Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Menemukan Musuh.



Tidur terlalu dini memang seharusnya tak boleh dilakukan oleh Ann. Kenapa? Lihat saja sekarang, gadis yang baru saja terbangun dari tidur hanya karena merasakan hangatnya sinar matahari pagi yang menyapa kulit, tampak begitu terkejut ketika mendapati kalau waktu sudah menunjukan tepat pukul setengah delapan.


Hanya karena mengerjakan tugas yang diberikan kepala tim, Ann mau tak mau harus tidur ketika matahari sudah hampir terbit. Iya, sekitar pukul lima subuh, Ann baru bisa memejamkan kedua matanya dan masuk ke alam mimpi.


Merasa kalau sudah diburu waktu dan tak bisa untuk bersantai lagi, tepat setelah kedua matanya terbuka, Ann bergegas untuk mengambil pakaian ganti dan berlari ke kamar mandi yang kebetulan ada di luar dari kamar kos ini. Ann berlari begitu saja, mengabaikan sang sahabat yang terlihat masih tidur nyenyak di atas kasur miliknya.


Seakan dewi keberuntungan sedang berpihak padanya, Ann yang memang sudah terlambat ini pun bergegas untuk masuk ke kamar mandi kosong, tanpa harus mengantre. Karena tahu tak memiliki banyak waktu, Ann pun langsung mandi dengan cepat. Mungkin kalau dihitung, tidak sampai sepuluh menit, gadis itu sudah kelihatan keluar dari kamar mandi.


Ann yang merasa sudah selesai membersihkan dirinya, keluar dari sana dengan mengenakan setelan kemeja rapi dan juga blazer warna biru tua. Untuk kali pertamanya, Ann mandi dalam waktu singkat. Mungkin ini akan menjadi rekor bagi dirinya sendiri, mengingat kalau dirinya juga pernah asal mandi saja.


Setelah selesai melakukan itu, Ann mulai kembali berlari menuju ke kamar kos nya. Karena tak memiliki waktu lagi, Ann hanya bisa untuk memakai sunscreen serta menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi. Meskipun sedikit kurang terlalu puas akan penampilannya pagi ini, Ann tetap harus segera berangkat kekantor. Dengan tampilan apa adanya dari dirinya, Ann yang sudah menjinjing tas pun bergegas beranjak keluar dari kamar kos ini. Saking terburu-buru, untuk kedua kali Ann mengabaikan Lidia yang memang masih berada di alam mimpi.


.


.


.


Dengan langkahnya yang sudah terlihat tergopoh-gopoh, Ann kini telah berada di halte bus. Karena tidak memiliki kendaraan pribadi, untuk menjalankan aktivitas hariannya, Ann selalu dibantu dengan transportasi umum.


Sebenernya kalau boleh jujur, sekarang bukan waktu yang tepat bagi Ann untuk menunggu kedatangan bus. Mengingat sisa waktu yang dimiliki oleh Ann, sepertinya ia memang harus mengambil alternatif lain. Apa harus naik taksi? Tapi, bukankah itu harus membuatnya merogoh kocek yang lebih banyak?


"Bodoh lah, yang penting jangan sampai terlambat," ucap Ann mengabaikan soal uangnya yang harusnya bisa lebih irit lagi.


Karena bus kota datangnya selalu terjadwal dan berhasil membuat menunggu terlalu lama, Ann memutuskan untuk menghentikan sebuah taksi. Tak berselang lama, sebuah taksi berwarna biru muda terlihat sudah berhenti tepat di hadapannya. Enggan untuk membuang waktu lagi, Ann pun bergegas masuk kesana.


"Tujuannya nona?" Tanya sopir taksi itu yang sudah siap menjalankan pekerjaannya untuk mengantarkan penumpang ke tempat tujuan.


"Perusahaan HR Group ya, Pak! Terima kasih," tutur Ann dan langsung dituruti oleh sopir taksi itu.


Setelah mendapatkan alamat tujuan, sopir itu pun bergegas untuk mengemudikan taksinya melewati jalanan kota pagi yang terbilang cukup dipadati dengan banyaknya kendaraan lainnya. Kalau kondisi jalanan seperti ini, kemungkinan Ann akan bisa sampai di tempat kerja sedikit lebih terlambat dan membuat semua orang di ruang rapat menunggu.


"Pak? Bisa agak lebih cepat sedikit? Saya sudah benar-benar terlambat," pinta Ann yang malah mendapatkan omelan dari sopir taksi itu. Bukan tanpa sebab, hanya saja saat meminta, Ann tak melihat situasi dan kondisi. Taksi yang ditumpanginya sekarang sedang terjebak macet, padahal gedung perusahaan HR Group sudah bisa terlihat dengan jelas.


"Apa nona tidak bisa melihat? Jalanan sedang macet. Mau maju ataupun mundur juga sulit," ucap sopir taksi itu.


Dalam balutan perasaan gelisah, Ann memutuskan untuk segera membayar sopir taksi itu. Sepertinya daripada hanya diam sambil menunggu kemacetan mereda, ada baiknya kalau Ann melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Lagipula jaraknya juga tak terlalu jauh.


"Terimakasih karena sudah mengantarkan. Saya akan turun disini saja," ucap Ann sembari membuka pintu taksi ini.


