
Merasa sudah tidak bisa mengandalkan Julian lagi untuk urusan mencari keberadaan dari putri dari Keluarga Wilson yang katanya masih hidup, Matteo pun memutuskan ingin menyewa orang lain. Hanya saja sekarang ini, Presdir dari perusahaan HR Group sudah tak memiliki kesabaran lebih lagi untuk menunggu.
Dikarenakan saat di panggilan Julian enggan untuk memberikan jawaban ataupun petunjuk terbaru, sebagai seseorang yang sudah tidak bisa menunggu, Matteo kini sudah tersambung dalam sebuah panggilan lain. Entah siapa yang sedang di teleponnya sekarang, tapi terdengar jelas kalau Matteo memang meminta orang itu supaya mau mencari tahu tentang keberadaan dari putri Keluarga Wilson.
"Jangan khawatirkan soal bayaran! Jika kamu bisa memberi informasi dengan cepat, saya pasti akan memberikan bayaran yang setimpal," ujar Matteo tak peduli kalau harus mengeluarkan banyak uang untuk mencari si Jane.
"Saya selalu menghargai seseorang yang sudah mau bekerja keras," tambahnya mencoba untuk meyakinkan orang di balik panggilan telepon ini agar mau melaksanakan keinginannya.
"Batas waktunya? Harus ada tenggat waktu pastinya," kata seseorang asing itu dari seberang panggilan.
"Besok? Bisakah saya mendapatkan informasi itu?" Tanya Matteo terkesan terburu-buru.
"Tentu saja. Itu bukan masalah yang sulit dilakukan," ucap orang itu menyanggupi tenggat waktu dari Matteo.
"Siapkan saja uang sebanyak seratus lima puluh juta untuk informasi ini," tukasnya yang kemudian menutup panggilan terlebih dahulu. Untuk kali pertama ada seseorang yang berani melakukan hal seperti ini kepada Matteo.
Enggan untuk terlalu mempermasalahkan soal panggilan yang diakhiri secara sepihak, Matteo malah kelihatan sedang tersenyum puas. Begitu yakin kalau seseorang yang baru saja dihibungi olehnya ini akan membawakan informasi seperti keinginan.
"Saya pasti akan menemukan mu, Jane," tutur Matteo kedengaran begitu yakin. Bahkan seringaian terlihat jelas menghiasi wajah tampannya.
.
.
.
Ann sama sekali tidak membayangkan kalau bekerja di perusahaan HR Group juga akan membuat dirinya begadang. Waktu saat ini sudah persis menunjukan pukul satu lewat lima belas dini hari. Seharusnya bagi orang lain sekarang adalah saat yang tepat untuk mengistirahatkan diri. Tapi, lihatlah apa yang sedang dilakukan oleh Ann. Ia malah masih sibuk berkutat dengan layar laptopnya dan ditemani oleh secangkir kopi, berharap kalau itu bisa mengusir rasa kantuk yang sejak tadi sudah menyapa.
Tidak dapat dipastikan kapan Ann akan menyelesaikan seluruh pekerjaan, karena kalau dilihat sekilas dari tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya, itu masih begitu banyak. Apa Ann memang harus terjaga sampai pagi?
Bisa dibilang pekerjaan yang sekarang sedang diselesaikan oleh Ann termasuk sebuah tugas dadakan. Kenapa Ann bisa mendapatkan pekerjaan seberat ini? Bukankah seharusnya pegawai baru dan masih memiliki status magang, belum diperbolehkan mengerjakan hal sepenting ini tanpa adanya pengawasan dari senior?
Awalnya Ann memang sempat untuk menolaknya, mengatakan kalau tak mungkin mengerjakan hal sepenting ini, namun Ghea - kepala tim dari departemen pemasaran, begitu memaksa dengan tujuan agar Ann bisa belajar. Karena rasa kepercayaan yang dimiliki, Ghea benar-benar membiarkan pegawai baru seperti Ann mengerjakan materi yang akan digunakan untuk rapat esok hari. Ghea tahu kalau kinerja dari Ann tak akan pernah mengecewakan. Mengingat kalau Ann termasuk dalam mahasiswa terbaik di kampus.
Pada saat Ann berusaha keras untuk menyelesaikan perkerjaan ini, secara tidak terduga tangannya menyenggol sebuah buku, hingga membuat jatuh ke lantai dalam kondisi terbuka. Ann yang merasa tak memiliki waktu untuk melakukan hal yang tak berguna pun mulai bergegas untuk memungut buku yang terjatuh. Namun, saat melakukannya, kedua matanya langsung tertuju pada selembar foto lawas yang tersampir di halaman dari buku itu.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ann berbicara sendiri sembari jemari tangannya menyentuh foto yang ada wajah kepala pelayan di dalamnya.
