Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Kebahagiaan Singkat.



Mendengar keputusan yang diberikan oleh Ann sangat amat membuat seorang Matteo mengumbar senyuman bahagia. Dari sekian banyak hal baik yang sudah terjadi hari ini, tak ada yang lebih baik daripada mendengar keputusan dari seorang Ann. Senang karena ternyata Ann sudah mau menerima tawaran pernikahan yang kurang lebih sebulan lalu pernah diberikan oleh Matteo.


Untuk merayakan kebahagiaan atas pengambilan keputusan Ann, Matteo yang masih memasang senyuman lebar pun tak segan mendekatkan dirinya pada sosok Ann yang kini sedang duduk di atas sofa panjang. Sebagai ungkapan terima kasih, Matteo sama sekali tidak ragu untuk memberikan sebuah kecupan yang tepat mengenai bagian dahi milik Ann.


"Terima kasih karena kamu sudah mau membuat keputusan yang tepat," kata Matteo merasa bahagia sekaligus puas karena akhirnya keinginan untuk menikahi seorang Ann cepat atau lambat pasti bisa terwujud.


Sebenarnya banyak hal yang menjadi pertimbangan bagi Ann untuk memutuskan mengenai penawaran pernikahan yang diajukan oleh Matteo. Ann setuju bukan semata-mata karena ingin membuat Matteo membantunya dalam hal melunasi tagihan rumah sakit dari Nenek Sora, melainkan Ann hanya berpikir ingin memberikan seorang ayah bagi janin yang sekarang masih bertumbuh di dalam rahimnya.


Saat Ann mendapati kabar kalau dirinya tengah mengandung, sama sekali tidak ada pemikiran dari dalam benaknya yang ingin menyingkirkan janin itu. Ann bukan seseorang yang tega untuk membunuh anaknya sendiri.


Seakan tidak akan membiarkan anaknya kelak tumbuh tanpa adanya sosok orang tua lengkap, Ann mengambil keputusan dengan menerima tawaran untuk menikah dengan Matteo. Ann enggan kalau anak itu mengulang nasibnya yang sejak kecil sama sekali tidak pernah mengetahui rupa dari orang tua sendiri.


"Ann?" Panggil Matteo sambil menggenggam dengan erat jemari tangan milik perempuan yang nanti akan menjadi istrinya.


"Boleh saya bertanya sesuatu?" Pertanyaan ini langsung mendapatkan sebuah anggukan kepala setuju dari Ann.


"Apa yang membuat kamu akhirnya setuju untuk menikah dengan saya? Apa masih ada sangkut-pautnya dengan tagihan rumah sakit yang harus kamu lunasi?" Tanya Matteo begitu penasaran dan berharap kalau Ann mau memberikan jawaban yang sesuai.


Bukan karena ingin berbohong, hanya saja Ann merasa kalau kehamilannya sekarang ini harus tetap menjadi rahasia. Tak dipungkiri, persis di dalam hati seorang Ann terdapat rasa takut untuk memberitahu Matteo tentang kehamilan. Ann takut saat Matteo tahu, ia malah berubah pikiran dan enggan buat melanjutkan rencana pernikahan itu.


"I-iya. Saya butuh uang untuk membayar tagihan rumah sakit Nenek," kata Ann tidak berkata sejujurnya.


Matteo yang memang belum tahu apa-apa pun menganggap apa yang barusan dikatakan oleh Ann adalah sebuah kebenaran nyata.


"Kamu jangan khawatir, soal tagihan rumah sakit nenek kamu, saya yang akan melunasinya," ucap Matteo yang lagi diikuti dengan sebuah kecupan kecil pada kening milik Ann.


...****************...


Ann memang sudah memutuskan untuk menikah dengan Matteo, namun sama sekali tidak ada bayangan dibenaknya kalau status lajangnya akan cepat berganti. Kenapa dalam hidup Ann, semua bisa terjadi dengan cepat dan begitu tidak terduga? Ann bahkan tidak menduga kalau setelah memberitahu tentang keputusan itu, Matteo akan langsung mengajaknya menuju ke kantor catatan sipil.


Entah apa yang dilakukan oleh Matteo, tapi jelasnya saat mereka datang ke kantor catatan sipil, seluruh pegawai yang memang masih ada di tempat itu pun langsung memberikan sambutan. Tak ada basa-basi yang berarti, Ann dan juga Matteo langsung diminta untuk menandatangani dokumen pernikahan. Apakah ini bisa disebut dengan sebuah pernikahan kilat?


"Karena untuk menyiapkan resepsi butuh waktu, jadi kita hanya bisa datang ke kantor catatan sipil. Mendaftarkan pernikahan terlebih dahulu dan merayakan resepsi nanti, kamu sama sekali tidak bermasalah dengan itu kan, Ann?" Tanya Matteo yang kini telah selesai mendapatkan surat nikah dengan Ann.


