
Jujur saat mendengar persyaratan yang diberikan oleh Matteo barusan, itu sangat amat membuat seorang Ann terdiam layaknya seperti sebuah patung. Entah bagaimana cara tepat untuk memberikan respon, tapi yang pasti sekarang Ann sedang merasa syok. Bagaimana bisa lelaki kaya, tampan dan yang kelihatan cukup sempurna itu membuat persyaratan yang bisa dibilang kurang masuk diakal. Perlu diketahui kalau laki-laki seperti Matteo itu bisa mendapatkan sosok perempuan yang memiliki spek lebih tinggi daripada seorang Ann.
Ann tahu kalau sekarang ini memang sedang membutuhkan bantuan untuk melunasi tagihan rumah sakit, namun kesulitan itu bukan menjadi alasan baginya agar mau menerima persyaratan yang diberikan oleh Matteo.
Sedikit informasi saja, antara Ann dengan Nenek Sora memang tidak memiliki hubungan apapun, namun Ann sudah menganggap beliau seperti satu-satunya keluarga yang dia miliki. Pertemuan Ann dengan Nenek Sora itu terjadi atas permintaan dari kepala pelayan rumah Wilson. Entah kemana sekarang perginya pelayan itu, tapi Ann ingat jelas kalau dipertemuan terkahir kepala pelayan meminta supaya Ann mau menemui ibunya yang ada di rumah sakit.
Karena selama bertahun-tahun Ann tinggal diluar negeri dengan kepala pelayan, jadi terlalu sulit untuk memberikan penolakan terhadap permintaan itu. Rasa hutang budi Ann terhadap kepala pelayan, karena selama ini selalu mau menjaga dan merawat, membuat Ann harus gantian membalas. Bagi kepala pelayan, Nenek Sora adalah seseorang paling berharga yang harus dijaga dan dirawat dengan baik.
Pada saat Ann sedang memikirkan jalan keluar selain menerima tawaran dengan berbagai syarat yang diajukan oleh Matteo, ponselnya kembali berbunyi. Baru melirik sekilas pada layar, Ann sudah tahu dan mendapati kalau panggilan itu berasal dari petugas rumah sakit.
Ann ingin menjawab panggilan itu, tapi sebelum melakukannya kedua matanya terlihat sedang melirik secara sekilas ke arah wajah laki-laki yang kini sibuk menyantap makan malamnya. Apa sekarang Ann harus pergi? Atau menjawab panggilan ini di tempat dan membiarkan seorang Matteo mendengar?
"Apa kamu mau membiarkan panggilan itu terus berbunyi?" Tanya Matteo seakan merasa terganggu akan bunyi ponsel yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
Tanpa memberikan respon apapun, Ann pun menekan tombol hijau yang ada pada layar ponsel. Panggilan itu kini sudah dijawab oleh Ann. Ia siap mendengarkan apapun yang ingin dikatakan oleh petugas rumah sakit.
"Mohon maaf karena kami kembali menganggu waktu nona yang berharga. Kami hanya memberitahu kalau batas pembayaran sampai tiga hari ke depan. Jika, nona belum melakukan pelunasan, dengan berat hati kamu harus meminta Nenek Sora untuk meninggalkan rumah sakit," ujar petugas rumah sakit yang pastinya malah makin membuat seorang Ann bingung sekaligus pusing. Sekarang darimana bisa didapatkan uang sebanyak 200 juta? Terlalu banyak dan selama Ann hidup ia belum pernah melihat uang sebanyak itu.
"Tenang saja. Saya pasti akan melunasi tagihan rumah sakit," kata Ann terdengar begitu yakin.
Disini sama sekali tidak ada hal yang lucu, tapi saat Ann mengatakan hal seperti itu, Matteo yang bisa mendengarnya pun langsung tertawa kecil.
"Percaya diri itu memang bagus, tapi kamu juga perlu melihat realitanya," ujar Matteo sembari memasukan sepotong daging ke mulut.
Sekarang Ann benar-benar dibuat berpikir dan posisinya sedang terpojok. Ia harus segera melunasi pembayaran rumah sakit dari Nenek Sora, tapi uang di tabungan sama sekali tidak bisa menutup jumlah yang ada.
"Biaya rumah sakit memang mahal. Kamu tahu kan kalau Nenek Sora menderita penyakit kanker yang tentu saja butuh perawatan intensif," kata Matteo seperti seseorang yang tahu semuanya.
"Tuan kok bisa tahu nama nenek saya?" Tanya Ann menelisik curiga.
"Sejak tadi saya ada disini. Tentu saja saya tahu karena mendengar apa yang sedang kalian bicarakan," tutur Matteo beralasan.
Ucapan dari Matteo yang barusan itu sama sekali tidak benar. Matteo bisa tahu karena memang menyuruh seseorang untuk mencari tahu. Sedari awal, Ann tidak ada sama sekali menyinggung soal nama ataupun penyakit dari sang nenek. Tapi sayangnya, Ann sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Gadis itu beranggapan kalau Matteo bisa tahu hanya dari pembicaraan telepon ini.
"Sekarang bagaimana Ann? Apa kamu mau menerima persyaratan dari saya?" Tanya Matteo masih dengan tawaran soal pernikahan.
