Baby, Please Love Me

Baby, Please Love Me
Tirta Yang Baik.



Untuk merayakan kelulusan dari sang sahabat - Ann, Lidia berniat mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan. Bukankah hal baik harus dirayakan? Rencananya Lidia ingin kembali mengajak Ann pergi ke bar dan menikmati lantai dansa yang beberapa hari sempat mereka lewatkan.


Iya, hanya karena Ann sudah mabuk, Lidia yang sebenarnya masih ingin bersenang-senang di bar, mau tak mau harus membawa Ann pergi ke apartemennya. Bukan tanpa sebab, hanya saja melihat kondisi dari sang sahabat mampu membuat Lidia merasa untuk membuat Ann beristirahat.


"Ann?" Panggil Lidia kepada Ann yang saat ini kelihatan tak ada habisnya untuk tersenyum bahagia.


"Kenapa?" Meskipun dirinya sedang berbahagia, Ann tetap menanggapi panggilan dari sang sahabat.


"Kalau kita buat pesta perayaan gimana? Kamu mau atau tidak?" Tanya Lidia terlebuh dahulu, meminta pendapat sekaligus persetujuan dari Ann.


"Pestanya gimana dulu? Gak ada acara minum miras lagi kan?" Sepertinya Ann memang memiliki sedikit trauma dengan hal begituan. Pasalnya sampai sekarang ingatannya belum bisa membedakan antara kenyataan dan juga mimpi. Ann berbicara tentang kejadian di malam saat ia berada di bawah pengaruh minuman keras.


"Rencananya sih ingin mengajak kamu pergi ke bar lagi. Kemarin kan kita belum sempat buat nikmati lantai dansanya," ajak Lidia yang tentu saja akan mendapatkan penolakan dari Ann.


"Enggak deh, Li. Kalau kamu mau, bisa pergi sendiri. Aku tak akan pergi ke tempat seperti itu lagi," tolak Ann terdengar begitu jelas.


"Janji deh, Ann. Aku gak akan maksa ataupun minta kamu minum lagi. Kalau aku pergi sendiri, itu akan sangat tidak mengasyikan," desak Lidia meminta agar sahabatnya itu mau diajak pergi ke bar lagi.


Belum sempat bagi Ann untuk memberikan respon ataupun keputusan, secara tidak terduga seorang laki-laki tampan yang memiliki tinggi kurang lebih 185 cm, datang menghampiri mereka berdua yang saat ini masih berdebat tentang pergi ke bar lagi. Namanya Tirta, dia adalah salah satu teman dekat tapi, tidak sedekat seperti Lidia. Ann bisa mengenal sosok Tirta, pada saat dirinya menghadiri sebuah seminar.


"Hai Ann...," sapa Tirta yang mampu membuat gadis cantik pemilik nama Ann itu sedikit terkejut. Bukan tanpa sebab, hanya saja Tirta bukanlah salah satu mahasiswa dari kampus ini jadi, kedatangannya kemari terbilang cukup mengejutkan.


"Astaga... Hai Tirta. Long time not to see you. How are you?" Tanya Ann dengan tetap mempertahankan senyuman sumringahnya.


"I'm fine. Thank's to ask me. How about you, Ann? Sudah lama rasanya tidak melihat mu," jawab Tirta yang tak ragu memberikan sebuah pelukan singkat kepada gadis itu.


"Seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik-baik saja," ujar Ann menyatakan kondisinya sekarang.


Karena penasaran dengan alasan kedatangan dari laki-laki bernama Tirta itu, Ann tanpa ragu mulai melemparkan sebuah pertanyaan yang memang harus mendapatkan jawaban. "Kenapa kamu ada disini? Apa ada sesuatu yang perlu kamu urus disini?"


"Ah, aku datang kesini hanya untuk memberikan selamat kepada kamu. Aku dengar sekarang ini adalah hari sidang skripsi kamu," kata Tirta yang kembali bisa mengejutkan seorang Ann.


"Bagaimana bisa kamu tahu soal hal itu?" Sepertinya ada sesuatu yang dilupakan oleh Ann.


"Apa kamu lupa kalau memiliki seorang sahabat yang hampir 24/7 menghubungi ku terus?" Sindir Tirta sembari melirik ke arah Lidia yang sekarang ini hanya terlihat diam membisu.


"Ah... Seharusnya aky tak mempertanyakan soal itu," tutur Ann menyadari kesalahannya.


"Jadi? Bagaimana hasilnya? Apa kamu berhasil lulus?" Tanya Tirta sembari meletakkan tangannya lembut di atas kepala seorang Ann.


