Avernia

Avernia
Chapter 19



"kau harus segera mengamankan gadis kecil itu ke suatu tempat yang aman, X-mart" saran selene kepada X-mart—nama dari pemuda itu.


"tentu saja. Tunggu aku, aku akan segera kesini lagi" X-mart pergi dengan cepat untuk mengamankan gadis kecil yang baru saja ia tolong.


Selene mengalihkan direksinya. Dirinya bisa melihat dengan jelas suasana yang tak ada bedanya dengan sebuah peperangan. Diatasnya, pesawat-pesawat tempur sibuk melakukan bombardir disetiap sudut cakrawala. Langit kota hong kong dimalam hari penuh dengan burung-burung besi yang mengeluarkan sesuatu yang dapat menghancurkan.


Beberapa dari pesawat-pesawat itu menargetkan selene sebagai sasaran berikutnya. Mungkin bagi mereka, selene adalah sebuah "ancaman". Rudal, misil, proyeksi energi, tembakan laser terlontar dari pesawat-pesawat tersebut dan dengan cepat menuju kearah perempuan berambut yang serupa dengan bulan ketika memasuki fase purnama. Selene, tentu tak tinggal diam. Dengan kekuatannya semua yang terlontar kearahnya tiba-tiba berhenti begitu saja di udara dengan ajaibnya seakan-akan waktu telah dihentikan.


Lalu, apakah sudah selesai? Ternyata belum!


Selene mengangkat tangannya seperti sebuah isyarat tangan. Jari jempol dan tengahnya ia satukan. Seperti yang bisa ditebak, suara jari yang dijentikkan terdengar ketika selene menjentikan jarinya dan semua yang tadinya dihentikan dan melayang diudara tiba-tiba saja dan dengan ajaibnya(lagi), meledak secara serentak kurang dari dua detik setelah wanita itu menjentikan jarinya.


Semua itu terjadi kurang dari lima belas detik.


Para pilot pesawat yang melihat kejadian tersebut sangat terkejut dan tak percaya apa yang mereka lihat didepan mata kepala mereka. Memanfaatkan situasi, selene mengeluarkan energi miliknya yang sewarna dengan rambut yang ia punya. Energi tersebut terkumpul dan terpusat di tangan kirinya lalu wanita yang bukan manusia itu mengibaskan tangannya keatas melintang horizontal dengan sasaran pesawat-pesawat yang ada dilangit malam. Dari kibasan itu, tercipta gelombang yang serupa dengan ombak di samudera yang luas.


Bunyi ledakan yang sangat besar lagi membahana menggelegar diseluruh ruang lingkup langit malam kota hong kong. Pesawat yang dihancurkan selene tidaklah sedikit sekitar lebih dari dua puluh lima pesawat berhasil ia hancurkan hanya dalam waktu sekejap mata saja.


"sepertinya ini cukup jadi pembukaan" ucap selene.


Dirinya lalu meninggalkan tempatnya berpijak demi menuju ke lokasi lain, puing-puing pesawat yang tadi dia hancurkan berjatuhan bak hujan yang mengguyur tempat awal dia ada disitu secara dramatis.


"terima kasih telah menolongku" ucapan terima kasih diucapkan oleh seorang gadis kecil kepada sosok anak remaja yang membawa roverboard. Si remaja menurunkan tubuhnya sejajar dengan sang gadis kecil sambil menaruh salah satu tangannya di kepala sang gadis.


"tidak masalah, gadis kecil. Sekarang aku mau pergi dulu pastikan kau tetap aman disini" kata si remaja kepada gadis itu sambil mengusap-usapkan tangannya dikepala si kecil.


Remaja itu menaiki roverboard miliknya dan dengan cepat menghilang dari pandang sang gadis kecil yang memandanginya dengan pandangan kagum. Jika dilihat-lihat, bisa diasumsikan kalau gadis kecil itu telah menemukan sosok pahlawan dalam hidupnya, yang akan selalu berusaha ia ingat sampai kapanpun.


Mengerikan.


Tak ada lagi ungkapan ataupun kata yang lebih tepat selain "mengerikan" untuk menggambarkan suasana sebuah kota yang tadinya megah dan canggih kini telah jadi tempat "genosida" bagi makhluk yang ada didalamnya. Pesawat-pesawat tempur diatas langit malam saling berlomba-lomba mengeluarkan kekuatan penghancur mereka demi memusnahkan apa yang ada dalam target tembakan. Lantas, apakah semudah itu para penyerang melakukannya?


