
Akan menjadi sebuah kebohongan kalau misalnya Matteo mengatakan tidak pernah membenci keluarga Wilson atas segala hal buruk yang pernah mereka lakukan. Mau sampai kapan pun, entah sampai matahari terbenam dari timur, Matteo sama sekali tak ada niat untuk memberikan sebuah kata maaf kepada mereka.
Saat mengetahui kalau yang menjadi dalang pembunuhan kedua orang tuanya adalah keluarga Wilson, Matteo yang saat itu berusia sekitar lima belas tahun mulai merencanakan sebuah balas dendam.
Ada kutipan yang mengatakan, mata dibalas mata, gigi dibalas dengan gigi. Matteo selalu menanamkan itu dalam dirinya. Hari-hari dimana semuanya sudah berubah menjadi kesunyian, Matteo selalu menghabiskannya untuk berpikir mengenai cara yang tepat membalas segala perbuatan jahat dari keluarga Wilson.
Kalau diingat kembali kejadian saat Matteo berada di usia lima belas tahun, satu-satunya hal kejam yang dia lakukan adalah memberikan pembalasan kepada seluruh keluarga Wilson. Jadi, ketika mendapatkan kabar kalau seluruh keluarga pembunuh dari kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, orang pertama yang bisa tersenyum lebar tak lain dan tak bukan adalah Matteo.
Memang seharusnya menjadi kabar sedih, tapi kepergian seluruh keluarga Wilson menjadi sebuah kabar bahagia yang mampu membuat Matteo tak ada hentinya tertawa. Jangan salah paham! Kecelakaan mobil yang dialami oleh keluarga Wilson murni terjadi karena karma atas kejahatan yang mereka perbuat sendiri.
Padahal sebetulnya Matteo juga telah menyiapkan skema rencana untuk menghabisi keluarga Wilson, namun karena kecelakaan mobil itu sudah terlebih dahulu terjadi, Matteo jadi tak perlu susah-susah untuk melakukan perbuatan keji. Setidaknya ia berhasil menyingkirkan tanpa harus menyentuh noda darah.
Walaupun kepergian dari keluarga Wilson sudah terjadi bertahun-tahun silam, tetap saja kenangan pahit mengenai pembunuhan kedua orang tuanya sudah berhasil menanamkan sebuah luka yang terlalu sulit untuk hilang. Dendam itu tetap ada, terbukti dengan cara Matteo yang meminta agar anak buahnya melakukan penyelidikan mengenai putri dari keluarga Wilson yang ternyata masih hidup.
Ketika Matteo mendapatkan kabar tentang putri dari keluarga Wilson, seketika perasaan marah mulai menggebu dari dalam dirinya. Andaikan Matteo dipertemukan dengan putri satu-satunya dari keluarga Wilson, mungkin ia akan mencurahkan semua dendam kepada gadis yang seharusnya tak tahu apa-apa. Bukankah putri dari keluarga Wilson sudah terlalu lama tinggal di luar negeri?
Dalam diam, malam ini disaat bintang dan bulan bersinar begitu terang menghiasi langit malam, Matteo terlihat duduk seorang diri di tepi kolam renang dengan mata yang tertutup. Dia melakukan ini bukan karena sedang tertidur, melainkan mencoba berpikir mengenai keberadaan dari putri keluarga Wilson yang katanya masih hidup.
Jujur saja, Matteo sudah begitu amat tak sabar ingin bertemu dengan gadis itu. Tapi anehnya, anak buah yang diminta olehnya supaya cepat mencari tahu justru tak kunjung mendatangi Matteo. Sampai detik ini, belum ada petunjuk apapun lagi yang didapatkan mengenai Jane.
Dalam ketidaksabaran karena memang sudah ingin melihat rupa dari putri keluarga Wilson, Matteo pun memutuskan untuk menghubungi Julian — salah seorang kepercayaannya yang memang ditugaskan mengurus hal seperti ini. Dengan tergesa-gesa, Matteo mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan tak lama ia mulai menyambungkan panggilan langsung dengan Julian.
