
Selagi menunggu hasil dari wawancara pekerjaan di HR Group yang sudah dijalani empat hari lalu, Ann sekarang tetap masih terlihat bekerja paruh waktu. Gadis cantik itu sama sekali belum ada niatan untuk mengeluarkan surat pengunduran diri, sebelum memastikan kalau ia benar-benar diterima.
Seperti biasanya, pekerjaan paruh waktu yang sedang dilakoni oleh Ann saat ini bisa dibilang tak terlalu susah ataupun berat. Kenapa? Karena ia hanya ditugaskan untuk menjaga kasir, melayani pelanggan yang siap membayar barang belanjaannya.
Sebenarnya menjadi seorang kasir di salah satu minimarket yang ada di kota ini, bukanlah satu-satunya pekerjaan paruh waktu yang dilakoni oleh Ann. Kalau hanya mengandalkan gaji dari itu, mungkin sekarang Ann sudah kesulitan untuk bertahan hidup.
Kebutuhan pokok, seperti makanan, tempat tinggal dan juga pakaian harus dipenuhinya terlebih dahulu. Belum lagi ditambah dengan biaya studi kuliah yang hampir setiap satu semester menguras habis tabungannya. Perjuangan Ann bisa dibilang begitu keras dan tak pernah main-main.
Tepat ketika Ann sedang melayani seorang pembeli yang ingin membayar barang belanjaan, secara tidak terduga ponsel yang sekarang sedang ada di saku celana Ann berdering. Ingin sekali rasanya untuk segera memeriksa, tapi Ann harus mengutamakan pelayanan kepada pelanggan.
Dengan cepat, Ann tampak sedang menghitung semua total belanjaan yang dibeli oleh pelanggan itu. Terkesan cukup banyak, tapi Ann bisa menyelesaikannya dengan cepat.
Setelah menghitung seluruh barang belanjaan dari pelanggan itu, tanpa ada keraguan sedikitpun, Ann mulai memberitahu soal total harga yang harus dibayar.
"Seratus enam puluh lima ribu, Tuan," kata Ann tak ragu untuk menyebutkan jumlah angka, sesuai dengan apa yang tertera pada layar monitor kasir.
"Apa mau dibayar tunai atau menggunakan kartu?" Tanya Ann yang sudah siap menerima uang dari pelanggan itu.
Tak banyak berkata, pelanggan laki-laki itu pun langsung mengeluarkan uang lebih dari jumlah total belanjaan. Kelihatan begitu loyal, pelanggan yang sudah mengambil semua barang belanjaan dari meja kasir pun langsung melenggang pergi begitu saja, meninggalkan kembalian dan juga struk pembelanjaan.
Ann yang mengetahuinya enggan untuk tetap diam. Dengan cepat Ann mulai mengambilkan sejumlah uang kembalian serta struk pembelanjaan, lalu berlari keluar dari balik meja kasir, menyusul pelanggan laki-laki itu.
Perasaan Ann sudah berusaha agar bisa menyusul pelanggan itu dengan cepat, tapi anehnya tetap saja tak mampu untuk mengejar. Saat Ann baru keluar dari minimarket, kedua matanya melihat kalau pelanggan laki-laki itu sudah terlebih dahulu naik ke sebuah mobil sedan bewarna hitam. Baru berniat menghampiri, mobil itu sudah terlebih dahulu bergerak pergi meninggalkan parkiran dari gedung minimarket ini. Apakah ia sengaja meninggalkan uang kembalian sebagai tip?
Karena merasa sudah tidak bisa menyusul ataupun memberikan kembalian, Ann pun memutuskan untuk memasukkan uang kembalian itu ke kotak amal yang kebetulan juga disediakan di minimarket ini. Bukan tanpa sebab, Ann hanya ingin menambah amalan baik dari pelanggan itu.
.
.
.
Merasa kalau segala pekerjaan telah selesai, Ann sudah begitu penasaran pun mulai mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Rupanya Ann mendapatkan banyak notifikasi masuk dari group chat serta yang paling penting adalah pemberitahuan email yang dikirim oleh HR Group. Apakah sekarang akan menjadi akhir dari penantiannya?
Enggan untuk lebih banyak bertanya-tanya, Ann yang telah berusaha menguatkan dirinya agar bisa menerima semua hasil dan juga keputusan, terlihat mulai membuka email masuk itu. Dengan seksama dan serius, Ann perlahan-lahan membaca kata per kata yang ada.
Awalnya memang ekspresi wajah Ann sedikit menegang, namun ketika ia membaca tulisan 'Diterima', Ann langsung berteriak kegirangan. Bahkan teman satu kerjaan yang sedang sibuk memeriksa stok ikut terkejut mendengar teriakan yang dibuat oleh Ann.
