
"oh tentu saja dan tak perlu dipertanyakan lagi" jawab X-mart dengan senyum percaya dirinya.
Selene menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mengetahui fakta dari kebiasaan bocah remaja bernama X-mart ini. Dirinya teringat dengan salah satu anggota keluarganya yang juga punya kebiasaan demikian yang sama, dan ketika membandingkannya dengan X-mart disitulah dia membuat kesimpulan bahwa salah satu anggota keluarganya itu dan bocah remaja ini bisa saja adalah...—
"yeah dan bukan hanya itu saja..." X-mart menyahut sambil memasang earphone dikedua telinganya.
"AKU JUGA SANGAT SUKA MUSIK!!!" teriakan X-mart yang menggema yang secara tiba-tiba itu membuat banyak direksi menuju kearahnya. Tampak dirinya sangat menikmati apa sedang dia lakukan, meminum minuman beralkohol, mendengar musik, menenteng roverboard, hingga cara jalan ala anak muda modern.
"wow lihat disana sepertinya ada acara pesta" sahutan X-mart yang demikian membuat selene mengikuti arah pandangan remaja yang sepertinya bertampang playboy ini.
"hei tunggu!"
Pesta yang tampaknya dihadiri oleh para anak muda ini tampak sangat ramai. Apalagi volume musiknya diputar dengan cukup keras bagaikan sebuah dentuman. Selene bisa melihat X-mart mencumbu secara singkat beberapa gadis perempuan disitu. Aroma alkohol yang khas begitu menyengat indera penciuman bagi siapa saja yang berada di sekitar tempat pesta tersebut. Oke, selene jadi kesal karena remaja tersebut seenaknya saja meninggalkan dirinya dan pergi berpesta dengan makhluk-makhluk tak dikenal. "dasar remaja yang kurang sopan santun, seenaknya saja dia meninggalkan makhluk yang lebih tua" geraman tanda kemarahan dan kekesalan terdengar dari mulut selene.
Terlepas dari itu, ada hal yang tampaknya membuat perempuan itu merasa bahwa akan terjadi peristiwa tak terduga. "apakah ini...?" selene mengarahkan pandangannya kearah lain yang tampak sekali gedung-gedung pencakar langit begitu mendominasi. Pandangannya beralih sejenak ke X-mart dimana remaja itu sedang berciuman dengan mesra dengan seorang gadis berambut merah ditambah mempunyai tato Bertuliskan A. C. A. B di bagian kanan tangannya. Sontak hal itu membuat wajah selene menjadi merah padam.
"hei cepat kesini!"
"oh apa kau tidak mau bergabung bersama kami berpesta?"
Tidak, bukan itu. Akan ada sesuatu kejadian tak terduga yang mungkin merugikan masyarakat di sekitar sini bahkan planet ini!"
Selene meninggikan intonasi suaranya, berharap remaja itu mau mendengarkannya. "hahahaha baiklah-baiklah jika itu yang kau katakan" bukannya membalas perkataannya, X-mart malah mengatakan hal yang tak jelas yang tidak ada hubungannya dengan perkataan selene beberapa detik yang lalu.
"sial, musik bervolume keras ini menghalangi" selene sadar bahwa musik bervolume keras di pesta inilah yang jadi penyebab perkataan X-mart yang tidak jelas tadi.
Teriakan demi teriakan saling bersahut-sahutan tatkala rentetan ledakan dahsyat yang mengguncang salah satu tempat terpadat dan yang menyandang gelar sebagai kota dengan biaya hidup termahal di avernia, Hong Kong. Hal tersebut bisa demikian dikarenakan kota tersebut sepertinya diserang oleh seseorang—dan pastinya itu lebih dari satu pelaku jika dilihat dari banyaknya ledakan yang terjadi secara bertubi-tubi.
