Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Gadis Polos Yang Jatuh Cinta.



Setelah menerima paper bag yang dititipkan oleh Matteo lewat anak buahnya, Ann bergegas untuk membuka dan mengecek isinya. Bukankah tadi sudah dikatakan kalau selain pakaian, di dalam paper bag tersebut juga ada cincin serta selembar surat?


Dikarenakan tak berniat untuk terus merasa penasaran, Ann lebih memilih untuk membaca isi surat yang ada terlebih dahulu. Bukan tanpa sebab, hanya saja siapa tahu memang ada hal penting yang ingin dikatakan oleh atasannya itu. Disini Ann hanya teringat soal menghadiri sebuah pesta bersama Matteo, untuk selebihnya masih dalam proses untuk mengingat. Pasalnya sekarang ini Ann juga sedang bertanya-tanya penyebab dan juga alasan kenapa bisa terbangun dari kamar hotel ini.


Dengan tubuh yang masih tertutupi selimut, Ann pun mulai membaca surat yang dituliskan sendiri oleh Matteo. Kedua matanya bergerak cepat, melihat kata demi kata yang ada di dalam surat itu. Entah mengapa, pada saat membaca itu, satu persatu ingatan yang kelihatan asing mulai memenuhi isi kepalanya. Pelan-pelan tapi pasti, Ann kembali mendapatkan jawaban atas pertanyaannya pagi ini.


Dear, Ann...


Sudah bangun? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah lebih baik? Kondisi badan aman kan? Tidak terlalu sakit kan? Maaf ya, karena tadi malam saya terlalu kasar sama kamu. Dilain kesempatan, hal seperti itu tak akan terjadi lagi. Saya harap hubungan kedekatan kita tidak langsung berakhir.


Sebagai ungkapan permintaan maaf, saya bawakan pakaian untuk kamu. Gaun putih yang sempat kamu pakai sudah rusak. Tak perlu dicari lagi kemana perginya karena pagi ini saya langsung buang gaun itu. Cepat ganti pakaian dan tutupi tubuhmu. Jangan biarkan ada orang lain yang melihatnya. Ingat ya, Ann... Sejak tadi malam kamu itu sudah milik saya.


Selain baju, saya juga berikan cincin berlian. Anggap saja itu sebagai tanda kalau kamu memang milik saya. Jangan menolak! Kamu tahu kan kalau saya tak terlalu menyukai penolakan? Saya lebih suka kalau kamu mau bersikap seperti tadi malam. Jujur saja, melihat dirimu pasrah tanpa adanya berontak dan penolakan membuat saya langsung menyukainya.


Tambahan:


Sampai bertemu malam nanti. Bukankah kita harus merayakan semuanya dengan sebuah pesta? Saya ingin mengajakmu pergi makan malam di restoran terbaik.


Pertanda, Matteo.


...•••...


Seusai membaca semua rangkaian kata yang ada di dalam surat tersebut, kedua mata Ann mulai membelalak terkejut. Bukan tanpa sebab, hanya saja sekarang ini ingatan akan kejadian beserta alasan yang membuatnya bisa ada di kamar hotel, sudah kembali datang menyapa.


Jujur saja saat mengingat itu, Ann rasanya sangat tak ingin percaya dengan diri sendiri. Kenapa bisa hal tersebut terjadi? Apa malam tadi Ann benar-benar kehilangan kontrol diri sendiri? Bertahun-tahun bersama dengan diri ini, bisa dibilang kalau Ann sangat mengenal kepribadian sendiri. Seberani-beraninya, Ann tak akan pernah menyerahkan dirinya seperti tadi malam kepada orang asing serta, sangat tidak mungkin kalau ia yang terlebih dahulu meminta.


Ingatan akan kejadian malam tadi benar-benar membuat kepala gadis itu merasa cukup pening. Ingin mencoba denial, tapi hal tersebut sungguh terjadi. Kalau tidak ada apa-apa, tak mungkin juga pagi ini Ann terbangun dalam kondisi tanpa busana. Apalagi ditambah dengan rasa ngilu yang masih terasa jelas pada tubuh bagian bawahnya.


"Apa yang habis aku minum di pesta itu? Perasaan aku sudah menghindari minuman beralkohol," kata Ann sembari memijat kepala sendiri yang terasa pening.


