
Kalau Matteo sudah meminta, maka tak ada alasan bagi Dokter Dito untuk tidak datang mengunjungi mansion. Meskipun tahu kalau waktu sekarang ini sudah tidak lagi berada pada jam kerja. Mengorbankan waktu istirahatnya dan datang sesuai atas perintah Matteo, mungkin bisa dibilang kalau ini menjadi salah satu cara bagi Dokter Dito untuk membayar hutang budi yang diberikan oleh Keluarga Harvey kepada dirinya.
Sebuah mobil SUV hitam yang tampak tak asing di pandangan, kini sudah mulai memasuki garasi dari mansion mewah, tempat dimana Matteo bersama dengan sang istri berada.
Karena tahu kalau Matteo sudah sangat memerlukan bantuan, tanpa berniat untuk membuang waktu lebih banyak, Dokter Dito yang sudah turun dari mobilnya pun bergegas memasuki mansion mewah tersebut. Saat sudah berada di dalam, kedatangannya langsung mendapatkan sebuah sambutan dari Matteo yang ternyata sudah menunggu di ruang tamu.
"Kenapa lama sekali datangnya?" Protes Matteo disela-sela pelukan sambutan yang dibuatnya.
"Kamu tidak lupakan kalau jarak antara tempat tinggal kita cukup jauh?" Ujar Dokter Dito sambil menggelengkan kepalanya, tak menyangka kalau sifat kurang sabaran masih melekat di dalam diri seorang Matteo.
Enggan untuk terus berbincang pada suatu hal yang dirasa kurang penting, Matteo pun mulai mengarahkan Dokter Dito menuju ke arah kamar utama yang kebetulan ada di lantai dua dari mansion mewah ini.
"Jadi, siapa orang lain yang perlu untuk aku periksa keadaannya?" Tanya Dokter Dito sudah mulai kembali merasa penasaran. Pasalnya selama mengenal sosok Matteo, tak pernah sekalipun didapati olehnya sosok orang lain yang dibawa pulang ke mansion ini. Karena biasanya, Matteo selalu menerima tamu untuk datang ke apartemen bukan mansion.
"Akan aku beritahu ketika kita sudah bertemu dengannya," ucap Matteo yang masih ingin membiarkan rasa penasaran untuk tetap berada dalam diri seorang Dokter Dito.
Sampai pada akhirnya, tak butuh banyak waktu untuk terus menunggu dan terlibat dalam rasa penasaran, Dokter Dito pun mendapatkan jawabannya. Ternyata bukan benar-benar orang lain yang dibawa oleh Matteo ke mansion ini.
"Jadi, siapa perempuan yang sedang tertidur di atas ranjang itu?" Tanya Dokter Dito yang hanya ingin memastikan kalau dugaannya benar.
"Aku yakin itu bukan orang lain. Karena kalau memang orang lain, kamu tak akan pernah mengizinkannya untuk tidur di ranjang dari kamar mu," tambah Dokter Dito dengan penuh kecurigaan.
Mendengar semua prasangka yang dibuat oleh Dokter Dito, mampu mengembangkan sebuah senyuman tipis di bibir seorang Matteo.
"Tolong untuk periksa keadaannya! Dia baru saja tertidur, jadi jangan sampai tindakan kamu membuatnya terbangun!" Kata Matteo meminta.
Dokter Dito yang masih dipenuhi oleh rasa curiga, bingung sekaligus penasaran pun mau tak mau harus memenuhi permintaan yang sudah diberikan oleh Matteo. Sungguh, sebenarnya ia ingin sekali mendesak agar Matteo mau menjawab dan memberitahu tentang perempuan yang saat ini sedang tertidur itu, tapi karena tugasnya untuk menjadi dokter jauh lebih penting, maka dari itu Dokter Dito pun mulai membuat langkah hati-hati, masuk dan mendekat ke arah Ann yang terlihat sedang tidur pulas.
Dari depan pintu kamar ini, Matteo terus mengawasi semua tindakan yang dilakukan oleh Dokter Dito. Tentu saja, sebagai seorang suami, ia memiliki kewajiban untuk menemani sang istri terus dan tak boleh meninggalkan sendiri.
Karena sudah terlalu sering memeriksa pasien dan memiliki pengalaman cukup banyak dalam dunia medis, Dokter Dito yang telah selesai memeriksa kondisi Ann tanpa sampai harus membangunkan gadis itu pun mulai berjalan mendekati Matteo yang masih terus mengawasi di ambang pintu.
Entah apa yang sedang terjadi, tapi sebuah senyuman sumringah terlukis dengan jelas pada wajah tampan milik Dokter Dito. Matteo yang tahu akan hal itu pun tampak kelihatan bingung akan alasannya.
"Kenapa tersenyum seperti itu? Apa ada sesuatu hal yang lucu?" Tanya Matteo dengan dahi yang kelihatan mengkerut.
"Matteo... Matteo... Tak ada gunanya kamu susah-susah untuk membuatku penasaran. Sekarang aku sudah bisa mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan yang ada dalam benak," kata Dokter Dito sambil menepuk-nepuk ringan pundak kekar milik laki-laki itu.
"Jawaban seperti apa yang kamu dapat?" Tanya Matteo memastikan kalau situasi sekarang tak sedang membuat sebuah kesalahpahaman.
"Dia bukan orang lain, tapi istri kamu sendiri. Kapan kamu menikah? Kenapa tidak memberitahuku?"
