Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Informasi Penting.



Setelah seharian ini Matteo disibukan dengan pemilihan penerimaan pegawai baru untuk departemen pemasaran, tepat ketika jarum jam sudah menunjukan pukul delapan malam, laki-laki yang memang penggila kerja itu, akhirnya memiliki waktu untuk istirahat.


Kalau orang lain menghabiskan waktu istirahatnya dengan cara mengisi perut atau berbincang bersama teman, berbeda dengan Matteo. Laki-laki yang begitu dicintai oleh para kaum hawa itu lebih ingin menggunakan waktu senggangnya ini untuk bermain bersama wanita cantik.


Maksudnya, Matteo tidak berniat menyewa wanita seperti kebanyakan yang dilakukan oleh laki-laki hidung belang, melainkan ia hanya akan memanggil Cindy — kekasih kesayangannya yang telah dipacari cukup lama.


Hanya dengan menekan angka satu pada layar ponselnya, Cindy yang memang sudah menunggu untuk dipanggil pun langsung datang ke ruangan. Tak sampai lima menit, gadis cantik yang berprofesi sebagai sekertaris pribadi dari Matteo, saat ini sedang berdiri dihadapannya dengan menggunakan gaun mini bewarna hitam.


Jujur saja, ketika melihat kekasihnya itu, Matteo sampai berhasil tertegun dan terdiam. Kenapa dia begitu pandai memilih seorang perempuan? Bagaimana bisa mendapatkan sosok seperti seorang Cindy? Memiliki kaki yang jenjang dan mulus, body nya juga bak gitar spanyol.



"Sudah selesai dengan pekerjaan mu?" Tanya Cindy sembari melangkahkan kakinya mendekat pada Matteo yang sekarang ini masih terduduk di kursi kebesarannya.


"Apa kamu menunggu lama untuk bisa menghampiri ku?" Tanya Matteo tepat setelah Cindy duduk di atas pangkuannya.


"Tentu saja. Aku tahu kalau sedang bekerja, kamu selalu tidak mau diganggu," jawab Cindy sembari memberikan kecupan singkat di bibir milik sang kekasih.


Kalau sedang bersama Cindy, Matteo bukan menjadi seorang laki-laki yang bisa dengan mudah mengontrol dirinya untuk tidak memberikan sentuhan lembut ke tubuh gadis itu.


"Aku begitu merindukan mu. Seharian ini, kita terlalu sibuk sampai tidak sempat berbincang. Makan siang pun kita tak bisa melakukannya bersama," tutur Cindy dengan nada bicara yang terkesan manja.


Sambil menyelipkan rambut panjang ikal milik Cindy ke belakang telinga, Matteo kembali memberikan sebuah kecupan singkat pada bibir dari sang kekasih. Kecupan yang menjadi tanda permintaan maaf, karena sudah merusak suasana hati dari sang kekasih.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan itu?" Tanya Matteo dengan sorot mata yang masih tertuju pada sosok cantik seorang Cindy.


"Katakan saja, pasti akan aku lakukan," imbuhnya yang kedengaran serius.


Tanpa banyak berpikir, Cindy yang memang sudah memiliki cara tepat agar kekasihnya itu bisa menebus kesalahan, tanpa ragu mulai memberitahunya.


"Bagaimana kalau kita pergi ke apartemen mu? Aku sedang ingin menikmati makanan yang kamu masak," pinta Cindy sambil memasang tatapan penuh harap.


Karena Matteo sudah bilang akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan, ia bisa dengan mudah langsung setuju membawa sang kekasih pergi menuju ke Griya Tawang miliknya. Lagipula ini bukan menjadi kali pertama Matteo membawa Cindy ke tempat tinggalnya.


"Oke. Setelah aku rapikan meja, kita akan langsung pergi," tutur Matteo setuju.


Agar tak menganggu, Cindy yang sebenarnya masih ingin terus dekat dengan laki-laki itu, pun mau tak mau harus menjaga jarak terlebih dahulu. Cindy yang tadi duduk di atas pangkuan dari Matteo kini sudah berpindah tempat, duduk di sofa panjang yang ada.


.


.


.


Ketika Matteo sedang sibuk bersiap-siap, merapikan meja kerjanya yang tampak berantakan. Secara tiba-tiba sebuah ketukan pintu berhasil terdengar dengan jelas di telinganya. Entah siapa yang menjadi tamu? Matteo menganggap kalau orang itu yang akan menjadi penghalang baginya untuk bisa segera pulang.


Merasa kalau tak bisa mengabaikan suara ketukan pintu, Matteo pun memberikan izin kepada orang itu supaya segera masuk ke ruangannya. Dikarenakan takut ada hal penting, Matteo akan memberikan sedikit waktu untuk mendengarkan.


