
Mendengar penawaran mengejutkan yang diberikan oleh Matteo mampu membuat seorang Ann tertegun diam. Keadaannya sekarang sama sekali tidak baik-baik saja. Bisa dibilang Ann sekarang merasa gugup sampai bingung sendiri mau berkata seperti apa.
Bukan tanpa sebab, hanya saja seperti apa yang banyak orang tahu kalau Matteo bukan termasuk seseorang yang bisa dengan mudah mendapatkan penolakan. Kalau memang menolak itu adalah hal yang mudah untuk dilakukan, mungkin sekarang Ann tak akan terlihat bingung, gugup dan bercampur dengan gelisah seperti sekarang ini.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa menerima posisi itu," tutur Ann memberikan sebuah penolakan yang terdengar cukup jelas.
Matteo yang kebetulan sangat tidak terbiasa oleh sebuah penolakan pun langsung tersenyum sinis dan mulai mencoba memaksa Ann agar mau menempati posisi sekertaris untuk menggantikan sosok Cindy yang saat ini sudah diminta pergi ke luar negeri.
"Dengan menjadi sekertaris saya, akan memberikan sebuah kesempatan bagus bagi kamu. Kalau kamu menolak, sama berarti menyiakan kesempatan yang mungkin tak dapat diterima dua kali. Semua yang saya tawarkan ini hanya datang satu kali, Ann," kata Matteo masih berusaha membujuk.
Sebenarnya semua yang dikatakan oleh Matteo adalah kebenaran. Tawaran untuk menempati posisi sekertaris itu merupakan salah satu kesempatan baik yang mungkin tak akan bisa didapatkan oleh sembarang orang. Kalau saja Ann tak terlalu mementingkan pendapat orang lain, mungkin sekarang tawaran baik seperti itu sudah diterimanya dengan senang hati.
Ann tahu dengan benar, misalkan menerima tawaran itu, dirinya pasti akan digunjing atau bahkan menambah cukup banyak musuh. Ann yang baru lulus dari bangku perkuliahan dan belum memiliki pengalaman kerja, terlepas dari prestasi yang sudah ditorehkannya, tetap saja perasaan tidak pantas untuk langsung menerima posisi sebagai sekertaris itu masih menghantam dirinya.
Dengan sebuah senyuman tipis yang masih menghiasi wajah, Ann pun kembali memberikan penolakan terhadap tawaran bagus yang diberikan oleh Matteo. Untuk sekarang, Ann akan merasa puas dengan posisi sebagai pegawai di bagian departemen pemasaran.
"Saya tahu kalau ini memang menjadi tawaran terbaik yang pernah saya dapatkan. Tapi, sayangnya harus ditolak," kata Ann begitu jelas dan tegas.
Berulang kali mendapatkan penolakan dari seorang Ann, mampu membuat kesabaran yang ada di dalam diri seorang Matteo mulai menipis. Sebelumnya tak pernah ada seseorang yang berani menolak apapun yang ia tawarkan ataupun minta. Mau soal urusan bisnis atau pribadi. Matteo memang kerap mendapatkan sesuatu sesuai dengan keinginan.
"Selain itu...," tak berhenti untuk menolak tawaran, rupanya Ann juga terlihat sedang mengambil kotak cincin dari dalam tas kecil miliknya.
Sambil mengembangkan senyum di wajah, Ann tanpa ragu meletakkan kotak cincin itu di atas meja. Ann hanya berniat untuk mengembalikan sesuatu yang memang bukan menjadi miliknya.
"Tolong untuk Tuan ambil lagi! Saya sama sekali tidak bisa menerima cincin ini," ujar Ann benar-benar sedang menguji seorang Matteo agar bisa lebih bersabar lagi.
"Kenapa kamu kembalikan cincin yang sudah saya berikan?" Tanya Matteo yang tentu saja merasa enggan kalau harus mengambil lagi batang yang sudah diberikan kepada orang lain.
"Tidak alasan yang pantas bagi saya untuk mengambil cincin pemberian dari Tuan. Saya hanya seorang pegawai baru dan seharusnya tak boleh mendapatkan hal semahal ini," kata Ann yang kembali mengungkit soal status.
Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ann, sanggup membuat seorang Matteo terkekeh kecil. Menurutnya sekarang sudah kelihatan jauh lebih menarik. Kenapa? Karena baru kali ini ada seseorang yang bersikeras menolak.
"Baiklah," merasa tidak memiliki banyak pilihan untuk sekarang, Matteo pun mengambil kembali cincin itu. Sementara Matteo akan menyimpannya, karena nanti bisa diyakini kalau Ann pasti akan berubah pikiran dan dengan kesungguhan hatinya ingin menerima cincin yang sudah dikembalikan itu.
"Untuk pakaian yang sedang saya gunakan sekarang, saya juga akan mengembalikannya di esok hari setelah dibersihkan," tambah Ann yang memang sejak awal berniat mengembalikan semua barang pemberian dari Matteo.
"Pakaian juga? Tidak bisakah kamu menyimpannya saja?" Tanya Matteo sedikit terkejut akan sikap yang dianggap cukup berlebihan.
"Kenapa rasanya seakan kamu memang enggan untuk menerima pemberian dari saya?" Tambahnya masih dengan pertanyaan dan ini harus segera dijawab oleh Ann.
"Seperti yang saya katakan tadi. Saya hanya seorang pegawai biasa yang tak seharusnya mendapatkan apapun dari Tuan," kata Ann yang memang kedengaran ada benarnya.
