Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Mata Hazel Yang Sama.



Setelah dibuat menunggu cukup lama, Ann akhirnya mendapatkan kabar baik. Terlihat jelas dari tempatnya berdiri sekarang, kalau wanita yang tadi sempat menghabiskan waktu dengan Presdir sudah keluar dari ruangan itu.


Mengetahui kalau sekarang adalah saat yang tepat, Ann yang memang sudah menunggu pun mulai terlihat berjalan kembali mendekat ke arah ruangan dimana Presdir berada. Seolah tak terjadi apapun, Ann kelihatan sedang membuat senyuman di wajah cantiknya.


Pada saat Ann sudah berada di depan pintu dari ruangan Presdir serta bersiap untuk mengetuknya, tiba-tiba seorang wanita memanggil namanya dan itu berhasil membuat seorang Ann yang gugup terkejut.


Mendengar panggilan itu, Ann pun langsung menolehkan kepala dan langsung mendapati sosok Cindy yang sedang berdiri dengan menggunakan pakaian sama seperti wanita yang tadi berada di dalam ruangan Presdir. Pengelihatan Ann tidak seburuk itu, sampai ia harus berpikir kalau Cindy bukanlah orang yang bercinta dengan Presdir.


"Kenapa kamu kesini?" Tanya Cindy sembari melemparkan sebuah senyum terpaksa.


"Maksudnya, sejak kapan kamu ada disini?" Tambahnya membenarkan pertanyaan yang dirasa salah.


Karena Ann memang sudah berniat menutup mata atas kejadian yang tadi sempat terjadi, ia pun memutuskan untuk berpura-pura. Senyuman lebar yang terkesan ceria mulai dibuat oleh Ann.


"Saya baru saja tiba dan berniat untuk memberikan berkas ini kepada Presdir," jawab Ann berusaha tak bertingkah mencurigakan.


Cindy yang merasa diyakinkan dengan jawaban dari Ann pun tak ragu untuk mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam ruangan. Cindy bahkan menambahkan kalau beberapa berkas yang ada di tangan Ann sudah sangat ditunggu oleh Presdir.


Tanpa menunggu izin dari si pemilik ruangan, Cindy terlihat begitu mudah mempersilahkan Ann untuk masuk ke ruangan itu. Tak perlu pakai bertanya ke siapapun, Ann sudah begitu yakin kalau Cindy bukan hanya sekedar seseorang sekertaris biasa. Mungkin saja kalau Cindy adalah salah seorang spesial bagi Presdir. Namun, bukankah berita-berita yang ada dipasaran menyatakan kalau Presdir dari Perusahan HR Group sama sekali belum menjalin hubungan dengan siapapun? Apa itu juga termasuk sebuah kebohongan terhadap publik?


Dalam langkahnya yang terlihat cukup canggung, karena jujur saja terlalu sulit untuk berpura-pura tak melihat, Ann mulai memasuki ruangan Presdir yang begitu luas serta tampak nyaman dengan adanya sofa panjang.


Entah apa yang dilakukan oleh Ann, bukannya langsung menyerahkan berkas penting itu kepada Presdir, ia bahkan lebih memilih untuk melamun sambil memperhatikan sekeliling. Salah fokus dengan kondisi ruangan sampai lupa akan tujuannya.


"Hey?!" Panggil Tuan Matteo selaku Presdir dari perusahaan HR Group kepada seorang gadis yang terlihat melamun.


Mendengar suara panggilan yang terdengar begitu maskulin itu, mampu membuat Ann mulai tersadar dari lamunannya. Sembari tersenyum canggung, ia mulai berjalan mendekat ke arah Matteo yang kini sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Maaf, saya tidak sengaja melamun," ujar Ann merasa bersalah.


Enggan untuk mempermasalahkan hal sepele, Matteo pun langsung meminta kepada gadis cantik itu untuk mengatakan hal penting yang ingin dikatakan. Kalau memang niatnya hanya berniat berbasa-basi, Matteo sama sekali tidak punya waktu.


"Apa yang membawa kamu kemari?" Tanya Matteo yang butuh jawaban pasti.


"Ah, anu Pak... Ini...," karena saking gugupnya Ann bahkan terlalu sulit untuk berkata dengan benar.


"Kenapa?" Matteo mendesak agar gadis itu dengan segera memberitahu maksud serta tujuannya.


"Saya hanya mau memberikan berkas penting ini," kata Ann kemudian meletakkan apa yang sedang dibawanya ke atas meja kerja, dekat dengan tumpukan berkas lainnya.