"Kalau belum bisa menjawab sekarang, saya beri kamu waktu sepuluh menit untuk berpikir," tambah Matteo yang terlihat sedang tersenyum sumringah, pertanda kalau dalam hal ini ia akan menang. Ann sama sekali tidak bisa menolak apapun yang ditawarkan oleh Matteo.
Ann meletakkan sendok garpu beserta ponselnya di atas meja makan, sekarang ia benar-benar berfokus dalam mengambil keputusan. Apakah ingin menerima tawaran atau menolak hal seperti ini? Tapi, kalau Ann tetap bersikeras menolak, maka Nenek Sora takutnya tak bisa menerima perawatan lagi.
Helaan napas berat yang Ann keluarkan terdengar begitu jelas. Apakah sekarang sudah menjadi saat yang tepat untuk membuat keputusan? Haruskah Ann menolak atau menerima? Masalahnya persyaratan yang diberikan oleh Matteo ini menyangkut tentang hubungan pernikahan dan menurut Ann tidak bisa dibuat main-main.
"Maaf, Tuan! Tapi, saya tidak bisa menerimanya. Persyaratan yang Tuan berikan terasa begitu berlebihan. Saya tidak bisa menerimanya," tutur Ann yang kembali memberikan penolakan. Kenapa Ann terlalu betah untuk menolak?
"Apa kamu yakin?" Tanya Matteo ingin memastikan.
"Kalau mau mengubah keputusan, saya akan beri kesempatan bagi kamu untuk melakukannya," tambah Matteo kembali berbaik hati.
Mau bagaimanapun keadaannya, Ann tetap akan menolak apapun yang ditawarkan oleh Matteo. Ann tahu kalau semua itu merupakan tawaran yang menarik, namun untuk setuju rasanya cukup sulit.
"Saya yakin. Tidak ada keputusan yang akan diubah," ucap Ann tetap bersikeras menolak apapun penawaran yang diberikan oleh atasannya.
Merasa kalau sudah tidak ada hal lagi yang perlu dibicarakan, Ann yang memang hanya memakan sedikit hidangan pun memutuskan untuk segera pergi dari tempat ini.
Karena yang ada di hadapan Ann sekarang ini adalah sosok yang paling dihormati jadi, sebelum berlalu pergi Ann tak lupa untuk berpamitan. Ini adalah upaya terakhir dari Ann untuk menghormati laki-laki itu sebagai atasan.
"Kalau begitu, saya izin untuk undur diri terlebih dahulu," ucap Ann yang benar-benar sudah tak akan mengubah keputusan lagi. Disini Ann sangat meyakini kalau menolak tawaran dari Matteo adalah pilihan terbaik.
...****************...
Satu-satunya alasan yang membuat Ann bersikeras menolak tawaran bagus dari Matteo hanya karena rasa takut. Iya, Ann takut kalau akhirnya harus berhutang budi juga dengan laki-laki itu. Hidup dengan dihantui oleh rasa hutang budi itu sangat amat tidak enak. Ann tahu persis rasanya karena memang pernah mengalami sendiri. Ann berhutang banyak kepada keluarga Wilson dan sampai sekarang hutang itu belum bisa dibalas olehnya. Kepergian seluruh keluarga Wilson tak membuat Ann terbebas dari hutang budi itu.
Setelah Ann keluar dari restoran dan pergi meninggalkan Matteo, sekarang ia terlihat sedang berjalan seorang diri menyusuri jalanan kota yang terbilang masih dipadati oleh orang banyak.
Berjalan disepanjang jalan tanpa adanya tujuan adalah cara dari Ann untuk menenangkan pikirannya agar bisa mencari solusi yang tepat. Sekarang ini Ann sedang membutuhkan dana besar supaya bisa melunasi tagihan rumah sakit dari Nenek Sora.
Ketika Ann terus menyusuri pinggir jalan kota ini, kakinya mendadak berhenti tepat di depan dari sebuah butik. Entah apa yang sedang dilakukannya, tapi kelihatan dengan jelas kalau sorot mata Ann sedang menatap fokus ke arah display wedding grown yang ada di butik itu.
Melihat wedding grown putih yang begitu indah dan elegan dengan model sederhana, pikiran Ann tiba-tiba kembali lagi mengingat tentang tawaran yang tadi sempat diberikan oleh Matteo. Kenapa bisa seperti itu? Bahkan sekarang Ann juga membayangkan kalau dirinya sedang mengenakan wedding grown dan berjalan ke pelaminan bersama sosok laki-laki, calon suaminya.
Sebelum makin terlarut dalam pikiran dan angan-angan yang tidak tahu apa bisa menjadi kenyataan, Ann berusaha untuk mengembalikan kesadarannya pada sebuah realita yang sekarang. Tamparan kecil yang tepat mengenai pipi bagian kanannya, sengaja dibuat oleh Ann sendiri.
"Apa yang sedang aku bayangkan?" Gumam Ann seorang diri.
"Sadarlah Ann! Sekarang bukan waktunya untuk membayangkan pernikahan sendiri," tambahnya menyadarkan diri sebelum terlalu jauh masuk dalam angan.
"Gaunnya memang bagus, tapi sekarang aku harus mencari uang. Bukan karena ingin membeli gaun itu, tapi membayar tagihan rumah sakit," kata Ann yang kemudian melanjutkan langkahnya pergi dari depan butik itu.
Bersambung...