Tanpa ingin berlama-lama lagi, Ann pun berlari melewati banyak kendaraan yang tengah berhenti karena terjebak macet. Sekarang Ann terlihat begitu berusaha agar bisa sampai di gedung perusahaan HR Group, ya meskipun dirinya menyadari kalau tidak mungkin untuk tepat waktu.


.


.


.


Napas Ann memang belum sepenuhnya beraturan, tapi karena enggan berlama-lama berada di lobby, ia pun kembali berlari menuju ke arah pintu lift yang hampir tertutup. Untung saja seluruh karyawan yang ada di dalam lift mau berbaik hati memberikan izin kepada Ann agar bisa bergabung bersama.


"Tolong lantai enam," pinta Ann dengan sopan dan bisa langsung dituruti.


Lift benar-benar bisa cepat membawanya menuju ke lantai enam dari gedung perusahaan ini. Tahu kalau sudah sampai, Ann pun bergegas untuk berjalan keluar. Sebelum pintu lift tertutup kembali, Ann tak ragu untuk menundukkan kepalanya sambil melemparkan sebuah ucapan terima kasih karena berkat mereka Ann jadi tidak perlu menunggu lift lagi.


Tepat setelah itu, belum sempat bagi Ann untuk melangkahkan kaki menuju ke ruangan kerja dari departemen pemasaran, Ann harus dikejutkan dengan sosok seorang Ghea yang tiba-tiba menepuk bahunya.


Merasakan tepukan mendadak itu, sungguh membuat Ann kaget bahkan lompatan kecil juga terlihat sedang dibuatnya. Tak biasanya Ann merasa terkejut sampai berlebihan seperti ini.


"Baru datang Ann?" Tanya Ghea menelisik ingin mendapatkan jawaban darinya.


Karena sudah ketahuan, Ann yang sudah tak bisa memberikan alasan ataupun berbohong pun harus menganggukkan kepalanya, mengakui kalau ia memang terlambat masuk kerja.


"Maaf senior. Pagi ini aku terlambat bangun," tutur Ann jujur kepada kepala sang kepala tim.


Bukannya memberikan teguran ataupun memarahi Ann karena keterlambatannya ini, Ghea justru malah meminta Ann agar segera datang ke ruang rapat. Benar sekali, daripada menggunakan waktu untuk marah-marah, akan jauh lebih baik kalau langsung menghadiri rapat yang dijadwalkan akan berlangsung sekitar pukul setengah sembilan. Melihat waktunya, mereka benar-benar sudah terlambat.


"Langsung ke ruang rapat aja ya, Ann! Apa kamu sudah menyelesaikan materi pembahasan untuk rapat kali ini?" Tanya Ghea sembari menekan tombol lift.


"Semuanya sudah ada di flashdisk," jawab Ann memberitahu.


Tanpa ingin mengatakan apapun lagi, tepat setelah pintu lift terbuka, Ann bersama dengan Ghea kini sedang berada di perjalanan menuju ke ruang rapat yang kebetulan ada di lantai dua dari gedung perusahaan ini.


...****************...


Matteo sebenarnya sangat membenci dengan yang namanya keterlambatan. Sekalipun ia tak pernah dibuat menunggu oleh apapun. Saat sudah masuk ke ruang rapat, itu berarti menjadi tanda kalau pertemuannya harus segera dimulai.


Sudah lima belas menit berlalu, Matteo benar-benar sudah dibuat menunggu kehadiran perwakilan dari departemen pemasaran. Seringkali Matteo akan marah dan berakhir dengan keputusan untuk membatalkan rapat, karena membuang-buang waktu bukanlah menjadi sesuatu yang disukainya. Namun, kali ini ia memilih menunggu. Bahkan tindakan yang jauh dari kata biasanya membuat semua pegawai yang hadir merasa sedikit bingung.


Sebenarnya Matteo sudah berniat untuk melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang rapat, akan tetapi ia mengurungkan niatnya itu karena mengingat adanya sebuah berkas informasi mengenai putri dari Keluarga Wilson yang didapatkannya pagi ini.


Menurut informasi, putri keluarga Wilson sekarang bukan bernama Jane dan sekarang sedang bekerja sebagai seorang pegawai magang di perusahaan HR Group. Mendapatkan informasi seperti ini tentu saja berhasil membuat Matteo terkejut. Apalagi ditambah saat ia melihat foto yang diberikan oleh informan itu.v


Rupanya selama ini putri dari keluarga Wilson yang memang masih hidup berada dekat di jangkauannya dan tentu saja mereka sudah terlibat dalam pertemuan beberapa kali. Entah itu dalam keadaan sadar ataupun tidak. Matteo juga mengingat kejadian di malam ia sedang bermain bersama para pengawalnya dan tiba-tiba ada seorang gadis mabuk datang dan mencium dirinya.


"Tuan? Apa masih mau tetap berada disini? Tepat pukul sepuluh nanti, Tuan sudah harus pergi ke Jepang," tutur Cindy bertanya kepada Matteo yang kelihatan masih bersikeras untuk menunggu.


Belum memberikan jawaban apapun kepada sang sekretaris, senyuman tipis yang sedikit runcing pada bagian sudut bibir terlukis jelas di wajah tampan dari Presdir HR Group. Matteo senang karena akhirnya penantiannya membuahkan hasil yang baik. Ann, putri dari keluarga Wilson yang berusaha dicarinya mulai terlihat muncul di ruang rapat ini.


"Aku menemukannya," gumam Matteo seorang diri.


Bersambung...