Pesawat-pesawat khusus untuk berperang melakukan serangan ke gedung-gedung dan bangunan-bangunan di hongkong. Korban jiwa banyak yang berjatuhan karenanya dan bukan hanya itu saja, segerombolan robot raksasa turut juga ambil bagian dalam serangan itu. Tembakan rudal, misil, senjata mesin, bom yang diledakan, hingga yang cukup menarik perhatian adalah adanya orang-orang dengan kemampuan "khusus" dalam kejadian ini.
Lantas, apa yang dilakukan para superhuman itu di hong kong? Jawabannya adalah mereka juga ikut memporak-porandakan kota metropolitan itu. Dengan kekuatan yang mereka miliki, apa yang ada di hong kong hancur lebur dengan cepat. Serangan-serangan energi yang terlontar olehnya sudah cukup menjadi mimpi buruk bagi kota yang berdiri tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh tujuh silam.
Seorang gadis kecil terlihat sedang menangis di salah satu sudut kota. Dirinya menangis dengan kerasnya diantara kerumunan orang yang berlari menyelamatkan diri. Namun, tak ada satupun yang memerdulikan gadis kecil malang itu. Menangis ditengah-tengah tragedi berdarah yang sedang terjadi, suara ledakan, teriakan, jeritan, menambah kesan tragis nan menyedihkan apalagi waktu seakan melambat dan cuma berfokus pada si gadis kecil yang tak tahu harus melakukan apa selain hanya menangis meratapi nasibnya. Sebuah robot besar futuristik nan canggih dengan tinggi sekitar lima meter tiba-tiba saja ada dibelakang si gadis kecil dan ketika gadis kecil itu membalikkan tubuhnya, tentu saja ekspresi terkejut adalah hal yang tepat untuk menggambarkan seseorang yang berada diujung tanduk.
Ketika robot tersebut akan menembakkan sinar laser energi dari salah satu tangannya, sebuah serangan berupa roverboard yang berputar layaknya sebuah baling-baling dengan cepatnya menghantam kepala robot besar tersebut hingga hancur berserakan. Pelakunya adalah seorang remaja laki-laki yang sedang melayang menggunakan sebuah papan skateboard tapi bukan skateboard yang orang-orang avernia biasa menyebutnya roverboard. Sebuah benda yg baru saja laki-laki itu lemparkan. Sang remaja mendekati si gadis kecil yang masih tak berdaya ditempatnya.
"apa kau baik-baik saja gadis kecil?" tanya remaja itu kepada gadis kecil yang baru saja ia selamatkan. Tangisan adalah satu-satunya ekspresi yang bisa gadis kecil itu keluarkan sebagai balasan tapi tangisannya kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Ada sebuah kelegaan dibaliknya.
"disini kau rupanya!" sebuah suara mengintrupsi mereka berdua untuk mengalihkan direksi kearah asal suara terutama si remaja itu yang mengenal si pemilik suara.
"oh kau rupanya, selene".
"menyelamatkan anak kecil? Sungguh aku tak menduga kalau sosok remaja 'pemberontak', playboy, suka membual sepertimu ini ternyata juga memiliki jiwa kepedulian tinggi juga ya" ungkap selene sedikit tidak percaya.
"meski aku ini bisa oleh diidentikan oleh makhluk hidup lain dengan kehidupan remaja yang memberontak dan urakan, diriku ini masihlah makhluk hidup yang memiliki jiwa kepedulian dan nilai-nilai ksatria!" dia berujar tegas sambil menggendong gadis yang baru saja ia selamatkan.
Selene bisa melihat sorot mata yang benar-benar yakin dari remaja urakan ini. Dari pandangan pertama, banyak orang pasti akan menganggapnya sebagai anak muda playboy, identik dengan kehidupan malam, kurang sekali disiplin, "pemberontak", dan suka membuat bualan. Akan tetapi, seperti sebuah pepatah "jangan menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja". Ya benar. Pemuda itu, disisi lain, juga bisa menjadi sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria dan "kemanusiaan" layaknya sebagai seorang tentara prajurit.
Kira-kira seperti itulah penilaian selene kepada remaja yang selalu membawa roverboard itu.