Entah bagaimana caranya Dokter Dito bisa tahu, tapi yang jelas sekarang ini Matteo bisa menghela napas lega karena tak ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Kenapa? Karena jawaban yang disimpulkan sendiri oleh Dokter Dito itu benar apa adanya.
"Bukan bermaksud untuk tidak ingin mengabari, hanya saja pernikahan yang terjadi itu terlalu cepat sampai aku sendiri pun tak sempat," kata Matteo.
"Benarkah seperti itu? Memangnya kapan kamu menikah dengannya? Aku bahkan tak tahu kalau perempuan itu juga memiliki hubungan dekat dengan kamu. Jujur saja, awalnya aku kira kamu akan menikah dengan Cindy."
Mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut seorang Dokter Dito, sanggup membangkitkan tawa kecil dari seorang Matteo. Sangat wajar kalau banyak orang yang akan mengira dan berpikiran seperti itu. Pasalnya kalau dilihat ke belakang, hubungan kedekatannya dengan Cindy memang juga bukan terlihat seperti antara bos dan pegawai.
"Dia pergi ke luar negeri buka karena kamu yang mengusirnya kesana kan? Meskipun kita gak ada hubungan darah, tapi aku sangat paham betul bagaimana jalan pikiran kamu," tutur Dokter Dito kembali menaruh curiga.
"Cindy bilang ingin semakin melebarkan karirnya dalam dunia bisnis, jadi aku hanya membantunya saja untuk meraih keinginan itu," kata Matteo terlihat santai.
Karena pembahasan sudah semakin kemana-mana, Matteo pun mulai mengarahkannya kembali pada topik awal. Bukankah seharusnya sekarang ia menanyakan tentang keadaan dari sang istri?
"Jadi, bagaimana? Dia sakit apa?" Tanya Matteo yang seketika mampu membuat Dokter Dito menggaruk ujung hidungnya sebelum menjawab itu.
"Bukan suatu penyakit yang parah kan?" Tambahnya.
"Apa kamu tahu gejala yang sedang diderita oleh istrimu itu?" Tanya Dokter Dito, ingin tahu saja.
"Katanya kepalanya pusing dan sedikit mual," jawab Matteo belum menyadari apapun.
Dokter Dito yang memang sudah tahu jawabannya pun tak ragu untuk menggenggam erat-erat jemari tangan milik Matteo, lalu dari mulutnya terucap kata 'selamat'.
"Selamat untuk kamu Matteo. Tak menyangka saja kalau sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah," ucap Dokter Dito yang menganggap ini sebagai suatu kabar membahagiakan.
"Menjadi seorang ayah?" Matteo yang memang tidak tahu apapun, sekarang sedang kelihatan begitu bingung. Sorot matanya tidak bisa dibohongi.
"Iya. Apa kamu tidak menyadari kalau istri kamu sekarang sedang mengandung? Gejala yang tadi kamu bilang itu merupakan tanda-tanda kehamilan," kata Dokter Dito dengan penuh keyakinan, namun Matteo tidak seperti itu. Entah mengapa rasanya sulit untuk percaya kalau perempuan yang baru dinikahinya itu sedang dalam keadaan mengandung.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia sedang hamil? Kamu tidak sedang melakukan kesalahan dalam pemeriksaan kan?" Tanya Matteo masih memilih tidak mempercayainya.
"Aku tahu kalau kamu akan bilang seperti itu, jadi untuk membuatmu percaya, aku sudah mengambil sampel darah. Hasilnya akan keluar di esok hari," ujar Dokter Dito yang masih membuat tawa kecil sambil menepuk beberapa kali pundak milik Matteo.
Karena merasa tidak ada yang perlu dikatakan lagi, Dokter Dito pun bergegas untuk pergi dari mansion ini. Bukan tanpa sebab, hanya saja ia merasa harus meninggalkan pasangan suami istri itu agar bisa menikmati waktu berdua sebelum nanti kedatangan si buah hati kecil.
.
.
.
Matteo memang belum percaya sepenuhnya akan apa yang dikatakan oleh Dokter Dito, tapi untuk berjaga-jaga, ia pun segera memanggil salah seorang pelayan dari rumah ini. Entah apa yang ingin dilakukan, tapi jika dilihat dari ekspresi wajah, Matteo kelihatan kurang bahagia saat mendengar kabar kehamilan dari Ann.
Sempat terlintas dalam benak seorang Matteo, kalau anak yang sedang dikandung oleh Ann adalah milik orang lain. Bukankah sangat wajar jika Matteo memiliki pemikiran seperti itu? Tunggu, Matteo sedang tidak melupakan malam dimana mereka pernah tidur bersama kan? Bukankah yang membuat itu terjadi adalah Matteo sendiri? Memberikan minuman yang mampu membuat keadaan Ann tidak baik-baik saja di malam itu.
"Iya, Tuan? Saya disini dan siap untuk menerima semua perintah dari Tuan," ucap seorang pelayan yang sudah datang karena dipanggil oleh Matteo.
"Tolong kamu siapkan kamar tamu, ya!" perintah Matteo yang tentu saja membuat bingung pelayan itu.
"Kamar tamu? Apakah ada akan tamu yang akan datang kesini, Tuan?" Tanya pelayan terdengar begitu ingin tahu.
"Tanpa ada pertanyaan apapun, kamu lakukan saja seperti yang saya perintahkan. Bersihkan kamar tamu! Secepatnya!" Ujar Matteo dengan tegas.
Bersambung...