
Bisa dibilang kemarin adalah saat yang begitu menyenangkan untuk seorang Ann. Pasalnya untuk kali pertama, Ann boleh mendapatkan pengamalan terbaik dalam hal bersenang-senang. Ya, meskipun Ann sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol seperti yang lain.
Kalau mau diceritakan apa yang terjadi, tepat setelah menyelesaikan acara makan malam di sebuah restoran daging, semua pegawai dari departemen pemasaran yang kelihatan memang sudah sedikit mabuk, mulai memutuskan untuk segera pergi ke tempat karaoke langganan.
Sesampainya di sana, mereka semua termasuk Ann ikut bernyanyi dan berjoget bersama, sampai pada akhirnya ada salah seorang pegawai yang memesan kembali minuman beralkohol. Bisa dibayangkan, semua orang bersenang-senang sambil terus minum sampai kesadaran mereka pelan-pelan mulai hilang. Derap langkah kaki mereka juga sudah kelihatan sempoyongan, seperti seseorang yang ingin jatuh.
Ann yang kebetulan sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol dan menjadi satu-satunya orang yang masih sadar, pun mulai direpotkan. Iya, mau tak mau Ann harus berusaha untuk mencarikan mereka sopir pengganti maupun taksi.
Ketika semua orang sudah mabuk dan mulai berbicara sembarangan, hanya ada Ann yang terlihat sabar mengurus mereka semua. Bahkan pagi ini, Ann juga tak ragu untuk memberikan minuman madu kepada semua pegawai dari departemen pemasaran. Ann tahu bagaimana rasa pening dari efek minuman beralkohol. Jangan sampai karena masih merasa pengar, pekerjaan mereka semua sampai harus tertunda ataupun berantakan.
"Apa senior kemarin pulang dengan selamat?" Tanya Ann kepada Ghea sembari tangannya memberikan sebotol minuman madu.
"Iya. Ada sopir pengganti yang mengantarkan aku pulang hingga selamat," jawab Ghea diikuti dengan senyuman.
"Syukurlah. Silahkan diminum dulu, senior," ucap Ann yang kemudian beranjak pergi, bermaksud beralih ke yang lainnya.
Baru ingin melangkahkan kaki pergi, Ghea yang memang masih ingin berbicara dengan Ann, pun tak ragu untuk menggenggam erat pergelangan tangan milik gadis itu, seakan enggan memberikan izin.
"Kenapa senior?" Tanya Ann kepada kepala tim dari departemen pemasaran ini, sembari menatap ke arah genggaman tangan yang dibuat.
"Setelah membagikan air madu, bisakah kamu menolong ku? Sepertinya aku akan sering untuk merepotkan kamu," ujar Ghea yang kemudian melepaskan genggaman tangan itu karena harus beralih ke hal lain.
"Tentu saja. Kita sekarang berada di satu tim yang sama jadi, sudah sangat wajar untuk saling tolong menolong," tutur Ann siap untuk memberikan bantuannya.
"Ada berkas penting yang harus aku berikan kepada Presdir. Bisakah kamu yang memberikannya?" Tanya Ghea yang kini sudah menyodorkan beberapa berkas penting.
"Memberikannya ke Presdir? Tapi...," entah mengapa rasanya Ann memang ragu untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Ghea. Bukan tanpa sebab hanya saja berhadapan langsung dengan Presdir dari perusahan HR Group, Ann belum siap.
"Jadi? Kamu ingin menolaknya?" Tanya Ghea yang langsung mendapatkan senyuman tipis dari Ann.
Karena ini masih berhubungan dengan pekerjaan yang tentu saja tidak mungkin untuk ditolak, Ann pun memutuskan membantu Ghea. Hanya memberikan berkas, bukan menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
"Baik. Aku akan memberikannya ke Presdir," ujar Ann yang telah menerima beberapa berkas dari tangan Ghea.
Merasa kalau berkas yang sekarang sudah ada pada dirinya harus segera dikirim, Ann pun mau tak mau harus meletakkan minuman madu di meja tengah yang ada pada ruangan ini. Ann juga tidak lupa memberitahu kepada semua pegawai supaya mengambil sendiri minuman madu yang belum sempat dibagikan hingga selesai itu.
Setelah memberitahu dan tak mendapatkan protes apapun, Ann yang sudah membawa berkas penting untuk Presdir pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kerja dari departemen pemasaran. Kini ia sedang berada di perjalanan menuju ruang Presdir yang katanya ada di lantai sepuluh dari gedung perusahaan ini.
...****************...