Jawabannya tidak. Terdapat para orang-orang yang melakukan perlawanan meski sedikit namun bisa meminimalisir jatuhnya korban yang lebih banyak dan kehancuran lainnya. Disebuah gedung yang tinggi, sedang terjadi pertarungan antara dua makhluk hidup. Seorang pemuda remaja berambut jingga menggunakan papan roverboard-nya untuk melawan seorang berpakaian ala militer yang cukup fashionable berwarna hitam. X-mart, nama pemuda berambut jingga itu melayangkan pukulan menggunakan roverboard-nya ke kepala lawannya namun bisa ditangkis dan malah X-mart terkena pukulan dibagian kanan pipinya.


"sebagai seorang remaja kau cukup hebat, nak".


"diamlah kau sialan!"


Orang berpakaian hitam itu mengeluarkan senyuman kearah X-mart tanda berhasil melakukan sesuatu. "kita lihat sampai mana kau bisa bertahan nak".


"apa ini?" tanya X-mart dengan bingung bercampur panik.


"itu adalah racun berbisa" jawab orang berpakaian hitam yang menjadi lawannya.


"racun?"


"benar, aku adalah superhuman dengan kemampuan mengendalikan racun berbisa. Racun ku bisa menghancurkan target entah itu makhluk hidup maupun bukan hanya dalam hitungan menit" jawab orang itu menjelaskan.


Bercak hitam di pipi kanan X-mart yang merupakan racun tersebut bergerak menjalar keseluruh area kepala—membuat sang pemilik menjadi tinggi level kepanikannya.


"racun itu akan menghancurkan kepalamu, menghancurkan sel-sel yang ada didalamnya termasuk sel otak dan sel vital lainnya. Sebentar lagi, kau akan menemui ajalmu".


X-mart jatuh terduduk. Ia merasakan kalau racun itu juga telah memasuki bagian matanya dan berubah jadi warna hitam. Merasa telah(akan) selesai, orang berpakaian militer yang tenyata berkelamin perempuan itu mengambil langkah meninggalkan lawannya yang sebentar lagi akan mati akibat racun miliknya. X-mart yang melihat perempuan tersebut pergi, langsung mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"INI BELUM BERAKHIR!"


Sebuah teriakan—bersamaan dengan keluarnya aura energi berwarna jingga kehitaman dari sang pemuda berambut jingga itu. Wanita superhuman yang menjadi lawannya, membalikkan tubuhnya dan menatap kejadian didepannya dengan ekspresi terkejut. X-mart perlahan berdiri, matanya mengeluarkan sinar cahaya yang serupa dengan aura energi yang ia keluarkan.


Sebuah tatapan intimidasi X-mart keluarkan demi membuat lawannya merasa terintimidasi dan sepertinya itu berhasil jika melihat lawan didepannya menjadi gusar ketika tatapan itu dia gunakan. Bagaikan tiupan angin yang bertiup kencang, sang pemuda berambut jingga telah berada di belakang si wanita berpakaian ala militer hitam elastis yang mampu menampakkan tubuhnya yang menjadi idaman para kaum hawa. Terkejut? Tentu saja. Merasakan sang lawan yang awalnya berhasil ia lumpuhkan, kini malah melakukan serangan balik.


Tangan X-mart mencekik lawannya yang baru saja menoleh karena terkejut dengan serangan dadakan yang ia layangkan. X-mart mencekik perempuan itu dengan keras, sampai-sampai dia meronta-ronta saking kuatnya cekikannya X-mart. Mereka saling bertatapan sejenak dengan raut wajah yang berbeda tentunya.


"racun yang aku miliki seharusnya dapat membunuhmu dengan mudahnya. Tapi... Kenapa?" ungkap perempuan superhuman itu dengan bingung.


"aku akui racunmu benar-benar mematikan sampai aku harus mengeluarkan kekuatanku. Namun, seperti yang dapat kau duga itu belumlah cukup" jawab X-mart sedikit menjawab kelinglungan lawannya.


Perempuan itu semakin meraung kesakitan dengan sejadi-jadinya seperti X-mart ingin mematahkan tulang penghubung tubuh dan kepala miliknya. "mungkin kau akan aku murnikan", kata X-mart sedikit ambigu.


"aaaaagghhhhhh..."


Sebuah teriakan dengan sangat kerasnya bak seperti orang kesetanan keluar dari mulut perempuan itu ketika X-mart mengalirkan energi miliknya kedalam tubuh lawannya. Asap hitam pekat yang mengepul keluar dari tubuh tersebut di bagian mata, mulut, hidung, telinga bahkan sampai ke lubang pori-pori sekalipun!


Teriakan yang memekikan telinga tersebut berlangsung sekitar lebih dari sepuluh menit sebelum akhirnya selesai dengan sang perempuan superhuman jatuh terkulai lemas tak berdaya dengan mulut ternganga lebar—asap hitam pekat masih mengepul keluar dari mata, telinga, hidung, dan mulut. Tak lama kemudian...


Tubuh perempuan tersebut hancur terurai menjadi asap hitam yang sangat pekat.