Avernia

Avernia
Chapter 10




"hmm maaf aku ingin tanya apa dimensi berbeda yang kau maksud itu ber struktur 4-D?" tanya ku tiba-tiba secara langsung.


"bagaimana kau bisa tahu?" dia tampak kaget ketika aku tahu hal itu.


Sementara aku berpikir keras untuk menjawab pertanyaannya.


"ya anggap saja aku punya kemampuan khusus untuk mengetahuinya" jawab ku dengan sedikit alibi.


"itu memang benar, tempat itu berdimensi lebih tinggi dari struktur 3 dimensi yang kita tempati" jelasnya.


Dirinya mengadahkan kepalanya sambil menerawang.


"kejadiannya ketika pesawat kami berada di area The Border, sebuah tempat di ujung universum atau bisa dibilang batas dari universum yang katanya jika melewatinya maka akan bisa menuju ke universum lain" lanjutnya.


"seperti dunia parallel kah?" tanya ku.


"ya, begitulah!" jawabnya.


'sepertinya endymion akan senang mengetahui ini' batin ku dalam hati.


"lalu bagaimana kau bisa mengakses ke dimensi berstruktur 4-D?" tanya ku dengan penasaran.


Pertanyaan yang ku lontarkan seketika membuatnya menundukkan kepalanya. 'apa aku salah bertanya?'


"kalau soal itu, aku memang dianugerah kemampuan seperti itu dari lahir. Namun untuk bisa mengaksesnya, dibutuhkan energi yang sangatlah besar. Para penumpang pesawat telah sepakat untuk memberikan semua energi mereka kepadaku guna mengaktifkan kemampuan itu dan membuka portal menuju ke dimensi berstruktur 4-D. Tapi seperti yang kau lihat, hanya aku yang selamat karena aku mempunyai energi yang melimpah."


Jelasnya panjang lebar.


"jadi karena itulah hanya kau yang berhasil selamat dari pesawat itu" sahut dr. Ferdinand.


Perempuan itu menganggukkan kepalanya.


Jadi itu ya sebabnya, menuju ke dimensi yang lebih tinggi guna mencari tempat tinggal baru. Pasti peradaban mereka sudah begitu maju sehingga berniat mendiami dimensi keempat.


"apakah sekarang kau masih bisa mengakses dimensi keempat?" tanyaku.


"entahlah, aku sudah tidak punya energi yang cukup lagi dan butuh waktu bagiku untuk melakukannya".


"hmm apakah ini sebuah robot?" aku bertanya pada diri sendiri ketika memegang sebuah benda yang bentuknya bulat seperti telur yang terbuat dari tabung nano karbon. Saat ini, aku sedang memeriksa puing pesawat yang baru saja kami temukan. Awalnya aku mau memeriksanya saat subuh, tapi sayang aku terlalu asik tidur. Wah sepertinya teknologi yang dimiliki oleh perempuan biru itu begitu canggih hingga robotnya terbuat dari tabung nano karbon, kalau disini masih dari bahan aluminium atau bahan plastik.


"endymion".


Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar seperti bisikan ditelingaku. Aku mengedarkan pandanganku di seluruh ruangan di rumah tuan ilven tapi tidak ada siapa-siapa. Suaranya lembut, feminim seperti seorang perempuan dan kalau dipikir-pikir suaranya mirip dengan suara wanita yang ada dimimpiku waktu itu. Wanita yang beberapa kali datang dimimpiku itu entah bagaimana seakan-akan aku dan dia itu terhubung.


"mungkin cuma perasaanku saja" kataku sambil menggelengkan kepala.


Aku memutuskan pergi dari belakang rumah tuan ilven, tempat puing pesawat itu ditempatkan sekalian membawa robot berbentuk seperti telur ini.


Ketika aku memasuki kamar, ternyata semuanya berkumpul mulai dari benjamin, dr. Ferdinand, tuan ilven dan nyonya elina, dan kedua anaknya.


"aku menemukan ini di pesawat" ucapku sambil menunjukkan benda yang baru saja kutemukan.


Sejenak perempuan itu tersentak kaget.


"lx-77!"


"ini punyamu kan?"


"benar, dia adalah robot pendampingku yang selalu perhatian layaknya orang tua kepada anaknya yang tiap hari selalunya mengomel" jawabnya dengan nada lirih meski dia tersenyum walau hanya sesaat.


"siapa namamu" tanya nyonya elina.


"orang-orang di tempatku memanggil ku tuan putri veila" jawabnya.


"emm baiklah" dirinya menganggukkan kepala mengiyakan ajakan nyonya elina.


