
Awalnya Ann memang tak mengira bisa beradaptasi dengan cepat seperti ini. Belum ada dua puluh empat jam bekerja di perusahaan HR Group, Ann sudah mendapatkan ajakan untuk makan bersama setelah pulang bekerja dari kepala tim.
Jujur saja, sewaktu mendapatkan ajakan ini, Ann sempat terkejut. Bahkan ia sempat untuk berpikir lama, antara ingin setuju atau menolak. Karena masih menjadi pegawai baru, Ann merasa kalau dirinya belum pantas ikut pergi makan bersama dengan seluruh anggota dari departemen pemasaran ini.
Awalnya memang Ann berpikir untuk menolak, tapi saat melihat ekspresi Andita — gadis muda dengan permen lollipop yang sekarang sudah menjadi temannya, Ann memutuskan setuju dan ikut dalam acara makan malam. Lagipula ini bisa menjadi salah satu cara yang tepat bagi Ann agar lebih dekat dengan pegawai dari departemen pemasaran. Harus akrab karena Ann tak berniat untuk bekerja sebentar di perusahaan HR Group.
Tepat setelah seluruh pekerjaan usai, Ann yang kini telah berada di samping Andita mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan bermaksud untuk bergabung dengan gerombolan pegawai lain yang memang sudah menunggu.
Sebagai kepala tim dari departemen pemasaran, Ghea merasa begitu senang karena untuk acara makan malam ini bisa ketambahan personel baru.
"Hari ini kita mau makan malam dimana, senior?" Tanya Andita kepada kepala tim yang kini masih kelihatan memasang senyuman di wajahnya.
"Tempat biasanya," jawab Ghea singkat.
"Daging atau ayam?"
"Daging."
Dikarenakan Ann memang masih baru, ia yang mendengar percakapan antar dua sejoli itu benar-benar dibuat tak bisa mengerti akan maksudnya.
"Apa ada ronde kedua, senior?" Tanya Andita lagi memastikan.
"Kalau Ann setuju, kita akan lanjut sampai ronde dua," jawab Ghea sembari melemparkan tatapan kepada sosok Ann yang kini kelihatan bingung.
"Bagaimana Ann? Apa kamu mau ikut kita bersenang-senang sampai ronde dua?" Tanya Andita meminta pendapat dari gadis yang kini berdiri di tengah-tengah dari mereka berdua.
"M-maksudnya ronde dua, itu apa ya?" Dengan malu, Ann mencoba memberanikan diri untuk melemparkan pertanyaan seperti itu.
Mendapatkan pertanyaan yang bisa dibilang cukup lugu, berhasil membuat Ghea ataupun Andita tersenyum kecil. Sangat wajar kalau seorang Ann bertanya seperti itu. Kenapa? Karena ini masih menjadi pengalaman pertamanya.
"Kita disini biasanya setelah makan malam, langsung pergi ke tempat karoke untuk melakukan ronde kedua dari bersenang-senang," ucap Andita memberikan penjelasan agar Ann bisa tahu dan mengerti akan maksudnya.
"Ah, begitu...," Ann mulai mengerti dan merasa malu dengan dirinya sendiri.
"Jadi, bagaimana Ann? Apa kamu mau ikut sampai ronde kedua?" Tanya Ghea meminta keputusan dari gadis yang memang baru bekerja itu.
Sembari tersenyum malu, Ann menganggukkan kepalanya tanda setuju. Menurut Ann, sepertinya tak akan terlalu buruk kalau pergi ke tempat karoke, tepat setelah perut terisi. Disini Ann benar-benar hanya membayangkan soal keseruannya, tanpa menyadari kalau sekarang ia sudah ada di dunia kerja yang isinya memang orang dewasa semua.
.
.
.
Ann masih terlihat begitu bersemangat untuk mengikuti acara makan malam, ajakan dari kepala tim departemen pemasaran. Hanya perlu menempuh waktu sekitar lima belas menit untuk perjalanan menggunakan mobil, Ann bersama para koleganya kini telah sampai di sebuah restoran daging panggang.
Tanpa ingin berlama-lama lagi, mereka yang sudah duduk dalam satu meja panjang pun mulai memanggil pelayan dari restoran ini. Niatnya hanya untuk memesan makanan dari daftar menu yang tersedia.
"Kamu pesan dulu aja, Ann," pinta Ghea dan dengan mudah langsung disetujui oleh Ann.
Terlihat sedikit ragu dan canggung karena perasaan gugup yang jujur saja masih bergejolak dalam diri, Ann menerima buku menu yang diberikan oleh kepala tim. Tak berniat untuk berlama-lama dan bingung dalam memilih menu, Ann akan menyamakan pesanan seperti Andita. Hanya saja Ann meminta air soda untuk pengganti bir.
