
Untuk kali pertama bagi Ann datang ke sebuah ruang rapat dan rasanya benar-benar begitu sangat amat membuat grogi, melebihi ketika ia sedang melakukan sidang skripsi dihadapan dekan, rektor dan dosen. Dengan telapak tangan yang terasa sudah begitu dingin, Ann mulai menyerahkan flashdisk yang berisi materi untuk rapat kepada Ghea.
"Dingin sekali, Ann," kata Ghea ketika bersentuhan dengan telapak tangan milik gadis cantik itu.
"Sedikit grogi," jawab Ann sembari tersenyum tipis.
Ghea kelihatan sudah mulai berniat untuk memulai rapat penting yang berisi tentang rencana produk lanjutan, namun pada saat Ghea ingin memberikan kalimat pembuka dan menyapa semua orang di ruangan ini, Matteo selaku Presdir dari perusahaan HR Group mulai bersua.
"Saya akan mengakhiri rapat ini, kalau kamu yang menjadi pembicaranya," Matteo terdengar serius.
"Lalu? Siapa pembicaraan yang Tuan kehendaki untuk memulai rapat ini?" Tanya Cindy mewakili semua orang.
"Gadis yang ada disebelahnya. Saya yakin dia juga bisa melakukan itu," kata Matteo yang langsung berhasil membuat rasa grogi Ann makin meningkat. Dengarkan saja detak jantung miliknya, sudah berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Tapi Tuan, dia hanyalah seorang pegawai magang dan menurut saya untuk menjadi pembicara di—" tujuan dari Ghea sebenarnya baik, tapi saat sedang mencoba melindungi Ann, ucapannya malah dipotong begitu saja oleh Matteo.
"Saya sama sekali tidak butuh saran dari kamu. Disini saya yang jadi Pimpinannya. Saya tahu harus melakukan apa dan tak perlu sampai diberikan saran ataupun pendapat," ucap Matteo bersikeras membuat Ann menjelaskan tentang materi rapat hari ini.
Merasa sudah tak memiliki pilihan selain setuju, Ann yang masih merasa grogi mulai mengambil ahli tugas dari kepala timnya itu. Seharusnya kalau Matteo tidak meminta hal seperti itu, Ann hanya akan menjadi seseorang yang pemegang kontrol untuk laptop.
"Senior?" Panggil Ann dengan tatapan sedikit takut.
"Tidak masalah, Ann. Kamu pasti bisa," ujar Ghea memberikan semangat kepada gadis itu. Sangat wajar kalau Ann merasa grogi dan takut. Tentu saja Ghea bisa sangat memaklumi hal itu.
Sembari mencoba menenangkan perasaan diri sendiri yang terlampau gugup, Ann mulai mengambil mic dan menempatkan dirinya berdiri di tengah. Mengambil napas sedalam-dalamnya, lalu mulai memberikan sambutan pembuka kepada semua orang yang ada di ruangan ini.
Sebenarnya permintaan dari Matteo bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan, namun karena kembali lagi ini menjadi kali pertama dan posisinya disini Ann masih baru, jadi agak sedikit sulit.
Selagi Ann sedang menjelaskan semua sesuai dengan materi yang telah dibuat, tatapan mata Matteo terus saja tertuju pada gadis itu. Bukan karena terpikat, hanya saja Matteo sedang memikirkan cara untuk membalas dendam kepada putri dari keluarga Wilson itu.
"Tuan Matteo?" Panggil Cindy menyadari akan tatapan yang dibuat oleh laki-laki itu.
"Apa Tuan sedang memperhatikan materinya atau hal lain yang membuat tertarik?" Tanya Cindy tepat setelah Matteo menoleh ke arahnya. Kenapa sekarang kelihatannya Cindy sedang cemburu saat menyadari sang kekasih tak ada hentinya memalingkan tatapan dari seorang gadis yang saat ini sedang presentasi?
Enggan untuk memberikan jawaban apapun, Matteo malah mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Bukan tanpa sebab, hanya saja Matteo tak ingin kalau kekasihnya itu terlalu ikut campur ke dalam masalah pribadi.
"Jadwal penerbangan ke Jepang, apa aku harus pergi sekarang?" Tanya Matteo yang tentu saja berhasil membuat ekspresi wajah Cindy mendadak menjadi sebuah kekecewaan.
Tahu kalau kekasihnya itu sedang merajuk hanya karena pertanyaan yang tak mendapatkan jawaban, Matteo pun mulai berusaha untuk membuat gadis itu berhenti marah kepadanya.
Dengan tatapan dan fokus masih tertuju pada materi rapat yang sedang disampaikan oleh Ann, jemari tangan milik Matteo sekarang ini sudah menerobos masuk ke gaun biru tua yang sedang dikenakan oleh Cindy.
