Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Ingin Seperti Cerita Cinta Pada Novel.



Entah pertimbangan apa yang dilakukan olehnya, tapi yang jelas Ann sama sekali tidak memberikan penolakan apapun terhadap ajakan dari Matteo yang katanya ingin membawa Ann untuk datang ke sebuah restoran dan menikmati makan malam di sana.


Ann yang kelihatan sudah cantik dalam balutan gaun bewarna biru gelap, pun sudah terlihat mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel. Seperti seorang ratu, Ann tidak berjalan sendirian. Di sisi kanan serta kirinya, ada pengawal yang memang diperintahkan oleh Matteo untuk menjaga.


Tidak tahu mengapa, diperlakukan seperti ini rasanya seakan Ann sedang menjadi tokoh utama dalam sebuah cerita novel atau drama masa kini yang banyak pemeran utamanya selalu mengarah pada CEO atau Mafia. Bukankah seseorang seperti itu kerap memperlakukan perempuan tersayangnya dengan spesial?


Bersama dua bodyguard yang sekarang masih mendampingi, Ann kini sudah kelihatan keluar dari lift dengan langkah kaki yang begitu terburu-buru. Bukan tanpa sebab hanya saja kata salah satu dari bodyguard yang sekarang masih mengawal, tepat di depan lobby hotel sudah ada sebuah mobil yang menunggu kedatangan dari Ann. Tak boleh sampai dibuat menunggu terlalu lama karena memang di dalam sana juga sudah ada Matteo. Tahu sendiri kalau laki-laki itu bukan tipe seseorang yang suka dibuat menunggu.


Meskipun gaun serta sepatu high heels nya begitu sulit untuk dikondisikan, namun dengan bantuan dari dua bodyguard itu, ia sekarang sudah bisa berdiri persis di samping pintu dari sebuah mobil sedan hitam.


Karena disini Ann sudah menjadi seperti ratu, jadi tak ada ceritanya bagi gadis itu untuk membuka pintu mobil sendiri. Belum sempat bagi Ann menyentuh handle pintu mobil, salah satu dari bodyguard sudah terlebih dahulu melakukannya. Disini Ann benar-benar tak perlu membuang energinya, hal sederhana dan mudah saja selalu dikerjakan oleh bodyguard tersebut.


"Silahkan masuk, nona Ann," ujar salah satu dari bodyguard itu yang kedengaran cukup sopan.


Sambil membuat sebuah senyuman tipis, Ann pun masuk ke mobil sedan itu dan menempatkan dirinya duduk persis bersebelahan dengan laki-laki pemilik nama Matteo yang juga sudah kelihatan mempesona dalam balutan setelan jas bewarna hitam dan ditambah dengan dasi kupu-kupu. Mereka berdua benar-benar tampak seperti pasangan raja dan ratu yang begitu serasi.


"Hai Ann, kita bertemu lagi," kata Matteo sembari memberikan kecupan singkat yang tepat mengenai punggung tangan milik perempuan cantik bernama Ann.


Ann sebetulnya tak terlalu takut dengan sosok sang atasan, tapi entah apa yang sedang terjadi, berada kembali dalam satu kesempatan dan waktu yang sama dengan Matteo mampu memunculkan perasaan gugup dan canggung. Rasanya seakan Ann sedang dibuat mati kutu, kesulitan untuk mengatakan sesuatu, padahal tadi pada saat sedang bersiap-siap ada banyak hal yang ingin dikatakan oleh Ann kepada laki-laki pemilik nama Matteo itu.


"Malam ini kamu terlihat begitu mempesona dan juga cantik. Tak heran kalau kamu memang cocok untuk menjadi pasangan saya untuk dinner kali ini," ujar Matteo sedikit memberikan pujian jujur.


Bukannya ingin bertindak kurang sopan, tapi Ann hanya bisa mengucapkan terima kasih lewat senyuman lebar yang terlukis jelas di wajahnya. Tahu sendiri kalau keadaannya sekarang masih sangat membuat Ann gugup sampai terlalu sulit untuk berucap sepatah katapun.


.


.


.


Enggan untuk membuang waktu tanpa berguna, Matteo pun mulai mengeluarkan perintah kepada sang sopir agar bergegas mengemudikan mobil yang sudah sekitar lima belas menit berhenti di tempat sama, depan lobby dari bangunan hotel.


Mendapatkan perintah seperti itu dari sang atasan, pun langsung membuat sopir melajukan mobil sedan ini, meninggalkan lokasi hotel. Tak lama mobil pun sudah bisa terlihat sedang melintasi jalanan kota malam ini yang dipenuhi oleh penerangan lampu jalan. Jujur saja, pemandangan di kota besar pada malam hari itu kelihatan begitu indah. Tak heran kalau setiap malam Ann selalu suka pergi berjalan-jalan keluar rumah, hanya untuk bisa menikmati pemandangan malam kota.


Mobil terus bergerak maju dan Ann juga terlihat tengah mengumbar senyuman tanpa ada sepatah katapun. Fokus dari gadis itu hanya tertuju dan mengarah pada hal yang ada di luar dari kaca jendela. Kedua matanya melihat pemandangan, sedangkan pikirannya sedang bergelut pusing memikirkan cara yang tepat untuk mengatakan keinginan.


