Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Keputusan Yang Berubah.



Hasil yang tak bisa lagi dibantah harus benar-benar diterima oleh Ann. Mau tes darah ataupun dengan testpack semua menunjukan hasil sama. Ann positif hamil dan tak perlu ditanya lagi tentang ayah dari janin yang saat ini sedang ada di dalam rahimnya.


Setelah cukup berpikir seorang diri di kamar, Ann mau tak mau harus didesak agar bisa bergegas untuk mengambil sebuah keputusan dan mencari solusi dari masalah yang sekarang tengah dihadapi.


Ann tahu kalau kondisinya belum sepenuhnya membaik, karena sekarang pun masih terasa cukup pening di kepala. Menurut kata dokter, Ann memang harus banyak istirahat karena usia kandungan diawal memang bisa dibilang cukup rentan untuk mengalami keguguran. Namun, ia tetap bertekad ingin menemui laki-laki yang sudah bisa dipastikan merupakan ayah dari janin yan masih dikandung.


Dengan kelihatan terburu-buru, Ann kini mulai melangkahkan kaki keluar dari tempat tinggalnya. Ann yang memang sudah ditunggu oleh kendaraan online pesanan pun berjalan mendekat ke arah mobil bewarna abu itu.


"Benar dengan Nona Ann?" Tanya sopir dari kendaraan online tersebut.


Ann menjawab pertanyaan itu dengan anggukkan kepala singkat, lalu enggan membuang banyak waktu untuk sesuatu hal yang terkesan basa-basi, Ann sekarang sudah membuka pintu mobil dari kendaraan online tersebut dan menempatkan dirinya duduk dengan nyaman pada kursi bagian belakang.


"Pak, tolong cepat antar kan saya ke perusahaan HR Group ya...," pinta Ann yang terburu-buru.


"Apa nona sedang terlambat akan sesuatu?" Tanya sopir dari kendaraan online ini yang hanya ingin tahu saja.


"Iya. Ada rapat yang harus saya hadiri," jawab Ann, tentu saja tidak memberitahu hal sebenarnya kepada orang asing.


Karena merasa kalau penumpangnya memang sedang terburu-buru, sopir dari kendaraan online ini mulai mengemudikan mobilnya, melintasi jalanan kota yang sudah sedikit lenggang. Sesuai dengan permintaan dari Ann, si sopir pun membawa mobil ini dalam kecepatan yang bisa dibilang cukup tinggi untuk ukuran di jalan raya.


.


.


.


Sopir kendaraan online benar-benar sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik. Oleh karena itu, tidak sampai tiga puluh menit, mobil yang ditumpangi oleh Ann kini sudah terlihat berhenti persis di depan dari pintu masuk perusahaan HR Group.


Ann yang sudah membayar untuk jasa dari sopir kendaraan online pun terlihat bergegas turun dari mobil dan mulai berlari masuk ke gedung perusahaan itu. Sebenarnya untuk ibu hamil yang baru berusia dini, sangat tidak dianjurkan untuk berlari-lari seperti sekarang ini.


Tanpa mempedulikan apapun, karena yang sekarang menjadi fokus Ann adalah menemui Matteo, ia mengabaikan banyak sekali sapaan dari teman kantornya. Bahkan lambaian tangan dari Andita pun tak dihiraukan oleh seorang Ann.


Dengan memakai setelan hoodie bewarna abu, Ann kini sudah berada di dalam lift dan siap untuk menuju lantai, tempat dimana ruangan Matteo berada. Namun, tanpa terduga tepat di dalam lift, Ann harus bertemu dengan kepala timnya — Ghea.


Ingatan Ghea itu bisa dibilang cukup baik. Bukankah pagi tadi Ann sudah menghubunginya hanya untuk meminta izin cuti dengan alasan tidak enak badan? Tapi, kenapa sore ini sosok Ann bisa terlihat oleh kedua matanya. Ghea yang terkejut karena tidak menyangka pun tanpa ragu mulai mengajak Ann yang sedang terburu-buru untuk berbicara.


"Ann? Kok disini? Bukankah kamu bilang ingin cuti?" Tanya Ghea ingin mendapatkan penjelasan dari Ann.


