
Setelah kepergian Bulan, Bintang menunjuk acak salah satu junior yang melewatinya. Seorang siswa dari kelas sepuluh menjadi pilihannya. Bintang memberi siswa tersebut satu lembar uang seratus ribuan lalu menyuruhnya membeli tiga porsi pangsit dan es jeruk. "Antar aja ke rooftop. Kalau ada yang tanya mau ngapain, bilang aja disuruh yang namanya Bintang."
"Iya, Kak," jawab siswa tersebut takut-takut.
"Oh, iya. Kembaliannya ambil aja," ucap Bintang sembari menepuk-nepuk pundak siswa tersebut lalu mulai berjalan menaiki tangga yang sudah ramai digunakan lalu lalang. Akan tetapi saat Bintang lewat, orang-orang yang berada di depan Bintang menyingkir dengan sendirinya untuk memberi jalan.
Saat sampai di lantai tiga, Bintang dapat melihat punggung Bulan yang perlahan menghilang dibalik pintu kelasnya. Tanpa sadar Bintang menghela napas. Gadis itu diam-diam mengingatkan Bintang pada seseorang.
"Tang?" panggil Dika yang membuyarkan Bintang dari lamunannya.
"Ka? Lo mau ke ruang OSIS, ya?" tanya Bintang setelah melihat pakain Dika yang berubah menjadi rapi, tidak seperti tadi yang memakai celana seragam tetapi atasnya kaos biasa berwarna hitam. Dika juga menyembunyikan kalungnya di balik kerah seragam.
Dika menganggukkan kepala. "Diajakin diskusi ketua OSIS buat acara anniversary sekolah."
Bintang mengangguk-angguk paham. "Oh, iya. Tadi gue pesenin pangsit. Nanti kalau urusan lo udah selesai naik aja ke atas."
Senyum Dika merekah seketika begitu mendengar kata pangsit. "Wihh! Siap, Kapten!" Lalu Dika kembali berjalan menuju ruang OSIS dan Bintang menuju rooftop.
Setelah Bintang sampai di tempat tongkrongannya, Farrel sedang bermain *game online* sembari rebahan. Bintang segera menarik Farrel agar duduk, ada yang ingin Bintang bicarakan dengannya.
"Tang! Tang! Bentar, woy!" Ponsel Farrel keburu disambar Bintang lalu dimasukannya ponsel tersebut ke dalam saku celana Bintang.
Farrel menatap Bintang dengan alis berkerut, kecewa. "Ah, ada apa, sih?" Farrel menghela napas kesal.
"Lo masih inget ... Lucy?" Bintang menatap Farrel dengan serius. Kemudian wajah Farrel ikut berubah menjadi serius setelah mendengar nama tersebut.
Farrel menelan salivanya sendiri. "Inget ... bahkan namanya aja masih kedengeran sendu buat gue, Tang." Tanpa sadar, Farrel mengeratkan rahang-rahangnya juga mengepalkan kuat-kuat kedu tangannya.
"Si Brian itu emang keparat!" Farrel meninju sofa yang di dudukinya hingga berlubang, lalu setelah itu dia baru tersadar. "Aduh, maaf, Tang."
"It's okay. Bisa diganti." Bintang memang selalu seloyal itu masalah uang.
"Kenapa lo tiba-tiba tanya tentang Lucy? Lo tau akibatnya kalau sampai Dika denger nama Lucy disebut-sebut?" Bintang mengangguk-anggukkan kepala tanda dia tau.
"Tadi gue ketemu Bulan, di tangga mau ke lantai dua. Dia nggak sengaja mergokin Pak Bri. Dia berdiri di atas tangga, diem nggak gerak. Katanya takut. Hampir aja ketahuan. Coba lo bayangin nasib dia kalau ketahuan Pak Bri. Lo tau, kan?"
Farrel sedikit terkejut. "Kenapa ceritanya mirip?"
"Gue juga mikir gitu, tapi beruntungnya Bulan nggak ketahuan." Bintang menundukkan kepala.
Bintang kembali menegakkan kepalanya untuk menatap Farrel. "Gimana kalau kita lakuin apa yang udah kita tunda selama dua tahun ini, Rel?"
Farrel melebarkan matanya. "Lo gila, Tang? Lo nggak lupa siapa yang ada di belakang dia, kan?"
"Nggak, Rel. Gue nggak lupa dan gue seratus persen inget siapa yang ada di belakang dia. Gue inget gimana dia nyuap, ngancem, bahkan sampai nyuruh orang buat aniaya ibunya Lucy. Gue inget banget, Rel. Gue ada di sana, lo ada di sana, dan Dika juga ada di sana." Marah bercampur sedih, itu yang sekarang Bintang dan Farrel rasakan. Mungkin orang-orang bisa melupakan kejadian dua tahun lalu, tetapi tidak dengan Bintang, Farrel, dan juga Dika.