"Jangan marah! Kalau tidak aku akan terus melakukan hal ini," ujar Matteo terkesan seperti seseorang yang tak mengenal waktu dan tempat.
Cindy yang merasakan sentuhan jemari tangan dari sang kekasih pun benar-benar dibuat kesulitan untuk mengendalikan diri. Ingin sekali mengerang nikmat, tapi situasi sekarang tak memungkinkannya.
"Tuan?"
"Kamu tahu kan kalau aku selalu tidak menyukai seorang wanita yang cemburuan?" Bisik Matteo persis di telinga dari sang kekasih.
Ann yang saat ini sedang menyampaikan materi dan tentu saja bisa melihat semua kejadian dari tempatnya berdiri pun langsung menutup mulutnya kaget. Sekarang Ann sedang tidak salah lihat kan? Itu kenapa tangan dari Presdir masuk ke gaun baju milik Cindy? Mereka tidak sedang melakukan sesuatu kan?
Mengetahui kalau Ann tiba-tiba berhenti berbicara mampu membuat Ghea yang hanya bisa duduk sambil mengganti slide presentasi, melemparkan pertanyaan.
"Kenapa Ann?"
"Senior tidak melihatnya?" Tanya Ann dengan jemari tangan mulai menunjuk ke arah laki-laki pemilik dari perusahan ini.
"Melihat apa?" Ghea mengikuti arahan tunjukan tangan yang dibuat oleh Ann, tapi sayangnya tak berhasil melihat apa yang tadi sempat dilihat oleh Ann.
"Tak ada apa-apa Ann," ucap Ghea kebingungan akan sikap dari junior nya itu.
Ann pun kembali mengarahkan sorot matanya menuju ke arah Presdir dan ternyata tangan yang tadi masuk ke gaun milik Cindy sudah tidak ada lagi. Sekarang Ann merasa kalau pandangannya sedikit bermasalah.
"Kenapa kamu berhenti menyampaikan presentasinya? Apa ada yang memintamu untuk berhenti?" Tanya Matteo seolah tak terjadi apapun.
"Maaf, Tuan! Saya tak bermaksud untuk berhenti," ucap Ann yang kembali melanjutkan presentasinya.
Cindy yang kini duduk tepat disebelah Matteo hanya bisa menggigit bibirnya dengan gelisah. Apa Matteo memang harus sekejam ini?
"Kita lanjut nanti, setelah rapat ini selesai," ucap Matteo persis di telinga dari sang kekasih.
...****************...
Akhirnya Ann bisa menghela napas lega, karena berhasil menyampaikan materi di rapat itu dengan baik dan sesuai pada apa yang sudah ditulis. Kalau hasilnya seperti ini, Ann bisa merasa bangga terhadap diri sendiri. Tak menyangka kalau ia juga tak terlalu buruk untuk menjadi pembicara di rapat.
"Ann?" Panggil Ghea yang kelihatan sedang tersenyum ceria.
"Kerja bagus. Kalau seperti ini terus, saya yakin kamu bisa dengan cepat menjadi pegawai tetap," ujar Ghea merasa puas akan kemampuan dari rekan satu timnya.
"Saya sendiri juga tidak menyangka bisa melakukan itu," kata Ann masih sedikit terkejut akan kemampuannya sendiri.
Tak memiliki kesempatan untuk menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh Ann, salah seorang pengawal pribadi dari Matteo, secara tiba-tiba datang menghampiri Ann. Bukan bermaksud ingin menganggu, hanya saja ia ingin menyampaikan pesan dari sang atasan.
"Tuan Matteo ingin bertemu dengan nona Ann. Setelah ini, tolong untuk langsung datang menemui Tuan di ruangannya," ucap pengawal pribadi dari Matteo yang mampu membuat kedua mata milik Ann membesar. Siapa juga yang tidak terkejut ketika mendapati perintah seperti itu?
"Senior?" Panggil Ann sebelum ia pergi untuk menemui Presdir dari perusahaan ini.
"Apa selama presentasi tadi, aku melakukan kesalahan?" Tanya Ann ingin memastikan saja.
"Tidak ada Ann. Kamu melakukan yang terbaik," jawab Ghea masih dalam perasaan bangga terhadap juniornya.
"Lalu? Apa sekarang aku harus pergi ke ruangan Presdir?" Tanya Ann meminta saran dari ketua tim yang kebetulan sudah cukup dekat dengannya.
"Tentu saja. Jangan buat dirimu sampai dipecat hanya karena enggan untuk memenuhi panggilan darinya!" Kata Ghea meminta agar Ann mau menemui Tuan Matteo di ruangan Presdir.
