
Ann yang sekarang ini sudah berada di rumah sakit, tempat dimana Nenek Sora dirawat, pun kelihatan mulai lega. Pasalnya setelah ia berbincang dengan bagian administrasi dan menjalani sedikit tawar menawar, akhirnya keringanan untuk tagihan bisa diberikan. Ann bukan mendapatkan diskon, melainkan hanya kesempatan mencicil jumlah tagihan itu sebanyak enam kali.
Meskipun sudah diberikan keringanan lewat cicilan, tapi tetap saja jumlah tagihan yang dimiliki oleh Ann tidaklah sedikit. Setidaknya untuk sekarang, Ann tak perlu untuk membayar semua jumlah itu. Sedikit lega saat tahu kalau uang yang ada di tabungannya masih memiliki sisa saldo. Dengan begini, untuk satu bulan ke depan Ann tahu kalau dirinya ada harapan bertahan.
Seusai melunasi jumlah tagihan untuk cicilan pertama, Ann yang memang tidak berniat langsung pulang pun memutuskan kalau ia berkeinginan untuk berkunjung ke tempat Nenek Sora di rawat. Ann harus mengunjungi beliau, setelah kurang lebih satu bulan tidak datang karena terlalu sibuk pada urusan pribadi.
Cukup berjalan jauh, karena kebetulan jarak dari meja administrasi dengan tempat Nenek bisa dibilang lumayan jauh, Ann kini telah tiba tepat di depan dari jendela kaca ruang ICU. Ann tidak terlalu tahu dan yakin mengenai usahanya untuk menyelamatkan Nenek Sora itu berhasil atau hanya menjadi sebuah kegagalan, tapi sejak enam bulan terkahir, terhitung juga dengan hari ini, kondisi Nenek Sora tak menunjukan tanda akan membaik. Terjebak dalam satu kondisi yang sama selama berbulan-bulan dan tak menunjukan kalau akan terbangun dari tidur panjang.
Ann yang kini sudah ada di depan dari kaca lebar ruang ICU pun hanya bisa menatap sambil dalam pikiran bertanya-tanya mengenai kapan tepatnya Nenek Sora akan terbangun dari tidur.
Pada saat seluruh fokus serta pandangan Ann hanya tertuju pada sosok Nenek Sora yang masih betah terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dengan tubuh yang banyak terpasang oleh alat-alat medis, secara tiba-tiba seorang dokter yang memang sudah merawat Nenek Sora selama beberapa tahun terakhir, datang menghampiri.
Kemunculan dari dokter Ronald mampu sedikit mengejutkan seorang Ann. Bukan tanpa sebab, hanya saja gadis itu tak menyangka saja kalau akan dihampiri oleh beliau. Tanpa perlu sampai datang kesini pun, nanti Ann juga pasti akan mendatangi dokter Ronald di ruang kerjanya.
"Senang karena bisa melihat kamu datang kembali kesini, Ann," ujar Dokter Ronald membuat sebuah salam sapaan.
Karena bisa dibilang Ann juga telah cukup lama kenal dengan sosok Dokter Ronald, tak heran kalau balasan sapa yang dibuat oleh Ann terdengar akrab dan tidak ada rasa canggung sedikitpun.
"Terlalu sibuk dengan urusan pribadi sampai lupa kalau masih memiliki tanggungan untuk datang kemari," ujar Ann sambil memunculkan sebuah senyuman pada bibir ranumnya.
Mendengar jawaban seperti itu, mampu membuat Dokter Ronald menghela napasnya berat sambil mengalihkan pandangan ikut melihat ke arah Nenek Sora yang sekarang masih terlihat menutup kedua matanya.
"Jadi? Bagaimana keadaan Nenek? Apa ada perubahan signifikan?" Tanya Ann yang sekarang terdengar penasaran dan ingin tahu.
"Keadaannya masih sama. Tidak lebih baik ataupun lebih buruk. Sudah seperti ini sejak enam bulan terkahir," kata Dokter Ronald sedikit menyayangkan kondisi Nenek Sora sekarang.
Ann yang tadi sempat berharap kalau keadaan sang nenek bisa jauh membaik, seketika langsung harus menerima bahwa harapannya itu terlalu sulit untuk menjadi sebuah kenyataan.
"Ann? Boleh saya tanya sesuatu?" Dokter Ronald hanya ingin meminta izin terlebih dahulu sebelum mengajukan sebuah pertanyaan.
"Silahkan, dok!" ujar Ann yang dengan mudah memberikan izin.
"Kenapa kamu masih mau berusaha menyembuhkan Nenek Sora? Menurut saya sebagai seorang dokter, kondisi beliau sangat tidak mungkin untuk diselamatkan lagi. Banyak faktor yang berhasil membuat Nenek kamu terus terjebak dalam kondisi seperti ini."
Semua kata yang barusan terlontar dari mulut Dokter Ronald memang terdengar sangat benar. Bukankah tindakan Ann sekarang ini kelihatan cukup egois? Semua ketidakmungkinan tentang kesembuhan dari Nenek Sora sudah terlihat jelas, tapi Ann masih terus bersikeras untuk berusaha menyembuhkan.
"Biarkan Nenek Sora istirahat dengan tenang, Ann. Tahukah kamu kalau melakukan hal seperti ini sama saja dengan menyiksanya? Nenek Sora bisa bertahan hanya karena ada bantuan dari alat-alat medis," kata Dokter Ronald menjelaskan keadaan yang sedang terjadi sekarang.
