
Sesuai seperti apa yang direkomendasikan oleh Dekan, tepat tiga hari setelah acara wisuda selesai diadakan, dengan membawa amplop coklat yang berisi lembar data diri, Ann sekarang sudah terlihat sedang duduk di tempat tunggu dekat meja resepsionis dari sebuah perusahaan besar HR Group.
Tanpa perlu ditanyakan, keberadaan Ann di perusahaan ini hanya karena ingin melamar pekerjaan. Bukankah HR Group sedang membutuhkan tenaga kerja? Menurut informasi yang Ann dapatkan, katanya pegawai dari departemen pemasaran di perusahaan ini banyak yang memilih untuk resign.
Dengan harapan akan diterima sebagai salah satu pegawai, Ann kini kelihatan sedang duduk menunggu dengan gusar. Pasalnya sudah hampir lebih dari 45 menit, pegawai resepsionis yang tadi menyambutnya belum kunjung kembali. Apa sebelum melakukan wawancara, Ann sudah terlebih dahulu mendapatkan penolakan?
Ternyata segala pikiran negatif yang muncul dari benak Ann sama sekali tidak benar. Setelah dibuat menunggu cukup lama, akhirnya pegawai resepsionis yang tadi sudah sempat berbincang sejenak dengan Ann datang kembali. Melihat pegawai itu, sangat berhasil membuat harapan tetap ada dalam diri Ann.
"Maaf, karena sudah membuat nona lama menunggu," tutur pegawai penjaga resepsionis sembari memunculkan sebuah senyuman lebar.
Bisa dibilang waktu yang dimiliki oleh Ann cukup terbuang banyak, jadi daripada harus mempermasalahkan hal yang tak dibutuhkan, Ann akan langsung melemparkan pertanyaan inti kepada pegawai itu.
"Jadi, bagaimana? Apa saya sudah bisa mengikuti wawancaranya?" Tanya Ann sembari menatap ke arah pegawai itu dengan penuh harap.
"Sebenarnya untuk kuota orang yang bisa mengikuti wawancara sudah terpenuhi, tapi karena nona adalah salah satu yang direkomendasikan oleh kepala dekan, kami jadi harus menyediakan tempat khusus," ucap pegawai itu yang tentu saja bisa dengan mudah dipahami oleh Ann.
"Hari ini saya bisa ikut wawancaranya kan?" Tanya Ann ingin memastikan lebih lanjut kalau yang dipahaminya sekarang sudah benar.
"Tentu saja, nona. Kedatangan anda sudah ditunggu oleh Bu Siska," jawab pegawai itu.
Mendengar hal bagus, berhasil membuat Ann langsung beranjak dari tempatnya duduk. Tak lama Ann pun bergegas untuk ikut mengekor persis di belakang pegawai resepsionis itu. Kini ia sedang berada diperjalanan menuju ke ruangan HRD yang kebetulan ada di lantai tiga dari gedung perusahaan ini.
.
.
.
Sesampainya mereka berdua di lantai tiga, hal pertama yang langsung berhasil menarik perhatian dari Ann adalah banyaknya orang yang juga berpakaian sama seperti dirinya — putih hitam rapi, tampak sedang menunggu antrean untuk mengikuti wawancara.
Sebenarnya apa yang sedang dilihat oleh Ann ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Kenapa? Karena hampir setiap perusahaan HR Group membuka lowongan pekerjaan, pasti akan selalu ramai. Bisa dibilang banyak sekali orang yang berminat untuk menjadi pegawai dari perusahaan ini. Memang benar adanya kalau sekarang, HR Group masih menjadi satu-satunya perusahaan terbaik yang memiliki harga saham stabil.
Kalau boleh jujur, Ann merasa sedikit tidak nyaman kepada mereka semua. Bukan tanpa sebab, hanya saja karena datang berkat rekomendasi dari kepala dekan, Ann tak perlu sampai repot-repot mengantre seperti yang lainnya lakukan. Menyela antrean padat, itulah yang sekarang sedang dilakukan oleh Ann hanya agar bisa bertemu dan melakukan wawancara terlebih dahulu dengan kepala HRD.
Ann segera mengetuk pintu ruangan HRD itu, lalu saat sudah diberikan izin, ia pun langsung melangkah masuk ke dalam ruangan. Bertemu dengan Bu Siska — ketua HRD dari perusahaan ini, sama sekali tidak membuat seorang Ann merasakan gugup. Apakah karena sebelumnya ia pernah mengalami perasaan gugup itu jauh lebih patah, saat akan masuk ke ruangan sidang skripsi?
Sambil tersenyum manis, Ann dengan sopan mulai menempati kursi kosong yang ada persis berhadapan langsung dengan Bu Siska. Sebelum mengatakan hal lain, Ann berinisiatif untuk menyapa beliau terlebih dahulu.
