
Dengan nafas yang tersengal-sengal tanda kelelahan X-mart keluarkan sambil memperhatikan kejadian didepannya. Sungguh, dirinya agak tidak menyangka kalau hasil dari kekuatannya cukup diluar dugaan perkiraan awal. "oh sial!", X-mart mengumpat saat sebuah tembakan menerjang bangunan tinggi yang menjadi tempatnya berpijak. Dirinya dengan cepat melompat turun dan menaiki roverboard-nya melakukan manuver meliuk-liuk di udara demi menghancurkan benda terbang yang barusan menyerangnya dengan jumlah bisa ditebak lebih dari satu.
Atraksi bak sebuah pertunjukkan akrobatik di udara terlihat begitu jelas saat seorang makhluk hidup dengan roverboard-nya, menghancurkan satu demi satu burung besi yang memenuhi setiap inci dari langit malam. Sementara itu, di salah satu tempat lain di kota yang sama tampak seorang perempuan berambut sewarna dengan purnama tengah menghadapi gerombolan para superhuman penginvasi yang menyerang dirinya.
Meskipun dirinya hanya sendirian, namun jangan salah. Dirinya itu mampu melawan superhuman-superhuman itu seorang diri. Para superhuman penginvasi menyerang dirinya dengan berbagai macam serangan. Mulai dari serangan jarak jauh, menengah, hingga jarak dekat yang layaknya duel satu lawan satu namun mereka semua tak mampu meladeni perempuan itu yang notabene bukan manusia fana—dialah sang bulan itu sendiri.
Dewi selene.
Turun ke avernia demi seseorang yang dia cari-cari, seseorang yang sangat "spesial". Akan tetapi sial bagi dirinya harus terbawa konflik di "dunia" ini.
"aku penasaran kenapa para penyerang menyerang kota ini apakah ada maksud terselubung didalamnya?" tanya bingung selene dengan dirinya sendiri.
Dia melihat bahwa para penyerangnya yang notabene adalah kumpulan superhuman yang memiliki kekuatan dengan berbagai macam jenis kemampuan yang sangat beragam. "wow tak kusangka kalau ras manusia sudah berkembang pesat mereka punya kemampuan super diatas rata-rata bisa saja menyaingi atau bahkan melampaui para dewa dan dewi".
Selene terkejut—tidak menyangka kalau ras yang sedari awal diciptakan yang selalu dapat hinaan dari para ras-ras lainnya karena tidak mempunyai kekuatan hebat, kini telah menjelma menjadi makhluk yang beringas.
"aku penasaran apakah karena ulah jahil mereka sehingga manusia sekarang terbagi dalam dua golongan besar" kata selene tetap pada dirinya sendiri, dia melumpuhkan salah seorang superhuman pengguna kekuatan lava yang menyerangnya dengan mengeluarkan luapan banjir lava yang masif namun selene dapat menghilangkan banjir itu dengan kekuatan miliknya.
Menatap langit malam yang membentang luas, selene punya insting kalau ada sesuatu yang buruk sebentar lagi akan terjadi. "apa sebenarnya tujuan mereka menyerbu tempat ini?" kata selene dengan tanda tanya dan penasaran.
"baiklah, saatnya kita keluar dari sini" seorang laki-laki berambut coklat berkata kepada seseorang yang merupakan temannya.
"benarkah?" tanya seorang laki-laki berambut pirang yang seumuran dengan laki-laki rambut coklat itu. Dia bertanya sambil melepas earphone yang ada ditelinganya..
"tentu, sudah saatnya" kata si rambut coklat sembari menganggukan kepala.
"endymion, benjamin apa sudah saatnya?" seorang perempuan yang memiliki sebuah simbol di dahinya datang dan bertanya kepada benjamin dan endymion—nama kedua pemuda berambut coklat dan pirang tersebut.
"benar veila saatnya keluar dari dimensi biru milik benjamin ini" jawab endymion kepada veila, si perempuan bersimbol di dahi itu.
Veila serta endymion mendekat kearah benjamin.
"kalian sudah siap?" tanya benjamin yang dibalas anggukan oleh mereka berdua.
"kalau begitu..."
"shortcut!"
Mereka bertiga, yang tadinya ada di tempat biru itu kini telah hilang berpindah ke tempat sebelum mereka kesini.
Seorang laki-laki kira-kira berumur masih remaja berpostur jangkung dengan warna kulit warm beige yang menawan, bentuk tubuh seperti model ataupun olahragawan profesional, berambut hitam, memakai pakaian tempur ketat berwarna hitam kebiruan dengan corak motif petir biru terang tersebar disetiap sudut pakaiannya serta sebuah ikat kepala seperti pemain tenis dunia turut menghiasi kepala bagian dahinya.