"Dari mana berkas ini berasal?" Tanya Matteo yang kemudian membuka salah satu berkas hanya dengan niat untuk memeriksanya.


"Departemen pemasaran. Kepala tim kami meminta agar memberikan berkas itu kepada anda," tutur Ann sembari mengembangkan sebuah senyum tipis.


"Tunggu sebentar," katanya yang berhasil membuat Ann terdiam tanpa bergerak sama sekali.


Entah apa yang ingin dilakukan oleh laki-laki itu, tapi seusai mengatakan hal demikian, Matteo langsung beranjak dari tempat duduk, lalu mulai mencoba mendekatkan dirinya ke arah Ann yang masih terdiam bagaikan patung.


"Kenapa, Pak?" Ann memberanikan diri untuk bertanya mengenai alasan dari Matteo yang memintanya tetap tinggal sebentar.


Bukannya memberikan jawaban, Matteo malah semakin mendekatkan dirinya pada Ann, bahkan kini Ann bisa melihat dengan jelas tekstur wajah dan juga bola mata bewarna hazel yang kelihatan cukup cantik milik dari atasannya itu.


Tunggu dulu, kalau mengingat soal bola mata bewarna hazel, kenapa rasanya Ann juga pernah melihatnya di suatu? Sungguh, warna mata milik Matteo sangat tidak asing bagi seorang Ann.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Matteo yang tentu saja dijawab dengan gelengan kepala keras dari seorang Ann.


"Tidak. Saya baru melihat bapak hari ini," jawab Ann yang telah menundukkan kepalanya, seakan berusaha untuk menghindari kontak mata dengan laki-laki yang sekarang kelihatan begitu rapi, mengenakan setelan jasnya.


"Apa kamu yakin?" Matteo bertanya lagi karena ingin memastikan kalau dugaannya tak pernah salah.


"Iya, Pak! Ini pertemuan pertama kita," kata Ann begitu yakin.


Matteo benar-benar merasa kalau sebelum disini, dirinya memang pernah bertemu dengan sosok Ann. Tapi, ingatannya terlalu sulit untuk ditanyai kapan waktu pastinya. Ingatan tentang pertemuan dengan Ann begitu samar dalam kepalanya.


Karena tidak ada hal yang mau disampaikan, Ann pun bergegas untuk berpamitan, kemudian melenggangkan kakinya keluar dari ruangan. Kali ini Matteo sama sekali tidak mencegah gadis cantik itu untuk pergi.


...****************...


Sesudah memberikan berkas penting itu kepada Presdir dari perusahan HR Group, Ann yang seharusnya langsung kembali ke tempatnya untuk melakukan pekerjaan lanjutan, malah memilih mampir sejenak ke toilet. Bukan tanpa sebab, hanya saja Ann berniat untuk membenarkan ingatannya kembali.


Jujur, saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Matteo, mengenai pertemuan selain di ruangan itu, entah kenapa berhasil untuk memicu sesuatu dari dalam ingatan seorang Ann.


Dengan usaha keras mencoba mengingat kembali, akhirnya Ann mendapatkan sebuah jawaban yang sanggup membuat kedua matanya membelalak lebar seperti itu. Ann terkejut karena menyadari kalau yang terjadi waktu itu bukan hanya sekedar sebuah mimpi.


Seperti apa yang dicurigai, memang benar adanya kalau sebelum disini, Ann sudah pernah menemui Matteo. Namun saat itu keadaannya sangat amat tidak memungkinkan bagi seorang Ann mengingat.


Iya, pertemuan pertama mereka terjadi ketika Ann mencoba untuk meminum minuman beralkohol dan mabuk. Lebih jelasnya, laki-laki yang dicium oleh Ann tak lain adalah Matteo. Ingatan yang sempat hilang dan dikira mimpi itu berhasil kembali setelah Ann melihat sepasang mata hazel milik Matteo.


"Sekarang aku harus gimana? Bagaimana kalau dia mempermasalahkan soal ciuman itu?" Tanya Ann sudah khawatir seorang diri.


"Untuk sekarang sepertinya masih aman, karena dia juga tak mengingatnya, tapi nanti? Sampai kapan aku akan bisa aman?" Tambahnya yang kelihatan sudah mondar-mandir seperti setrikaan.


"Agar tak memicu ingatannya, aku harus berusaha menjaga jarak darinya. Berusaha untuk tak terlibat apapun dengan Presdir," tukas Ann sudah mengambil solusi atas rasa khawatir yang sekarang ini sedang menyerangnya.


Bersambung...