Karena ruangan dari Presdir HR Group berada di lantai khusus dan bisa dibilang tidak bisa dengan mudah dijangkau oleh sembarang orang, harus yang berkepentingan serta sudah memiliki janji temu, Ann kini kelihatan sedikit kesulitan untuk menghadapi anak buah yang memang ditugaskan menjaga pintu lift.
"Ada keperluan apa ya, nona?" Tanya salah satu dari anak buah yang sekarang sedang mencoba untuk mencegah langkah Ann.
"Ah, saya hanya ingin menyerahkan berkas ini kepada Presdir," ujar Ann sama sekali tidak ada kebohongan dan sesuai pada kenyataan.
"Nona Ghea, kepala tim dari departemen pemasaran," jawab Ann dengan tegas.
"Sudah membuat janji temu?"
"Memangnya untuk memberikan berkas harus pakai janji temu?" Ann sedikit terheran dan merasa kalau penjagaan yang dibuat terkesan sedikit berlebihan.
"Iya. Apa nona pegawai baru? Jadi, tidak tahu mengenai aturan dasar ini?"
Disaat Ann lagi kebingungan menghadapi anak buah yang sengaja ditugaskan menjaga pintu lift, Andita yang kebetulan lewat pun tak ragu untuk memberikan bantuan.
"Ada apa ini? Kenapa kamu bisa ada disini, Ann?" Tanya Andita dengan sorot mata yang hanya tertuju pada sosok Ann.
"Aku diminta oleh senior untuk mengantarkan berkas ini kepada Presdir, tapi mereka menghalangi. Katanya harus membuat janji temu," jawab Ann tidak bermaksud mengadu, melainkan hanya mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa dihentikan? Apa kamu mau tanggung jawab kalau berkas sepenting ini tidak sampai di tangan Presdir?" Protes Andita kepada anak buah yang masih menghalangi jalan.
"Kami hanya sedang berusaha untuk menjaga keamanan dari Tuan Matteo. Gadis ini, juga tak terlihat seperti seorang karyawan," ujar salah satu dari mereka yang jujur saja membuat Ann sedikit merasa tersinggung. Meskipun sekarang Ann masih seorang pegawai magang, tapi tetap saja ia sudah menjadi salah satu bagian dari perusahaan ini. Kenapa masih harus dibedakan?
"Izinkan dia menemui Presdir! Kalau tidak aku akan melaporkan kalian ke bagian HRD karena sudah dengan sengaja mendiskriminasi seorang pegawai," ancam Andita yang kedengaran serius.
Enggan untuk semakin memperpanjang masalah, setelah mendapatkan ancaman dari Andita, mereka pun mulai bergerak bergeser seakan memberikan ruang jalan agar Ann bisa masuk ke lift.
Sambil tersenyum ceria, Ann mengucapkan terima kasih kepada Andita karena sudah mau membantunya untuk mengatasi masalah ini. Mungkin kalau tanpa bantuannya, Ann masih tetap berada mulut degan para pengawal itu.
.
.
.
Tidak butuh banyak waktu, akhirnya lift ini berhasil mengantarkan Ann menuju ke lantai sepuluh dari gedung perusahaan HR Group. Merasa kalau sudah terlalu lama, Ann kelihatan turun dari lift dengan terburu-buru.
Ditengah suasana hening yang cukup bisa terasa di lantai ini, karena memang hanya ada satu ruangan, Ann yang sekarang telah berada persis di depan pintu ruangan Presdir yang kelihatan sedikit terbuka, pun langsung membelalak kedua mata terkejut dengan apa yang baru saja menyapa telinganya.
Ann berharap kalau suara yang baru di dengar itu hanyalah sebuah kesalahan, tapi semakin lama Ann berdiri di tempatnya sekarang, ia justru malah makin mendengar jelas suara lenguhan dari seorang wanita. Memangnya apa yang sedang dilakukan oleh Presdir?
Bukan bermaksud ingin kurang ajar, Ann yang penasaran mulai terlihat memberanikan diri untuk sedikit mengintip melalui celah pintu yang terbuka itu. Ternyata yang di dengarnya sama sekali bukan kesalahan. Di dalam ruangan itu, Ann tanpa sengaja mendapati bahwa Presdir dari perusahan ini sedang asyik bercinta dengan salah seorang wanita cantik, yang tentu saja tak bisa dilihat jelas oleh Ann.
Daripada Ann mendapatkan masalah karena menganggu apa yang sedang dilakukan oleh mereka berdua, ia pun memutuskan untuk menunggu di dekat lift. Anggap saja kalau Ann sama sekali tidak melihat apa yang baru saja terjadi. Pandangannya mendadak sepi dan tak mendapati ada apa-apa. Alasan dirinya masih berada di dekat lift hanya karena ragu untuk mendekat ke ruangan Presdir.
Bersambung...