
Merasa harus segera bertemu dokter, kendaraan online yang mengantar Ann kini sudah terlihat berhenti tepat di depan lobby dari sebuah rumah sakit.
Ann dalam keadaan yang tak terlihat baik-baik saja, pun bergegas turun dari kendaraan online tersebut lalu melangkahkan kaki dengan sembrono memasuki gedung rumah sakit.
Wajah pucat yang sekarang bisa terlihat secara jelas, mampu membuat salah seorang perawat langsung memberikan uluran tangannya untuk membantu Ann. Takut kalau dibiarkan sendiri, Ann malah akan pingsan di sembarang tempat.
"Biar saya bantu bawa ke IGD. Nona sedang memerlukan pertolongan pertama," kata perawat itu.
Ann dibawa oleh perawat menuju ke ruang IGD dengan kursi roda. Entah apa yang sekarang sedang terjadi, tapi jelasnya Ann sudah kelihatan seperti seseorang yang sedang menderita sakit parah.
"Suster, tolong bantu saya! Kepala saya terasa begitu pusing dan terus mual," pinta Ann kepada perawat yang sekarang sedang mendorong kan kursi rodanya.
"Baik. Setelah sampai di ruang IGD, saya akan memberitahu dokter mengenai keluhan nona," kata perawat itu.
Kebetulan jarak antara lobby rumah sakit dengan ruang IGD tidak terlalu jauh, Ann yang sedang duduk di atas kursi roda pun sudah terlihat tiba di sana. Kedatangan Ann ini langsung membuat semua tenaga medis bergerak cepat untuk membantu.
"Dokter Alan, pasien baru ini memiliki keluhan pusing dan merasa mual. Saat tiba di rumah sakit sudah berada dalam kondisi seperti ini," perawat yang mengantarkan Ann itu pun membuat laporan kepada dokter yang bertugas di ruang IGD.
"Baik saya mengerti," Dokter Alan yang tahu kalau tak ada waktu lagi untuk terus berbincang, pun bergegas masuk ke salah satu bilik tempat tidur yang ada, bermaksud ingin memeriksa kondisi Ann.
"Langsung pasang infus dan saya ingin melakukan cek darah untuk mengetahui penyebabnya," pinta Dokter Alan.
Mendapatkan perintah seperti itu, salah seorang perawat pun mulai melakukan panggilan kepada petugas laboratorium untuk melakukan pengambilan darah terhadap Ann.
.
.
.
Keadaan Ann memang belum sepenuhnya membaik, rasa pusing dan mual masih bisa dirasakan olehnya dengan amat jelas, tapi setelah mendapatkan perawatan dari pihak rumah sakit, Ann yang tadi sempat pingsan pun sekarang ini sudah terlihat membuka kedua matanya. Gadis itu siuman dan hal pertama yang langsung dilihatnya adalah sosok seorang dokter yang sedang berdiri sambil membaca selembar kertas, persis di samping dari tempat seorang Ann berbaring.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah merasa jauh lebih baik?" Tanya Dokter Alan sambil mengumbar senyuman.
"Masih mual dan pusing, tapi sudah tidak merasa lemas," kata Ann berbicara jujur mengenai keadaan badannya sekarang.
"Itu sangat wajar untuk terjadi," ujar Dokter Alan yang tentu saja belum bisa dimengerti oleh Ann.
"Sebenarnya, saya ini sakit apa? Kenapa kok tiba-tiba bisa merasa begini? Apa ini termasuk penyakit serius, Dok?" Tanya Ann dengan segala pikiran jelek yang sudah terbelit dalam kepalanya.
"Kamu itu tidak sakit, tapi hanya sedang mengalami tanda awal kehamilan," kata Dokter Alan yang tentu saja mampu membuat kedua mata Ann melebar, terkejut.
"Hamil? Dokter tidak lagi bercanda kan?" Tentu saja, Ann tidak bisa dengan mudah mempercayai hal itu. Bagaimana bisa hamil, kalau Ann sama sekali belum pernah berhubungan badan dengan siapapun. Benarkah belum pernah? Apa Ann juga menderita amnesia?
"Saya ini seorang dokter. Bercanda tentang kondisi pasien sendiri, bukalah menjadi hal tepat untuk dilakukan," tutur Dokter Alan sambil memberikan hasil laboratorium milik Ann.
"Ini bukti yang menunjukan kalau kamu memang sedang mengandung. Saat kamu tiba di IGD, saya langsung meminta untuk mengambil sedikit darah kamu," perkataan seperti ini sangat sulit disangkal lagi.
Ann yang menerima hasil laboratorium itu pun mulai membaca kebenaran. Rasanya masih terkesan seperti sebuah omong kosong. Ann yang terkesan denial pun kembali menatap bingung kepada Dokter Alan.
"Tapi, bagaimana bisa saya hamil?" Pertanyaan yang terkesan cukup seperti lelucon ini berhasil keluar dari mulut Ann.
