Avernia

Avernia
Chapter 15



"bagaimana bisa kau tidak tahu contoh dari sesuatu yang kau jelaskan sendiri?!"


Endymion berucap dengan nada yang agak ditinggikan.


"oh ayolah, bung. Jika kau tidak dapat memberikan contohnya, maka sia-sia saja apa yang kau jelaskan beberapa waktu lalu".


Benjamin melipat kedua tangannya, sambil berdiri berlawanan dengan mereka berdua. Dirinya berpikir sejenak, memang benar juga yang dikatakan endymion kalau penjelasannya tentang 4D tidak ada, maka semua penjelasan yang tadi ia katakan akan jadi angin yang hanya sekedar lewat saja.


"veila, apa kau masih punya cukup banyak energi?"


"masih, memang kenapa?"


"aku ingin kau menyalurkan energi yang pernah kau gunakan untuk membukan dimensi keempat kepadaku".


Ekspresi veila berubah kaget setelahnya.


"untuk apa?!"


"tentu saja untuk digabungkan dengan energi milikku guna membuat sebuah 'objek' empat dimensi".


Jelas benjamin.


Veila tampak berpikir, menimbang-nimbang permintaan benjamin.


"baiklah, aku setuju".


Sesaat setelah persetujuan, energi berwarna biru secerah sinar bintang terpancar ditubuh veila. Energi tersebut, perlahan menuju kearah benjamin yang juga mengeluarkan energi berwarna biru miliknya. 'meski sama-sama berwarna biru, tetapi energi biru milik veila lebih cerah dan bersinar dibanding benjamin. Biru yang cerah secerah bagai mentari dipagi hari', endymion membatin menyaksikan transfer energi dihadapannya.


Acara pemindahan energi telah selesai. Kini, benjamin tampak tengah memusatkan energi miliknya dan veila di kedua telapak tangannya. Keringat dari dalam tubuhnya sedikit bercucuran karenanya. Dengan sekali "hentakan", sebuah sinar cahaya yang cukup terang bak bom cahaya menerpa mata ketiganya.


Sebuah pemandangan yang bisa dibilang cukup "aneh" tercipta ketika sebuah objek berbentuk absurb berwarna biru lautan seketika berada dikedua telapak tangan benjamin beberapa detik setelah cahaya bagaikan bom meledak menerpa mereka. Benda tersebut, seperti sebuah air. Kenapa dibilang aneh?


Yeahh karena objek "air" tersebut "terus bergerak" seperti air dilautan lepas sana yang bergerak bebas seperti tidak punya tempat/wadah. Benar, kan?


"nah, inilah contoh sederhana dari yang tadi kukatakan".


Benjamin memainkan objek "air" dikedua tangannya dengan mengubahnya dengan berbagai macam bentuk. Dimulai dari berbagai macam bangun ruang seperti kubus, balok, limas segiempat, limas segitiga, prisma segitiga, tabung, kerucut, bola hingga bentuk seperti mobil, sepeda motor, pesawat terbang, kapal, manusia, hewan dan berbagai macam bentuk yang familiar dikehidupan sehari-hari.


Lalu, kenapa objek "air" yang dipegang oleh benjamin bisa dan selalu berubah-ubah bentuknya?


"jadi, karena sebab itulah objek yang ada di tangan mu itu bisa berubah-ubah bentuk".


"benar sekali, endymion".


"berarti dengan kata lain, dimensi milikmu ini masih tiga dimensi?" tebak veila menyimpulkan dimensi berwarna biru milik benjamin dimana mereka bertiga berada sekarang.


Benjamin ikut memandangi dimensi miliknya "dimensi punyaku ini adalah pocket dimension dan soal kualitas dimensi nya memang masih tiga dimensi".


"tunggu, apa? Pocket dimension?" veila bertanya kepada benjamin.


"pocket dimension adalah 'tempat' atau 'dunia' yang diciptakan oleh suatu individu, dan biasanya diciptakan menggunakan kekuatan 'supernatural' tertentu. Ukuran dari pocket dimension banyak sekali variasinya, mulai dari yang terhingga atau bisa diukur sampai tidak terbatas alias tak terhingga" jelas benjamin menerangkan.


"oh ya satu lagi, waktu di dimensi ku berbeda dengan waktu ketika nanti kembali ke avernia", perkataan benjamin kali ini membuat dua orang selain dirinya terkejut dengan wajah tak percaya.