Entah apa yang sedang terjadi, teman satu kerjaan itu hanya bisa melemparkan tatapan heran sambil menggelengkan kepalanya, merasa sedikit aneh. Tidak ada hujan, tidak ada angin, Ann bisa bertingkah laku seperti itu. Sekalipun, selama bekerja dengan Ann, ia tak pernah Ann sampai berteriak histeris karena bahagia.
"Ada apa, Ann?" Tanya Monika — teman satu kerjaan yang dimaksud.
"Diterima apa?" Sangat wajar kalau Monika tak mengerti. Pasalnya yang tahu kalau Ann sedang mengikuti wawancara pekerjaan di perusahaan HR Group hanyalah sahabatnya — Lidia.
"Kerja. Beberapa hari lalu, aku sempat melamar pekerjaan di perusahaan HR Group dan sekarang aku diterima," kata Ann yang tak ragu untuk membagikan kabar baik ini.
"HR Group? Perusahaan besar itu?" Mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Ann, sanggup membuat Monika terkejut dan tak menyangka. Ternyata rekan kerjanya bisa diterima bekerja di perusahaan besar yang terkenal sulit untuk dimasuki itu.
"Iya..." Ann kelihatan begitu senang. Sekarang siapa gerangan yang tak merasa bahagia ketika mendapati diri sendiri diterima bekerja di salah satu perusahaan ternama?
"Selamat ya, Ann...," Kata Monika yang entah mengapa hanya memberikan sebuah senyuman yang tampak terpaksa.
Bukan maksud untuk cemburu, hanya saja Monika juga memiliki keinginan untuk bisa bekerja di perusahaan itu. Tahun kemarin, ia pernah sempat mencoba proses wawancara, tapi sayangnya harus berbeda nasib dari Ann. Monika mendapatkan penolakan dengan alasan belum memenuhi kualifikasi yang diinginkan. Padahal dengan jelas prestasi dari dirinya juga tak sedikit.
Dikarenakan Monika tak berhasil untuk masuk menjadi salah satu pegawai di perusahaan HR Group, mau tidak mau ia harus melamar di tempat lain dan setelah banyak mencoba, ternyata hanya minimarket ini yang mau menerimanya.
"Terima kasih ya, Monika," kata Ann tetap ingin membalas ucapan baik itu.
Masih sambil terus mengecek stok barang dagangan yang ada di minimarket, Monika juga tak ragu untuk kembali melemparkan pertanyaan. Entah kenapa, rasa penasaran dan ingin tahu dari dalam diri Monika muncul.
"Apa wawancaranya semudah itu?" Tanya Monika membutuhkan jawaban.
"Tidak mudah, tapi kebetulan HRD nya terkesan begitu baik dan ramah jadi, aku bisa begitu mudah untuk mengatasinya," jawab Ann yang kedengaran tak ada salah, tapi anehnya itu berhasil membuat seorang Monika merasa sedikit kesal.
"Apa sekarang kamu akan menyombongkan nya? Bisa diterima di perusahaan itu memang bagus, tapi tidak bisakah kamu sedikit mengurangi rasa bahagia itu," ujar Monika meminta dengan sinis.
"Ah maaf! Aku hanya merasa senang saja, sampai lupa kalau sedang bersikap berlebihan," tutur Ann merasa bersalah.
"Memang pada dasarnya kamu suka pamer," gumam Monika seorang diri dan kebetulan tidak berhasil di dengar oleh Ann.
Jujur saja, Ann tak bermaksud untuk membuat rekan kerjanya itu kesal. Ungkapan bahagianya memang sedikit berlebihan, tapi apa perlu sampai harus mendapatkan teguran keras? Disini Ann benar-benar tak tahu kalau Monika adalah salah satu orang yang gagal dalam proses wawancara di perusahaan HR Group. Andai saja Ann tahu, mungkin ia juga tak akan bersikap seperti ini.
"Setelah tahu di terima, apa kamu akan memberikan surat resign?" Tanya Monika dengan tangan yang sudah terlipat di depan dada.
"Iya. Aku akan lebih fokus lagi pada pekerjaan sebagai salah satu pegawai di perusahaan HR Group," jawab Ann memberitahu rencana kedepannya.
Tanpa memberikan respon lebih lanjut, Monika pun kelihatan sedang berjalan menuju gudang sembari membawa sebuah keranjang besar yang berisi barang-barang kadaluarsa. Dia pergi dalam ekspresi wajah ditekuk dan tampak kesal.
Bersambung...