Hanya butuh sekitar dua puluh lima menit untuk perjalanan, akhirnya mobil sedan mewah yang ditumpangi oleh Ann serta Matteo tiba juga di salah satu restoran mewah. Ketika pintu dibuka dan Ann mulai menginjakkan kakinya keluar dari mobil, pandangannya langsung terlihat bingung dan nampak aneh serta terheran. Beberapa tahun tinggal di kota ini, Ann sangat tahu kalau restoran semahal ini tak akan pernah terlihat sepi. Pasti ada saja orang kelebihan uang yang datang untuk makan. Namun, khusus untuk malam ini Ann sama sekali belum melihat orang selain karyawan restoran. Kenapa kelihatannya begitu sepi?


Mengetahui kalau suasana restoran semahal ini dan yang katanya cukup terkenal tampak begitu sepi pengunjung, Ann pun langsung melemparkan tatapan penuh pertanyaan kepada laki-laki pemilik nama Matteo yang kini sudah berdiri dengan penuh kharisma persis disebelahnya.


"Kenapa menatap saya seperti itu? Apa kamu tak terlalu menyukai restorannya?" Tanya Matteo hanya asal saja.


"Bukan seperti itu. Aku hanya sedikit bingung saja," ucap Ann yang terus mengedarkan pandangannya, berusaha untuk mencari pengunjung restoran, namun terlalu sulit untuk ditemukan.


"Memangnya restoran ini selalu sepi ya?" Tanya Ann yang membutuhkan jawaban tepat dari Matteo.


Perasaan Ann tak ada membuat lelucon, tapi entah mengapa setelah mendengar pertanyaan yang terlontar seperti itu, mampu membuat Matteo tertawa kecil. Baginya Ann sedang melemparkan sebuah tanya yang terkesan begitu polos. Apa gadis itu memang tak pernah untuk diajak pergi makan malam secara privat oleh seorang pria?


"Saya menyewanya. Jadi, untuk malam ini seluruh restoran menjadi tempat pribadi untuk kita berdua," kata Matteo kemudian kembali menggenggam erat jemari tangan milik Ann.


Enggan untuk terus berbincang di parkiran, Matteo pun tanpa berlama-lama lagi mulai mengajak perempuan yang kini sedang di dekatinya untuk masuk ke restoran tersebut.


Karena Matteo sudah membuat sebuah reservasi dengan pihak restoran, jadi tak heran kalau kedatangannya langsung mendapatkan sebuah sambutan hangat oleh semua karyawan yang bekerja di tempat itu.


Seperti tamu penting yang harus diperlakukan secara spesial, kini Ann bersama Matteo sedang diantarkan oleh beberapa pelayan untuk menuju ke tempat duduk yang telah disiapkan. Hanya agar suasana lebih romantis lagi, Matteo tak lupa untuk menambahkan pesanan khusus. Laki-laki itu ingin kalau tempat yang akan ditempatinya berada di outdoor dan ada dekorasi romantis seperti lilin serta kelopak bunga mawar.


.


.


.


Bukan tanpa sebab, hanya saja ini menjadi sebuah pengalaman baru bagi Ann. Pasalnya selama bertahun-tahun hidup, baru pertama kali ia diajak makan malam romantis oleh seorang pria. Apalagi sekarang yang mengajaknya adalah atasannya sendiri.


Untuk sesaat Ann memang merasa begitu bahagia atas semua perlakuan baik yang diberikan oleh Matteo, namun ia tak boleh sering merasakan hal seperti itu. Ann harus tetap berada pada kenyataan kalau Matteo itu hanyalah seorang atasan yang sudah memiliki seorang kekasih bernama Cindy.


Dengan senyuman tipis yang terlukis jelas di wajahnya, Ann mulai menempati kursi dan duduk tepat berhadapan langsung pada sosok laki-laki tampan pemilik nama Matteo itu. Jujur saja, meskipun sudah cukup lama ditempatkan berdua pada satu suasana yang sama dengan Matteo, perasaan gugup masih saja bisa menyelinap masuk.


"Welcome drink? Apa Nona dan Tuan mau mencoba wine?" Tanya salah seorang pelayan yang sudah datang sambil membawa sebotol minuman beralkohol.


Dikarenakan Ann enggan menanggung resiko dan tak berniat mengulang kesalahan yang sama seperti beberapa malam lalu. Ia dengan tegas memberikan penolakan untuk secangkir wine. Sekarang Ann akan lebih menjatuhkan pilihannya terhadap minuman yang tak memiliki kandungan alkohol. Takut kalau mabuk dan melakukan kesalahan lagi.


"Boleh minta jus jeruk saja?" Pinta Ann dan langsung membuat Matteo juga mengikutinya.


"Kalau begitu untuk kali ini, saya tak akan meminta ataupun memesan minuman beralkohol."


Setelah mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Matteo, pelayan itu pun segera pergi dari meja sambil membawa sebotol wine yang masih utuh.


"Kalau Tuan ingin minum wine silahkan saja. Aku tidak akan keberatan untuk itu," ujar Ann sedikit merasa bersalah karena dirinya Matteo jadi tak bisa menikmati segelas wine.


"Tidak masalah. Lagipula kalau minum sendiri itu rasanya kurang enak," tutur Matteo sembari memasang senyuman tipis di mulutnya.


Bersambung...