
Terlihat benjamin sedang menonton berita televisi diruangannya sambil sarapan pagi dengan sereal & segelas susu hangat, "wow tak kusangka akan disiarkan secepat ini apalagi masuk trending topik disemua media sosial" kata benjamin dengan terkejut sambil sekilas melihat smartphone nya melihat kalau kejadian di subuh hari langsung jadi bahan pembicaraan di jagat maya avernia. "mungkin endymion sudah tahu hal ini atau dia belum tahu sama sekali?" ucapnya pelan
Dia memutuskan untuk pergi ketempat endymion dengan tujuan membicarakan hal ini & memutuskan langkah apa yang akan ditempuh. Setelah selesai, benjamin pun bergegas ke tempat benjamin dengan memakai jaket hoodie berwarna biru tua & jelana jeans hitam panjang serta sepatu kets hitam putih.
Ketika telah sampai, tanpa basa-basi benjamin langsung masuk keruangan tempat penelitian temannya dengan kode sandi dan berjalan masuk kedalam.
"hei endymion apa kau mau ikut deng...." perkataanya terpotong ketika melihat endymion yang terlihat sangat berbeda.
"ohh hei ben bagaimana dengan alat ciptaanku? Keren bukan!" ucap endymion dengan senang sambil menunjukkan alat buatannya pada temannya itu sedangkan benjamin hanya terdiam dengan mata melotot. Bagaimana tidak, alat buatan endymion yang awalnya hanya sebuah kubus 6 persegi telah berubah jadi semacam alat pendorong seperti roket tapi berbentuk layaknya sebuah sayap yang terbentang di kiri & kanan. Terdapat dua cerobong pembuangan layaknya roket dibagian bawahnya, terdapat 6 simbol dengan warna berbeda dibagian atasnya, rupa alat itu seperti armor robot futuristik dengan warna black metal bercampur biru.
"dan dengan tambahan ini pula aku bisa melaju lurus kedepan" ujar endymion senang sambil membalikkan badannya, memperlihatkan sebuah tambahan motor pendorong dibagian punggung, kedua sayap yang berbentuk seperti naga dikiri & elang dikanan terlihat mengepak dengan perlahan saat endymion mengalirkan energinya guna mengaktifkan alat tersebut.
"bagus juga ide mu untuk membuat sebuah mesin terbang bertenaga energi yang kau punya. Dengan begitu kau bisa terbang kesana kemari sambil menukik dan juga menjelajah keluar avernia dengan warp drive yang mampu membuat mu setara kecepatan cahaya atau bahkan lebih" jelas benjamin dengan senyum yang mengembang, ikut senang dengan keberhasilan teman dekatnya. Endymion hanya tertawa mendengar perkataan dari benjamin
"jadi kenapa kau kesini?" tanya endymion menyadari kedatangan benjamin ke tempatnya
benjamin berjalan lebih dekat ke arah endymion "apa kau tahu kejadian tadi subuh?" balik tanya benjamin
"maksudmu ledakan supernova itu?" jawab endymion sekaligus bertanya kembali
"ya, jadi kau tahu juga rupanya hal itu & lagi kejadian tadi subuh bukanlah murni ledakan supernova" perkataan benjamin membuat endymion sontak saja kaget
"apa?! Lalu kalau bukan murni ledakan karena alam, terus karena apa?" kata endymion bertanya dengan nada yang kebingungan
Menutup kedua matanya tertutup sejenak lalu membukanya kembali & tampaklah kedua mata benjamin yang semula normal kini mengeluarkan cahaya biru yang begitu terang
"kau akan tahu jika ikut dengan ku ke navan!" jawab benjamin dengan nada yang tegas nan berat karena efek kemampuannya.
5 hari kemudian aku dan benjamin pergi ke navan untuk mencari tahu tentang fenomena supernova kala itu yang diklaim oleh benjamin tercipta bukan karena faktor alam tetapi sebab lain. Kami berdua menyewa pesawat khusus untuk perjalan ke navan.
"kira-kira berapa menit lagi?" tanya ku pada benjamin.
"sebentar lagi" jawab benjamin singkat.
Kami sekarang berada di bandara khusus penerbangan ke satellite avernia. Tempat tersebut terletak di pinggir kota district C dan agak jauh dari keramaian. Ukuran tempat penerbangan khusus ini tidak terlalu luas. Hanya seukuran lapangan sepakbola dan terdapat 10 buah pesawat disini. "hei bagaimana kau menciptakan alat berbentuk sayap itu?" tanya benjamin padaku yang sekarang duduk didekatku di kursi tunggu sembari meminum air mineral, "aku mendapatnya dari mimpi" jawabku sambil melihat cetak biru dari alat ciptaan ku.
Benjamin menaikkan alisnya ketika mendengar jawabanku, lalu mendekat kearahku melihat cetak biru yang sedang kupegang. "sungguh? Kau dapat itu dari mimpi?" tanya benjamin sekali lagi.
