulan memasuki ruang kelasnya. Lalu Bintang kembali ke *rooftop*.


Kemudian setelah pulang sekolah, Bintang dan Farrel berhasil menyeret Dika kembali ke rooftop. Sembari bersandar pada dinding pembatas rooftop, farrel menyedot asap rokoknya, Dika yang tidak suka merokok memilih untuk meminum es jeruknya yang tadi belum dia minum, dan Bintang yang dilarang keras merokok oleh keluarganya hanya memandangi langit.


"Jadi gara-gara itu, Tang?" tanya Farrel setelah menyemburkan asap rokoknya.


"Apa?" tanya Bintang tidak paham.


"Gara-gara mereka mirip terus lo ngotot mau ngelakuin itu, kan?"


Bintang terdiam, sembari menatap langit dia berpikir tentang apa semua yang dia lakukan karena mereka mirip. Akan tetapi, Bintang sendiri juga ragu. "Mungkin," jawabnya.


"Apa nggak mending kita diemin aja? Gue gak mau Lucy dibawa-bawa lagi," cetus Dika yang berhasil menghabiskan satu gelas es jeruknya.


Bintang menghela napas. "Tadi waktu nolongin Bulan, gue lihat sendiri apa yang Brian lakuin, Ka, Rel. Gue cuma nggak mau ada Lucy kedua, itu aja. Lagian, apa kalian nggak mikir? Lucy sampai kayak gitu gara-gara Brian dan dia masih bebas gitu aja sampai sekarang."


"Lo juga tau sendiri alasan dia masih bebas karena apa dan siapa?" Dika mulai meninggikan suaranya. "Gak usah bawa-bawa orang yang udah meninggal bisa gak?"


"Ngapain lo, anjir? Gue masih lurus, ya!" celetuk Bintang begitu saja.


"Siapa bilang juga gue belok, anj**g?!" Farrel seketika melotot pada Bintang yang lebih tinggi dua sentimeter darinya. "Mau nawarin bantuan malah dikatain belok. Temen macam apa lo?"


"Gue gak menerima bantuan apa pun kecuali bantuan buat menjarain Brian." Bintang memalingkan wajah dari Farrel.


"Ya terus dikira gue mau ngasih bantuan apa? Dih." Farrel membuang puntung rokok yang dia hisap lalu menginjak puntung tersebut.


"Lo mau bantuin gue?" tanya Bintang dengan sedikit tidak percaya kepada Farrel. "Serius?"


Farrel berdehem. "Emang kapan gue pernah bercanda?"


"Sering."


———


*2 tahun yang lalu.


"Lempar yang bener, anjir," teriak Bintang kepada Farrel yang sedang melakukan* dribbles pada bola basket di tangannya.


Saat itu lapangan basket sekolah mereka sedang dikuasi Farrel dan Bintang yang menunjuk acak lima siswa lain yang sedang jam olahraga untuk diajak bermain basket dua lawan lima. Akan tetapi, Bintang dan Farrel tetap unggul. Antara lawannya memang tidak cukup mampu mengimbangi Farrel dan Bintang, atau lawan mereka takut kepada Farrel dan Bintang.


Sementara itu, beberapa siswi duduk bergerombol di tepi lapangan. Sebagian mendukung kelasnya, sebagian lagi mendukung Farrel dan Bintang. Terlepas dari gerombolan itu, tampak seorang siswi yang asik dengan dunianya sendiri, duduk di bawah pohon memisahkan diri dari teman sekelasnya. Tangan gadis itu dengan lihai menggoreskan pensil ke atas kertas gambar. Lalu dia tampak tersenyum hingga lesung pipitnya tampak jelas ketika gambarannya selesai.


Gadis itu pun berniat kembali ke kelas untuk mengganti seragam olahraganya dengan seragam biasa. Akan tetapi saat baru melangkah, bola yang dilemparkan Farrel nyasar begitu saja. Jidat gadis itu mendadak jadi tempat mendarat bola yang di lemparkan Farrel. Seketika dia berjongkok sembari menggosok jidatnya kesakitan*.


Farrel pun panik dan buru-buru menghampiri gadis itu. "Hey, sorry. Lo gak apa-apa? Sakit, ya? Duh, gue gak sengaja. Maaf banget, ya?"


*Gadis itu mendongakkan kepala setelah mendengar ucapan Farrel yang beruntun, tetapi tangan gadis itu masih tetap dalam posisi mengelus jidatnya sendiri. "Sakit tau! Lihat-lihat kalau main bola, dong." Gadis itu nampak memberengut kesal.


Farrel hanya menyengir. "Maaf, banget. Tadi beneran nggak sengaja." Farrel mengulurkan tangan, mencoba memberi bantuan pada gadis itu untuk kembali berdiri. Sayangnya, uluran tangan Farrel ditolak halus dengan gadis itu yang berdiri tanpa mengambil uluran tangan Farrel.


Gadis itu menepuk-nepuk bagian belakang celananya dengan tangan kiri, takut-takut jikalau disana kotor karena debu yang menempel pada lapangan basket. Meskipun dia hanya berjongkok tadi. "Nggak apa-apa. Lain kali hati-hati," ucap gadis itu sembari menatap Farrel datar dan mulai menurunkan tangan kanan yang tadinya dia gunakan untuk mengelus bekas kecup hangat bola basket.


Sedangkan Bintang hanya memperhatikan gadis itu beberapa langkah di belakang Farrel. Saat itu Bintang masih menganggap gadis itu sebagai gadis biasa seperti siswi-siswi lain yang berada di sekolahnya. Atau mungkin bisa disebut bahwa saat itu adalah awal sebelum Bintang tertarik kepada seorang gadis berlesung pipit manis yang dianugrahi nama Lucyane*.