Blooming Life

Blooming Life
O13. Hari Jadi Sekolah (2)



Setelah mengambil minuman dari nampan sang pramusaji, Bulan langsung meminum habis minuman itu. Dia benar-benar gugup. Kemudian dia berniat menghampiri Bintang. Akan tetapi saat berdiri, tiba-tiba saja kepala Bulan seperti berputar. Gadis itu langsung menumpukan tubuhnya pada tempat duduk.


Selin segera menghampiri Bulan saat melihat temannya itu tampak seperti akan jatuh. Selin memegangi tangan Bulan, membantu gadis itu untuk kembali berdiri tegak. "Lo gak apa-apa?" tanya Selin dengan dahi berkerut.


Bulan menggelengkan kepala. "Gak tau, tiba-tiba kepala gue pusing banget."


Selin menghela napas. "Tuh, kan. Pasti lo sering banget begadang. Kelewat ambis, sih." Bulan hanya terkekeh saat dikatai seperti itu oleh Selin karena memang begitu kenyataannya.


"Mau istirahat dulu?" tawar Selin. "Gue pikir malam ini gak pulang, jadi gue udah pesen kamar buat istirahat. Tapi kayaknya lo butuh, jadi lo bisa pakai dulu."


Bulan menatap sekilas ke arah Bintang sebelum menerima tawaran Selin. "Okay, gue pakai dulu, ya." Bulan berpikir bahwa dia bisa mengabari Dika nanti melalui pesan teks. Dan mungkin dirinya akan lebih aman jika beristirahat di kamar hotel.


"Okay, gue kasih kunci kamarnya. Lo masih kuat ke sana sendiri, kan?" Bulan mengangguk-anggukkan kepala sembari tersenyum. Lalu Selin memberinya sebuah kartu akses.


"Dua ratus enam puluh tujuh. Itu nomor kamarnya. Satu lantai di bawah lantai ini."


Bulan segera menuju lift. Sembari menunggu lift bergerak, dia mengirimkan pesan kepada Dika. "Ka, gue pusing banget gak tau kenapa. Terus tadi Selin minjemin kamar yang udah dia pesen, jadi gue istirahat dulu. Kalau ada apa apa telepon aja atau cari gue di kamar 267." Sayangnya, saat pesan itu terkirim, saat itu juga lah terjadi kegaduhan di meja Bintang sehingga Dika tidak menyadari pesan dari Bulan.


。゚☆☽☆゚


Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Bintang langsung melepas jasnya lalu membanting jas tersebut dengan kasar ke dalam salah satu wastafel. "Sialan!"


Farrel dan Dika ikut berdiri di depan salah satu wastafel tetapi tidak bertindak sekasar Bintang. Farrel melepas jasnya lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi orang agar mengirimkan tiga pasang jas baru. Sedangkan Dika yang terkena paling sedikit hanya memancurkan air ke tangan lalu membasuh bagian kemejanya yang basah agar tidak lengket dan juga membasuh sedikit celananya pada bagian paha.


"Kok, gak ada sinyal?" celetuk Farrel yang membuat Bintang dan Dika langsung mengecek ponsel mereka masing-masing.


Dika langsung melebarkan mata saat membaca pesan Bulan. "Bulan," gumamnya. Lelaki itu langsung dilanda kepanikan.


Bintang juga langsung melebarkan mata terkejut saat membuka ponselnya lalu menemukan sebuah pesan dari Ein. "Rencana ceroboh kalian itu gak akan pernah bisa berhasil."


"Kalian kenapa?" tanya Farrel saat melihat kedua ekspresi temannya yang berubah dari kesal menjadi sangat marah.


"Ein nipu kita."


"Bulan di kamar yang gue siapin."


Bintang dan Dika menjawab secara bersamaan. Mereka langsung saling tatap, sama-sama terkejut. Farrel lemas di tempatnya berdiri, dia sudah merasakan firasat buruk sejak awal. "Gimana bisa?" tanya Bintang yang pertama kali membuka suara.


Dika langsung menunjukkan pesan dari Bulan. "Kenapa jadi gini?"


Farrel baru saja selesai membaca pesan yang dikirim Bulan. "Tang, jangan bilang kalau Ein itu Selin?" Bintang mendongakkan kepala, dia hanya bisa terdiam sembari menatap Farrel. Akan tetapi, tatapan Bintang sudah cukup memberi mereka jawaban iya.


"Sh*it!" Dika segera menyusul Bintang ke arah pintu. Mencoba membuka pintu tersebut yang justru terasa seperti lelaki itu mengamuk pada sebuah pintu.


Farrel dengan ponselnya mencoba menghubungi siapa pun yang bisa dia hubungi, akan tetapi dia sama sekali tidak mendapatkan jaringan yang cukup baik.


Sementara itu, Bulan baru saja merebahkan dirinya ke atas tempat tidur lalu memejamkan mata. Akan tetapi suara langkah kaki membuat gadis itu memaksakan diri membuka mata meski pun terasa sangat berat.


"Selin?" Awalnya Bulan pikir itu Selin. Lalu Bulan menyadari itu sama sekali orang yang berbeda orang tersebut berdiri di samping tempat tidur Bulan. "P--pak Bri ...."