"Disini kau rupanya", sebuah suara memanggilku dari belakang dan ternyata itu adalah endymion. Saat ini aku sedang berada di bawah pohon yang rindang sambil duduk diakarnya yang besar. Dia ikut duduk disampingku sambil mengambil batu, dan melemparkannya ke aliran sungai yang berada didepan. Aku pun melakukan hal yang sama. Tingkah kami berdua tak ubahnya seperti bocah yang baru mengenal dunia.


"sudah sebulan kita disini" ucapku.


"ya tak terasa dan kuharap pihak organisasi tidak mencari-cari kita" sahut endymion".


"dari info yang ku dapat, pihak organisasi tidak menganggap serius pataphysic yang ku geluti dan malah menganggapnya sebagai permainan kata" kesal ku tiba-tiba berdiri sembari melempar batu ke sungai dengan sangat keras. Aku tak bisa menutupi wajah kesalku.


"wajar saja, itu seperti sebuah parodi sains bagi mereka" kata endymion dengan malas.


"padahal itu punya potensi yang menakjubkan" kataku dengan suara pelan.


"sesuatu yang melampui metafisika huuhh" ketus endymion yang entah bagaimana bisa mendengar perkataanku.


Seorang wanita berkulit putih kebiruan terlihat sedang menanam sesuatu, tampak dari raut wajah nya yang terlihat senang.


"ternyata ini sangat menyenangkan ya!" serunya dengan wajah gembira.


"tentu, dengan berkebun dapat mengembalikan keceriaan dirimu" kata seorang wanita dewasa kepadanya.


Nyonya elina mengajak tuan putri veila berkebun di perkebunan miliknya guna mengembalikan keceriaan gadis itu. "Ayo, setelah ini kita memanen anggur" ajak nyonya elina.


"mereka terlihat senang" kataku melihat tuan putri veila dan nyonya elina.


"kau benar" ujar endymion di sebelahku.


Aku dan endymion berjalan kerah mereka.


"Tuan putri veila, apakah kau mau ikut bersama kami ke avernia?" ajak ku kepada dirinya. Tuan putri veila yang tengah sibuk mengumpulkan anggur langsung mengalihkan pandangannya kearahku dapat kulihat ekspresi penasarannya dengan jelas. Nyonya elina yang juga mendengarnya terlihat terkejut.


"aku mau! Aku penasaran dengan kehidupan manusia disana" jawabnya dengan wajah antusias.


"tapi apa tidak apa-apa? Aku khawatir dia dapat perlakuan tidak mengenakkan disana apalagi kalau jati dirinya yang bukan manusia sampai terbongkar".


Nyonya elina berkata dengan wajah yang terlihat cemas, takut terjadi apa-apa dengan veila. Mungkin dia sudah menganggap nya sebagai anaknya sendiri. Para manusia di avernia memang sering mengatai-ngatai ras elf, menganggap mereka lebih rendah dibanding ras manusia. Lebih parahnya lagi, banyak manusia yang juga bertindak demikian dengan sesamanya. Itulah manusia. Jika arogansi dan keangkuhan telah mendominasi, maka akan bertindak semena-mena dan seenaknya.


Endymion serta diriku sejenak memikirkan hal ini. Benar juga, jika sampai itu terjadi maka tuan putri veila bisa saja ditangkap kemudian


diinterogasi. Kami berdua saling tatap sejenak kemudian menganggukkan kepala.


"soal itu tenang saja, kami tahu harus bagaimana" endymion berujar dengan mantap.


Terlihat 3 orang tengah berada sebuah tanah lapang yang luas, "apa kalian yakin ingin ke avernia?" tanya tuan ilven kepada mereka.


"tentu saja tuan, kami ingin menunjukkan berbagai banyak hal kepada tuan putri veila ini" jawab benjamin yakin seraya menatap veila. Dia selalu menanyakan tentang avernia ketika ia setuju untuk kesana.


Endymion mengeluarkan kubus persegi enam nya, lalu dengan canggihnya kubus itu menyelimuti tubuh endymion berkat teknologi nano yang disematkannya. Tingginya berubah dari awalnya 183, menjadi 203 akibat kubus segi enam miliknya bertransformasi menjadi armor Futuristik berwarna biru dengan garis melintang berwarna black metal ditambah sepasang sayap yang membuat tampilannya semakin elegan & gagah.


"wow apa ini teknologi milikmu?" veila bertanya dengan kagum.


"begitulah, aku membuatnya setelah mendapat suatu pencerahan" jawab endymion dengan bangganya.


Sedangkan disisi lain, benjamin terlihat tidak membawa alat penerbangan apapun.


"lalu bagaimana denganmu?" tanya veila ke benjamin.


"aku? Kalau soal itu..." perkataannya membuat veila penasaran.


Tubuh benjamin diselimuti energi yang membuat tubuhnya melayang dengan ajaibnya!


"waahhh hebat!" veila mengeluarkan ekspresi takjub dengan apa yang dilihatnya.