"Kenapa hanya memesan air soda?" Tanya Andita ingin tahu.
"Aku tidak bisa minum bir," jawab Ann yang memang sedang berusaha menghindari minuman seperti itu.
Bukan tanpa sebab, hanya saja Ann begitu enggan kalau hanya karena minuman keras, ingatannya bisa menjadi kacau seperti waktu itu. Bahkan sampai sekarang pun, Ann belum berhasil menemukan jawaban atas kejadian lampau. Entah itu hanya sekedar mimpi atau kenyataan yang memang sudah dilakukannya.
"Kenapa? Apa kamu mudah mabuk?" Tanya Andita terkesan seperti orang yang begitu ingin tahu.
"Iya... hanya satu gelas sloki saja sudah bisa buat kesadaran ku hilang," ungkap Ann dengan malu.
Tanpa bermaksud untuk memaksa apa yang memang tak bisa dilakukan, Andita serta Ghea yang mendengar pernyataan dari si pegawai baru akan memaklumi. Bukankah seharusnya tidak jadi masalah kalau Ann hanya minum air soda?
Setelah masing-masing dari mereka semua memesan makanan yang diinginkan, sesuai dengan buku menu, selagi menunggu pesanan disiapkan, mereka menggunakan waktu kosong ini untuk saling berbincang satu sama lain. Disini Ann yang paling kelihatan banyak mendapatkan pertanyaan. Mungkin karena menjadi pegawai baru, ada banyak orang yang ingin mengenalnya lebih jauh.
"Sangat senang sekaligus tidak menyangka karena di departemen kita kedatangan seorang yang berprestasi. Kamu tahu kan Ann, untuk mendapatkan IPK 3,97 bukan menjadi sesuatu yang mudah untuk dilakukan?" Kata Andita seakan sedang takjub akan kelebihan yang dimiliki oleh teman barunya itu.
Awalnya Ann memang tak ada niatan untuk memberitahu apapun soal segala hasil yang didapatkan dari usaha kerasnya selama berada di bangku perkuliahan, tapi karena ia sedang dipaksa berbicara dan memberitahu, Ann tak memiliki pilihan selain melakukannya.
"Iya aku tahu, tapi yang mendapatkan nilai di atas ku juga masih banyak," kata Ann mencoba untuk merendahkan hatinya.
"Kamu termasuk seseorang yang hebat Ann. Bahkan sekarang aku sangat yakin dengan keputusan dari dekan kamu. Merekomendasikan kamu menjadi salah satu pegawai di perusahaan ini adalah pilihan terbaik. Universitas mendapatkan prestasi baik dan kamu juga bisa mencari pengalaman. HR Group bukan perusahaan main-main," kata Ghea panjang lebar.
"Kalau urusan mencari pegawai, HRD dan juga ketua Presdir selalu melakukan yang terbaik. Sangat sulit untuk bisa menembus kualifikasi yang diinginkan oleh perusahaan ini," ucap Andita.
"Banyak yang bilang juga kalau bisa dipanggil untuk wawancara sudah menjadi pencapaian yang luar biasa, apalagi diterima," kata pegawai lainnya yang ternyata juga ikut menimbrung dalam pembicaraan ini.
"Saudaraku saja juga ingin masuk ke HR Group, sudah berusaha keras dan berhasil meraih predikat menjadi salah satu mahasiswa terbaik di kampusnya, bisa mendapatkan IPK 3,90, saja masih mendapatkan penolakan," ujar yang lainnya yang kedengaran seperti sebuah testimoni.
"Apa saudaramu masuk tahap wawancara?" Tanya Andita penasaran.
"Iya, tapi setelah wawancara tak mendapatkan email apapun sampai satu bulan," jawabnya memberitahu.
Mendengar semua yang dikatakan oleh mereka berhasil membuat Ann merasa bertanya-tanya. Kalau memang kualifikasi yang diminta oleh perusahaan ini terlalu sulit, jadi bisa diartikan kalau semua orang yang sekarang sudah menjadi pegawai adalah orang-orang hebat.
Duduk diantara mereka semua adalah hal yang paling diinginkan oleh banyak orang. Ann benar-benar beruntung karena memiliki kesempatan untuk bisa bergabung dan makan bersama dengan mereka. Bersyukur sekali karena hal baik yang didapatkan olehnya. Sekarang Ann berpikir untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan tak akan menyiakan kepercayaan serta kesempatan bagus ini.
"Aku harap kamu berusaha keras, agar kedepannya kita tetap bisa pergi makan malam lagi," ujar Ghea kemudian meneguk segelas bir miliknya.
Bersambung...