Ann yang tampak kikuk pun harus mencari jawaban tepat untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kepala timnya.


"Iya. Ada hal penting yang harus aku urus," kata Ann belum sepenuhnya jelas.


"Hal penting seperti apa? Bukankah kamu bilang kalau sedang sakit? Seharusnya kalau memang ada hal penting yang ingin dilakukan, kamu bisa kasih tahu aku," kata Ghea yang kini mulai memeriksa keadaan dari Ann. Tanpa permisi, Ghea menyentuh dahi milik Ann, bermaksud untuk memastikan suhu tubuh.


"Sakit apa, Ann? Apa kata dokter?" Tanya Ghea tepat setelah mendapati kalau Ann tidak sedang dalam kondisi demam.


"Bukan sesuatu yang parah. Kata dokter cuma perlu diberikan infus saja," jawab Ann yang tidak berniat membuat Ghea semakin khawatir.


Mendengar perkataan seperti itu, mampu membuat Ghea menghela napas lega. Syukur kalau memang Ann tak menderita penyakit yang terlalu parah.


"Kalau begitu, kenapa kamu ada disini? Kenapa tidak istirahat saja di rumah? Bukankah kamu memang harus banyak istirahat?" Tanya Ghea seakan mengulang pertanyaan yang tadi sudah sempat mendapatkan jawaban dari Ann, namun masih kurang pasti.


Belum sempat menjawab apapun, pintu lift sudah terbuka terlebih dahulu. Karena Ann merasa sudah sampai di lantai tujuan, tanpa ada perkataan apapun untuk Ghea, sambil mengumbar senyuman tipis, Ann pun melangkahkan kakinya keluar dari lift.


Awalnya memang dikira kalau Ghea tak akan turun di lantai yang sama, tapi saat Ann sudah melambaikan tangan, ternyata Ghea juga ikut melangkahkan kakinya keluar dari lift.


Melihat Ghea yang sekarang sudah berada di lantai sama, sanggup membuat Ann bertanya-tanya. Sungguh, ini menjadi hal tidak terduga karena kepala tim juga memiliki sebuah tujuan yang sama dengan Ann.


"Kok ada disini? Bukannya seharusnya masih satu lantai lagi? Ruang arsip ada di atas," kata Ann bingung.


"Siapa yang bilang kalau aku mau ke ruang arsip?" Tanya Ghea yang juga tidak mengerti kenapa Ann bisa mengira seperti itu.


"Bukankah semua berkas itu harus diberikan ke ruang arsip?" Tanya Ann sembari menunjuk pada berkas-berkas yang sedang dibawa oleh Ghea.


Mendengar apa yang barusan keluar dari mulut Ann, sanggup memunculkan sebuah tawa ringan dari seorang Ghea.


"Tidak semua berkas harus dibawa ke ruang arsip. Kebetulan yang sedang aku bawa adalah berkas untuk ditandatangani oleh Presdir," kata Ghea memberitahu dan anehnya itu malah membuat Ann membelalakkan kedua mata lebar.


"I-iya... Aku juga ingin menemui Presdir," kata Ann sedikit tergagap.


"Kenapa kamu menemuinya? Apa ada sesuatu hal penting yang harus kamu katakan dengannya?" Pertanyaan yang diajukan oleh Ghea kedengaran seperti seseorang ingin tahu.


"Memang ada sesuatu yang penting, tapi kamu juga gak perlu tahu soal apa itu," kata Ann memilih enggan untuk memberitahukan apapun.


"Baik, aku mengerti. Memang tidak semua hal harus aku ketahui," tutur Ghea yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Presdir dari HR Group. Ann yang juga memiliki tujuan sama pun terlihat sedang mengekor tepat dibelakang Ghea.


.


.


.


Ketika mereka berdua sudah sampai di depan pintu dari ruang Presdir, Ghea yang memang memiliki tujuan pasti pun tanpa ragu mulai membuat sebuah ketukan pintu. Setelah mendapatkan izin dari si pemilik, Ghea pun bergegas untuk membuka pintu dari ruangan itu.


"Selamat sore Tuan Matteo," sapa Ghea tepat sesaat setelah kakinya masuk ke ruangan kerja itu.


