
"benda-benda itu muncul ketika orang-orang berbusana hitam itu berkumpul. Apa mungkin itu sebuah kamuflase dan atau mungkin mimikri?" laki-laki bushmen itu berkata dengan sangat pelan hampir seperti bisikan.
Sekilas, sekumpulan orang berpakaian hitam itu terlihat sedang bercakap-cakap. "kalian tahu, waktu di hong kong aku bertemu dengan beberapa makhluk yang cukup kuat" salah seorang dari mereka membuka percakapan.
"oh ya, seperti apakah mereka itu?" salah satu dari mereka yang lain bertanya.
"yang kuingat salah satu dari mereka memakai roverboard sekaligus mengalahkan anggota LTU perempuan pengguna racun" ucap orang itu yang membuat orang-orang berpakaian hitam disitu langsung terkaget.
"hei bung, kau tidak sedang bercanda kan?"
"tidak, mana mungkin aku bercanda!"
"perempuan pengguna racun yang kau maksud itu adalah salah satu yang terhebat di LTU. Seorang homo deus berjenis Vault yang didalam tubuh makhluk feminim itu terdapat sesosok makhluk ganas berkekuatan pengendalian racun."
Dihadapan mereka, terdapat sebuah benda mirip seperti lift yang tertancap ditanah. "pintu penghubung sudah siap, ayo segera kembali ke markas!" salah satu dari mereka berseru mengintrupsi untuk segera masuk ke pintu penghubung yang bercahaya tersebut. Dimulai dari pesawat tempur dan kendaraan pertempuran lainnya yang masuk ke pintu penghubung itu terlebih daulu.
Setelah itu, giliran para makhluk anthropoid fana yang memasukinya. "begitu rupanya, benda yg mirip lift yang bercahaya itu ternyata adalah penghubung ketempat persembunyian mereka yang ada di bawah tanah. Tunggu sebentar, apa mungkin markas mereka ada di dalam perut dunia berbentuk bola ini yang bentuknya tertekan pipih di sepanjang sumbu dari kutub ke kutub sehingga terdapat tonjolan di sekitar khatulistiwa?"
Laki-laki bushmen itu mengutarakan pemikirannya.
Ketika ingin pergi dari tempat itu, dengan sialnya dia malah terjatuh tersandung batang pohon besar yang mengakibatkan semak-semak disitu menjadi bergoyang begitu mencolok.
"siapa disana?!" salah seorang LTU berseru keras sambil membawa senjata api.
"oh tidak aku harus cepat pergi dari sini sebelum ketahuan."
Ketika anggota LTU itu mendekat kearah sumber suara, sebuah suara lain dari arah yang lain pula terdengar. Ternyata suara lain itu adalah....
Hewan liar yang sedang berburu mangsa!
"sudahlah itu hanya sekelompok hyena yang sedang berburu."
Akhirnya orang-orang berpakaian hitam itu masuk ke lift penghubung yang setelahnya tenggelam kedalam tanah seusai semua makhluk LTU itu masuk.
"tidak kusangka apa yang kulihat tadi" bushmen itu terhenyak dengan semua apa yang dia saksikan.
Sosok itu, begitu tinggi sekitar dua ratus sentimeter lebih. Sosok yang merupakan laki-laki itu memakai pakaian futuristik ketat layaknya armor dengan warna seperti api yang berkobar. Dirinya tengah berada di sebuah tempat luas yang dipenuhi oleh pohon yang aneh dimana pohon itu jika digores, maka akan keluar cairan berwarna merah; warna yang sama seperti warna darah makhluk fana seperti manusia.
Laki-laki itu tidak sendirian. Dibelakangnya, ada sosok lain dengan posisi berlutut tak dapat bergerak dikarenakan dirinya diikat dengan sebuah pengikat yang terbuat dari api.
"semenjak kematian laki-laki itu, kau berjanji akan memberikan kunci itu padaku" laki-laki besar bermata api di bagian kanan matanya itu membuka percakapan.
"dan sekarang, aku ingin kau memberikannya padaku" lanjut laki-laki besar itu.
"apakah kau berpikir aku akan memberikannya kepada makhluk sepertimu? Seorang makhluk yang bahkan menghasut sosok yang masih kau anggap teman untuk bertemu dengan makhluk yang bertempat tinggal di tempat lebih tinggi!" sosok yang terikat tersebut membalas perkataan laki-laki besar itu dengan intonasi tinggi.