"ya, aku didatangi oleh sesosok perempuan yang turun dari langit dengan menggunakan sayap berwarna putih" jawab ku mengingat mimpiku waktu itu. Benjamin menyipitkan matanya ketika melihat cetak biru alat yang ku buat "kau menggunakan teori Alcubierre di alat mu untuk menghasilkan teknologi warp yang mampu melaju melebihi kecepatan cahaya" ujar benjamin melihat cetak biru alat yang ku punya.
"aku penasaran darimana dia mendapat buku itu" ujar benjamin penasaran menanggapi perkataanku
"entahlah tapi dia pernah bilang mendapatkannya di tempat yang sangat jauh" aku menutup cetak biru yang ku punya lalu berdiri, disusul benjamin.
"hei gadis cantik telinga panjang mu itu sungguh indah boleh kah aku tahu dari mana kau mendapatkannya?... Oh ya apa kau bisa melepasnya supaya aku bisa memakainya" kata seorang pria berjangkut kepada seorang wanita elf sambil memegangi telinga panjangnya sembari mengatakan kata2 yang mengejek.
"lepaskan!!! Jangan sentuh telinga ku seenaknya dengan tanganmu itu!" ucap wanita elf tersebut dengan nada tinggi sambil menepis tangan pria itu yang memegang telinganya. Benjamin dan aku mengalihkan pandangan ke jadian tersebut.
Kulirik benjamin disebelahku yang terlihat emosi dengan kejadian itu. Terlihat tangannya terkepal dengan sangat kuat. Tanpa pikir panjang, dia langsung ketempat itu dan mencengkram kerah baju pria berjanggut tadi.
Sontak saja si pria berjanggut terkejut ketika tiba-tiba ada yang mencengkeram dirinya.
"hei tuan beginikah perlakuanmu kepada pekerja disini?" tanya benjamin dengan nada sinis
Diketahui wanita elf tadi bekerja di bandara khusus District C. Dia bekerja sebagai petugas kebersihan dan sedang melakukan tugad sesaat sebelum pria berjanggut ini datang.
"apa kau ingin aku mematahkan lehermu, menjadikanmu daging cincang. Melemparmu keluar dari sini menuju ke dimensi yang lebih tinggi untuk disantap oleh makhluk dengan banyak tentakel"
Kata-kata itu keluar dari mulut benjamin, mengeluarkan lelucon pataphysicnya, membuat pria berjanggut itu ketakutan apalagi benjamin sekarang tersenyum seperti pemangsa dengan mata mengeluarkan cahaya biru gelap "to...tolong lepaskan!" dengan susah payah dia memohon agar benjamin melepaskan cengkeramannya.
Namun, dia justru membuang pria itu ke sisi kiri membuat dia kesakitan lalu meninggalkan tempat itu dengan berlari tunggang langgang.
"terima kasih karena telah menolongku" wanita elf itu berterima kasih kepada benjamin karena telah menolongnya.
"tak masalah, aku benar-benar muak melihat kaum elf & keturunannya mendapat diskrimasi rasial!" kata benjamin kepada wanita elf itu.
"ada apa ini?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang.
"oh tuan ferdinand kau sudah sampai rupanya" kata ku kepada seseorang yang baru sampai yang bernama tuan Ferdinand. Dia adalah dokter sekaligus ilmuwan di district C, sama seperti ku dan benjamin. Aku dan benjamin mengajaknya ke Navan untuk membantu kami dalam penyelidikan mengenai fenomena supernova waktu itu yang ternyata adalah pesawat meledak yang jatuh menghantam Navan.
Aku benar-benar kaget ketika benjamin mengatakannya. Sebuah fakta yang tidak diduga-duga. Pesawat tersebut meledak karena diserang oleh makhluk yang berada di lapisan yang lebih tinggi dari struktur 3 dimensi. Bagian yang jatuh di navan adalah bagian yang mungkin bisa dijadikan sebuah petunjuk mengenai peristiwa yang satu ini.
Karena rata-rata penduduk navan masih belum mau menerima orang dari avernia, maka kami berdua mengajak Dr. Ferdinand selaku pihak yang dekat dengan para penduduk navan. Dia lah yang menjadi dokter merawat penduduk disana, pemerintah avernia jarang memperhatikan penduduk di navan. Fakta bahwa mereka semua adalah elf yang diasing dari avernia.
Dr. Ferdinand sangatlah baik mau menjadi dokter bagi mereka meski dirinya dikecam oleh pihak pemerintahan avernia dan diancam dicabut izin praktik dan penelitiannya. Sungguh malang memang!
"aku datang sesuai permintaanmu endymion" kata Dr. Ferdinand kepadaku meski yang membuatnya datang bukanlah aku melainkan benjamin.
Kami bertiga pun menaiki pesawat khusus menuju ke navan, salah satu bulan avernia.