
Tepat setelah mobil sedan putih yang memiliki lambang kuda itu berhenti persis di garasi dari sebuah mansion mewah, Matteo dengan cepat melepaskan sabuk pengamannya dan bergegas untuk keluar dari mobil itu terlebih dahulu. Bukan tanpa sebab hanya saja, Matteo berniat ingin membukakan pintu bagi perempuan yang kini telah resmi menjadi istrinya secara hukum.
Dengan cepat Matteo membukakan pintu mobil, lalu membantu Ann juga dalam melepaskan sabuk pengaman yang saat ini masih terlihat melingkar pada tubuhnya.
Pada saat Matteo sedang berusaha untuk melepaskan sabuk pengaman itu, Ann yang masih ada di tempat duduknya merasakan debaran jantung yang terasa berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Entah apa yang terjadi pada dirinya, tapi jelasnya ketika jarak diantara mereka sedang begitu dekat seperti ini, Ann merasa sangat malu sampai-sampai pipinya kelihatan memerah.
"Aku tidak tahu kapan tepatnya kamu memakai blush on," sindir Matteo yang ternyata juga menyadari akan hal tersebut.
Tahu kalau sedang digoda oleh sang suami, Ann pun tak ragu untuk memberikan sebuah pukulan kecil yang berhasil tepat mengenai dada bidang sebelah kanan dari laki-laki itu. Anggap saja kalau ini merupakan hukuman dari Ann karena sikap Matteo yang belum-belum sudah menggodanya.
Merasakan pukulan itu, Matteo sama sekali tidak merasa kesal satupun marah. Wajahnya malah memasang sebuah senyuman yang tampak begitu terlukis lebar. Sepertinya Matteo sama sekali tidak akan mempermasalahkan soal pukulan itu.
Enggan untuk terlalu lama terlibat pembicaraan seperti ini, Matteo pun bergegas untuk membantu sang istri untuk keluar dari mobil. Tanpa diminta oleh siapapun, Matteo mengulurkan tangannya dengan harapan kalau Ann mau meraihnya sebagai tumpuan, namun hal yang tak terduga terjadi. Ann malah dengan santai mengabaikan uluran tangan dari Matteo, kemudian keluar dari mobil itu sendiri. Sengaja melakukannya, karena Ann tidak ingin untuk terlalu dimanjakan oleh Matteo.
"Bisa beritahu dimana pintu masuknya?" Tanya Ann yang hanya berhasil membuat seorang Matteo tersenyum pada sudut bibirnya.
Tanpa memberitahu tentang pintu masuk, Matteo dengan cepat mulai menggendong tubuh mungil milik Ann itu dan langsung melangkahkan kakinya ke arah sebuah pintu kecil yang ada di garasi dari mansion mewah tersebut.
Digendong seperti ini oleh Matteo sangat amat membuat Ann merasa kurang nyaman. Ann tahu kalau yang melakukannya adalah suami sendiri, tapi masih terasa aneh. Tidak bisakah Matteo melakukan semuanya secara perlahan-lahan dan tak terlalu buru-buru seperti sekarang ini? Jujur saja, untuk membiasakan diri dengan keadaan baru itu cukup sulit dilakukan.
"Bisa turunkan aku? Aku merasa lebih nyaman kalau berjalan dengan kaki sendiri," pinta Ann diikuti oleh sebuah berontak kecil, namun sayangnya itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Matteo. Iya, sang suami terus menggendong tubuh mungilnya itu sampai pada akhirnya, ada beberapa pelayan mansion datang untuk melayani Matteo yang datang bersama dengan nyonya baru dari mansion ini.
"Selamat datang kembali, Tuan," kata salah seorang pelayan memberikan sepatah kalimat sambutan untuk kepulangan Matteo.
"Apa kalian sudah menyiapkan kamar utama?" Tanya Matteo yang seakan mengabaikan sapaan dari pelayan.
"Seperti permintaan dari, Tuan. Kami sudah menyiapkan kamar utama," jawab salah seorang pelayan yang diikuti dengan anggukkan kepala tanda mengerti dari Matteo.
Tak ingin membuang waktu terlalu lama untuk hal yang kurang berguna, Matteo yang memang masih dalam posisi menggendong tubuh Ann pun mulai berjalan melangkah menuju kamar utama yang ada di lantai dua dari mansion ini.
"Kita akan langsung ke kamar, sayang...," ucap Matteo diikuti dengan senyuman nakal yang dibuat.
Tampak terburu-buru, Matteo mulai menaiki anak tangga. Sungguh, Matteo itu termasuk laki-laki kuat yang memiliki banyak otot. Terbukti saat menggendong tubuh Ann, ia sama sekali tak terlihat kelelahan. Deru napasnya juga masih terdengar begitu teratur.
.
.
.
Ann yang menyadari dengan sangat kalau dirinya memang memiliki hak untuk menolak pun enggan kalau terus menerus bersikap pasrah. Iya, saat mereka sudah sampai di kamar utama sebagai pasangan pengantin baru, Matteo yang tentu saja ingin melakukan kegiatan normal layaknya suami istri pun tak segan untuk menjatuhkan tubuh Ann tepat di atas ranjang empuk yang tersedia.