Tidak tahu harus berkata seperti apa, tapi yang jelas Ann benar-benar masih sedikit syok. Awalnya Ann mengira kalau setelah memberikan keputusan setuju, ia masih ada waktu sebelum hari pernikahan terjadi, tapi nyatanya tepat beberapa jam kemudian Ann langsung dibawa ke kantor catatan sipil untuk menandatangani surat nikah.


"T-tuan?" Panggil Ann sambil jemari tangannya sudah menggenggam surat nikah miliknya dengan laki-laki bernama Matteo.


"Mau sampai kapan memanggil saya dengan, Tuan? Ann, kita baru saja menikah dan keluar dari kantor catatan sipil. Ditangan kita juga masih menggenggam surat nikah. Bisakah kamu mengganti panggilannya?" Pinta Matteo yang malah membuat Ann bingung. Pantas kalau Ann merasa seperti itu, kenapa? Pasalnya semua yang terjadi sekarang ini terkesan begitu cepat dan tiba-tiba. Bahkan Ann sekarang masih mengenakan pakaian hoodie abu.


"Saya juga tidak bisa—" belum sempat bagi Ann untuk melanjutkan ucapannya itu, Matteo sudah terlebih dahulu memotong.


"Mulai sekarang berhenti untuk pakai kata-kata dan panggilan formal!" Pinta Matteo tegas dan harus dituruti.


"Baik, Mas...," Meski sedikit kesulitan, tapi Ann tetap harus membiasakan diri.


"Mas? Itu kedengaran lebih baik daripada kamu terus memanggilku dengan sebutan Tuan," kata Matteo merasa puas dengan panggilan baru miliknya.


"Jadi, kenapa kamu memanggil? Apa yang ingin kamu katakan kepada ku?" Tanya Matteo sambil pandangan matanya hanya tertuju pada sosok sang istri.


"Bukankah ini terlalu cepat? Maksudnya, aku tadi sempat berpikir kalau kita masih memiliki waktu untuk mempersiapkan pernikahan. Tanpa maksud ingin meragukan dirimu, tapi mengurus surat-surat pernikahan juga pasti memerlukan waktu," kata Ann mempertanyakan hal yang sebenarnya sedang terjadi disini.


Entah apa yang ingin dijelaskan oleh laki-laki itu, tapi jelasnya setelah mendengar setiap kata yang menunjukan kebingungan, Matteo langsung kembali menggenggam tangan milik sang istri dengan cukup erat.


"Aku sudah menyiapkan segalanya sejak memberikan cincin ini sama kamu dan memberikan tawaran pernikahan," ujar Matteo sembari menyentuh lembut cincin berlian yang kini telah melingkar dan menghiasi jemari tangan sebelah kiri milik Ann.


Apa yang barusan keluar dari mulut Matteo sedikit terdengar seperti sesuatu yang kurang mungkin, tapi mau bagaimana lagi? Ann juga tidak memiliki hal untuk menyangkal itu. Mau tak mau, Ann memang harus percaya pada apa yang sudah dikatakan oleh Matteo.


"Jadi, nyonya Matteo... bagaimana kalau sekarang kita pulang ke rumah dan menghabiskan waktu berdua sebagai pasangan suami istri baru?" Tanya Matteo sembari mengulurkan tangannya meminta agar Ann mau menerima itu.


"Maksudnya dengan menghabiskan waktu berdua?" Bukannya langsung menerima uluran tangan itu, Ann malah melemparkan sebuah pertanyaan yang terdengar seperti orang polos.


"Apa hal seperti itu selalu sulit untuk dipahami? Menurut kamu, apa yang biasa dilakukan oleh pasangan setelah menikah?" Tanya Matteo berusaha mengarahkan Ann pada hal yang seharusnya sudah bukan lagi menjadi sesuatu tabu.


Belum sempat bagi Ann memberikan respon, sebuah mobil sedan putih yang memiliki lambang kuda pada bagian depannya sudah terlihat berhenti tepat di samping mereka berdua. Tak perlu menebak segala, Ann sudah tahu kalau mobil itu adalah milik Matteo. Sekarang siapa lagi yang punya mobil semahal itu selain Matteo? Pengusaha miliarder yang selalu suka menggunakan uangnya untuk bersenang-senang.


"Silahkan masuk Nyonya Matteo," kata laki-laki itu sambil membukakan pintu mobil dan membuatkan seorang Ann untuk menempati kursinya terlebih dahulu.


Tanpa mengatakan apapun, Ann mulai melangkahkan kakinya masuk ke mobil putih mewah milik Matteo itu. Entah apa yang tadi malam hadir di mimpinya, Ann sama sekali tak menyangka ataupun memiliki bayangan akan bisa menikah dengan sosok laki-laki idaman dari banyak kaum hawa. Bisa dibilang Matteo itu terkesan hampir sempurna. Sudah kaya, mapan, tampan, berbakat dalam dunia bisnis, apalagi yang kurang darinya?


Bersambung...