Dengan kepala yang semakin terasa berat dan pusing, Bulan berusaha bangkit dari tempatnya. Sayang, dia hanya dapat terduduk di atas tempat tidur dan beringsutan menjauh dari Brian lalu berhenti saat Bulan telah mencapai tepi ranjang. Tangannya mencoba menggapai-gapai apa pun yang bisa dia raih dari nakas, lalu dengan asal Bulan menarik sebuah lampu tidur.


Pandangan Bulan kabur, tetapi dia masih bisa melihat bahwa Brian tersenyum miring ke arahnya. Lalu sebuah kalimat meluncur dari mulut pria itu. "Rencana ceroboh kalian tidak akan pernah bisa berhasil." Setelah mendengarkan kalimat itu Bulan yang mulai gemetar ketakutan langsung melemparkan lampu tidur yang sudah dia pegang, tetapi lemparan itu melest begitu saja. Dan hal tersebut adala perlawanan terakhir yang bisa diberikan Bulan.


。゚☆☽☆゚


Bintang, Farrel, dan Dika, ketiga lelaki itu terduduk lemas di depan pintu kamar mandi setelah lima belas menit berteriak dan memaksa membuka pintu denan panik. Usaha mereka sama sekali tidak membuahkan hasil. Pikiran mereka bertiga berkecamuk. Bintang dan Dika memikirkan hal yang sama dalam diam mereka. Rasa takut akan terulangnya kejadian itu membuat pikiran mereka rasanya bahkan lebih berisik dari pada hura-hura pesta di luar sana.


Sementara itu, Farrel lebih dikuasi rasa marah terhadap Ein yang sudah menipu mereka. Farrel si kompetitif yang suportif sangat benci dicurangi. Dan dia tidak akan diam untuk hal yang sudah Ein lakukan. "Kita gak bisa diem aja." Farrel yang pertama berdiri dari tempatnya lalu menatap kedua temannya secara bergantian.


Dika mendongakkan kepala menatap Farrel. "Terus lo mau kita gimana lagi? Kita teriak juga percuma gak akan ada yang denger. Gak ada jaringan." Dika tampaknya menjadi yang paling putus asa dari mereka bertiga.


"Kalau aja gue gak keras kepala sampai akhir. Kita gak akan terjebak di tempat ini dan gak akan gak dapat jaringan ...," gumam Bintang. Lalu lelaki itu secara tiba-tiba berdiri dari tempatnya. "Di tempat sebagus ini, gak mungkin gak ada jaringan tanpa alasan. Kalau masih ada listrik berarti masih besar kemungkinan adanya jaringan. Pasti ada yang naruh pengacau sinyal."


Farrel yang langsung paham maksud Bintang, langsung mencari benda yang dimaksud. Bintang juga langsung bergerak. Dika yang baru paham menjadi yang paling akhir beranjak dari tempatnya. Sela lima menit mereka menyusur seluruh bilik toilet dan sekitarnya sampai mengeluarkan isi tempat sampah, akan tetapi mereka nyaris tidak menemukan apa pun ... kecuali Dika yang menemukan sebuah jejak sepatu di atas penutup toilet yang berada pada bilik paling ujung.


"Tang, Rel," panggil Dika yang membuat Bintang dan Farrel mendekat. "Di atas plafon." Dika, Bintang, dan Farrel dapat melihat sebuah plafon yang tampak memiliki celah dan terlihat bisa dibuka.


Farrel masuk ke dalam bilik tersebut lalu mulai menaiki penutup toilet. Kemudian dengan sedikit bertumpu pada tempat tisu toilet, Farrel berhasil mendorong salah satu plafon ke atas. Dengan sekali menyisir bagian atas plafon menggunakan tangan, Farrel berhasil menemukan benda tersebut. Berbentuk persegi panjang dengan panjang kira-kira 10cm dan antena di atasnya.


Farrel memberikan benda tersebut pada Bintang. Lalu tanpa berpikit untuk mematikannya, Bintang lebih memilih untuk membanting lalu menginjak-injak pengacak sinyal tersebut sampai hancur. Kemudian Bintang langsung menelepon seseorang yang dapat dia percaya untuk menghubungi ambulan dan pihak berwenang agar mereka cepat datang. Dika menghubungi pihak hotel untuk mengecek kamar 267. Lalu Farrel mencoba menghubungi siapa pun yang bisa dihubungi untuk membantu membukakan pintu kamar mandi.


Tidak sampai dua menit setelah Farrel menelepon, pintu kamar mandi terbuka. Tanpa basa-basi mereka keluar dari kamar mandi dengan ekspresi yang sama sekali tidak bersahabat. Semua orang di ruang pesta langsung menyingkir saat mereka lewat. Begitu keluar, Farrel langsung mencari keberadaan Selin. Bintang dan Dika langsung berlari menuju kamar 267 dengan menggunakan tangga karena pintu lift tidak kunjung terbuka.


Ketika sampai di depan kamar, petugas keamanan juga baru saja tiba. Bintang langsung menyambar kartu akses yang berada di tangan petugas keamanan. Dengan perasaan takut bercampur marah dan juga kesal, Bintang membuka pintu kamar 267.