Ann sebagai pendengar sekaligus seseorang yang mendapatkan saran baik hanya bisa tersenyum. Andai saja Ann bisa melakukan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Ronald, mungkin sekarang dirinya juga tak akan berada dalam posisi seperti ini.
"Aku tidak punya kuasa untuk memutuskan soal hal seperti itu," kata Ann memberikan jawaban sama setiap kali diajukan pertanyaan tersebut.
"Apa karena kamu masih beranggapan kalau Nenek Sora bukan bagian dari keluarga? Seperti waktu itu, saat saya menanyakan hal sama?" Kini Dokter Ronald ingin mendengar alasan yang lebih jelas.
"Meskipun aku sudah menganggap beliau seperti keluarga sendiri, tapi itu tak bisa mengubah fakta kalau aku memang tidak mempunyai hak apapun untuk memutuskan tentang hidup dari Nenek Sora," kata Ann yang tentu saja kurang bisa dimengerti oleh dokter Ronald.
"Lalu, kalau bukan kamu siapa yang seharusnya bisa membuat keputusan soal itu? Selama merawat Nenek Sora, saya tidak pernah melihat ada keluarga selain kamu yang datang untuk menjenguk," ujar Dokter Ronald.
"Ada beberapa hal penting yang harus aku lakukan jadi, kemungkinan harus pergi sekarang," ujar Ann yang tentu saja tak mendapatkan izin dari Dokter Ronald.
"Pembicaraan kita belum sepenuhnya selesai, Ann. Kamu juga belum menjawab pertanyaan dari saya," Dokter Ronald berusaha mencegah kepergian dari gadis itu.
"Di lain waktu saja kita lanjutkan. Aku juga pasti masih akan datang kesini," Ann sama sekali tidak bisa dicegah.
"Tolong untuk tetap jaga Nenek Sora sampai akhir, Dok! Aku permisi," tukas Ann yang kini sudah terlihat melangkahkan kakinya pergi dari depan ruang ICU.
...****************...
Hari benar-benar berlalu begitu cepat, tak terasa Ann sudah menghabiskan waktu sekitar satu bulan bekerja di perusahaan HR Group. Bisa dibilang sekarang, dia sudah tidak dapat disebut lagi dengan pegawai magang. Tentu saja statusnya telah berganti menjadi salah satu pegawai tetap dari departemen pemasaran di perusahaan HR Group.
Saat tahu perubahan status ini, jujur saja Ann merasa sangat senang. Karena selain mendapatkan kenaikan gaji, Ann juga sudah memiliki pekerjaan tetap. Posisi serta status kepegawaiannya sekarang sangat tidak memungkinkan untuk menerima pemecatan secara tiba-tiba.
Pagi ini, dikala Ann ingin bersiap diri untuk pergi ke kantor seperti hari biasanya, secara tak terduga ia merasakan mual yang luar biasa. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya, tapi kalau dirasakan sepertinya Ann sedang mengalami masuk angin.
Sebenarnya Ann sangat ingin pergi bekerja, tapi karena kondisinya sedang dalam keadaan yang kurang baik, Ann lebih memilih untuk datang ke dokter daripada kantor. Ann sangat yakin kalau harus segera memulihkan diri, karena dengan memaksakan diri juga bisa berdampak kurang baik. Apalagi sekarang ini banyak pekerjaan yang harus Ann tangani.
Sudah memutuskan untuk pergi ke dokter, Ann yang masih terus merasa mual pun berusaha menjangkau ponsel pribadi yang sekarang ini berada di atas meja kerjanya. Dengan cepat, Ann langsung menghubungkan panggilan kepada kepala timnya — Ghea.
Tak dibuat mendengarkan nada sambung terlalu lama, panggilan pun langsung mendapatkan jawaban. Ann bisa mendengar dengan jelas suara sapaan dari sekarang Ghea.
"Kenapa, Ann?" Karena mereka berdua memang sudah akrab, jadi tidak heran kalau cara bicaranya sudah tak terlalu formal lagi.
"Maafkan aku, tapi sepertinya aku harus mengambil cuti," kata Ann tanpa adanya sebuah basa-basi yang berarti.
"Cuti? Kenapa tiba-tiba? Apa kamu memiliki keperluan mendesak?" Tanya Ghea kedengaran cukup khawatir.
"Bisa dibilang seperti itu. Aku sepertinya harus menemui dokter," jawab Ann yang tak ragu untuk memberitahu tentang kondisinya.
"Kenapa menemui dokter? Apa kamu sakit, Ann?" Ghea bertanya kembali dari seberang panggilan ini.
"Iya. Sedikit mual dan pusing. Sepertinya sedang masuk angin," kata Ann.
"Berapa kali sudah aku bilang! Kamu itu masih manusia yang juga butuh untuk istirahat. Sejak diangkat menjadi pegawai tetap, kamu terlalu bekerja keras. Bahkan beberapa kali sampai lembut dan tidur di kantor," ini adalah cara Ghea merasa khawatir. Bukan dengan menanyakan kabar secara baik-baik, Ghea justru tak ragu untuk memberikan omelan.
"Aku hanya merasa sedang bersemangat saja sampai seperti itu," kata Ann membuat alasan.
Karena tujuan dari panggilan ini hanya untuk memberitahu kabar sekaligus meminta izin jadi, Ann yang memang harus segera pergi ke dokter pun mulai berusaha mengakhiri panggilan dengan Ghea.
"Kalau begitu, aku harus pergi dulu. Terima kasih karena sudah mau memberikan cuti kepadaku," tutur Ann yang kemudian mengakhiri panggilan ini secara sepihak.
Bersambung...