Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Pesta.



Setelah keluar dari ruangan Presdir, Ann benar-benar dibuat untuk berpikir keras karena rasa bingung yang dirasa tak kunjung mereda. Bukan tanpa sebab, hanya saja Ann begitu merasa aneh dengan ajakan dari Matteo yang berniat untuk membawanya menghadiri sebuah pesta. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya Ann tak terlalu dibutuhkan kehadiran di pesta itu.


Tentu saja, Ann sangat bisa memahami maksud dan niat baik dari Matteo, namun apakah atasannya lupa kalau sekarang Ann hanyalah seorang pegawai yang berada di departemen pemasaran? Bukankah tidak ada sangkut paut apapun mengenai pertemuan dengan pebisnis lain? Beda cerita kalau misalkan Ann memang berniat ditempatkan untuk menjadi sekertaris atau asisten pribadi, menghadiri pesta serta pertemuan dengan klien sudah menjadi tugas yang memang harus dijalankan.


Dengan ekspresi wajah yang masih kelihatan bingung, Ann kini telah kembali menempatkan diri duduk di kursi putar dari meja kerjanya. Ghea yang memang begitu perasa pun tak segan untuk datang menghampiri Ann. Setidaknya Ghea harus tahu alasan dari mimik wajah yang kelihatan bukan berada pada tempatnya.


"Apa Tuan Matteo memarahi atau memberi teguran?" Tanya Ghea mencoba menelisik mencari tahu hal yang terjadi.


"Tidak. Dia sama sekali tidak memarahi, malah justru memberikan pujian kepadaku," jawab Ann dengan cepat.


"Lantas? Apa yang membuat kamu terlihat seperti ini?" Bukannya menemukan jawaban yang tepat, Ghea malah ikut dibuat makin bertanya-tanya.


Sambil melemparkan sorot mata yang terkesan serius ke arah si kepala tim, Ann tanpa ragu mulai mengatakan hal yang berhasil membuatnya merasa bingung.


"Presdir bertingkah aneh. Tiba-tiba memberikan gaun ini kepadaku. Alasannya hanya karena ingin membawaku ke sebuah pesta, dimana katanya bisa membantuku untuk belajar mengenai perusahaan," Ann menyampaikan keluh kesahnya dan tak lupa dengan bingkisan gaun pemberian dari Matteo. Ia juga menunjukan itu kepada Ghea.


Ternyata setelah mendengar semua yang dikatakan oleh Ann serta melihat gaun pesta itu, Ghea juga jadi ikut merasa aneh. Selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan HR Group, Ghea belum pernah sekalipun melihat Presdir bertingkah seperti ini kepada pegawai magang. Kalaupun ingin membawa orang untuk menghadiri sebuah pesta atau pertemuan, Matteo pasti mengajak sekertaris nya.


Berharap kalau penilaiannya salah, tapi menurut Ghea, Presdir dari perusahaan ini bukan termasuk orang yang ramah dan bisa dengan mudah bersosialisasi dengan sekitar. Begitu sulit untuk mendekatkan diri kepadanya, karena memang Matteo terkesan seperti seseorang yang lebih suka untuk menutup diri.


"Apa menurut senior, aku harus pergi atau justru malah lebih baik mengembalikan bingkisan gaun ini?" Sekarang Ann menanyakan pendapat dari Ghea. Disini Ann sungguh berharap untuk bisa mendengarkan sebuah saran atau solusi terbaik.


"Pilihan pertama harus dipertimbangkan dan pilihan kedua harus kamu lupakan," kata Ghea mengesampingkan niat Ann yang ingin mengembalikan bingkisan gaun itu.


"Jadi, maksudnya aku tetap harus menghadiri pesta itu?" Tanya Ann ingin memastikan saja kalau bisa menangkap maksud dari perkataan yang baru saja dilemparkan oleh Ghea.


Mendengar itu sanggup membuat Ghea seketika menganggukkan kepalanya. Tentu saja Ann harus datang ke pesta. Karena kalau tidak, Matteo yang memang enggan mendapatkan penolakan itu bisa sangat marah.


"Kamu wajib datang, kalau memang masih mau bertahan di perusahaan ini," tutur Ghea yang kemudian kembali memfokuskan diri pada layar komputer yang ada di meja kerjanya.


Sepertinya sekarang ini, Ann sama sekali tidak ada pilihan selain menerima ajakan dari Presdir. Sungguh, dirinya tidak berniat merusak hasil jerih payahnya sendiri hanya karena keegoisan diri yang lebih ingin tetap tinggal. Tahu sendiri kalau Ann sudah berusaha mati-matian agar bisa menjadi salah satu pegawai di perusahaan ini.


...****************...


Gaun pemberian dari Matteo benar-benar terasa kurang nyaman saat dipakai. Bukan tanpa sebab, hanya saja Ann tidak terbiasa untuk memakai gaun atau pakaian yang terlalu terbuka dan seksi. Pernah sekali Ann mengenakannya, pada saat pergi ke sebuah bar bersama dengan Lidia.



Dalam balutan gaun panjang bewarna hitam, yang memiliki belahan pada bagian samping dan dengan lengan tangan terbuka, Ann kelihatan sudah siap untuk menghadiri pesta bersama sang atasan.


