Avernia

Avernia
Chapter 16



"hei nak!"


"iya, ada apa?"


"kau sedang apa?"


"sedang bermain roverboard. Apa kakak mau ikut bermain juga bersamaku? Ini asyik sekali!"


"tidak, terima kasih sudah menawariku".


Pembawaannya yang ceria persis seperti eos. Aku mendekat kearahnya demi memastikan dugaanku, dan...


"kenapa kau melihatku seperti itu?"


Ah, sepertinya dia mengetahui kalau aku sedang memerhatikan dirinya. Dia cukup peka rupanya.


"oh, maaf aku hanya ingin bertanya sesuatu".


"hmm... Bertanya apa?"


"apakah kau seorang setengah dewa?"


Pertanyaanku barusan membuat dirinya memasang wajah terkejut.


"jadi, kapan kita keluar dari sini?"


Laki-laki berambut pirang itu bertanya sambil memandangi tempat biru, atau lebih tepatnya dimensi biru buatan temannya yang berambut coklat. Sedangkan laki-laki berambut coklat yang dimaksud sedang bermeditasi. Kedua kakinya ia silangkan diposisi duduknya. Merasa teman berambut coklatnya masih asyik dengan kegiatannya, si berambut pirang memilih memasang earphone di kedua telinganya, memutar lagu di alat pemutar musiknya sembari menyandarkan dirinya di sebuah kubus transparan yang begitu besar seperti sebuah rumah. Kedua tangannya ia masukkan kedalam kantung celananya sembari menikmati sebuah lagu.


Tampak di kejauhan ada sesosok perempuan tengah berlari sambil melompat di kumpulan bangun ruang dengan ukuran besar, ada yang seukuran rumah hingga gedung pencakar langit. Tampak wajahnya menampilkan visual yang gembira nan senang mungkin penasaran dengan dimensi buatan dari orang telah lama bersamanya setelah insiden itu.


Pemandangannya begitu menakjubkan. Entah bagaimana benjamin bisa membuat sesuatu yang menurutnya adalah sebuah mahakarya. Dirinya kemudian mengalihkan direksinya ke arah benjamin yang telah selesai dengan kegiatan meditasinya, dan endymion yang terlihat mendekat kearahnya. Melompat turun dari sebuah bangunan biru dan melompati benda-benda biru lainnya ditempat tersebut untuk menuju ketempat kedua temannya yang tengah berkumpul.


"kalian tahu, aku baru saja menjelajahi tempat ini. Benar-benar menyenangkan, berbagai macam benda dan bangun ruang dengan banyak bentuk dan ukuran ada disini".


Veila berujar dengan semangat menjelaskan kegiatan yang baru saja membuatnya sangat senang seperti anak kecil yang baru saja selesai bermain di sebuah taman bermain. Benjamin dan endymion terlihat ikut senang mendengarnya.


"baguslah jika kau senang di tempat yang luasnya tak terkira ini".


"memang berapa luas tempat ini?"


Veila bertanya dengan penasaran.


"ya, cukup luas. AKu bahkan belum dapat memperkirakannya secara pasti tapi luasnya sekitar lebih dari miliaran kilometer" pernyataan yang demikian dilontarkan oleh benjamin membuat tuan putri bangsa clavan itu harus memasang wajah kagetnya.


"sungguh? Kau tidak sedang bercanda kan?" veila bertanya kepadanya, memastikan bahwa ia sedang membuat lelucon namun sayangnya tidak seperti yang ia harapkan.


"aku sedang tidak bercanda kau tahu, aku pernah menghitungnya dan ternyata luasnya bisa dibilang tak disangka tidak dapat dihitung. Itupun kalau aku paksa lagi, mungkin bisa sampai tidak terbatas, kenapa? Karena itu tergantung daya pikir si pemiliknya dalam konteks ini adalah aku".


Sebuah jawaban yang menambah pengetahuan sekaligus informasi bagi perempuan putih kebiruan ini. Dari sini ia tahu, bahwa dimensi itu tak semudah yang dipikirkan, juga tak sesulit yang dibayangkan.


"begitu ya, baiklah terima kasih atas jawaban dan penjelasannya".


Veila berterima kasih sambil berpose layaknya seorang putri kerajaan.


"tak perlu se formal itu veila. Santai saja.


Endymion berujar karena merasa tidak enak.


"baiklah kalau begitu dan ada yang ingin aku tanyakan".


"kalian pernah bilang bahwa ada manusia setengah non-manusia yang bernama arsyad nabiel efendi yang meninggal secara misterius di satelit avernia".


