Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Malam Yang Panjang.



Meskipun gaunnya tak bisa benar-benar bersih dari noda, tapi setidaknya sudah berhasil untuk kering. Merasa selesai dengan gaun, Ann pun mulai kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Sungguh dalam hati kecilnya sangat berharap kalau ia tak akan kembali ke kamar mandi untuk yang ketiga kali.


Karena enggan mendapatkan kesulitan lagi atau membuat keributan, Ann kini kelihatan lebih hati-hati dalam melangkah dan banyak mengantisipasi diri sendiri agar tidak bersinggungan dengan orang lain. Sekarang Ann sudah bisa lagi berdiri tepat disebelah dari sang atasan — Matteo.


"Maaf karena sudah meninggalkan dan membuat Tuan menunggu disini," ujar Ann merasa bersalah akan hal itu.


Alasan dari dirinya menghadiri pesta ini hanya untuk menemani sang atasan, menggantikan peran yang seharusnya dilakukan oleh Cindy. Jujur saja, saat Matteo mengajak, Ann sudah berniat tuk memberikan penolakan, namun hanya karena masih ingin bekerja di perusahaan, ia memaksakan dirinya dan setuju menerima ajakan dari sang atasan.


Bukannya membalas ataupun menerima ucapan permintaan maaf itu, Matteo malah asyik menatap ke arah gaun yang sekarang masih dikenakan oleh Ann. Melihat kondisi gaun yang sudah memiliki noda, berhasil membuat seorang Matteo merasa risih. Bisa dibilang noda membuat penampilan dari Ann tak lagi terlihat sempurna.


Karena Matteo terlalu lama diam dan sorot matanya terus menatap pada gaun, Ann yang tahu akan hal itu pun bergegas untuk menutupi noda minuman dengan telapak tangannya. Sepertinya sekarang ia sudah benar-benar mengacaukan pesta ini.


"Maafkan saya, karena sudah membuat gaunnya menjadi kotor!" Kata Ann yang kali ini tanpa ragu menundukkan kepalanya. Sungguh Ann mengucapkan permintaan maaf tulus dari dalam hatinya yang paling dalam. Seandainya waktu bisa diputar kembali, ia pasti akan jauh lebih hati-hati.


"Sepertinya kita sudah tak bisa terlalu lama lagi berada di tempat ini," ucap Matteo memutuskan untuk segera meninggalkan acara pesta yang sebenarnya belum usai.


Mendengar hal seperti itu, bukannya berhasil membuat Ann menghela napas lega, ia justru malah makin merasa bersalah. Hanya karena sikap sembrono yang dilakukannya, mampu membuat sang atasan memilih untuk segera pergi dari sini.


"Ah, sepertinya Tuan harus tetap menikmati pesta ini. Tolong jangan terlalu mempedulikan soal noda di gaun ini!" Pinta Ann yang juga berupaya untuk membuat atasannya tetap ada pada pesta sampai selesai.


Karena niat baiknya sudah ditolak dengan mudah, Matteo pun merasa tak ada alasan lagi untuk memaksa. Kalau gadis itu memang masih ada disini dalam keadaan gaun yang sudah kelihatan tak layak pakai karena ada noda minuman dan sedikit basah, maka Matteo akan membiarkannya.


Hanya melemparkan senyuman tipis sambil menganggukkan kepala tanda mengerti, Matteo pun kembali kepada obrolan yang tadi sempat ditinggalkannya. Karena tamu undangan di pesta ini kebanyakan adalah seorang pebisnis, maka pembicaraan yang dilakukan oleh mereka tak jauh-jauh tentang bisnis dan perusahaan.


Selagi menunggu serangkaian acara dalam pesta ini berakhir, Ann yang sejujurnya sudah merasa kurang nyaman dengan kondisi gaun pun memilih untuk mengabaikan. Agar tak terlalu sering teringat, sepertinya Ann harus melakukan sesuatu hal. Mungkin menikmati camilan serta minuman syrup bisa membuat pikirannya berada jauh-jauh dari persoalan gaun.


.


.


.


Semua camilan yang disediakan pada pesta ini, kelihatan begitu menggugah selera. Ann yang selalu menyukai cake coklat pun tak ragu untuk mengambil choco chips cookies. Jujur saja, saat memakan camilan itu, Ann rasanya ingin terus makan tanpa ingin berhenti. Memang benar kalau rasanya begitu enak sama seperti dengan penampilannya.


Ann terus mencicipi satu persatu camilan yang tersedia, sampai pada akhirnya ada salah seorang pelayan yang menawarkan kepadanya segelas minuman syrup. Semenjak kejadian terakhir, Ann sama sekali tidak berniat untuk menikmati minuman yang mengandung alkohol lagi. Bisa dibilang kalau Ann terlalu takut mengenai kejadian yang tak bisa dikontrol lagi, seperti waktu itu.


"Terima kasih," ucap Ann setelah mengambil gelas yang berisi minuman.


