Avernia

Avernia
Chapter 13




"oh tuhan mungkin aku akan mendapatkan pemandangan indah nan menakjubkan sebentar lagi!" pria itu berkata dengan senangnya.


"disaat seperti ini kau masih sempat-sempatnya menyebut sosok yang memiliki keilahian?!" kata perempuan berpakaian tebal itu dengan tidak percayanya, tak habis pikir dengan kelakuan pria yang memaksanya ini.


Pria itu terus memaksa membuka pakaian tebal miliknya dengan bejatnya dan terus menekannya hingga ia terpojok.


"LEPASKAN AKU!!!"


Perempuan itu langsung berteriak dengan kerasnya--Tangan yang tadinya dicengkeram sekarang berhasil ia lepaskan dan merentangkannya kedepan dengan cepat.


"a-pa k-kenapa bisa?!" pria berjas tadi kagetnya bukan main ketika dirinya melayang begitu saja, dirinya meringis sakit ketika tangan kiri perempuan tadi terkepal dengan kuat yang berimbas dengan tubuhnya seperti ingin remuk dengan masih keadaan melayang.


"arrgghhh".


Pria itu berteriak kesakitan tapi bukan karena perempuan tadi, melainkan sebuah serangan energi berbentuk seperti tembakan laser mengenai dirinya hingga dia terlempar kebelakang menghantam dinding.


"disini kau rupanya!"


"kenapa dirimu bisa ada di tempat ini, veila?!"


Pelaku serangan energi barusan tak lain adalah benjamin! Yang datang bersama dengan endymion untuk mencari tuan putri veila yang ternyata adalah perempuan berpakaian tebal itu!


"endymion! Benjamin!"


Veila memeluk mereka berdua--senang mereka datang tepat pada waktu dia akan "dilecehkan".


"syukurlah kau baik-baik saja".


Endymion membalas pelukannya sambil mengelus rambutnya untuk menenangkannya. Suasana disitu tiba-tiba saja tegang dan mencekam, apalagi ditambah dengan keadaan ruangannya yang bercahaya remang-remang.


"kalian... BERANINYA KALIAN MENGGANGGUKU!!!


Berusaha bangkit dari posisi jatuhnya, pria berjas itu berteriak keras sambil mengeluarkan dua pistol dikedua tangannya dan menembak kearah endymion dan benjamin secara beruntun.


Namun, serangannya digagalkan oleh serangan kibasan energi milik benjamin.


'dipelurunya terdapat elemen api dan petir. Apakah itu senjata khusus? Atau dia seorang superhuman?'


Benjamin berkata kepada dirinya sendiri ketika mengetahui kalau tembakan yang dikeluarkan sang penyerang mengeluarkan dua elemen yang berbeda, api dan petir.


Sebuah tepukan tangan mendarat dipundaknya yang membuat benjamin menoleh "kau jaga veila dulu, biar aku yang urus sisanya".


Ternyata, endymionlah orangnya. Menganggukan kepala, benjamin melindungi tubuh veila dengan memeluknya yang masih syok. Endymion maju kedepan dengan cepat, sangat cepat untuk bisa membuat pria berjas itu kaget dengan mata melotot tidak percaya. Endymion melayangkan Sebuah tinjuan kearah pria itu dengan cukup keras. Saking kerasnya, hingga sampai terdengar bunyi tulang retak/patah diantara bagian dada dan rusuk milik pria yang hendak melakukan hal yang tak senonoh kepada veila.


"s-sialan kau!" pria itu berteriak kesakitan.


Belum cukup, endymion melayangkan sebuah pukulan dengan sasaran punggung pria itu hingga terdengar lagi suara retak/patah yang membuat dirinya sekali lagi harus meraung kesakitan bak hewan yang sedang disembelih.


"cepat endymion, segera selesaikan!"


Seru benjamin yang masih "melindungi" veila.


Mengangguk paham, endymion melancarkan pukulan terakhir dan sasarannya adalah kepala bagian belakang pria itu!


Dengan pukulan yang tidak terlalu keras, pria berjas itu langsung tak sadarkan diri setelah endymion memukulnya.


"ada keributan macam apa ini?!"


"anak ****** mana yang membuat keributan ditempat seperti ini?!"


"hei siapaun yang membuat kegaduhan ayo cepat keluar!"


"ayolah bung. Jika ingin ribut, jangan disini!"


Berbagai macam suara terdengar setelah mereka melumpuhkan si pria berjas tadi. Jika ditebak, maka sepertinya para penghuni klub lainnya tak terima jika ada keributan di dalam klub malam dan akan segera meringkusnya jika ketahuan. Sialnya lagi, mereka bertiga adalah orang yang dimaksudnya!


