BE DAUGHTER??

BE DAUGHTER??
Alergi sentuhan.



"jadi apa yg sebenarnya yg telah putri ku lakukan kepada anak mu??"ucap Kenzo.


kini wajah Levin menjadi serius.


"mari kita bicarakan saja di dalam"ucap Levin.


kini semua sudah berada di dalam kamar rawat dimana sekarang Sebastian sudah bangun.


melihat Sebastian sudah bangun bell berlari ke dekat brankar.


"hey...apa kau tak apa-apa??"ucap bell.


Sebastian membulatkan matanya yg mengingat apa yg terjadi tadi.


"stop!!"ucap Sebastian membuat langkah bell berhenti.


dengan cepat Sebastian memeriksa tangannya apakah gejalanya kembali alergi nya muncul.


betapa terkejutnya ia mendapatkan tak ada bintik-bintik merah di tubuhnya.


"ba..bagaimana bisa??"ucap Sebastian lirih.


"hey....apa yg kau lihat??apa kau terluka??"ucap bell sambil memegang tangan Sebastian.


Sebastian ingin menyingkirkan tangan bell,namun tindakannya di hentikan camelin.


"Tian....kau tak mengalami alergi seperti biasanya ketika bell menyentuh mu"ucap camelin sambil duduk di samping putranya.


Sebastian pun menenangkan pikirannya dan mencoba memahami suasana dengan menutup matanya dan menarik dan menghembuskan nafas perlahan.


Sebastian membuka matanya dan melihat tangan bell yg masih berada di tangannya,akhirnya ia percaya apa yg camelin katakan.


"aku...aku tidak alergi??"ucap Sebastian.


"ya"ucap camelin.


camelin tersenyum dan memeluk putranya itu,selama ini hanya dia seorang wanita yg dapat menyentuh putra nya itu tanpa menimbulkan alergi pada sebastian,namun sekarang camelin merasa bahagia karena ada orang lain yg dapat menyentuh putranya selain dirinya.


karena selama ini putranya tak ingin berdekatan atau berbicara dengan orang lain selain keluarganya,itu pun sangat terbatas.


"......"


"baiklah.....aku tak memaksa mu mengatakannya,tapi karena aku dapat bersentuhan dengan mu,bukan kh sebaiknya kita menjadi teman??"ucap bell yg tersenyum lebar tanpa beban.


kenzo,Kevin,dan Damian terpaku melihat senyum yg sudah tak lama hadir,setelah penyerangan saat bell berusia 6 thn.


Sebastian memandang takjub kepada gadis yg sekarang sekelas dengannya itu,namun tak ada yg tau seharusnya bell sekarang masih SD namun karena IQ nya sangat tinggi ia dapat meloncat kelas.


Sebastian merasa asmofer ruangan mendadak menurun.


pandangan Sebastian tertuju kepada ketiga pria yg berada di sofa di ruangan itu.


Kenzo tiba-tiba berdiri dan berjalan melepas tangan bell dari tangan Sebastian.


"bell.....genggam lh tangan ku,dan menjauh lh dari semut itu"ucap Kenzo sambil melirik Sebastian dengan tatapan permusuhan.


"benar bell....sebaiknya kau genggam tangan kami saja"ucap Damian.


"kau jangan menyentuh vinka ku sebelum mencuci tangan mu sampai sangat bersih"ucap Kevin yg melotot kepada Sebastian.


Sebastian hanya menatap mereka dengan datar.


"papa....kak mian,kak Evin....bell hanya ingin memiliki teman,kalau untuk tangan-tangan yang kalian ulurkan kepada ku aku dengan senang hati mengangamnya"ucap bell.


"tapi mengapa kau tersenyum sangat lebar tanpa beban bersama bajingan kecil itu??!!"ucap ketiganya bersamaan.


belum bell menjawab perkataan ketiga pria yg ia sayangi itu.


bkrak....


"hey.....dimana adik kesayangan ku....??dimana bell ku???"ucap seorang pemuda dengan seragam SMA yg mendobrak pintu yg membuat pintu itu lepas enselnya.


semua orang terdiam karena terkejut kecuali bell,kenzo,Kevin,dan Damian yg sudah hafal dengan tingkah pemuda itu.


BERSAMBUNG.....