Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Dijadikan Seperti Ratu



Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir sekitar empat puluh lima menit, mobil sedan hitam yang memiliki lambang tiga bintang, akhirnya bisa tiba juga di sebuah parkiran basemen dari salah satu hotel bintang lima yang ada di kota ini.


Ann yang memang selama perjalanan hanya bisa diam seribu bahasa pun sudah terlihat turun dari mobil itu. Kedatangan mereka disini bukan tanpa tujuan. Iya, pesta yang dimaksud oleh Matteo memang diadakan di ballroom yang ada pada gedung hotel ini.


Tanpa berniat untuk membuang banyak waktu lagi, Matteo yang juga sudah keluar dari mobil mulai mengulurkan tangannya, berharap kalau Ann ingin menggapainya. Tapi, namanya juga Ann yang penuh dengan rasa ragu mengingat kalau status Matteo merupakan seorang Presdir dari perusahaan HR Group, tempatnya bekerja, Ann kelihatan enggan untuk meraih uluran tangan itu. Hanya saja Ann merasa kurang pantas menyentuh atau bersentuhan dengan Matteo.


"Tidak perlu Tuan. Saya bisa jalan sendiri," tolak Ann yang langsung melangkahkan kakinya pelan-pelan dan penuh kehati-hatian masuk ke gedung hotel.


Sudah sering dikatakan kalau Matteo tak terlalu menyukai penolakan, maka dari itu bukan menjadi sesuatu yang mengherankan kalau tanpa adanya permisi, Matteo langsung saja menggenggam jemari tangan milik Ann. Jujur, pada saat digenggam seperti ini rasanya Ann begitu ingin untuk segera melepaskannya, tapi terlalu sulit karena Matteo melarang.


Meskipun posisinya sekarang terbilang kurang nyaman karena jarak diantara mereka juga begitu dekat, Ann tetap berusaha mencoba untuk bertahan. Gadis itu terus melangkahkan kaki berdampingan dengan Matteo.


.


.


.


Sesampainya di ballroom hotel, tempat dari pesta diadakan, kedatangan Matteo yang dianggap sebagai salah satu pebisnis paling sukses dan berpengaruh di negara ini, kelihatan disambut hangat oleh beberapa tamu. Ann yang sekarang masih ada di dekat Matteo hanya bisa tersenyum ramah, untuk membalas sambutan yang orang lain berikan.


"Selamat datang Tuan Matteo. Senang karena pesta ini bisa di datangi oleh anda," ucap salah seorang pria yang sepertinya berusia jauh lebih tua daripada Matteo.


"Terima kasih Tuan Yohan. Saya datang juga karena ingin mendapatkan sedikit rasa bebas. Tahu sendiri, kalau setiap orang juga pasti membutuhkan hiburan agar tak merasa penat," kata Matteo yang langsung mendapatkan tawa kecil dari semua orang itu.


"Siapa yang kamu bawa untuk pesta kali ini? Saya lihat bukan lagi Cindy. Apakah dia kekasih baru atau sekertaris baru?" Tanya Tuan Yohan yang ternyata menyadari akan kehadiran dari Ann.


"Dia hanya pegawai magang. Saya sengaja mengajaknya menggantikan Cindy karena merasa memiliki kewajiban untuk memperkenalkan dia ke dunia bisnis," jawab Matteo yang tentu saja bisa dimengerti oleh Tuan Yohan, namun tidak dengan Ann sendiri. Sekarang pertanyaannya, kenapa Ann harus diperkenalkan ke dunia bisnis? Tidak bisakah Ann menjadi pegawai biasa saja?


"Biasanya kalau kamu melakukan ini, rasanya seperti sebuah pertanda adanya pergantian sekertaris baru. Kamu tidak bermaksud untuk menggantikan Cindy kan?" Kali ini pertanyaannya bukan berasal dari Nyonya Bianca — istri dari Tuan Yohan.


"Sepertinya tebakan nyonya ada benarnya," kata Matteo menanggapi.


"Sudah bosan dengan Cindy?" Tanya Nyonya Bianca lagi.


"Bukan bosan, hanya saja kantor cabang yang di Jepang memerlukan seorang direktur baru. Saya hanya berpikir untuk memberikan posisi dan kesempatan itu kepada Cindy. Tuan dan Nyonya tahu sendiri kalau saya selalu menginginkan yang terbaik untuk pegawai. Saya rasa sudah waktunya bagi Cindy mendapatkan pengalaman baru," tutur Matteo terdengar seperti niat baik.


Ann yang tentu saja bisa mendengar dengan jelas perbincangan yang terjadi diantara mereka pun langsung melepaskan jemari tangannya yang sejak tadi terus digandeng oleh Matteo.


"Maaf, tapi sepertinya saya harus ke kamar mandi," tutur Ann yang tentu saja langsung dituruti oleh Matteo.