Tanpa ada rasa curiga sama sekali, Ann yang memang merasa tenggorokannya mulai kering karena terlalu banyak makan camilan, pun mulai meneguk minuman syrup itu sampai habis. Awalnya memang tidak terjadi apapun, semuanya masih baik-baik saja. Bahkan Ann juga tetap bisa mengambil camilan lagi.


Akan tetapi, setelah waktu berjalan selama lima belas menit, rasa pening yang diikuti dengan perasaan panas dalam tubuh mulai bisa dirasakan oleh Ann. Karena baru pertama kali merasa seperti ini, teriakan kesakitan mulai dibuat olehnya. Jujur saja, kondisi badannya kini sangat amat membuat kurang nyaman.


Matteo yang sebenarnya masih sibuk berbincang dengan para koleganya di bidang bisnis, seketika langsung berlari dan mendekatkan dirinya ke arah gadis yang sudah kelihatan hampir jatuh ke lantai itu. Untung saja Matteo datang tepat waktu, jadinya masih ada seseorang yang siap untuk menopang tubuh Ann.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Matteo ketika melihat kondisi dari gadis itu yang dirasa kurang baik.


"Tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang jelas tubuh ini terasa panas dan detak jantung juga terasa berdetak dua kali lebih cepat," jujur Ann mengatakan sendiri tentang keadaan yang sedang dialami.


"Apa ada sesuatu yang baru kamu makan?" Merasa kalau memiliki tanggung jawab kepada pegawainya, sangat wajar kalau Matteo kelihatan cukup panik dan khawatir.


"Entahlah. Saya hanya makan camilan yang ada di atas meja," ujar Ann tak bisa lebih banyak untuk berucap.


Tanpa ingin membuat kegaduhan lagi, Matteo pun dengan cepat menggendong tubuh mungil milik Ann ala bridal style. Sekarang ini, Matteo sangat berniat untuk membawa pegawainya itu menuju ke rumah sakit. Siapa tahu bantuan dari dokter dapat membuatnya merasa jauh lebih baik.


"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Matteo yang kemudian berjalan keluar dari ruang ballroom ini, meninggalkan pesta yang belum usai.


Dengan terburu-buru, Matteo mulai memasuki lift yang kebetulan sedang terbuka. Sekarang ini tujuannya sekarang adalah menuju ke arah lobby dan bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Tak terbayang dalam benak, kalau ia akan membantu putri dari keluarga Wilson. Benarkah demikian?


.


.


.


Masih dalam gendongan dari laki-laki yang merupakan seorang Presdir dari perusahaan HR Group, Ann yang merasa aneh dan tak mengerti akan dirinya sendiri pun mulai menggigit bibir sendiri sambil pandangan mata terus saja mengarah pada jakun yang menonjol di leher Matteo.


Entah perasaan apa ini, tapi yang jelas sekarang rasanya Ann ingin terus berada di dekat laki-laki itu. Sentuhan jemari tangan yang diberikan olehnya saat menggendong, membuat Ann merasa begitu nyaman.


Keadaan diri sendiri yang sekarang terlalu sulit untuk dikendalikan, mampu membuat Ann mulai membisikan sesuatu tepat pada telinga dari laki-laki itu. Apapun yang dikatakan olehnya, sudah menjadi alasan dari senyuman sumringah yang terpancar di wajah seorang Matteo.


"Kamu yakin?" Tanya Matteo bersungguh-sungguh.


"Saya tidak tahu kalau permintaan itu salah, tapi sentuhan jemari tangan milik Tuan sangat terasa hangat," ucap Ann yang kemudian berhasil membuat Matteo menekan tombol lift kembali.


Masih dalam keadaan melepaskan senyuman penuh arti, Matteo mulai memberitahu sesuatu hal penting, namun sayangnya tak bisa dimengerti oleh seorang Ann. "Saya tahu hal seperti ini akan terjadi. Jadi untuk mengantisipasinya, saya sudah memesan kamar hotel."


Sungguh, kondisi yang sekarang sedang terjadi kepada Ann bukan hasil dari jebakan dan rencana Matteo kan? Ia tak akan setega itu dengan seorang gadis? Tentu saja, kalau Ann tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga Wilson, mungkin Matteo juga akan bersikap baik kepadanya.


......................


⚠️ WARNING ⚠️


— Tolong Skip bagi yang merasa masih dibawah umur.


Semua yang terjadi sekarang kepada Ann adalah murni atas kesengajaan seorang Matteo. Ada alasan kuat yang mampu membuatnya berpikir untuk melakukan hal jahat seperti ini. Matteo hanya ingin memastikan bahwa rencananya menikahi putri dari keluarga Wilson itu berhasil. Jika tak menggunakan siasat begini dan memintanya langsung dalam keadaan sadar, mungkin gadis pemilik nama Ann itu akan menolak.