"kita disini selama satu jam, berarti kalau kita misal kembali ke avernia berarti..." endymion menghentikan perkataannya, menatap benjamin yang juga menatap dirinya dengan senyum yang dimiringkan di wajahnya.


"di avernia sudah hari ke-lima. Lima hari setelah kita membawa veila ke tempat ini" pernyataan benjamin sekali lagi harus membuat dua orang yang bersamanya mengalami keterkejutan untuk kesekian kalinya.


Pemandangan indah yang begitu menawan tersaji di pantai kuta di Bhauli, salah satu tempat pariwisata paling terkenal di avernia. Tampak orang-orang "berhamburan" disetiap sudut pantai, tak lain dan tak bukan tentu berjemur diri dibawah sinar matahari langsung demi mendapat kulit "eksotis". Termasuk juga diriku, selene-itulah namaku. Apa, selene? Maksudnya dewi bulan selene? Jika kau berpikir demikian, maka selamat kamu sangat benar!


Aku adalah dewi selene, dewi personafikasi dari bulan itu sendiri. Karena kedudukan ku sebagai dewi maka aku menjadi pusat perhatian disini, di bhauli. Bayangkan saja, dari awal aku kesini hingga di pantai pasir putih aku terus menerus dipandangi entah karena apa. Apa mungkin karena kecantikanku? Ah, itu mungkin saja karena aku ini bisa dibilang adalah "makhluk"(dewi) yang punya kecantikan diatas makhluk fana seperti manusia.


Kecantikan seperti apa? Bukan lagi level satu atau level dua seperti video game, tapi dimensi. Dimensi, apa maksudnya? Tentu saja, kecantikan yang ku miliki melebihi kecantikan dari rupa wajah makhluk fana yang hidup di dunia tiga dimensi atau dengan kata lain cantik ku ini bukan kecantikan para makhluk tiga dimensi. Wow, bukankah itu sebuah keajaiban! Keajaiban bagi para makhluk fana seperti manusia. Sampai-sampai aku harus memakai kerudung yang mengepul membentuk bulan sabit.


Dari bhauli, aku menuju hongkong. Salah satu tempat terkenal di planet ini. Terlihat banyak sekali orang disini entah itu warga lokalnya, maupun para turis dari tempat lain. Aku berjalan-jalan dengan tak lagi mengenakan kerudung, tapi berpakaian seperti seorang supermodel di tambah sebuah masker untuk menutupi bagian dari wajahku.


Aku mengunjungi berbagai tempat, mulai dari tempat berbelanjaan, taman kota, area sirkuit jalan raya untuk kejuaraan balapan kelas dunia, hingga victoria peak yang punya pemandangan yang amat indah. Semuanya benar-benar mewah dan glamor. Pandangan mataku tiba-tiba tertuju pada sesosok laki-laki kira-kira berusia remaja tengah bermain sebuah roverboard. Roverboard? Tepat sekali, itu adalah benda semacam dengan skateboard tetapi tidak memiliki roda.


Apa? Tidak punya roda? Lalu, bagaimana cara memainkannya?! Jawabannya adalah dibagian bawah papan tersebut terdapat semacam mesin yang biasa dipakai oleh pesawat jika mau lepas landas/mendarat secara vertikal dengan empat pod mesin setengah bola dibagian bawahnya. Benda dengan teknologi cukup canggih itu diciptakan oleh seorang ilmuwan muda bernama endymion. Sekaligus pujaan hatiku yang sedang kucari.


Oh apa tadi aku bilang pujaan hati? Ya, itu benar. Alasan aku "turun" ke sini adalah untuk bertemu dengannya yang bisa dibilang kami sudah terpisah cukup lama ditempat yang sama dengan "dunia" ini, namun "paralel". Ah, aku benar-benar tak sabar bertemu dengannya. Mungkin aku akan memeluk terus mencium dirinya, atau memanjakan dirinya dengan "sentuhan" ku atau mungkin...


Menikahi dirinya?


Oh, tidak. Kurasa wajah ku jadi merah karena membayangkan itu semua. Tetapi, sebelum itu semua terjadi-Mengenai anak laki-laki ini aku merasa familiar dengan aura yang dipancarkannya. Auranya hampir sama dengan yang dimiliki oleh adik perempuanku, eos. Tunggu, jangan-jangan? Apa mungkin...