"Tapi?" Entah mengapa sekarang ini Ann mulai mengingat segala kejadian yang kemarin sempat dilihat olehnya di ruang Presdir.
"Ada apa, Ann?"
Ingin memberitahu ke Ghea, tapi Ann sudah memutuskan untuk menutup mata dan mengabaikan tentang hal yang dilakukan oleh Matteo dengan sang sekertaris bernama Cindy itu.
"Bukan apa-apa," tukas Ann yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah lift khusus. Sekarang Ann sedang berada di perjalanan menuju ruangan Presdir yang ada di lantai sepuluh dari gedung perusahaan ini.
.
.
.
Sesampainya di lantai sepuluh, Ann pun bergegas untuk menuju ke ruangan Presdir. Menurut apa yang di dengar, Matteo bukanlah seseorang yang suka menunggu. Oleh karena itu, Ann tak berniat membuat pemilik dari perusahaan HR Group menunggu terlalu lama.
Ketika sudah berada di depan pintu dari ruangan itu, dengan keraguan yang tiba-tiba menyelimuti diri, Ann mulai mengetuk pintunya. Kali ini tidak ada Cindy yang menyambut, karena saat tiba disini, Ann sama sekali tidak melihat sosok sekertaris itu.
Tiga ketukan tepat pada pintu ruangan sudah dibuatnya, sekarang Ann tinggal menunggu izin dari pemilik ruangan. Setelah diizinkan untuk masuk, Ann pasti akan langsung membuka pintunya.
"Tuan Matteo?" Panggil Ann dengan suara lembutnya.
"Masuk!" Perintah Matteo dari dalam ruangan itu.
Ann mulai melangkahkan kakinya masuk ke ruangan dan hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Matteo sedang duduk di kursi kebesarannya, sambil senyuman tipis terlihat jelas menghiasi wajahnya.
Karena Ann tak bermaksud untuk terlalu lama berada disini, ia pun mulai bertanya akan maksud dan tujuan kenapa Matteo memanggil. Jujur saja, ada perasaan kurang nyaman setiap kali Ann berada di dalam ruangan Presdir ini.
"Kenapa Tuan memanggil saja?" Tanya Ann tanpa adanya basa-basi yang berarti.
"Duduk dulu," pinta Matteo dan langsung dituruti oleh gadis cantik itu.
Ann menempatkan dirinya duduk pada sebuah kursi kosong, persis berhadapan langsung dengan Matteo. Entah mengapa saat sedang bersinggungan dalam jarak dekat, telapak tangan milik Ann mendadak jadi dingin.
"Saya memanggil hanya karena ingin memuji sekaligus memberikan sesuatu untuk kamu," kata Matteo yang sama sekali tidak bisa dimengerti oleh Ann.
"Harus diakui, ternyata kamu begitu berbakat untuk menjadi pembicara dalam sebuah presentasi. Rasanya saya ingin membuat kamu melakukan itu terus setiap ada rapat yang berlangsung," jelas Matteo dan anehnya sangat ingin ditolak oleh Ann.
"Masih ada orang lain yang bisa menjadi pembicara. Saya masih seorang pegawai magang yang harus banyak belajar dari senior," ucap Ann dengan pandangan tertunduk.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Ann mampu membuat Matteo terdiam sejenak. Jujur, rasanya sekarang ini ia ingin meluapkan rasa emosi kepada Ann. Daripada memuji, Matteo lebih ingin memaki gadis itu. Hanya karena Ann berasal dari keluarga Wilson, ia harus menanggung amarah dari seorang Matteo.
"Sebenarnya saya masih ingin lebih banyak mengobrol dengan kamu, tapi karena waktunya sudah dekat, saya tak bisa melakukannya," ucap Matteo mengingat kalau sebentar lagi dirinya harus segera pergi ke bandara.
"Oh ya, saya ingin memberi kamu sesuatu," tambah Matteo sembari memberikan sebuah bingkisan besar yang sudah bisa ditebak oleh Ann mengenai isinya. Ann tahu bukan tanpa sebab, hanya saja setiap Lidia membeli baju baru pasti akan mendapatkan paper bag yang sama.
"Kenapa Tuan memberikan ini kepada saya?" Tanya Ann penasaran sekaligus bingung.
"Dua hari lagi saya akan menghadiri sebuah pesta. Saya berniat untuk membawa kamu kesana," jawab Matteo diikuti dengan sebuah senyuman.
"Membawa saya ke pesta? Tapi, kenapa saya?" Ternyata banyak pertanyaan yang keluar dari mulut seorang Ann.
"Saya hanya ingin mengajari pegawai baru. Perlu diketahui, kalau itu bukan sembarang pesta karena dihadiri oleh banyak pebisnis terkenal."
Bersambung...