Tepatnya tadi, ketika ia sedang berbincang dengan sang mantan kekasih, Matteo kembali meminta tolong untuk memasukkan pil perangsang ke dalam minuman yang akan diberikan kepada Ann. Seperti seorang pelaku yang sedang berpura-pura tak melakukan kesalahan, Matteo berhasil membuat seorang Ann terlihat tak berdaya seperti ini.


Tepat setelah pintu lift terbuka, Matteo yang masih terus tersenyum sambil menggendong tubuh gadis itu, pun mulai berjalan menuju ke arah kamar hotel yang telah dipesan. Tanpa ingin membuang banyak waktu lagi, dengan menggunakan satu tangannya, Matteo mulai menjangkau kartu kamar hotel yang ada di saku jasnya, kemudian membuka pintu kamar dengan begitu mudah.


Sudah mulai merasa kasihan dan tak tega karena obat seperti itu memang rasanya begitu menyiksa kalau tidak segera mendapatkan penanganan, Matteo pun mulai membaringkan tubuh mungil milik Ann ke atas ranjang kamar hotel yang terlihat empuk.


Ann yang memang tak bisa lagi untuk mengontrol diri sendiri, dikarenakan pengaruh obatnya begitu kuat, pun mulai melakukan penyerangan dadakan kepada Matteo. Jujur saja, Matteo yang masih ingin melepaskan jasnya cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh gadis cantik itu.


"Sepertinya kamu sudah sangat tak sabar," ucap Matteo setelah melakukan ciuman singkat dengan gadis itu.


"Tolong bantu saya, Tuan! Semuanya sangat sulit untuk ditahan," pinta Ann yang anehnya terkesan sedang memohon.


Melihat keadaan Ann yang seperti ini, justru dianggap oleh Matteo sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kapan lagi melihat putri dari keluarga Wilson memohon dan meminta untuk disentuh? Cara main Matteo memang curang, kalau saja tak memakai obat itu mungkin sekarang Ann tidak akan bertingkah seperti ini.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Di esok pagi, jangan sampai menyalahkan saya!" tutur Matteo yang kemudian kembali ******* bibir ranum milik Ann dengan bringas. Malam ini, jangan minta Matteo untuk bermain lembut! Permintaan seperti itu tak akan pernah dituruti olehnya.


.


.


.


Seperti seorang ahli, Matteo yang kini telah bertelanjang dada pun mulai mencoba untuk menanggalkan semua pakaian yang masih dikenakan oleh gadis itu. Terlihat begitu tak sabar, Matteo tanpa ragu merobek gaun mahal yang dibelinya begitu saja.


Ann dengan kondisinya sekarang, sudah benar-benar kelihatan pasrah. Menyerahkan segara urusan kepada Matteo, asalkan dirinya bisa terbebas dari perasaan aneh yang terus saja menggerayangi dan tak membuat nyaman ini.


"Jangan khawatirkan apapun Ann! Setelah ini saya pasti akan menikahi kamu," tutur Matteo dengan jemari tangan yang sudah mulai bergerilya manja ke dalam bagian sensitif milik Ann.


Terus bergerak cepat dan membuat Ann mulai mengeluarkan lenguhannya. Jujur saja, menurut Matteo suara yang dibuat oleh Ann itu terdengar begitu candu dibandingkan dengan suara perempuan lainnya yang memang sudah pernah melakukan hal seperti ini bersama Matteo.


"Ann? Teruslah membuat suara seperti itu. Saya begitu menyukainya," tutur Matteo yang tentu saja tak bisa di dengar dengan jelas oleh Ann.


Merasa cukup dalam permainan jari tangan, Matteo pun menariknya dari sana. Lalu, tanpa permisi ia mulai memaksakan junior nya agar memasuki lembah yang sudah terasa begitu basah itu.


Karena ini adalah kali pertama bagi seorang Ann, tak heran kalau Matteo merasa sedikit kesulitan untuk menembus penghalang yang ada. Jujur saja, ini juga menjadi yang pertama bagi seorang Matteo bermain bersama seorang gadis yang masih perawan.


"Sungguh mengejutkan. Saya tak menduga hal seperti ini," kata Matteo sambil terus berusaha memaksakan juniornya masuk.


Apa yang diusahakan oleh Matteo akan selalu berhasil. Tak butuh waktu lama, penyatuan diantara keduanya terjadi. Ann yang sekarang ada dibawah tubuh kekar dari Matteo pun berteriak kesakitan. Masih pertama kali, jadi wajar kalau ia merasakan seperti itu.


"Saya akan bergerak sekarang. Kamu cukup untuk menikmatinya saja!" Perintah Matteo dengan jelas.


Kalau waktu bisa diputar kembali, seandainya Ann tak meminum syrup yang diberikan pelayan, mungkin sekarang ini ia sudah berada di kamar kos nya, beristirahat dan memikirkan hari esok untuk kembali bekerja.


Bersambung...