Avernia

Avernia
Chapter 9




"apa pan masih mengejar mu kak?" tanya eos ke selene


"jangan sebut dia lagi, dia benar-benar membuat ku frustasi!" seru selene dengan geram, kedua tangannya yang berada di atas meja terkepal dengan erat seolah mengeluarkan emosinya, gigi nya bergemelatuk disertai sorot mata tajam.


"dia benar-benar tak tahu malu, mengirimiku dengan sebuah domba dengan dalih sebagai hadiah dan hampir saja memperkosa ku!" selene meninggikan suaranya semakin tinggi tatkala menceritakan ketika dia hampir saja dilecehkan. Pan, seorang dewa alam liar, berburu, gembala dan kawanan ternak, dan pendamping nimfa adalah salah satu dewa olympian yang banyak disembah oleh para makhluk fana di banyak dunia di luasnya semesta. Sebagai dewa alam liar, berburu adalah hobinya dan hewan-hewan ternak adalah simbolnya. Dialah putra hermes, dewa kecepatan dan pembawa pesan dengan seorang sylph bernama Dryope.


Dia menikah dan beristri tiga diantaranya, syrinx, echo, dan mercy, dan mempunyai tiga orang anak. Namun meski telah berkeluarga, nampaknya dia belum juga puas itu terbukti dengan dia mengagumi selene akan kecantikan dan keindahannya ketika dia mengendarai kereta malam yang bersinar terang.


"bukannya dia cucu zeus ya dan secara tidak langsung cucuk kakak juga, berarti kakak ingin dinikahi oleh cucu kakak sendiri! Hahahaha..." canda eos sambil tertawa terbahak-bahak seusai mengejek selene


"jaga bicaramu! Kau yang sering mencuri dan menggauli para pemuda padahal sudah bersuami lebih baik diam saja dan sadar diri lah! Dirimu itu tak ada bedanya dengan si sialan pan, sudah punya pasangan tapi tetap saja tidak puas! Kalian berdua memang benar-benar rendahan!!!" seru selene dengan nada sangat tinggi. Sekilas wajahnya agak memerah karena amarah


"apa kau bilang?!" teriak eos tak terima


"kalian berdua bisa diam? Bertengkaran yang layaknya anak kecil yang berebut mainan sungguh cocok disematkan kepada kalian berdua. Benar-benar tak pantas" ucap helios melerai pertengakaran kakak-adik itu yang walau sering terjadi namun tentu membuat muak siapa saja yang sudah lebih dari sekali mendengarnya, dalam hal ini adalah helios


"ohh aku ingin sekalian mengatakan bahwa ras genie yang berada di universum tempat endymion juga merupakan salah satu makhluk yang patut diwaspadai walau tidak terlalu berarti" tambah helios lagi


Selene mengernyitkan dahinya, "tidak terlalu berarti katamu? Tipe makhluk yang kau sebut tadi bisa meningkatkan kemampuannya dari 4 dimensi hingga ke 9 dimensi dan itu hampir setara dengan ku serta eos kalau eos dalam bentuk pertamanya" ucap selene menyanggah pernyataan helios


Eos terlihat mengangguk setuju


Menghela nafas sejenak, lalu dia melanjutlan "aku juga tahu soal itu tapi dibandingkan dengan beberapa makhluk yang tadi disebutkan kalau secara ancaman, salah satu ras genie ini tidak terlalu berbahaya. Ya setidaknya untuk saat ini"


beberapa saat yang lalu aku merasakan aktivitas dari makhluk tersebut


"benarkah demikian, eos?" tanya helios


Eos mengangguk kepalanya


"kira-kira aktivitas apa yang sedang ia lakukan? Menghancurkan makhluk-makhluk disekitarnya?" ucap helios dengan nada cukup tertarik memikirkan sesuatu yang membuat penasaran


'apa jangan-jangan karena hal tersebut, endymion ada di navan' batin selene yang tiba-tiba saja menjadi agak gusar


"kau kenapa kak?" tanya eos, sedangkan selene hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Dilihat dari luar, mungkin itu hanyalah sebuah rumah besar dengan tanah lapang didepannya. Tapi, bagi penghuni didalamnya itu lebih dari sekedar sebuah rumah. Terbaring lah dia, seorang berkulit putih kebiruan. Disampingnya ada seseorang dengan jas lab sedang memeriksanya dengan sebuah alat penganalisis.


"bagaimana dokter?" tanya ku ketika memasuki ruangan


"seperti yang diduga benjamin dia bukan manusia ataupun elf" jawab dr. Ferdinand


Tubuh makhluk tersebut memang seperti manusia, tapi terdapat banyak perbedaan. Seperti warna darahnya yang biru keputihan, kuku jari berwarna biru, jantung yang terletak dibagian tengah dada, dan tidak adanya usus buntu. Entah kenapa tidak ada mungkin supaya tak mengalami penyakit usus buntu.


