
Pemandangan sebuah benda langit melayang dengan bentuk datar seperti piring berjumlah dua berputar mengelilingi planet avernia secara bersamaan. Daie dan Navan, nama dua benda langit yang mengelilingi avernia yang penampakannya bisa dilihat di semua kondisi tapi kondisi malam adalah yang paling cocok melihat 2 benda langit ini apalagi dengan sinar dari avios yang membuat kedua satelit tersebut bersinar terang di malam hari. Tampak juga bagian dari ujung menara di District C bisa dilihat meski sudah keluar dari atmosfer.
Pesawat yang kami tumpangi menuju ke arah navan, tampak hijau dipenuhi berbagai tanaman dan tumbuhan berbanding terbalik ketika belum di huni oleh para elf yang diasingkan disini. Berbagai macam bangunan juga menghiasi nya berdampingan dengan alam nya yang masih segar meski memang bangunan disini lebih kuno dibandingkan bangunan-banguan yang ada di avernia. Perlahan pesawat mulai merendah untuk mendarat di permukaan navan.
Mendarat dengan mulus, para penumpang pun keluar dari pesawat khusus guna memenuhi tujuan mereka dari awal.
"disini para penduduk nya sangat minim menggunakan teknologi modern ya" kata ku setelah turun dari pesawat, melihat-lihat sekeling di navan yang tampak masih sederhana.
"ya pemerintah avernia membatasi pemakaian teknologi di navan, benjamin" kata Dr. Ferdinand mulai berjalan duluan mendahului aku dan endymion. Terlihat para elf yang tinggal disini memperhatikan kami dengan seksama.
"kenapa mereka melihat kearah kita terus?" tanya endymion bingung
"itu karena kita dari navan" jawab ku kepada endymion
"para penduduk disini selalu melihat dengan negatif orang dari avernia ketika datang ke navan bahkan ada suatu kejadian dimana orang dari avernia dipukuli hingga sekarat oleh para penduduk. Kita beruntung karena ada Dr. Ferdinand bersama kita yang punya hubungan baik dengan para elf disini" lanjutku menjelaskan.
Kami terus berjalan, terlihat pemandangan alam menakjubkan milik navan. Bisa terlihat pohon-pohon besar nan rindang di kiri dan kanan, kincir air dan angin pembangkit energi, sungai yang mengalir jernih, para elf yang berlalu lalang, dan paling menarik adalah rumah pemukiman penduduk yang dibuat dari pohon yang masih hidup atau sederhananya rumah yang terbuat dari pohon. Rumah-rumah pohon itu sama dengan rumah yang dibangun manusia seperti tonjolan melingkari pohon yang terbuat dari kayu yang memiliki bentuk seperti balkon misalnya.
Mata ku tak henti-henti nya menatap kagum pada apa yang diriku lihat ini, seolah-olah diriku dibawa masuk ke sebuah dunia dongeng. Endymion disampingku juga sama terpesonan nya. Lain halnya dengan Dr. Ferdinand, yang terlihat biasa-biasa saja mungkin karena dia sudah sering kesini.
Setelah beberapa lama berjalan, akhir nya kami sampai di tempat yang sedikit sepi dari keramaian, ini terlihat tempat kami sekarang berada di tanah lapang yang tidak terlalu luas. Namun ditengah-tengahnya terdapat sebuah rumah pohon besar di depan sana.
Tak lama terlihat beberapa orang yang dipastikan adalah elf keluar dari rumah besar tersebut. Berjumlah sekitar 5 orang, 2 dewasa, 2 anak-anak, dan satunya lagi seorang bayi yang berada di gendongan wanita dewasa. 2 orang anak itu tampak berlari ke arah kami sambil mengatakan sesuatu.
"dr. Ferdinand... dr. Ferdinand... !" ternyata yang mereka teriaki adalah dr. Ferdinand dengan ekspresi senang.
"wah wah lihat siapa ini... Dua bocah elf kecil 6 tahun terlihat sedang gembira ya!" kata dr. Ferdinand ketika memeluk 2 bocah elf tersebut yang terlihat gembira ketika melihat diri nya. Terlihat juga 2 elf dewasa yang bisa ditebak adalah pasangan suami-istri dengan seorang bayi dengan mainan bayi nya di mulutnya di gendongan sang istri mendekat kemari.
"selamat datang dr. Ferdinand, aku senang ketika kau memutuskan untuk kesini" kata pria elf tersebut dengan senyumnya kepada dr. Ferdinand.
Dr. Ferdinand terlihat menggelitiki kedua bocah elf tersebut yang tertawa terbahak-bahak sambil ikut tertawa, "halo Ilven teman ku!" sapa dr. Ferdinand kepada pria elf itu yang diketahui bernama ilven. Dr. Ferdinand dan tuan ilven telah menjadi teman sejak setahun semenjak dr. Ferdinand jadi relawan di navan, dari situlah mereka bertemu. Dengan sifat dr. Ferdinand yang ramah dan tuan ilven yang terbuka kepada siapa saja, membuat mereka cepat akrab dan jadi teman sampai sekarang.