Farrel terduduk lemas di sofa, kemudian disusul Bintang yang sejak tadi hanya bersandar pada meja di hadapan Farrel. "Lo dan kita nggak bisa bahayain diri sendiri, Tang. Lucy udah nggak ada di sini lagi dia juga pasti nggak pengen kalau kasusnya diungkit-ungkit lagi. Apa pun yang dilakuin manusia brengsek itu bukan urusan kita lagi dan Bulan juga bukan siapa-siapa lo."
"Ini bukan masalah Lucy masih ada di sini atau nggak, ini juga bukan masalah Bulan siapa-siapa gue atau nggak. Gue cuma nggak mau lihat Lucy kedua. Gue merasa udah cukup lama diam. Gue nggak mau diam lagi, Rel." Bintang sudah bertekad. Entah dia sendirian atau ditemanin. Entah siapa yang harus dia hadapi. Bintang akan tetap melakukannya.
。゚☆☽☆゚
Setelah mendapat pengumuman dari ketua kelas 12 IPA 3 bahwa jam pelajaran kimia dilaksanakan di laboratorium, semua murid di kelas tersebut segera bersiap pindahan termasuk Bulan. "Bulan, ayo!" ajak salah seorang teman Bulan ketika dia berjalan melewati gadis itu.
Bulan menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Iya, duluan. Gue mau ke toilet dulu cuci muka. Ngantuk banget, nih."
"Okay."
"Oh, iya. Boleh minta tolong titip buku gue, nggak?" Kemudian teman Bulan tersebut menyetujui permintaan Bulan. "Thanks."
Setelah itu, Bulan memisahkan diri sendiri dari gerombolan kelasnya. Dia berjalan menuju arah yang berbeda untuk ke toilet. Akan tetapi, sayangnya toilet perempuan yang berada di lantai tiga ternyata sedang ada perbaikan. Bulan berdecak kesal. Jika sudah begini dia harus ke lantai dua.
Sebenarnya Bulan sangat malas dengan kamar mandi lantai dua karena tiga alasan. Pertama jauh, kedua meskipun sudah dipisahkan tetapi kadang banyak siswa siswi yang masuk ke kamar mandi tidak sesuai dengan gender mereka dan entah kenapa hal tersebut selalu terjadi diangkatan kelas 11 seperti kutukan, dan yang ketiga ada rumor tentang hantu penunggu di toilet perempuan. Akan tetapi, meskipun begitu Bulan tetap berjalan cepat-cepat menuju kamar mandi lantai dua. Hanya cuci muka, tidak akan ada masalah.
Suara langkah kaki Bulan menggema ketika melewati lorong menuju kamar mandi. Lorong tersebut sepi jika jam pelajaran seperti sekarang karena hanya digunakan untuk meletakkan loker dan ruangan-ruangan khusus yang seringnya terkunci dan kosong. Jadi lorong tersebut hanya ramai jika jam berangkat atau pulang sekolah.
Dari kejauhan Bulan melihat seorang siswi terseret-seret ditarik masuk ke dalam kamar mandi untuk laki-laki. Bulan mengenali siswi tersebut dan mengikutinya. Bulan berdiri di depan pintu kamar mandi yang otomatis menutup setelah dibuka itu. Melalui sedikit celah dari pintu yang tidak tertutup sempurna, Bulan dapat melihat kejadian di dalam sana ketika Pak Bri mencoba menelanjangi seorang siswi.
Bulan kembali teringat ucapan Bintang untuk kabur. Akan tetapi tubuhnya selalu kaku setiap kali ketakutan. Dia ingin kabur tetapi kakinya tidak mau digerakkan. Lalu dalam satu sentakan, tubuh Bulan di tarik menjauh dari pintu tersebut, dibawa masuk ke dalam salah satu ruangan yang seharusnya terkunci. Sedang di dalam kamar mandi, kegiatan Pak Bri terhenti karena mendengar langkah kaki orang berlari dari luar kamar mandi.
"Siapa itu?!" teriak Pak Bri setelah keluar dari kamar mandi. Lelaki itu menyusuri lorong dan meninggalkan kamar mandi. Mengintip ke dalam satu persatu ruangan di sepanjang lorong tersebut melalui jendela.
Sedangkan Bulan dan Bintang sedang bersembunyi di balik salah satu pintu di antara ruangan tersebut. Dengan posisi mereka yang berdiri di pojok ruangan, saling berhadapan agar punggung Bintang dapat menutupi keberadaan Bulan. Gelap dan punggung Bintang berhasil menyembunyikan mereka berdua dari Pak Bri.
Bulan dan Bintang sama-sama terengah-engah dengan posisi saling tatap sampai Bulan berusaha mendorong Bintang menjauh, tetapi Bintang menahan dirinya agar tetap pada posisi seperti itu. "Bintang! Pergi!" bisik Bulan yang terdengar tegas memberi perintah.
Bintang menggelengkan kepala. "Lima menit lagi, sampai kita bener-bener aman. Lima menit lagi ...," lanjut Bintang di dalam hati, sampai gue puas lihatin lo.