Tidak dibuat menunggu terlalu lama di nada sambung, panggilan yang dibuat sendiri oleh Matteo akhirnya mendapatkan jawaban juga. Suara berat dari balik panggilan ini sudah terdengar begitu jelas memenuhi telinga.
"Selamat malam, Tuan. Dengan Julian sendiri, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Julia yang ingin tahu maksud dan tujuan dari sang atasan menghubungi.
"Bagaimana soal putri dari keluarga Wilson? Apa kamu sudah berhasil menemukannya?" Tanya Matteo tanpa bertele-tele.
"Maaf Tuan, saya beserta yang lain masih mencoba untuk mencari tahu. Kabar terakhir masih sama seperti yang kemarin saya beritahukan," ujar Julian mengatakan hal sebenarnya.
"Kenapa lama sekali? Sudah beberapa hari sejak kamu memberitahu, belum juga ada perkembangan," dari nada bicaranya saja Matteo terdengar kurang puas dan kecewa akan kinerja dari anak buahnya.
"Tidak pernah ada dalam pikiran kami untuk bermain-main, Tuan," tutur Julian sedikit merasa takut kepada atasannya itu.
Julian sudah bekerja dengan Matteo dalam kurun waktu yang cukup lama, hampir empat tahun ia selalu membantu Matteo dalam segala kesulitannya. Tak heran kalau Julian bisa mengenal secara baik sosok Presdir dari perusahaan HR Group. Menurutnya, Matteo bukan orang yang mudah puas akan sesuatu dan juga selalu sulit untuk memberikan kesempatan kedua pada seseorang yang sudah melakukan kesalahan. Matteo juga tak bisa kalau dikecewakan.
"Kalau memang benar begitu, kenapa sampai sekarang belum mendapatkan informasi apapun?" Tanya Matteo dengan nada bicara yang kedengaran mulai sedikit kesal. Ya, beginilah Matteo kalau sudah mendapatkan hal menyangkut keluarga Wilson, ia pasti bisa langsung menggila.
"Kami sedang berusaha yang terbaik untuk mendapatkan informasi kepada Tuan," ujar Julian dibalik panggilan ini.
Merasa kesal karena panggilan dari Julian yang belum bisa memberikan kepadanya petunjuk apapun, Matteo pun tanpa berpamitan mulai menutup panggilan telepon ini secara sepihak.
Tidak ada gunanya menghubungi Julian untuk saat ini. Bahkan sekarang Matteo sedang berpikir kalau mencari informasi itu sendiri.
"Apa aku harus turun tangan sendiri?" Tanya Matteo kepada diri sendiri.
...****************...
Disisi lain, tepatnya di sebuah ruangan yang kelihatan begitu minim akan pencahayaan, terlihat sosok laki-laki bernama Julian yang tengah duduk sendirian sembari memandangi selembar foto seorang gadis cantik.
Bukan karena melamun, hanya saja Julian sedang berpikir apakah harus memberitahu atasannya tentang putri dari keluarga Wilson atau tidak. Pasalnya saat melihat foto yang di dapatkan, Julian merasa kalau sosok Jane — yang katanya putri dari keluarga Wilson, sangat terlihat mirip dengan mendiang ibunya yang sudah meninggal bertahun-tahun silam.
Karena kemiripan yang dimiliki oleh putri dari Keluarga Wilson dengan mendingan sang ibunda itulah yang berhasil membuat Julian memilih untuk tetap diam terlebih dahulu dan tak memberitahu Matteo.
Julian mengabaikan fakta kalau Matteo sudah begitu menunggu informasi penting ini. Bukan bermaksud untuk berkhianat, hanya saja Julian merasa ragu. Sebelum pikirannya benar-benar jernih dan bisa membuat keputusan, Julian akan tetap diam dan tak membagikan informasi apapun. Bahkan ia juga tidak lupa untuk menutup mulut milik anak buah yang lainnya.
"Aku tidak sedang melindungi mu, tapi ada yang perlu aku cari tahu dulu. Melihat latar belakang mu yang diadopsi dari panti asuhan, membuatku merasa curiga akan sesuatu," ucap Julian sendirian sambil pandangannya terus menatap ke arah foto yang sedang dipegangnya dengan erat itu.
Bersambung...