"Tentu saja, aku lulus," ungkap Ann kembali memasang senyuman ceria.


Mendengar jawaban seperti itu sanggup membuat seorang Tirta tak segan untuk memberikan pelukan lagi, bahkan kali ini sampai mengangkat tubuh mungil milik Ann. Jujur saja, ketika melihat kedekatan antar mereka berdua sangat amat mampu membuat seorang Lidia cemburu. Kenapa? Selain menyukai sosok Pak Rega, Lidia juga amat menyukai Tirta. Menurutnya laki-laki itu sangat amat memenuhi sosok idamannya.


Tirta yang sekarang sudah selesai mengangkat dan memeluk tubuh milik Ann, mulai menyahuti panggilan yang dibuat oleh Lidia. Tumben sekali gadis itu memanggil dirinya. Padahal Tirta sudah mengira kalau Lidia hanya akan berbicara dengannya lewat chat. Pasalnya kerap kali setiap di pertemuan Lidia selalu diam seribu bahasa.


"Sebuah momen langka ketika aku dengar kamu panggil nama aku," ujar Tirta sangat menyukai cara Lidia menyebut namanya.


"Kenapa Lidia? Kamu mau bilang apa?" Tanya Tirta yang saat ini seluruh pandangannya sudah tertuju pada Lidia.


"Untuk merayakan keberhasilan Ann, aku berencana untuk mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan. Apa kamu mau ikut?" Lidia mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan dukungan dari Tirta.


"Dimana pestanya?" Tanya Tirta seakan memberi harapan untuk menyetujuinya.


"Di sebuah bar langganan aku," tutur Lidia tanpa ragu.


Tirta sangat setuju kalau mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan Ann, tapi tidak dengan pergi ke bar. Memangnya tak ada tempat lain yang bisa digunakan atau di datangi selain bar? Kenapa setiap ingin pesta harus selalu tertuju pada tempat hiburan malam?


"Kamu tidak setuju ya?" Kata Lidia yang langsung mendapatkan anggukkan kepala dari Tirta.


Sudah mendapatkan dua penolakan, sepertinya rencana dari Lidia akan gagal. Merasa kalau setelah ini takkan ada pesta, mampu membuat raut wajah Lidia kelihatan begitu muram.


"Kenapa Li?" Tanya Ann kelihatan aneh dengan perubahan raut wajah dari sang sahabat,


"Gak apa-apa," jawab singkat Lidia.


"Bagaimana kalau kita mengadakan pesta keberhasilan di tempat lain? Aku dengar ada sebuah restoran barbeque enak yang baru saja buka. Apa kalian ingin datang kesana?" Kata Tirta memberikan ajakan yang mampu membuat dua gadis itu jadi tertarik. Lidia yang sempat kelihatan muram pun sudah kembali bersemangat.


"Apa maksud kamu restoran barbeque yang sedang ramai dan banyak diperbincangkan diantara food vlogger?" Tanya Lidia yang sepertinya mengerti dengan tempat yang dimaksud oleh Tirta.


"Kalau kamu tahu, apa kita harus pergi kesana untuk makan bersama?" Tanya Tirta menawarkan hal bagus.


Karena mereka berdua tak memiliki alasan bagus untuk menolak ajakan dari Tirta, tanpa banyak berkata lagi, mereka langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Sepertinya restoran barbeque itu tampak jauh lebih baik dibandingkan dengan bar.


Tanpa ingin terus berbincang, mereka bertiga pun bergegas untuk menuju ke restoran barbeque yang dimaksud oleh Tirta dan juga Lidia. Kali ini, Lidia tak perlu direpotkan dengan mengemudi. Karena ada Tirta yang bersama mereka, Lidia menyerahkan tentang urusan mobil kepada laki-laki itu, membiarkannya mengemudi. Sekarang Lidia sedang ingin menjadi penumpang sama seperti Ann.


"Jangan lupa untuk mengenakan sabuk pengaman!" Ucap Tirta mengingatkan dua gadis cantik itu.


Setelah semua dirasa siap, Tirta yang sudah di kursi kemudi pun mulai mengendarai mobil ini menuju ke restoran barbeque yang sebenarnya memiliki jarak cukup jauh dari lokasi gedung kampus.


Hari ini, hanya karena ingin merayakan soal keberhasilan Ann dalam sidang skripsi, mereka bertiga akan menghabiskan seluruh waktunya untuk bersenang-senang sambil memanggang daging.


Bersambung...