"bagaimana dengan pesawatnya?"


"endymion sedang memeriksanya"


"emmm..."


Dia tiba-tiba bersuara aku dan dokter ferdinand sedang berbincang. Dia melihat kami dengan tatapan bingung


"kau sudah sadar rupanya"


Dr. Ferdinand mendekat kearahnya


"bagaimana keadaanmu?" Tanya dr. Ferdinand


"a-aku baik-baik saja" Jawabnya sedikit gugup


"kau tak perlu gugup seperti itu" kata dr. Ferdinand dengan ramah


"apa kau haus?" tanya dr. Ferdinand yang dijawab anggukan oleh dia


Dr. Ferdinand lantas menoleh kearahku


"ambilkan dia air ben"


"baiklah"


"tunggu!"


Tiba-tiba saja ia berbicara, selang beberapa saat dia merentangkan tangan kanannya kedepan dan sebuah teko air minum lengkap dengan nampan dan gelasnya menuju kedalam kamar mengagetkan diriku yang baru membuka pintu kamar. Teko, nampan, serta gelas melayang mendekat kearahnya. Dia tersenyum dengan senang, lalu menuangkan air kedalam dan meminumnya


Kejadian ini membuatku dan dr. Ferdinand terkaget. 'apa dia menggunakan telekinesis?'


"terima kasih untuk air minumnya" ucapnya dengan senyum yang membuyarkan lamunanku


"apa itu tadi telekinesis?" tanyaku langsung


"telekinesis?"


"ya, benar telekinesis!"


Dirinya berpikir sejenak,"oh apa maksud mu tadi aku yang menggerakkan teko air?"


"ya"


"benar itu telekinesis!"


Aku tak menyangka kalau animathropeian seperti dia mempunyai kemampuan telekinesis. Telah dikonfirmasi bahwa dia adalah ras animathropeian, ras yang mirip manusia dengan kecerdasan setara atau bahkan lebih tinggi dari manusia. Ada banyak ras animathropeian yang terbagi lagi menjadi kelompok ras yang sangat banyak, dan aku yakin kalau perempuan ini pasti berasal dari sekian banyaknya ras animathropeian.


apa gender mu perempuan?"


"benar"


Haaah jadi benar dia itu perempuan seperti yang diduga dari awal


"apa kalian manusia?" tanya nya


"benar. Dan kau sendiri apa seorang animathropeian?" tanya ku padanya


Dia menganggukkan kepalanya


"kalau begitu, dari ras animathropeian apakah dirimu ini?" tanya ku lagi


"ras clavans, aku tinggal disebuah planet yang berada diluar galaksi dari planet kalian ini. Ukuran planet kami tiga kali lebih besar dari planet kalian. Aku bisa dibilang adalah putri di planet tempat asalku, peperangan dengan ras lain telah meluluhlantahkan lebih dari 70% planet sehingga tidak bisa dihuni lagi. Sebelum meninggalkan planet, aku dan sisa dari ras yang masih bertahan membangun sebuah pesawat penjelajah seukuran planet kalian guna mencari rumah baru".


Dia berhenti sejenak, tampak sekilas tubuhnya bergetar walau samar-samar


"namun sayang, ketika kami hendak memasuki dimensi yang berbeda pesawat yang kami tumpangi diserang oleh makhluk yang tak dikenal!"


Air mata tiba-tiba saja keluar setelah dia mengatakan itu


"memang kenapa makhluk itu menyerangmu?" tanya dr. Ferdinand yang kali ini angkat bicara


"aku tidak tahu. Aku dan kru yang ada di pesawat hendak mendekati dan mengamatinya namun dia malah menyerang dan menghancurkan pesawat kami"


Yang tadinya hanya mengeluarkan air mata, kini berubah jadi tangisan yang pilu. Dr. Ferdinand berusaha menenangkannya dengan memeluknya dan mengelus-elus kepalanya dengan lembut. Aku merasa iba melihatnya. Benar yang dikatakan neumann, kalau dia dan pesawatnya berniat mengamati/mengobservasi makhluk itu namun sayangnya harus berakhir dengan begitu tragis.


teman ku dari kecil yang selalu ada untukku juga harus menjadi korban!" tangisnya makin menjadi ketika mengingat seseorang yang sangat berarti bagi hidupnya kini telah tiada.


Tunggu sebentar, bukannya kejadian itu terjadi di tempat yang lebih tinggi dari struktur 3-D?