Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Cum Laude.



Dalam balutan kebaya modern bewarna biru pastel, Ann sekarang ini sudah kelihatan begitu cantik layaknya seperti seorang putri dari sebuah keluarga bangsawan. Sebenarnya untuk acara wisuda, Ann hanya berniat memberikan penampilan diri yang sederhana, akan tetapi sahabatnya - Lidia, dengan jelas melarang Ann. Bukan tanpa sebab, hanya saja Lidia ingin di hari kelulusan ini sahabatnya itu tampil anggun bukan ala kadarnya.


Hanya karena ingin melihat sahabatnya tampil memukau, Lidia bahkan sampai repot-repot datang mengunjungi kamar kost yang ditempati oleh Ann ketika waktu masih menunjukan tepat pukul lima pagi, padahal Lidia sudah tahu dengan jelas kalau jarak lokasi antar tempat tinggalnya dengan kamar kos milik Ann terbilang cukup jauh. Upaya keras ini dilakukan oleh Lidia agar bisa membawa sahabatnya menemui salah satu make up artist yang sudah disiapkan.


Seperti apa yang diinginkan oleh Lidia, sahabatnya sekarang kelihatan begitu berbeda dan memukau dalam penampilannya. Dia menjadi lebih cantik dengan riasan itu, padahal tanpa riasan Ann juga sudah tampak sangat cantik.


Merasa puas karena berhasil membuat Ann berdandan seperti ini, senyuman lebar terus saja melekat pada wajah Lidia. Rasanya seakan uang yang dikeluarkan untuk menyewa make up artist itu sebanding dengan yang didapatkan.


Dalam balutan sorot mata yang begitu berbinar, Lidia tak ragu untuk memberikan pujian kepada sang sahabat yang saat ini masih terduduk diam di sebuah kursi tepat berhadapan dengan sebuah cermin rias.


"Aku yakin, kalau dari semua orang yang ikut acara wisuda, cuma kamu yang tampil dengan begitu memukau," ucap Lidia sembari menyentuh lembut dua pundak milik sahabatnya itu.


"Apa harus sampai seperti ini? Padahal aslinya aku ingin berdandan sendiri," kata Ann merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan sahabatnya dengan hal seperti ini.


"Kamu sama sekali tidak boleh dandan sendiri, Ann. Di acara spesial, juga harus tampil beda. Aku yakin juga pasti banyak orang yang akan pangling ketika melihat kamu," ujar Lidia tak ada hentinya untuk tersenyum.


"Terima kasih ya, Li. Karena selama ini mau bersikap baik kepadaku," hanya ucapan terima kasih saja yang bisa diberikan oleh Ann kepada sang sahabat. Bahkan sekarang Ann sangat tidak tahu bagaimana cara membalas segala kebaikan yang telah diberikan oleh Lidia. Rasanya seakan tetap berada di samping sahabatnya, bukan menjadi cara yang cukup untuk membalas hutang budi itu.


Karena waktu yang dimiliki oleh mereka tidak terlalu banyak lagi, Ann yang memang sudah siap pun memutuskan untuk segera pergi dari salon kecantikan ini. Bersama dengan Lidia, gadis cantik yang sebentar lagi akan diwisuda itu pun mulai melangkah naik, masuk ke sebuah mobil bewarna merah yang dirasa cukup tak asing.


Keadaan seperti sekarang ini sangat tidak memungkinkan bagi seorang Ann untuk naik transportasi umum jadi, mau tak mau ia harus kembali merepotkan sahabatnya. Mengambil tumpangan dan meminta Lidia supaya mau mengantarkannya ke tempat wisuda.


Tenang saja, tidak seperti apa yang dipikirkan oleh Ann, justru karena bisa membantu dan diandalkan, Lidia malah merasa senang. Sama sekali tidak merasa direpotkan.


"Jangan lupa buat pakai sabuk pengamannya, Ann!" Lidia hanya berusaha mengingatkan sang sahabat karena peduli pada keselamatan dalam berkendara.


Sesaat setelah Ann memasangkan sabuk pengaman, Lidia yang memang sudah duduk di kursi pengemudi pun bergegas untuk mengendarai mobil ini, melintasi jalanan kota yang terbilang cukup ramai lancar.


.


.


.


Hanya perlu membuang waktu untuk diperjalanan sekitar hampir 25 menit, akhirnya mobil bewarna merah yang dikendarai oleh Lidia tiba juga di sebuah hotel — tempat dimana acara wisuda diadakan.