"gawat, kita harus cepat pergi!"


"tidak, jangan. Itu terlalu mencolok!"


"lalu pakai apa?! Menggunakan alat buatanku juga sama saja kan?!"


Benjamin mencoba berpikir mencari jalan keluar dari tempat itu tanpa ketahuan oleh penghuni klub lainnya meski dalam keadaan panik. Menggunakan alat buatan endymion pun tak ada gunanya karena walaupun bisa keluar, butuh ruang dan waktu yang cukup untuk mengeluarkan kehebatan dari alat buatan endymion tersebut dan ruang yang mereka tempati sekarang tidak cukup luas! Bisa-bisa mereka tertangkap saat mencoba untuk keluar.


'kurasa tidak masalah dan tak pilihan ada pilihan lain selain mencobanya sekarang'


Sebuah ide tiba-tiba terbesit dalam diri benjamin--ide yang bisa dibilang "cemerlang", mampu membuat mereka lolos dari situ.


"endymion, cepat kesini!"


Endymion yang masih didepan pria berjas hitam tadi langsung ketempat benjamin dan veila yang masih dalam lindungannya.


Melihat endymion yang sudah didekatnya, benjamin menutup kedua matanya. Memfokuskan dirinya untuk mengaktifkan sesuatu.


Selang beberapa detik, kedua matanya kembali terbuka namun dalam keadaan yang bercahaya/bersinar berwarna biru bersamaan juga dengan tubuhnya yang mengeluarkan aura energi berwarna senada. "baiklah, ini dia!"


'Shortcut'.


Kumpulan orang-orang memasuki sebuah ruangan yang didalamnya terdapat empat orang yang membuat keributan sehingga mengganggu kesenangan mereka, "kemana orang-orang tadi?" salah satu dari mereka bertanya dengan bingung. "entahlah, perasaan tadi ada suara-suara berisik yang bersumber dari sini" orang yang lainnya menambahkan.


"mustahil mereka bisa melarikan diri secepat itu!"


"mereka sepertinya kurang memahami etika ketika berada di klub malam".


"siapapun orangnya, kupastikan akan kuberi dia perhitungan karena telah mengganggu kesenanganku!"


Sungguh aneh. Bagaimana mungkin orang baru mereka dengar membuat keributan, bisa menghilang begitu saja dengan misteriusnya tanpa jejak sama sekali!


"entah bagaimana dan dengan apa orang itu bisa pergi tanpa ada jejak sama sekali padahal jarak pintu keluar dari ruangan ini cukup jauh ditambahkan jalannya hanya satu arah harusnya kita melihat mereka melarikan diri. Tapi ini...?! Sungguh aneh, mungkin mereka punya trik tersendiri atau ada teknologi tertentu yang mereka gunakan?"


"hei tunggu, siapa orang itu?!"


"yang mana?"


"itu, yang memakai jas hitam".


Salah satu dari mereka mendekat sembari memicingkan matanya, "apa?! Orang ini..."


Sepasang bola mata terbuka dengan perlahan, si pemilik tersebut yang diketahui adalah perempuan mengerjapkan matanya beberapa kali secara perlahan guna memfokuskan pandangannya. Hal yang pertama dia lihat adalah seorang laki-laki berambut pirang yang melihatnya dengan ekspresi senang.


"akhirnya kau sadar juga, veila!"


"endymion..."


Perempuan yang ternyata veila tersebut mengedarkan pandangannya keseluruh tempat yang sekarang ia tempati.


"dimana ini?"


"kau sudah sadar rupanya".


Sebuah suara baru terdengar oleh indera pendengarannya; suara yang familiar baginya. "benjamin, kau juga" ucapnya ketika menolehkan direksi pandangannya kesamping dan mendapati sosok benjamin didekatnya. Bangkit dari posisi tidurnya, dia sekarang dalam keadaan terduduk.


"tempat apa ini? Kita ada dimana sekarang?"


Dua pertanyaan dilontarkan tuan putri veila ketika tahu tempat yang mereka tempati sekarang bisa dibilang "aneh". tempatnya seperti sebuah ruangan berwarna biru sejauh mata memandang. Terdapat banyak cahaya-cahaya seperti kunang-kunang berwarna biru terang bersinar dengan ajaibnya. Hal ini menarik perhatian sang tuan putri bangsa Clavan.


"kita sekarang berada di-"


"ini adalah dimensi buatanku".


Belum selesai endymion menjawab, benjamin sudah mendahuluinya dengan cepat.


Jawaban benjamin membuat ekspresi veila seketika berubah seratus delapan puluh derajat dari ketika dia sadar.


"apa?!"