Tidak diberikan kesempatan terlalu lama untuk terus berpikir, secara tiba-tiba pintu dari kamar hotel ini kembali mendapatkan sebuah ketukan. Kenapa terlalu banyak tamu? Ann yang memang belum mengenakan sehelai benang pun mulai bergegas untuk mengenakan dress yang pagi ini dikirimkan oleh sang atasan, Matteo.


"Ada apa ya, mas? Mau antar makanan kah? Tapi, saya gak ada pesan," ucap Ann yang terlebih dahulu jujur.


"Iya. Semua makanan dipesan atas nama Tuan Matteo. Menurut pesanan yang tertulis, makanan harus diantar ke kamar ini," kata pegawai hotel dan mau tak mau harus diterima oleh Ann. Kalau misalnya Ann menyuruh pergi, maka yang ada semua makanan itu akan mubasir. Sia-sia seorang Matteo memesankan kalau ujungnya hanya mendapat penolakan. Lagipula sekarang ini perut Ann juga sudah berbunyi minta diisi.


"Kalau begitu, silahkan dibawa masuk," pinta Ann sembari melemparkan sebua senyuman yang terkesan cukup lebar.


Pegawai layanan kamar dari hotel ini pun membawa semua makanan yang sudah dipesan masuk. Tanpa membuang banyak waktu, sekarang semua makanan yang ada sudah tersaji dengan rapi di atas meja. Karena semua makanan yang dipesan oleh Matteo kelihatan begitu enak, jadinya Ann terlalu kesulitan untuk mengalihkan pandangan. Kelihatan kalau Ann seperti seseorang yang sedang jatuh cinta dengan makanan.


"Apa nona adalah istri dari Tuan Matteo? Saya perlu tahu hanya sebagai persyaratan karena pesanan ini tidak langsung diterima oleh pihak pertama," kata pegawai hotel yang sekarang sudah membawa sebuah catatan siap untuk menulis serta meminta tanda tangan dari si penerima.


"Ehm... Bukan istri, hanya seorang pegawainya," jawab Ann yang tentu saja langsung mendapatkan tatapan aneh dari pegawai hotel. Bukankah pernyataan yang seperti ini sangat tidak tepat? Bagaimana bisa seorang pegawai menginap di satu kamar dengan atasannya? Jawaban yang dilemparkan oleh Ann patut mendapatkan rasa curiga.


"Baik. Bisa beritahu juga nama nona?" Tanya pegawai itu kepada Ann yang kini sudah mulai mengambil alat makan. Kalau soal makanan, Ann memang selalu kesulitan untuk mengontrol diri. Bisa dibilang di dunia ini hal yang paling disukai olehnya adalah makanan.


"Ann. Kamu bisa tulis nama itu," jawabnya dengan santai.


Setelah melakukan pekerjaannya, pegawai dari hotel itu pun melangkah pergi sambil membawa keluar troli makanan. Walaupun Ann sudah sangat tertarik dengan semua makanan yang tersaji di atas meja, gadis itu tetap memberikan perlakuan baik terhadap pegawai hotel. Tak membiarkannya pergi sendiri, Ann kini telah bersiaga untuk membantu membukakan pintu kamar hotel.


"Terima kasih atas kerja kerasnya," ujar Ann berpamitan kepada pegawai hotel tersebut.


"Silahkan nikmati makanan dan waktunya," tukas pegawai hotel yang sekarang sudah berjalan menjauhi kamar tempat dimana Ann berada.


Sudah mengantarkan pegawai itu, Ann pun mulai berjalan secara cepat kembali ke arah meja. Maafkan Ann! Tapi, sepertinya memang pikiran tentang kejadian semalam harus ditunda terlebih dahulu. Bukan tanpa sebab hanya saja, Ann lebih ingin mementingkan kondisi perutnya.


"Sekarang aku tahu alasan kenapa sekertaris Cindy begitu menyukai Tuan Presdir. Kalau diperlakukan baik seperti ini setiap hari, mungkin aku juga akan bisa jatuh cinta kepadanya. Bukankah wanita memang selalu senang kalau diperlakukan baik dan dipedulikan?" Gumam Ann sembari mulai memasukan sesuap makanan ke dalam mulut.


Bersambung...