
Pagi ini disaat kedua mata Ann masih tertutup dan dirinya sedang berada di dalam alam bawah sadarnya, Matteo sudah terbangun lebih dahulu. Sebenarnya laki-laki itu berniat untuk tidur lebih lama dan bangun ketika Ann juga membuka kedua matanya, bermaksud ingin mengagetkan, namun semua niat itu harus disingkirkan jauh-jauh karena tepat nanti pukul sembilan pagi, Matteo harus menghadiri sebuah rapat penting dengan salah satu klien dari Prancis.
Tak ingin membuang banyak waktu lagi, Matteo pun mulai melangkah turun dari ranjang, kemudian mengambil semua pakaiannya yang berserakan di lantai kamar ini. Tanpa berlama-lama, Matteo kembali mengenakan pakaiannya, menutupi tubuh kekar yang sedari tadi tak terlilit dengan sehelai benang pun.
Sembari mengembangkan senyum tepat di sudut bibir, Matteo menatap ke arah gadis yang masih tertidur itu lekat-lekat. Tanpa meninggalkan catatan atau berpamitan, kini Matteo telah membuka pintu kamar dan berjalan keluar meninggalkan. Kemungkinan nanti, saat sudah terbangun Ann akan terkejut melihat kondisinya tubuhnya yang penuh dengan tanda kemerahan. Mau dengan wanita manapun, permainan Matteo memang selalu kasar. Laki-laki itu terlalu sulit kalau diminta untuk melakukan semuanya dengan pelan-pelan.
Dengan mengenakan setelan jas yang sama seperti kemarin, Matteo kini sedang menuju ke arah lobby hotel. Menurut panggilan telepon yang didapatkan beberapa waktu lalu, tepat di depan lobby sudah ada mobil SUV hitam yang menunggu.
"Lewat sini, Tuan," kata salah seorang anak buahnya yang langsung memberikan arahan kepada sang atasan persis setelah pintu lift terbuka.
Karena klien dari Prancis bukan seseorang yang mudah ditangani, Matteo harus pandai-pandai dalam bersikap. Jangan sampai terlambat dan membuat klien itu menunggu! Pernah ada kejadian, salah satu teman pebisnis yang langsung ditolak hanya karena mobil jemputan terlambat lima menit saat di bandara. Kesalahan yang sebenarnya masih bisa ditoleransi, tapi tidak buat klien dari Prancis. Lebih memilih untuk memutuskan semua kontrak kerjasama serta menarik investasi hanya karena membuat menunggu di bandara selama lima menit.
"Apa sudah ada mobil yang menjemputnya di bandara?" Tanya Matteo tepat setelah dirinya menempati kursi penumpang.
"Mobil jemputan sudah tiba dan menunggu di bandara sejak satu jam yang lalu. Sengaja saya atur seperti itu, hanya karena ingin mengantisipasi hal yang tak diinginkan. Akan jauh lebih baik kalau kita yang menunggu daripada harus membuat klien itu yang melakukannya," ucap salah satu anak buah memberikan informasi yang mampu membuat Matteo tersenyum puas.
"Pertahankan terus cara kerja seperti ini," pinta Matteo bermaksud untuk mengapresiasi hasil kerja dari anak buahnya itu.
Jujur saja, kalau ini bukan termasuk dalam satu kerjasama penting yang bisa menghasilkan berjuta-juta kali keuntungan, mungkin Matteo juga akan berpikir kembali untuk berjalan bersama dengan klien dari Prancis itu.
Tanpa ingin membuang waktu lebih banyak lagi, mobil yang kini sudah ditumpangi oleh Matteo pun mulai melaju meninggalkan hotel. Sang sopir mengemudikan mobil ini melintasi jalanan kota pagi yang terbilang cukup padat, karena memang di jam seperti ini rawan banyak orang yang juga ingin beraktivitas.
"Jam berapa kira-kira Tuan Apollo tiba?" Tanya Matteo kepada salah seorang anak buah yang memang juga ikut dalam satu mobil ini.
"Pesawat dikabarkan tiba pukul delapan tepat."
Setelah mendapatkan jawaban seperti itu, Matteo pun kembali diam dan tak kembali berkata apapun lagi. Sepertinya sekarang ia sedang memikirkan sesuatu hal yang memang harus dilakukan saat sudah bertemu dengan klien dari Prancis itu. Ucapan seperti apa yang cocok, supaya bisa membuat seorang Tuan Apollo tertarik?
Matteo lebih memilih untuk memikirkan soal bisnis dibandingkan dengan Ann. Apa ia lupa kalau di kamar hotel masih ada Ann yang pastinya akan terkejut saat kedua matanya terbuka? Kenapa ia begitu tak bertanggung jawab, meninggalkan seseorang perempuan sendirian?
"Sepertinya tadi malam Tuan tidak pulang. Apa mau saya bawakan pakaian baru?" Tanya sang anak buah dan mampu membuat seorang Matteo kembali ingat kalau sekarang dirinya sedang menggunakan pakaian yang kurang layak. Kelihatan kusut dan sudah berbau keringat.
"Tentu saja. Saya tidak mungkin menggenakan pakaian ini lagi untuk ke pertemuan," ujar Matteo dan langsung mendapatkan anggukkan mengerti dari anak buahnya.