Sadar atau tidak, bahwa pertanyaan yang dilontarkan oleh tuan putri clavan berhasil membuat kedua pemuda yang bersamanya ini mengobrak-abrik kembali ingatan mereka tentang kejadian yang sempat mereka katakan kepadanya waktu masih di navan. Saling pandang sesaat, mereka berdua pun menjawab...


"itu benar. Dia, arsyad meninggal secara misterius di daie, salah satu satelit avernia ketika sedang melakukan sebuah observasi".


Mendengar kata "observasi", rasa penasaran yang dimiliki veila pun memuncak seketika.


"itulah hal yang saat ini masih menjadi tanda tanya dan jadi misteri karena tidak ada bukti di jasadnya. Jasadnya sewaktu dia ditemukan meninggal bisa dibilang utuh tanpa ada goresan sedikit pun persis ketika masih bernyawa. Namun, benjamin pernah mengklaim bahwa arsyad mati karena ulah dari makhluk lain yang juga masih tanda tanya makhluk macam itu dan bagaimana caranya dia bisa membunuh seseorang tanpa adanya sentuhan kekerasan atau goresan luka sekalipun".


Direksi veila berpindah. Kini menatap benjamin. Benjamin yang ditatap seperti itupun pun paham.


"memang benar aku mengklaim demikian karena dia terbunuh dengan tidak wajar".


"mengenai soal terbunuhnya dia karena ulah makhluk lain, bagaimana kau yakin akan hal itu?"


"jawabannya sederhana, karena aku adalah superhuman dengan kemampuan dimensional. Aku bisa melihat banyak hal yang ada dimensi lain selain dimensi tempatku berpijak", benjamin mengubah posisinya menjadi duduk.


"beberapa saat sebelum terbunuhnya arsyad, dirinya berhasil menemukan makhluk dimensi lain dan mencoba berkomunikasi dengannya".


Keterangan yang diungkapkan benjamin telah membuka tabir baru mengenai kejadian tersebut yang selama ini belum dapat dituntaskan.


"tunggu dulu, kau tak pernah mengatakan itu kepadaku".


Endymion menanggapi penjelasan benjamin.


"memang benar. Aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya" benjamin sedikit menkoreksi supaya tidak terjadi kesalah pahaman antara dirinya dan endymion.


"lalu setelahnya? Apa yang terjadi setelah dia menemukan makhluk yang dimaksud".


Tanya veila semakin penasaran.


"pada awalnya baik-baik saja, arsyad dan makhluk tersebut saling mendekatkan diri serta mengenal satu sama lain layaknya teman yang akrab".


Benjamin menghentikan kata-katanya dan menghela nafas dengan kuat "tetapi, semua itu tidak bertahan lama. Makhluk yang berhasil arsyad temukan, yang berhasil dekatkan dirinya dengan selayaknya teman tiba-tiba berubah drastis hingga ia merenggut nyawa arsyad".


Keheningan seketika melanda tempat tersebut karena benjamin menghentikan kata-kata nya. Sedangkan veila dan endymion, masih terdiam dan menunggu si pemuda berambut coklat itu melanjutkan perkataannya dengan sabar. "apakah hal tersebut ada hubungannya dengan makhluk yang bernama Genie itu?" endymion bergumam dengan penasaran.


Gumaman yang dilakukan endymion, menyadarkan benjamin akan suatu hal. "mungkin saja" benjamin mengadahkan kepalanya berusaha mengingat berbagai ingatan yang ada di otaknya yang terbungkus tengkorak dan kulit kepala.


"tunggu dulu!" secara tiba-tiba benjamin berdiri dari posisi duduknya yang membuat endymion dan veila terkejut.


"ada apa? Kau teringat akan suatu hal?" tanya endymion dengan penasaran.


"jadi begitu!"


"kenapa?"


"aku baru teringat sesuatu. Atau lebih tepatnya, aku mendapat sebuah fakta!"


Layaknya sambaran petir yang menggelegar ketika sedang terjadi badai, pernyataan benjamin kembali sekali lagi harus mengagetkan mereka berdua dengan tiba-tibanya.


Wajah yang dikeraskan tercetak di wajah benjamin, dengan sorot mata yang berubah menjadi tajam. "makhluk yang menghancurkan pesawat milik veila dan yang merenggut nyawa arsyad...


Sengaja atau tidak, benjamin menghentikan kalimatnya begitu saja, membuat dua orang lainnya semakin bertambah rasa penasarannya.