Tak lama setelah Ghea, Ann yang memang sudah mengekor pun juga ikut masuk ke ruangan, tempat dimana Matteo berada. Jujur saja, sewaktu ada di dalam ruangan jantung milik Ann lagi-lagi harus berdebar cukup kencang. Rasa gugup karena harus kembali bertemu dengan laki-laki itu, menghampiri kembali.


"Hai, Ghea...," sapaan yang diberikan oleh Matteo ini sangat amat berhasil membuat seorang Ghea terkejut. Tak disangka saja kalau Presdir yang selalu dianggap memiliki sikap dingin seperti kulkas seratus pintu, ternyata juga bisa menyapa dengan benar, bahkan tahu tentang nama pegawainya.


"Kenapa kamu datang kesini?" Tanya Matteo yang tentu saja sudah menyadari kehadiran seorang Ann.


"Ah, saya hanya ingin memberikan berkas penting dari tim departemen pemasaran yang harus Tuan tandatangani," kata Ghea menyampaikan maksud tujuannya datang kesini.


Hanya menganggukkan kepala singkat, Matteo seakan memberikan isyarat kepada Ghea agar meletakkan semua berkas itu ke atas meja kerja.


"Tolong diperiksa terlebih dahulu sebelum nanti ditandatangani," ujar Ghea kepada sang atasan.


"Apa hanya ini saja?" Tanya Matteo ingin memastikan.


"Iya...," jawab singkat Ghea.


"Lalu? Kenapa ada Ann di belakang kamu?" Tanya Matteo yang lebih tertarik untuk mendengar tujuan kedatangan dari Ann.


"Ah, katanya dia ingin membicarakan sesuatu hal penting dengan Tuan," kata Ghea yang mengambil kesempatan Ann untuk berbicara.


"Benarkah kamu ingin berbicara dengan saya, Ann?" Tanya Matteo yang berharap mendapatkan jawaban dari Ann.


"I-iya, Tuan," Ann membenarkan.


Matteo pun terdiam sejenak, sembari pandangannya terus menatap ke arah perempuan yang kini sedang terbalut dalam pakaian *h*oodie abu. Kalau dilihat dari penampilan Ann sekarang, Matteo bisa menyimpulkan bahwa perempuan itu memang ingin menyampaikan hal penting.


"Ghea, kamu bisa keluar sekarang," suruh Matteo yang tentu saja langsung dituruti.


Tak berani membantah, Ghea pun sekarang sudah melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini meninggalkan Ann bersama dengan Matteo. Sebenarnya dari dalam diri Ghea sedikit ada rasa penasaran dan ingin tahu, tapi dia enggan kalau harus menguping masalah pribadi orang lain.


Tepat setelah Ghea pergi dari ruangan ini, Ann pun langsung dipersilahkan untuk duduk pada sofa panjang yang ada. Disini terlihat dengan jelas kalau Matteo benar-benar bersikap welcome dengan kehadiran Ann.


"Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Matteo tanpa adanya sebuah basa-basi yang berarti.


Ann sudah memutuskan dan seharusnya rasa ragu tak perlu ikut hadir juga. Setelah mengambil napas cukup dalam, dengan kesiapan diri, Ann mulai mengatakan maksud serta tujuannya kepada Matteo.


"Saya datang kemari untuk menerima tawaran dari Tuan," kata Ann terdengar serius.


"Tawaran dari saya? Tawaran yang mana? Saya memberikan dua tawaran kepada kamu," ucap Matteo hanya ingin mengetahui lebih jelasnya.


"Yang..." Ann sengaja memberikan jeda. Kenapa mulut ini terlalu sulit untuk berucap?


"Bisa langsung kamu katakan dengan jelas," pinta Matteo sudah tidak sabaran.


"Tawaran soal menikah. Saya rasa memang harus menerima penawaran itu," kata Ann yang tentu saja menjadi suatu hal baik bagi Matteo. Setelah ditolak beberapa kali, Matteo akhirnya mendapatkan hal yang memang sudah diinginkannya. Kenapa tidak sejak awal saja? Kenapa harus membuat Matteo menunggu?


Bersambung...