"Bagaimana bisa kamu mempertanyakan hal seperti itu? Apa perlu untuk saya jelaskan bagaimana kamu bisa hamil?" Dokter Alan yang menjawab pertanyaan konyol itu pun sedang berusaha untuk menahan tawanya.
Ann sekarang memilih diam sejenak. Berusaha berpikir dan mengingat-ingat tentang bagaimana hal seperti ini bisa terjadi. Hamil? Ann bahkan belum memiliki pacar dan gak ada hubungan dengan seorang laki-laki, lantas bagaimana ada janin di dalam rahimnya? Ann mencoba mengingat, sampai pada akhirnya ia berhasil mendapatkan jawaban.
"Ini tidak mungkin terjadi kan?"
Dokter Alan yang tak mengerti apapun hanya bisa memasang raut wajah bingung. Entah apa yang terjadi pada Ann sekarang, tapi untuk sekarang pasien nya itu tak boleh terlalu stress.
"Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi menurut saya kabar sebagus ini harus segera disampaikan pada suami kamu. Saya yakin saat mendengar berita kehamilan ini, suami kamu akan merasa senang dan malah makin mencintai kamu," tutur Dokter Alan.
Ann yang tentu tak bisa mengatakan lebih banyak kepada Dokter Alan pun memilih untuk meminta izin. Bukan tanpa sebab, hanya saja Ann merasa kalau dirinya tak boleh terlalu lama berada di rumah sakit ini.
"Dokter? Bolehkah saya pulang sekarang?" Tanya Ann dengan penuh harap kalau akan mendapatkan izin.
"Apa kamu sudah tidak sabar untuk memberitahu suami mu tentang kabar kehamilan?" Dokter Alan bertanya dengan mudahnya.
"Ehm, bisa dibilang begitu," bohong Ann.
"Tunggu sampai infus habis, baru setelahnya saya akan izinkan kamu pulang," tutur Dokter Alan kemudian meninggalkan bilik perawatan dari Ann.
...****************...
Meskipun hasil tes darah sudah menunjukan bahwa Ann positif hamil, tapi entah mengapa jauh di dalam lubuk hatinya ada sebuah keyakinan kecil yang mengatakan kalau ada kesalahan dari hasil tes darah itu.
Jadi, tepat setelah ia keluar dari rumah sakit, Ann langsung bergegas menuju ke apotek terdekat. Tujuannya sudah jelas, ia ingin membeli beberapa testpack. Ann berniat memastikan sendiri kalau dirinya memang benar-benar sedang hamil.
Ann yang sudah bukan lagi seorang dibawah umur pun tanpa ada keraguan sedikitpun meminta bantuan kepada apoteker untuk mengambilkan beberapa jenis testpack. Supaya bisa lebih yakin dan pasti, Ann sengaja membeli cukup banyak macam testpack.
Setelah membeli kurang lebih tiga macam testpack berbeda, Ann pun bergegas untuk kembali ke tempat tinggalnya. Perasaan tidak sabaran sudah menghantam dirinya, jadi ia harus bergegas melakukan pemeriksaan sendiri.
.
.
.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit, Ann akhirnya sekarang sudah berada di dalam kamar mandi dari tempat tinggalnya. Dengan perasaan gugup yang bercampur penasaran, Ann mulai memeriksa kebenaran sendiri.
Karena belum pernah memakai testpack, Ann pun mau tak mau harus mengikuti petunjuk yang ada pada kemasan alat cek kehamilan itu. Seusai membaca dengan seksama, Ann mulai mengikutinya sesuai dengan petunjuk.
"Semoga hasilnya tak mengecewakan diriku," gumam Ann yang kini sedang menguji diri sendiri.
Sudah melakukan semua sesuai petunjuk, kini Ann hanya tinggal menunggu hasilnya. Menurut kemasan dari testpack itu, Ann diminta untuk menunggu setidaknya lima menit. Kalau hanya dapat hasil garis satu, itu berarti Ann negatif hamil. Tapi, kalau duga garis, Ann memang positif hamil.
Sungguh, saat menunggu hasil, debaran jantung milik Ann berdetak dua kali lebih cepat dari bisanya. Ann hanya takut kalau hasilnya tak bisa dibantah lagi.
"Tolong, jangan kecewakan aku!" Pinta Ann yang kalau boleh jujur sangat ingin mendapatkan hasil negatif.
Lima menit sudah berlalu dan Ann kini telah memeriksa tiga testpack. Ketika Ann melihat hasil yang ada, matanya kembali membelalak terkejut, kelihatan kalau ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihat sendiri.
Hasil tes darah dari rumah sakit itu bukan sebuah kesalahan. Memang benar adanya kalau sekarang Ann memang sedang mengandung. Tiga testpack yang sudah diuji sendiri juga semuanya mendapatkan dua garis.
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Ann merasa kembali berada di jalan buntu.
Bersambung...