Dalam kondisi yang tentu saja sangat tidak memungkinan untuk melakukan kegiatan suami istri, Ann pun mau tak mau harus membuat penolakan. Iya, pada saat Matteo berniat untuk menciumnya, Ann sudah terlebih dahulu mengalihkan diri. Dengan membuang muka dan pandangan, sanggup membuat seorang Matteo merasa bingung sekaligus ada perasaan tersinggung. Kenapa? Karena cara Ann yang seperti ini dapat diartikan sebagai sebuah penolakan.
"Apa kamu sedang menolakku lagi, Ann?" Tanya Matteo yang membutuhkan jawaban segera dari gadis itu.
Bukan karena enggan, Ann yang sekarang masih terdiam hanya tengah memikirkan sebuah penjelasan yang tepat agar bisa membuat laki-laki pemilik nama Matteo itu mengerti. Ann tahu kalau membuat seorang Matteo bisa menerima penjelasannya itu membutuhkan sedikit usaha, karena memang terlalu sulit untuk dilakukan.
"Jangan sekarang! Aku hanya belum siap," untuk sementara Ann hanya bisa mengatakan seperti itu.
"Kenapa? Apa yang membuat kamu belum siap?" Tanya Matteo mendesak agar gadis itu mau memberi penjelasan.
"Hanya saja aku sedang sedikit kurang enak badan. Sejak pagi tadi terus merasa ousing dan mual," ujar Ann dan langsung membuat Matteo memastikan hal itu.
Sama seperti apa yang sempat dilakuakn oleh Ghea, ket8ika tadi sore bertemu dengan Ann di lift dari gedung perusahaan, Matteo sekarang juga sedang menyentuh kening milik Ann. Memastikan kalau istrinya itu sedang tidak dalam keadaan demam.
"Tidak demam. Apa kamu sudah pergi ke dokter?" Tanya Matteo yang terlihat seperti suami yang posesif.
"Sudah," jawab singkat Ann.
"Lalu? Apa kata dokter?" Matteo ingin mendengar dengan pasti.
"Hanya sedikit kelelahan dan sudah diberikan infus. Kata dokter aku juga perlu banyak istirahat. Jadi, untuk sekarang, apakah kamu tidak bisa membiarkan ku untuk beristirahat?" Tanya Ann yang meminta pengertian dari laki-laki yang kini sedang berhadapan dengannya.
Matteo memang selalu suka memaksakan kehendak dan keras kepala, tapi untuk hal ini dirinya akn memberikan kesempatan bagi Ann untuk beristirahat. Dengan cepat, Matteo langsung menarik diri yang sudah menindih di atas sang istri.
"Baiklah. Kamu harus istirahat sekarang. Kita bisa lakukan hal itu nanti, setelah keadaan mu sudah membaik," ujar Matteo yang diselingi dengan sebuah senyuman tipis yang tampak kecewa.
Karena sudah mengatakan hal seperti itu, Matteo yang benar-benar ingin memberi kesempatan untuk Ann agar bisa beristirahat oun terlihat mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar utama.
.
.
.
Tepat setelah Matteo sudah berada di luar kamar, ia yang juga tak salah kalau merasa khawatir dengan kondisi Ann pun mulai mengambil ponsel pribadi yang ada di saku celana. Bukan tanpa sebab, hanya saja Matteo sekarang ini sedang ingin menghubungi salah satu dokter keluarga.
Untuk memastikan supaya kondisi Ann segera pulih dan membaik, Matteo harus merepotkan dokter keluarga. Matteo tahu kalau sekarang sudah bukan menjadi waktu yang tepat untuk menganggu orang lain, tapi kedatangan dari dokter itu sangat amat diperlukan.
Tak dibuat menunggu terlalu lama di nada sambung, panggilan yang dibuat oleh Matteo ini langsung mendapatkan jawaban dari Dokter Dito, salah satu dokter kepercayaan yang kerap membantu pada saat kondisi kesehatan Matteo menurun.
"Ada apa, Matteo? Kenapa menghubungiku malam-malam? Pasti ada sesuatu yang mendesak? Apa kamu sedang dalam keadaan kurang baik?" Rentetan pertanyaan itu langsung diberikan oleh Dokter Dito untuk Matteo.
"Apa aku menganggu waktu mu?" Tanya Matteo yang berbicara dalam bahasa tidak formal.
"Sejak kapan seorang Matteo bisa menganggu waktu seseorang? Tentu saja, tidak. Malam ini aku sedang dalam situasi free. Apa ada sesuatu yang perlu ku lakukan untuk membantu kamu?" Dokter Dito terdengar ingin kalau pembicaraan ini langsung masuk pada intinya.
"Bisakah kamu datang ke mansion sekarang? Ada pasien yang harus kamu periksa kondisinya," pinta Matteo kepadanya.
"Apa kamu sedang merasa tidak enak badan?" Wajar kalau Dokter Dito mengira kalau yang sakit adalah Matteo. Pasalnya selama bertahun-tahun menjadi keluarga, ia hanya memiliki tugas untuk merawat kesehatan dari Matteo saja.
"Bukan aku, tapi ada orang lain yang sedang sakit."
"Siapa orang lain itu? Sejak kapan di mansion ada kedatangan orang lain? Bukankah Matteo selalu suka mengasingkan diri dan menyendiri?" Sindir Dokter Dito yang kelihatan kalau sudah begitu mengenal Matteo dengan sangat baik.
"Datang saja dan nanti kamu juga akan tahu sendiri," tukas Matteo, kemudian mengakhiri panggilan ini secara sepihak.
Bersambung...