"Selamat pagi. Senang rasanya karena saya bisa mendapatkan kesempatan untuk duduk disini, bersama dengan anda," kata Ann kedengaran begitu sopan.
"Selamat pagi juga. Saya juga sudah menunggu kedatangan kamu," sahut Bu Siska yang tak ragu untuk melemparkan senyuman lebar.
Sembari membaca semua data diri yang dibawa oleh gadis pemilik nama Ann, Bu Siska mulai mengajukan pertanyaan dasar yang seharusnya bisa dengan mudah dijawab oleh Ann.
"Iya. Dekan Rino yang merekomendasikan saya agar bisa bekerja di perusahaan ini," kata Ann yang enggan untuk terlalu pamer soal pencapaiannya itu.
"Jadi maksudnya, kamu ingin bekerja disini hanya karena Dekan Rino yang merekomendasikannya? Kalau dia tidak melakukan itu, apa kamu tetap akan melamar disini?" Tanya Bu Siska yang anehnya terdengar cukup menjebak.
"Tentu saja saya akan tetap mengajukan surat lamaran kerja di perusahaan ini. Sejak awal tujuan saya memang ingin bergabung dan menjadi salah satu bagian dari HR Group," untung saja, Ann bisa dengan mudah memberikan jawaban paling netral.
"Baiklah. Kalau saya tanya tentang alasan kenapa mau bergabung di perusahaan ini, apa kamu bisa memberikan jawabannya?" Tanya Bu Siska lagi yang kini sudah berhenti membaca lembaran resume milik Ann.
"Ehm... saya hanya merasa kalau memiliki kesempatan di perusahan ini. Dengan segala pencapaian serta prestasi, bisa dibilang saya sudah masuk pada kriteria pegawai yang di cari oleh perusahaan HR Group ini," jawab Ann dengan penuh percaya diri.
Mendengar segala jawaban yang diberikan oleh Ann, sebenarnya sudah berhasil membuat Bu Siska merasa begitu puas. Ingin sekali rasanya untuk langsung menerima, tapi beliau tak memiliki kuasa dalam melakukan hal itu. Meskipun yang melakukan wawancara dan bertemu dengan calon pegawai baru adalah Bu Siska, tetap saja segala keputusan harus dibuat oleh atasannya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Matteo.
"Untuk hasilnya, akan dikirimkan melalui email. Paling lambat satu minggu," ujar Bu Siska dan seketika langsung mendapatkan anggukkan kepala dari Ann.
Seusai menjalani wawancara singkat dengan Kepala HRD, Ann pun bergegas beranjak dari tempat duduknya, lalu setelah berpamitan singkat, ia mulai melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini, meninggalkan Bu Siska yang kelihatan sedang bersiap untuk melakukan wawancara dengan calon pegawai baru lainnya.
Walaupun belum mendapatkan kepastian, tetap saja Ann sudah bisa merasakan tanda-tanda kalau dirinya akan diterima di perusahaan ini. Melihat dari ekspresi wajah puas yang dilemparkan oleh Bu Siska, membuat Ann memiliki keyakinan serta kepercayaan diri yang seperti itu.
.
.
.
Entah apa yang terjadi, belum lama setelah Ann keluar dari ruangan HRD, secara tidak terduga ada seseorang yang dengan berani menghadang langkahnya.
Sekarang laki-laki yang memiliki tinggi sekitar sepuluh senti lebih tinggi dari Ann, sudah terlihat berdiri persis dihadapannya. Tubuh kekarnya mampu membuat Ann berniat untuk tak terlalu menanggapi. Iya, Ann hanya merasa sedikit takut dengan laki-laki itu. Bayangkan saja kalau terjadi perkelahian, mungkin Ann yang akan kalah, melihat proporsi badan dadi dia yang dua kali lipat lebih besar.
"Maaf!" Katanya secara tiba-tiba yang sudah berhasil membuat jantung milik Ann berdetak dua kali lebih cepat.
"Bukan ingin menganggu nona, tapi kalau boleh bertanya, bagaimana nona bisa langsung masuk ke ruangan HRD tanpa harus ikut dalam antrean?" Tanya laki-laki itu dan langsung diikuti dengan helaan napas lega dari Ann.
Ann pikir saat laki-laki itu menghalangi jalan, ia berniat untuk memprotes dan mencari masalah, tapi ternyata itu hanya sebuah dugaan tanpa arti.
"Ah... saya mendapatkan rekomendasi dari kampus dan sebenarnya tak mengira kalau akan ada perlakuan khusus seperti itu. Saya benar-benar minta maaf kalau membuat anda dan yang lainnya merasa tidak adil," kata Ann mengakhiri semua kesalahpahaman yang mungkin ada diantara mereka dengan amat baik.
"Oh pantas saja. Saya dan yang lain mengira kalau nona menerobos antrean kami," tukas laki-laki yang setelah mendapat jawaban langsung melangkahkan kakinya pergi dan berhenti menghalangi jalan milik Ann.
Bersambung...