Penampilannya sekarang sama sekali tidak terlalu buruk. Apalagi saat melihat riasan serta tata rambut yang dibuat sederhana, tapi masih bisa meninggalkan kesan elegan. Ann yakin kalau tak akan memalukan dirinya sendiri selama di pesta itu.


Karena sudah tak memiliki banyak waktu lagi untuk menatap di cermin, Ann pun bergegas melangkahkan kakinya keluar dari kamar kosnya. Niat awal, Ann ingin pergi ke perusahaan dan bertemu dengan atasannya di sana, tapi ketika Ann sudah berada di luar dari tempat kos, kedua matanya langsung membelalak lebar. Ann terkejut mendapati sebuah mobil sedan yang memiliki lambang bintang tiga itu.


Dalam benak Ann, sedang bertanya-tanya. Mobil siapa itu? Kenapa mobil semahal itu bisa ada di lingkungannya? Bukankah ini pertama kalinya Ann melihat ada mobil mahal disini?


Tak lama setelah mendengar suara panggilan, Ann pun menolehkan kepalanya dan mendapati sosok Matteo keluar dari dalam mobil mahal itu. Melihat kedatangan dari sang Presdir pemilik perusahaan HR Group membuat Ann sangat amat terkejut dan tak mengira saja kalau laki-laki itu bisa ada disini.


"Bagaimana Tuan bisa ada disini?" Tanya Ann langsung dengan pupil mata yang masih tampak membesar.


"Dengan mobil," jawaban Matteo terdengar tak salah juga karena bisa sesuai akan pertanyaannya.


"Maaf, tapi maksudnya bagaimana Tuan bisa tahu kalau saya tinggal disini?" Ann memperbaiki pertanyaannya yang dirasa salah itu.


"Ah, saya meminta alamat kamu dari bagian personalia," ujar Matteo diikuti dengan sebuah senyuman cukup lebar.


Dikarenakan waktu terus berjalan dan memburu mereka, Matteo yang enggan terus berbincang diluar seperti ini, pun mulai meminta agar gadis pemilik nama Ann untuk segera masuk ke mobil.


"Silahkan masuk, Ann! Kita akan berangkat bersama ke pesta itu," pinta Matteo sembari membukakan pintu mobil buat Ann.


Jujur saja, Ann merasa sedikit canggung dan aneh dengan perlakuan dari Matteo yang seperti ini. Bukankah terlalu berlebihan kalau ia sampai harus menjemput seseorang pegawai seperti Ann?


"Tuan?" Panggil Ann yang tak kunjung masuk ke mobil.


"Ada apa, Ann?"


"Saya sepertinya ingin naik taksi saja," ucap Ann sedikit ragu untuk berada di satu mobil dengan sang atasan.


"Kenapa harus naik taksi? Bukankah sekarang ada saya yang datang menjemput kamu?" Tanya Matteo sedikit agak kecewa karena ucapan yang keluar dari mulut Ann. Bukan tanpa sebab, hanya saja kalau gadis itu lebih memilih untuk naik taksi, segala hal yang dilakukannya akan terasa sia-sia.


"Sedikit kurang nyaman kalau saya berada di satu mobil dengan Tuan. Apalagi...," sengaja tak melanjutkan kalimatnya, Ann terlihat sedang mencoba untuk mencari keberadaan Cindy yang seharusnya juga ada di dalam mobil itu.


"Siapa yang kamu cari? Cindy? Dia tidak ada di dalam," ucap Matteo memberikan jawaban yang mampu membuat Ann menganggukkan kepalanya singkat.


"Huh?" Ann kaget karena atasannya itu bisa menebak apa yang sedang berasa dipikiran.


"Cindy masih berada di Jepang dan kemungkinan akan menetap di sana," ujar Matteo yang sungguh tak berhasil dimengerti oleh Ann.


Ya, meskipun Ann sudah mendapatkan jawaban seperti itu, ia tetap saja terdiam di tempat seakan tetap bersikeras untuk tidak masuk ke mobil. Jangan sampai karena ini, Matteo harus menggunakan cara memaksa.


"Apa kamu tetap mau diam atau masuk?" Tanya Matteo meminta keputusan akhir.


Ann yang memang tak memiliki pilihan selain masuk ke mobil pun mulai melangkahkan kaki dan menempati kursi bagian belakang dari mobil sedang mahal itu. Sedikit canggung, tapi daripada pekerjaan yang jadi taruhannya.


Tepat setelah Ann masuk ke mobil, Matteo juga ikut menyusul dan saat semua dirasa sudah siap, sopir pribadi pun mulai mengemudikan mobil ini melintas pergi meninggalkan depan rumah kos tempat Ann tinggal. Kini mereka sedang berada di perjalanan menuju tempat pesta yang bisa dibilang berjarak cukup jauh.


Ann yang duduk persis bersebelahan dari Matteo pun terlihat sedang berusaha untuk membuat jarak batas aman. Jujur saja, selain merasa canggung, Ann juga takut kepada Matteo. Mengingat kalau Ann pernah mendapati atasannya itu sedang melakukan permainan cinta? Bersama dengan Cindy. Berniat untuk melupakan, namun terlalu sulit karena setiap melihat Matteo hanya hal itu yang berhasil memenuhi ingatannya.


Bersambung...