"Baik. Saya akan minta seseorang untuk menyiapkan setelan jas baru."
Karena tak ingin menunda sebuah pekerjaan, sesaat setelah mendengar itu, salah satu anak buahnya langsung bergerak cepat. Meraih ponsel dari dalam saku jasnya, lalu menghubungi seseorang yang bisa dipercaya untuk setelan jas baru.
Kalau saja Cindy masih ada di negara ini, mungkin tanpa harus bertanya, setelan jas baru untuk Matteo sudah bisa langsung siap dan berada di ruang kerja. Sebenarnya Cindy sangat mempermudah dalam pekerjaan, tapi karena sebuah rencana, Matteo tak bisa lebih lama membuat sang sekertaris untuk tetap berada disisi nya. Kepergian Cindy bisa jauh lebih menguntungkan untuk keberhasilan dari rencana itu.
......................
Ann terbangun dari tidur panjangnya dalam kondisi yang terasa kurang baik. Kepalanya terasa begitu pusing ditambah lagi dengan bagian bawahnya yang terasa begitu nyeri. Belum tahu kejadian seperti apa yang menimpa dirinya, tapi Ann sendiri kini juga kesulitan untuk mengingat apapun. Padahal kemarin di pesta ia sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol.
"Kenapa kepalaku begitu sakit," gumamnya dengan tangan yang sudah menepuk-nepuk bagian kepala.
Perlahan-lahan Ann mulai membuka kedua matanya, terkejut ketika melihat langit kamar yang tampak berbeda dari kamar kos nya. Serangkaian pertanyaan mulai menyapa dengan mudah di dalam benaknya. Bingung sebenarnya apa yang terjadi tadi malam. Kenapa dirinya berakhir di kamar hotel? Dan kenapa juga tubuhnya dalam keadaan telanjang? Ann tidak segila itu untuk melepaskan bajunya sendiri kan?
"Apa yang terjadi? Kenapa sulit diingat?"
Ann mencoba memaksakan ingatannya. Tidak boleh seperti waktu itu, kali ini ia harus mengingat semua hal yang sudah terjadi. Terus berusaha sampai pada akhirnya samar-samar ingatan tentang kejadian malam tadi mulai muncul. Rasanya antara ingin atau tidak mempercayai. Bagaimana bisa ia meminta Matteo untuk tidur bersama?
"YA!!! ANN, APA KAMU GILA? KENAPA KAMU BISA MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU?!" Ann tersentak tak menyangka dengan ingatan yang sudah bisa dipastikan benar.
Ann ingat betul kalau tadi malam dirinya sama sekali tidak bisa dikontrol. Bisa dibilang semua terjadi karena kesalahannya. Ann yang meminta dan Matteo hanya menjadi seseorang yang menuruti. Kalau ingin menyalahkan sang atasan, rasanya sedikit kurang tepat.
Pada saat Ann masih terus menyalahkan soal kebodohan dirinya, secara tidak terduga ia mendengar suara ketukan pintu yang terdengar begitu jelas. Hanya menutupi tubuh dengan selimut, Ann pun melangkah menuju ke arah pintu. Tanpa membuat siapapun menunggu terlalu lama, dalam perasaan ragu ia tetap membukakan pintu itu.
Tepat setelah terbuka, Ann begitu terkejut ketika melihat adanya sosok laki-laki yang menggunakan setelan jas rapi sedang berdiri di sana. Untuk menutupi hal yang seharusnya tak dilihat oleh orang asing, Ann hanya bisa membuka sedikit pintunya.
"Siapa?" Tanya Ann seusai memastikan kalau laki-laki itu bukan Matteo.
"Joni. Seseorang yang dikirim oleh Tuan Matteo untuk mengirimkan ini kepada nona," ucapnya sembari memberikan sebuah paper bag yang memang harus diterima oleh Ann.
Ann menerima paper bag itu, lalu untuk meyakinkan dirinya bahwa tak ada isi yang terlalu aneh, Ann pun bergegas melakukan pengecekan. Jaman sekarang penipuan itu banyak macamnya, daripada mendapatkan masalah, agar lebih pasti saja makanya Ann melakukan pengecekan langsung di depan laki-laki itu.
"Isinya hanya gaun untuk nona," ucap Joni dan anehnya sanggup membuat seorang Ann merasa sedikit tidak enak hati.
"Maaf! Aku tidak bermaksud menyinggung tapi, itu ku lakukan untuk mengantisipasi saja. Tolong mengerti!" tutur Ann dengan tangan yang sudah menggenggam erat paper bag itu.
"Tuan bilang, sore ini beliau ingin kembali bertemu dengan nona untuk menanyakan jawaban," kata laki-laki yang dikirim oleh Matteo itu.
"Jawaban tentang apa?" Ann mendadak bingung dan tak mengerti.
"Di dalam sana ada cincin berlian dan juga sebuah surat singkat. Tuan ingin agar nona memberikan jawaban atas suratnya itu. Jawaban langsung," tukas laki-laki itu kemudian membungkukkan badannya, berpamitan dan melangkah pergi begitu saja dari hadapan Ann yang sebenarnya masih ingin bertanya.
Bersambung...