Bukan Ann yang membuat kepala pelayan itu pergi. Tepatnya ketika seluruh Keluarga Wilson dinyatakan telah meninggal dalam sebuah kecelakaan besar, kepala pelayan itu langsung berpamitan dan bilang kalau masa baktinya sebagai pekerja setia telah usai.
Hal paling menyebalkan dan tak akan pernah dilupakan oleh Ann adalah ketika kepala pelayan meninggalkannya sendirian di negara orang. Padahal saat itu usia Ann baru memasuki tiga belas tahun. Karena tak mungkin bagi gadis cilik tinggal sendiran tanpa adanya pendamping, Ann terpaksa harus dipulangkan oleh kedutaan besar yang bertempat di negara itu.
Bukannya semakin membaik ketika kembali ke negara asal, Ann yang memang tak memiliki tempat tinggal lain pun memutuskan untuk kembali ke panti asuhan. Untung saja, para biara disana masih dengan senang hati menerima Ann.
Tak berniat untuk selamanya tinggal, tepat ketika dirinya berusia tujuh belas tahun, usia yang bisa dibilang sudah cukup mandiri, Ann memutuskan pergi dari panti asuhan, berjuang sendiri untuk keberlangsungan hidup.
Cukup mengenang segala kenangan lampau yang telah usai, Ann pun terlihat kembali menyelipkan foto itu ke lembaran buku, lalu meletakkannya kembali pada tempatnya. Sekarang ini Ann sudah memulai lembaran baru, berusaha agar hal lama tak ikut hadir. Boleh dikenang, tapi tidak untuk merusak apa yang sekarang ada.
...****************...
Sungguh, Ann sangat ingin menyelesaikan pekerjaannya ini sebelum matahari terbit. Tapi, anehnya selalu saja ada gangguan yang membuat Ann harus menunda. Ann sedang tidak berbicara tentang rasa kantuk, karena kini itu sudah menghilang dari dalam dirinya.
Bukan seperti apa yang diinginkan, ketika fokus Ann sedang tertuju pada layar laptop serta pekerjaan, secara tidak terduga kedua telinganya mendengar suara ketukan pintu yang begitu kencang. Entah siapa yang bertamu di waktu malam, tapi yang jelas Ann tak bisa mengabaikan kehadirannya itu. Semakin diabaikan gedoran pintu malah makin kencang.
Dengan langkah malas dan raut wajah tampak kesal karena terganggu, Ann mulai membuka sedikit pintu kamar kos ini. Berharap kalau bukan orang jahat yang datang. Mengintip dari balik pintu, ternyata Ann mendapati sahabatnya - Lidia, yang sedang tersenyum sumringah sambil ditangannya membawa sebotol minuman keras. Sudah bisa dipastikan kalau sekarang Lidia sedang dalam keadaan mabuk.
"Hai, Ann...," sapaanya dengan suara cukup lantang.
Karena takut menganggu penghuni lainnya, Ann pun bergegas membawa sahabatnya itu masuk masuk ke kamar kos. Agar bisa berhenti mengeluarkan suara yang menganggu, Ann pun tak ragu untuk menutup mulut sahabatnya.
Begitu mereka ada di dalam kamar, sebelum sempat bagi Ann untuk bertanya apapun, sahabatnya yang memang berada di bawah pengaruh minuman keras pun sudah terlihat tertidur pulas di atas ranjang yang ada. Bahkan botol kosong dari minuman keras yang dibawa sekarang sedang tergeletak sembarangan di lantai kamar ini. Kalau ibu kos tahu, mungkin Ann akan dimarahi habis-habisan. Sudah jelas peraturan yang ada tertulis kalau tidak diperbolehkan membawa minuman keras ataupun mabuk-mabuk kan di sekitar area kos.
Meskipun sudah tahu akan aturannya, Ann tetap saja memilih melanggar. Tidak mungkin baginya untuk mengusir Lidia dalam keadaan seperti ini. Kalau terjadi sesuatu kepadanya, Ann pasti yang akan merasa begitu bersalah.
"Kamu memang selalu suka membuatku berada dalam masalah," tutur Ann sembari melepaskan alas kaki yang masih dikenakan oleh Lidia.
Bersambung...