Setelah mengatakan semua itu dan mengembalikan barang pemberian dari Matteo, Ann pun langsung menyesap segelas air mineral yang tersedia di atas meja makan ini. Ia hanya bermaksud untuk membasahi tenggorokannya sebelum kembali berucap. Masih ada satu hal lagi yang perlu dikatakan oleh Ann kepada atasannya itu.
"Selain itu...," Ann dengan sengaja menggantungkan ucapannya hanya karena ingin mencari kalimat serta kata-kata yang pantas. Mau bagaimanapun kondisinya sekarang, Ann harus sadar kalau dihadapannya sekarang adalah seorang pemilik dari HR Group.
"Saya tidak tahu kalau memang ada banyak hal yang sedang ingin kamu katakan," ucap Matteo sudah malas mendengar.
"Sebentar, Tuan," pinta Ann yang kini telah memegang ponsel miliknya.
Pada saat Ann melihat ke arah layar ponsel, ia begitu dibuat terkejut bercampur khawatir karena mendapati panggilan ini berasal dari rumah sakit, tempat dimana Nenek Sora dirawat. Iya, meskipun Ann tinggal sendiri dan hidup sendiri, ia tetap harus membiayai seorang Nenek yang sudah dianggap seperti bagian dari keluarganya sendiri.
"Halo, dengan Ann disini. Apa ada hal serius yang terjadi?" Tanya Ann kepada si penelepon.
"Selamat malam, nona. Maaf kalau kami mengganggu waktunya. Kami menelepon hanya karena ingin memberitahukan soal tagihan perawatan nenek Sora. Waktu jatuh tempo sudah berakhir dan untuk ini kami terpaksa harus menambah biaya pinalti dari keterlambatannya," tutur pihak rumah sakit di seberang panggilan ini.
Ann yang mendapatkan informasi pun langsung menghela napasnya berat, sambil memijat kepalanya yang tidak terasa pusing. Ann hanya sedang menyalahkan dirinya atas kelalaian yang telah dibuat. Bagaimana bisa ia melupakan soal Nenek Sora?
"Baik. Saya akan langsung bayar tagihannya sekarang. Tolong untuk kirimkan rincian tagihan ke alamat surel saya!" Pinta Ann yang kemudian langsung disetujui oleh pihak rumah sakit itu.
Beberapa saat setelah panggilan berakhir, Ann mendapatkan sebuah notifikasi masuk yang berasal dari rumah sakit tempat Nenek Sora dirawat. Karena butuh tahu jumlah pastinya, Ann langsung membuka email masuk itu dan kedua matanya langsung terbelalak lebar. Terkejut ketika mengetahui tiga digit angka yang tertulis pada kolom total. Kenapa bisa banyak sekali? Sudah menunggak berapa bulan? Itulah yang kini sedang ada di benak Ann.
"Ann? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Matteo yang menyadari perubahan ekspresi dari wajah seorang Ann.
"I-iya, eh t-tidak... Iya, saya baik-baik saja," kata Ann penuh dengan rasa gugup.
"Kamu kenapa? Ada apa, Ann?" Tanya Matteo yang penasaran.
Karena Ann terlalu lama memberikan jawaban, jadinya Matteo pun tanpa ada sebuah permisi mengambil ponsel yang berada di genggaman tangan dari gadis itu. Kalau tak ingin memberitahu, maka Matteo akan mencari informasi sendiri.
Saat melihat layar ponsel yang sedang menunjukan rincian biaya rumah sakit, Matteo langsung tahu kalau sekarang ini Ann memang sedang membutuhkan uang. Bukan ingin bersikap licik, hanya saja Matteo harus menggunakan kesempatan ini untuk memenuhi rencana yang dikira akan langsung hancur berantakan.
"Saya bisa membayar tagihan rumah sakit itu, tapi dengan satu syarat yang harus kamu terima," ujar Matteo dan tentu saja mendapatkan penolakan dari seorang Ann.
"Tidak perlu. Saya bisa membayarnya sendiri. Saya juga masih memiliki cukup uang di tabungan," kata Ann sambil mengambil kembali ponsel miliknya.
"Kamu yakin di tabungan masih ada uang?" Tanya Matteo hanya memastikan saja.
"Tentu. Saya bisa mengurus ini sendiri. Tuan tidak perlu sampai ikut campur," ucap Ann yang memang enggan untuk menerima bantuan dari atasannya itu.
"Kalau kamu yakin, kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" Matteo tak boleh melewatkan kesempatan baik ini.
"Ann? Saya bisa membayar tagihan rumah sakitnya dan kamu hanya perlu menerima syarat dari saya. Itu adalah pilihan sederhana yang seharusnya tak membuat kamu bingung."
Ann masih terdiam. Ia terlihat sedang memikirkan banyak hal di dalam benaknya. Keputusan memang sedang harus diambil olehnya.
"Kalau tagihan ini tidak segera dibayar, kemungkinan jumlah yang ada malah semakin besar," ujar Matteo lagi-lagi terdengar ada benarnya.
"Boleh saya dengar apa syaratnya, Tuan?" Ann bertanya bukan bermaksud untuk menerima bantuan dari laki-laki yang menjadi atasannya itu.
"Menikah dengan saya," ucap Matteo memberitahu syarat yang harus dipenuhi oleh Ann.
Bersambung...