Mungkin yang melihat akan berasumsi bahwa dia adalah seorang pemain tenis jika dilihat dari hiasan kepala yang dia miliki. Namun, asumsi itu akan segera lenyap dengan aksi yang dia lakukan dimalam di sebuah kota yang "berantakan" karena diobrak-abrik oleh sekelompok orang-orang yang kini ia hadapi.
"banyak sekali mereka ini" ungkapnya tatkala menjatuhkan satu demi satu superhuman yang menghancurkan bangunan-bangunan dan mengeksekusi para penduduk sekitar. Energi menyelimuti tubuhnya yang sedetik kemudian berubah menjadi percikan listrik dan petir yang menyambar. Dia akan menggunakannya untuk melakukan serangan berskala luas dengan sasaran para penginvasi kota yang mengelilingi dirinya.
Serangannya berhasil dengan hasil para lawannya jatuh ke aspal jalanan tak sadarkan diri. Dirinya mendekat demi melihatnya.
Namun, sayang seribu sayang robot tempur itu harus hancur dengan parahnya karena dihantam oleh sebuah papan roverboard yang berputar layaknya baling-baling pesawat, ataupun bumerang. Remaja laki-laki berpakaian hitam itu sontak membalikkan tubuhnya kebelakang dengan cepat guna melihat apa yang terjadi.
"tadi itu hampir saja" sosok baru yang menjadi pelaku dari lemparan papan roverboard itu menampakkan dirinya di hadapan si remaja pengguna energi petir.
"sepertinya aku harus berterima kasih kepadamu" kata pemuda yang punya energi petir itu ke sosok yang bisa dibilang telah menolongnya.
"tidak masalah. Lagipula aku sedang berkeliling untuk mencari musuh yang masih ada" kata remaja pembawa roverboard yang diketahui adalah X-mart. Remaja yang selalu membawa roverboard itu memperhatikan kalau orang berpakaian hitam yang unik tersebut seumuran dengannya.
"biar ku tebak kau pasti masih berumur belasan tahun" kata X-mart menebak umur orang dihadapannya ini.
"oh kau tahu rupanya".
"hanya sekedar menebak saja. Ngomong-ngomong siapa namamu?"
"namaku Nelwan Yudhistira".
"Yudhistira?" entah kenapa X-mart merasa pernah dengar nama itu di suatu waktu entah dimana.
"sepertinya aku pernah dengar nama itu. Apakah kau ini berasal dari daerah dimana sapi dipuja dan dilarang dimakan?"
"oh kalau tempat yang kau sebutkan itu adalah bangalore maka itu salah. Aku ini berasal dari daerah dimana terkenal sebagai sebutan tempat kepulauan terbesar ditambah pula dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa" jawabnya meluruskan argumen yang keliru.
"apa yang kau maksud itu daerah yang berada di tenggara jika dari sini?"
"nah itu dia. Tepat sekali".
"kalau tidak salah ada destinasi pariwisata paling terkenal disitu. Apa namanya? Bhauli?"
"Bali atau para pengunjung dari luar lebih suka menyebutnya Bhauli. Ya kau benar aku berasal dari situ".
Ekspresi kaget adalah hal yang dikeluarkan X-mart saat ini. Dia tidak menyangka kalau ada masyarakat dari daerah kepulauan di tenggara bisa berada disini. Nah, pertanyaannya mengapa?
"lalu kenapa kau bisa ada disini?"
"oh kalau tempat yang kau sebutkan itu adalah bangalore maka itu salah. Aku ini berasal dari daerah dimana terkenal sebagai sebutan tempat kepulauan terbesar ditambah pula dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa" jawabnya meluruskan argumen yang keliru.
"aku melanjutkan studi ku di sebuah universitas disini. Oh ya kau bisa memanggilku Ishkur biar lebih simpel karena itu adalah nama alias/pendek/lain dari diriku.
"kau melanjutkan studimu di universitas?!" entah mengapa X-mart menjadi heboh.
"memang ada apa?" tanya Ishkur bingung akan reaksi X-mart.
"sebab jika dilihat-lihat kau masih berumur tujuh belas tahun kan?" tanya X-mart ke Ishkur yang dibalas anggukkan kepala olehnya. "aku juga mempunyai umur yang mungkin saja sama denganmu dan setahuku kalau umur tujuh belas itu seseorang masihlah kelas dua atau tiga sekolah menengah".
X-mart merasa heran sekaligus takjub mengetahui fakta kalau ada seseorang yang berumur masih muda sama dengan dirinya bisa ada di universitas untuk melanjutkan studi. Hebatnya lagi, orang yang dia maksud tepat berada dihadapannya saat ini. Apakah dia memiliki kecerdasan yang berbeda dengan rata-rata anak muda remaja yang seumuran dengannya?