Dengan langkahnya yang kelihatan sedikit lemas, Ann mulai keluar dari ballroom, tempat dimana pesta yang dihadiri oleh banyak pebisnis terkenal. Pergi ke kamar mandi hanyalah menjadi sebuah alasan bagi Ann, sebenarnya ia ingin keluar karena merasa perlu menikmati sedikit udara segar, setelah tadi sempat mendengar niat dari seorang Matteo.


Perlu diketahui, kalau Ann hanya berniat untuk menjadi pegawai tetap di departemen pemasaran. Sama sekali tak ada niatan dari gadis itu untuk menempati posisi sekertaris dan mengambil ahli tempat milik Cindy. Ann sendiri juga kurang tahu alasan apa yang dimiliki sehingga membuat seorang Matteo memiliki niat seperti itu.


Menjadi sekertaris pribadinya? Tentu saja, Ann tidak terlalu tertarik pada posisi itu. Kenapa? Karena sekarang dirinya sudah terlalu betah bekerja bersama dengan tim dari departemen pemasaran. Meninggalkan Ghea dan juga Andita yang telah menjadi temannya, tentu saja Ann akan merasa berat.


.


.


.


Setelah cukup lama pergi dari ballroom, Ann yang telah berhasil menenangkan perasaannya pun mulai memberanikan diri untuk melangkahkan kembali kakinya menuju ke arah Matteo yang kini sedang duduk di sebuah sofa panjang sembari tangannya memegang segelas minuman.


Dengan senyuman yang mengembang, Ann mendekatkan dirinya kepada sosok laki-laki itu, namun secara tak sengaja seorang perempuan yang mengenakan gaun berwarna merah maron menabrak dirinya. Karena kejadian ini, segelas minuman yang dibawa oleh perempuan itu tumpah dan tepat membasahi gaun hitam yang sedang dikenakan oleh Ann.


"Maaf, saya tidak sengaja melakukannya," tutur Ann yang meskipun tidak sepenuhnya bersalah, tetap memberikan permintaan maaf.


Seakan tak terima akan kejadian ini, perempuan cantik yang mengenakan gaun merah maron pun tanpa segan memberikan sebuah tamparan cukup keras yang berhasil mendarat di pipi seorang Ann. Kenapa dia bisa marah? Padahal jelas-jelas disini yang seharusnya rugi adalah Ann.


"Kalau jalan itu pakai mata," ucap perempuan itu kedengaran begitu ketus.


Karena Ann enggan untuk mencari musuh, ia hanya bisa menundukkan kepalanya sambil terus mengucapkan permintaan maaf tulus dari dalam hatinya. Tidak ingin hanya sekedar meminta maaf, perempuan cantik yang masih belum diketahui namanya itu pun kembali memarahi Ann.


"Gara-gara kamu yang terlalu sembrono, minuman milikku jatuh dan menjadi mubasir," ucap perempuan itu dengan suara lantang yang mampu membuat semua orang di ruangan ini menatap. Kenapa harus menarik perhatian segala?


Tidak berniat untuk memperpanjang masalah sepele, Ann pun kembali meminta maaf, namun ketika ia ingin membungkukkan badannya lagi, Matteo mencegah. Rupanya Matteo juga tak ingin melihat seseorang yang tidak bersalah harus meminta maaf.


"Bukankah yang harusnya meminta maaf itu kamu, Elora?" Kata Matteo menyebut nama perempuan yang kini sedang marah-marah kepada Ann.


"Iya, dia adalah pegawai ku. Dari sana aku bisa melihat dengan jelas kalau kamu yang menabraknya terlebih dahulu," ucap Matteo tentu saja membela ke Ann.


Perempuan cantik yang katanya bernama Elora itu pun menatap ke arah Matteo, lalu tak lama setelah mereka berdua terlibat dalam pembicaraan, Elora tanpa ragu meminta maaf dan mengakui kalau semua yang terjadi adalah kesalahannya.


"Aku yang menyenggol jadi, aku yang harus meminta maaf," ucap Elora kemudian melangkahkan kaki pergi meninggalkan tempatnya.


Merasa puas mendengar Elora yang mau menurut dan meminta maaf, berhasil membuat seorang Matteo tersenyum tipis. Tak terlalu mempedulikan tentang Elora, Matteo kini mulai menatap dari bawah sampai atas tubuh dari Ann. Bukan bermaksud buruk, hanya saja ia ingin memastikan kalau pegawainya itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Sepertinya kamu harus kembali ke kamar mandi lagi untuk membersihkan gaunnya," ucap Matteo yang langsung mendapatkan anggukan dari Ann.