Ann yang merasa kalau dirinya sudah terlambat pun mulai bergegas turun dari mobil. Karena saking terburu-buru, Ann sampai lupa kalau sekarang ini tengah mengenakan kebaya yang kebetulan tak bisa dibuat untuk bergerak sembarangan. Hampir saja terjatuh, tapi untung saja ada Tirta yang membantu. Iya, rupanya laki-laki itu juga hadir di acara wisuda.


"Hati-hati Ann!" Kata Tirta yang kini telah membantu Ann agar bisa berdiri dengan benar lagi.


"Kenapa terburu-buru, Ann? Santai saja, kamu juga belum terlambat," ungkap Tirta memberitahu kalau acara wisuda belum sepenuhnya dimulai.


"Benarkah?" Tanya Ann yang kemudian melihat jam pada layar ponsel miliknya.


"Padahal sudah lebih dari jam delapan. Bukankah seharusnya acara itu dimulai tepat waktu?" Bukan bersyukur karena tidak terlambat, Ann malah memprotes karena acara wisuda itu tak berjalan tepat waktu.


Lidia yang memang telah turun dari mobil, pun tanpa berlama-lama lagi mulai mengajak sahabatnya itu untuk segera masuk ke tempat wisuda. Meskipun katanya belum terlambat, tapi kalau mereka tetap berbincang di parkiran seperti ini, pasti juga akan dianggap terlambat.


"Ann, gak mau masuk?" Tanya Lidia yang kelihatan sudah bersiap untuk melangkahkan kakinya ke dalam gedung hotel itu.


Hanya menganggukkan kepala singkat, Ann bersama kedua temannya mulai meninggalkan parkiran. Kini mereka sedang berada di perjalanan menuju ke ballroom hotel, tempat dimana acara wisuda diadakan.


.


.


.


Ketika sudah sampai di ballroom hotel, Ann yang bisa dibilang sudah terlambat karena rektor sudah memberikan kalimat sambutannya. Bukan bermaksud untuk merusak acara penting yang dinanti-nantikan oleh banyak orang, Ann mulai berjalan dengan hati-hati menuju ke arah tempat duduk kosong yang memang sudah disediakan oleh panitia penyelenggara untuk dirinya.


Setelah mengambil tempat yang persis bersebelahan dengan mahasiswa lainnya, Ann pun mulai mengarahkan fokusnya pada acara wisuda ini. Mendengarkan secara seksama, semua sambutan yang dikatakan oleh rektor universitas itu. Ann benar-benar sudah kelihatan anteng, menyatu dalam acara wisuda ini.


Cukup lama dibuat menunggu, akhirnya saat yang paling ditunggu tiba juga. Prosesi wisuda untuk para wisudawan mulai dimulai. Ann sangat tidak sabar menantikan namanya dipanggil.


Usaha memang tidak akan pernah mengkhianati sebuah hasil. Menurut Ann, itu bukan hanya sekedar ungkapan belaka. Setelah kemarin terus berusaha mengejar nilai SKS sampai mengebut untuk pengerjaan skripsi, hari ini nama Ann dipanggil karena harus mengambil penghargaan serta sertifikat sebagai salah satu mahasiswa terbaik di fakultas manajemen.


Ann hanya tahu kalau dirinya akan lulus dari bangku universitas dengan cepat, tapi tidak sampai mengira akan mendapatkan IPK yang tinggi. Ann terkejut saat mengetahui hasil IPK nya bisa mencapai angka 3,97 dari nilai sempurna 4,00.


Dengan ekspresi yang masih terkejut dan tak menyangka dengan pencapaian dari diri sendiri, Ann pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian bergegas untuk menghampiri dekan serta rektor yang memang sudah menunggunya di depan sana. Setiap langkah yang diambil oleh Ann, selalu diiringi dengan sorakan serta tepuk tangan meriah. Rasanya seakan semua orang yang hadir di tempat ini merasa begitu bangga terhadap gadis cantik pemilik nama Ann itu.


"Selamat ya, Ann. Saya sangat bangga karena universitas ini memiliki seorang mahasiswa yang begitu berprestasi seperti kamu," tutur rektor universitas sambil berjabat tangan dengan Ann.


Tak ada banyak kata yang bisa terucap dari mulut mungil milik gadis itu, selain banyak-banyak terima kasih. Jujur saja, saat ini akan menjadi momen bahagia sekaligus mengharukan bagi Ann. Untuk kali pertama, air mata turun hanya karena terharu dengan semua hal baik yang sedang di dapatkan olehnya.


"Terima kasih karena sudah mau mengambil saya sebagai salah satu mahasiswa di universitas ini," kata Ann yang tiba-tiba mengingat masa lalu, dimana ia harus berusaha mati-matian mencari beasiswa agar bisa masuk di kampus ini.


Bersambung...