"halo dr. Ferdinand" sapa wanita elf disamping tuan ilven. Dia berwajah cukup rupawan ditambah telinga panjang standar ras elf, tak lupa seorang bayi di gendongannya yang terlihat lucu dan juga begitu menggemaskan.
"dr. Ferdinand lah yang memberi tahu kami" sahut nyonya elina kali ini.
"aku telah menjelaskannya kepada mereka, sebelumnya benjamin datang menemuiku dan menjelaskan tentang benda jatuh itu. Awalnya aku tidak percaya, tapi benjamin menjelaskannya secara detail serta ilmuwan ahli astronomi dan astrofisika memberi tahu bahwa ledakan supernova tempo hari waktu itu terlihat sangat janggal" jelas dr. Ferdinand panjang lebar.
"ayo, akan tunjukkan dimana puing pesawat itu jatuh!" seru tuan ilven sambil berjalan diikuti nyonya elina dan kedua anaknya.
"ayah... ayah apakah kita akan ketempat bintang jatuh itu?" tanya salah satu anak tuan ilven kepadanya dengan gembira.
"tentu saja sayang kita akan ke sana tapi ingat ini itu bukan bintang jatuh, melainkan sebuah puing pesawat yang jatuh" jawab tuan ilven mengoreksi pertanyaan anaknya yang mengira yang jatuh di navan itu adalah bintang jatuh.
"woaahhh jadi itu pesawat jatuh!" seru riang anak tuan ilven yang satu nya.
Pecahan pesawat yang tak lagi utuh mengisakan hanya bagian kecil nya saja terlihat di daratan navan yang indah membentuk sebuah kawah berukuran kecil. Jika dilihat-lihat, puing pesawat itu seukuran sebuah mobil bus umum. Bentuk puing pesawat itu seperti sebuah kapsul dengan pintu darurat.
"jadi ini tempat nya?" kata seorang bocah berusia 6 tahun. Dia tidak sendiri, ada seorang anak lagi yang seusia dengan dirinya serta 2 orang pemuda dan 2 orang dewasa. Mereka akhirnya sampai di tempat jatuhnya sebuah puing pesawat.
"hei lihat ada sesuatu didepan sana!" teriak bocah satunya sambil menunjuk kedepan.
"tak salah lagi pasti itu pesawatnya" tukas benjamin.
"apakah benar?" tanya endymion.
"ya, tak salah lagi!" jawab benjamin tegas.
"kalau begitu ayo kita kesana" ajak nyonya elina yang masih menggendong bayinya. Mereka pun mengangguk dan segera mendekati puing pesawat itu.
Setelah mendekat, fokus mereka tertuju pada sebuah pintu yang masih tertutup rapat meski tubuh puing pesawat sudah rusak parah. Endymion mendekati pintu itu, kemudian memegang salah satu bagian pintu dengan kedua tangannya lalu menariknya dengan sekuat tenaga dan terbuka lah pintu tersebut."kau pasti menggunakan superhuman physical mu" kata benjamin menebak kekuatan yang digunakan endymion.
"superhum...apa?" tanya salah satu anak tuan ilven dengan bingung.
"superhuman physical adalah kemampuan fisik jauh diatas rata-rata makhluk hidup pada umumnya dalam hal ini adalah ras manusia. Dengan kemampuan ini, kau dapat memiliki kemampuan super diatas rata-rata normal seperti berlari dengan kecepatan 100-160 Km/jam" jelas dr. Ferdinand. Anak tuan ilven tersebut mengangguk paham.
"jadi karena itu endymion bisa membuka pintu yang tertutup rapat itu?" tanya anak tuan ilven yang satunya.
"tepat sekali yang dilakukan endymion barusan adalah salah satu contohnya" kata dr. Ferdinand membenarkan.
Mereka semua pun masuk satu per satu setelah pintu berhasil di buka. Tampak didalamnya bisa dibilang sangat canggih dengan beberapa layar monitor dan benda futuristik lainnya, seperti sebuah tabung berisi air yang didalam nya terdapat sesuatu semacam embrio makhluk hidup yang dipasangi selang penghubung, dan beberapa buah benda berbentuk balok berukuran sedang berwarna perak bercampur hitam metalik. Menelusuri sejenak, sebuah pintu tampak berada di hadapan mereka.
Sama seperti sebelumnya, endymion menggunakan kekuatan superhuman physical nya untuk membuka pintu yang tampaknya mempunyai sebuah kode sandi untuk membukanya lalu memasukinya.