Karena merasa harus membersihkan gaun yang terkena tumpahan minuman manis, Ann yang tadinya berniat untuk bergabung lagi dengan pesta mau tak mau harus kembali ke kamar mandi. Setidaknya gaun yang basah ini mesti sedikit dikeringkan.


.


.


.


Selagi menunggu Ann kembali dari kamar mandi, Matteo menggunakan kesempatan ini untuk menemui perempuan bernama Elora itu. Bukan tanpa sebab, hanya saja Matteo berniat untuk membalas pertolongan yang sudah diberikan Elora.


Dengan langkah gagah dan penuh berkharisma, Matteo perlahan-lahan mulai mendekat ke arah Elora yang sekarang sedang berdiri di taman dari hotel ini. Perempuan cantik yang beberapa tahun lalu sempat menjalin hubungan dengan Matteo, namun harus kandas karena pihak perempuan ketahuan selingkuh, pun dengan senyuman menyambut kehadiran dari sang mantan kekasih.


"Long time no see you, Matteo. Apa kabar?" Tanya Elora kelihatan seperti yang dekat.


"I'm fine," jawab Matteo singkat.


"Sungguh menyebalkan karena melihat kamu selalu dalam keadaan baik," ucap Elora dengan maksud bercanda.


Tanpa ingin berbasa-basi lagi, Matteo pun langsung mengatakan maksud dari tujuannya datang menemui Elora.


"Terima kasih karena sudah ingin membantu," ucap Matteo dan seketika berhasil mengembangkan senyuman di wajah perempuan cantik itu.


"Ya sama-sama, tapi jujur aja nih ya... Kamu itu aneh banget. Gak ada angin atau hujan tiba-tiba menghubungi dan meminta tolong untuk melakukan hal seperti itu. Tidak biasanya tahu gak, seorang Matteo ingin dilihat seperti seorang pahlawan," ungkap Elora yang tentu saja masih mengenal baik mantan kekasihnya itu.


"Aku hanya harus membuatnya percaya," kata Matteo terdengar serius.


"Kenapa kamu melakukan itu? Memangnya siapa gadis itu? Bukankah tadi kamu hanya menyebutnya sebagai seorang pegawai?"


"Dia Ann. Aku berniat untuk menikahinya," tutur Matteo yang sanggup membuat Elora tertawa terbahak-bahak. Apa sekarang sedang ada sesuatu hal yang kelihatan lucu?


"Kamu tidak sedang bercanda kan?" Tanya Elora ingin memastikan kalau apa yang baru saja dikatakan oleh Matteo adalah sebuah kesungguhan.


"Tidak ada yang sedang bercanda. Aku serius ingin menikahi Ann."


"Baru kali ini aku mendengar hal seperti itu keluar dari mulut seorang Matteo. Apa sekarang kamu sudah berpikir tentang masa depan?"


Kalau boleh memberitahu, sebenarnya bukan maksud dari Elora untuk selingkuh dari Matteo. Bisa dibilang dirinya terpaksa melakukan itu hanya karena merasa kalau hubungannya dengan Matteo sudah tak bisa diperjuangkan lagi. Kenapa bisa muncul perasaan seperti itu? Elora dan Matteo sudah menjalin kasih selama kurang lebih dua tahun dan sama sekali tidak ada tanda-tanda dari Matteo yang ingin membawa hubungannya ini ke jenjang yang lebih serius.


"Berapa tahun kamu memacarinya?" Tanya Elora penasaran.


"Aku tidak memacarinya. Kami baru kenal," jawab Matteo dan itu mampu membuat Elora terkejut bukan main.


"Selama dua tahun di hubungan kita, kamu bahkan tak ada kepikiran untuk menikahi ku. Sekarang di gadis yang baru dikenal, kamu bisa berpikiran seperti itu. Jujur saja, aku sedang cemburu dan ingin memprotes soal ketidakadilan yang kamu buat," ucap Elora mengungkit kembali soal masa lalu.


"Aku minta maaf untuk itu, tapi sungguh di waktu kita masih berpacaran, aku berpikir masih terlalu dini untuk melamar kamu," ujar Matteo yang langsung mendapatkan anggukan tanda mengerti.


"I know... Waktu itu kita masih begitu muda dan belum bisa berpikir dewasa," kata Elora akan memakluminya, ya meski terkadang saat mengingat masih ada rasa kesal.


"Jadi, apa yang membuatmu yakin untuk menikahi gadis itu?" Sambung Elora dengan pertanyaan.


"Hanya karena dia cantik. Kamu tahu kan kalau aku selalu suka dengan perempuan cantik?" Kata Matteo yang seketika membuat Elora tak ragu untuk memberikan pukulan ringan pada bahunya.


"Dasar. Sama sekali tak berubah," tukasnya diikuti tawa kecil yang meyakini kalau perkataan Matteo barusan hanyalah sebuah candaan belaka.


Bersambung...