"Ada apa Julian?" Tanya Matteo tanpa adanya sebuah basa-basi yang berarti.


"Maaf, kalau saya menganggu waktunya. Saya hanya berniat untuk memberitahu sesuatu mengenai Keluarga Wilson. Ada hal yang harus Tuan ketahui," tutur Julian bukan ingin bermain-main.


"Ada apa? Kamu bisa katakan!" Meskipun kejadiannya sudah bertahun-tahun silam, tetap saja Matteo masih tertarik dengan semua hal tentang Keluarga Wilson.


"Saya baru saja mendapatkan kabar kalau putri dari Keluarga Wilson masih hidup dan sekarang sedang berada di negara ini," kata Julian memberitahukan hal penting yang mampu membuat seorang Matteo terkejut. Bukan tanpa sebab, hanya saja menurut informasi yang dulu sempat ia dapatkan, menyatakan kalau Keluarga Wilson sama sekali tidak memiliki seorang putri.


"Putri? Bagaimana bisa? Bukankah dulu menurut informasi mereka hanya memiliki seorang putra bernama Noah?" Tanya Matteo mencoba mengingat kembali.


"Mereka memiliki seorang putri yang sengaja disembunyikan," jawab Julian dengan yakin.


"Siapa nama putri mereka?"


"Jane Wilson. Selama ini mereka menyembunyikan dia di Inggris. Menurut kabar Jane sudah kembali dan tinggal di negara ini sejak sepuluh tahun lalu," kata Julian yang sepertinya tahu banyak informasi mengenai putri dari Keluarga Wilson.


"Lantas? Dimana dia sekarang? Apa kamu sudah mencari tahu?" Tanya Matteo lagi yang lebih ingin mendengar tentang keberadaan dari putri Keluarga Wilson itu.


"Kami juga sedang berusaha untuk mencarinya. Mungkin masih memerlukan waktu, tapi saya yakin itu tidak akan lama," tutur Julian.


"Setelah berhasil mendapatkannya, tolong segera bawa dia kemari," pinta Matteo yang tentu saja harus dituruti oleh Julian.


Tak hanya memberitahu kabar tentang putri dari Keluarga Wilson yang ternyata masih hidup sampai sekarang, ternyata Julian juga membawakan sebuah surat yang selama ini selalu dicari oleh Matteo.


Bukan surat cinta, melainkan sesuatu yang ditulis sendiri dan ditinggalkan oleh Tuan Bram. Sebelum meninggal, beliau sempat memberitahu kalau ada sebuah surat yang ingin diberikan kepada Matteo, tapi belum bisa dilakukan karena menurut Tuan Bram belum menjadi waktu yang tepat.


Sudah begitu lama setelah kepergian dari Tuan Bram, Matteo baru berhasil menemukan suratnya. Terkesan terlambat dan membutuhkan banyak waktu, yang penting sekarang surat itu sudah ada di tangannya.


"Peninggalan dari Tuan Bram," kata Julian sembari memberikan surat yang kelihatan sudah menguning karena terlalu lama disimpan itu.


Sambil tersenyum tipis, Matteo menerima surat itu. Tak langsung dibaca, ia malah memasukan surat peninggalan dari Tuan Bram ke laci yang ada pada meja kerjanya.


Merasa sudah melakukan tugas dengan baik, Julian pun mulai menundukkan kepalanya hormat, berpamitan untuk meninggalkan ruangan ini. Membiarkan atasannya kembali berdua bersama Cindy yang sekarang sudah terlihat cemberut.


"Katanya sebentar, tapi ini sudah lewat dari sepuluh menit. Apa kamu memang sengaja membuatku menunggu terlalu lama?" Sindir Cindy yang mulai memprotes kepada laki-laki itu.


Karena yang memberikan protes adalah Cindy — seorang wanita cantik yang sekarang masih menjadi kekasih, Matteo sama sekali tak akan marah ataupun tersinggung. Mendengar dirinya diprotes, Matteo malah tersenyum lebar, seakan menganggap itu sebagai sesuatu hal yang lucu.


"Apa yang sedang kamu tertawa kan?" Tanya Cindy, entah kenapa mulai berubah sedikit galak.


"Tidak ada," kata Matteo yang telah usai membereskan meja kerjanya.


"Apa kita mau pulang sekarang? Atau kamu lebih suka berlama-lama di tempat ini?" Ajak Matteo yang kini telah beranjak bangkit dari kursi kebesarannya.


Daripada terus membuat Cindy merasa kesal, akan lebih baik kalau sekarang Matteo bergegas untuk mengajaknya pulang.


Bersambung...