"arsyad masih menjaga ikatan pertemanan kami berempat bahkan dialah yang paling berkomitmen soal hal itu. Pertemanan antara aku, arsyad, alfred, dan anthony tetap terjaga meski kami sekarang telah mengambil pilihan kami masing-masing."
"karena komitmen yang dimiliki arsyad itulah, kau memanfaatkannya untuk berkomunikasi dengan makhluk dari dimensi lain dengan bayaran nyawanya sendiri. APAKAH KAU TIDAK MERASA BERSALAH AKAN HAL ITU?!" sosok yang masih terikat tali api itu berteriak dengan keras diakhir perkataannya.
Benda pengikat api itu menyala terang, membuat sosok yang terikat itu meringis kesakitan karena panasnya yang meningkat.
"aku, Arnold Schreufeuer. Makhluk yang lahir dari dua jenis makhluk yang berbeda; spesies volans dari ras animathropeian, dan satu dari sekian banyaknya makhluk penghuni lapisan yang lebih tinggi, yaitu combustor." sosok berbadan tinggi itu memperkenalkan dirinya.
"bukankah impian para Agarthians adalah membersihkan makhluk-makhluk yang ada dipermukaan avernia, dan membuat dunia bola yang tidak rata ini menjadi peradaban yang begitu maju baik di permukaan maupun didalam perut dunianya!" arnold schreufeuer mengangkat kedua tangannya keatas seperti ingin menggenggam cakrawala.
"tujuan kita berdua sama. Kita sama-sama ingin mereka yang tinggal dipermukaan avernia merasakan bagaimana rasanya ditempatkan di dalam bola dunia dan diabaikan begitu saja seolah-olah tidak pernah ada" arnold mengepalkan telapak tangan kanannya dengan kuat hingga mengeluarkan api dan asap.
"kau tahu kan. Dulu para penghuni agartha, yang sekarang mendiami bagian dalam dari perut avernia dahulu kala adalah penghuni awal dunia berbentuk bulat ini. Para elf, orc, dan goblin hidup rukun bersama-sejahtera tanpa adanya kendala yang berarti dan itu berlangsung selama jutaan tahun."
"tapi, semua itu berubah ketika para homo(manusia) itu muncul puluhan ribu tahun yang lalu dan menyingkirkan penghuni sebelumnya dengan keangkuhan mereka!" arnold mengakhiri penjelasannya.
Sosok yang terikat tersebut menjelaskan sesuatu hal dengan panjang lebar.
"tak kusangka pemikiranmu begitu sempit, Mactavish!" ucap arnold kepada sosok yang terikat itu yang ternyata bernama mactavish.
"kau pikir berapa banyak para makhluk-makhluk maha kuat diluar avernia di seluruh royan ini?"
"mereka, para veil. Makhluk yang memiliki keilahian yang tinggi dan mahsyur. Begitu hebat mereka itu sampai-sampai makhluk fana seperti kita bahkan bersujud serta menyembah mereka dengan berbagai macam cara."
"lantas, apakah keinginan dirimu setelah mengetahui sosok-sosok superior tersebut?" mactavish bertanya kepada arnold.
"para makhluk fana berkekuatan khusus seperti homo deus diciptakan oleh mereka para veil di masa lalu yang jauh" arnold menatap hamparan langit yang menaungi avernia.
"kalau mereka bisa membuat makhluk yang dulunya tak berdaya menjadi kuat; maka makhluk tak berdaya tersebut...
Pasti bisa seperti mereka, para veil!" arnold mengakhiri ucapannya disertai dengan kobaran api yang begitu panas keluar dari raganya.
"jadi ini ya, yang namanya tanah bharata." kata seseorang yang memiliki rambut jingga.
"begitulah. Daerah yang dimana orang-orangnya menganggap sapi sebagai makhluk yang begitu suci" kata seseorang lagi, dia berambut coklat. Ditempat itu, bunyi klakson kendaraan bersahut-sahutan disepanjang jalan yang bisa dilalui. "wahh ternyata disini banyak sekali makanan yang dijual di jalanan" sosok dengan rambut jingga itu berkata ketika melihat begitu banyaknya makanan kuliner yang dijual di sepanjang jalan raya.
"hei kita disini bukan untuk mencicipi makanan, x-mart!" kata orang berambut coklat itu kepada sosok yang berambut jingga yang dipanggil x-mart. X-mart terlihat memakan banyak makanan yang dijual di sepanjang jalan dengan lahap.
"aku tahu. Aku akan memakan yang ini dulu kelihatannya begitu lezat" ketika hendak mencicipi makanan tersebut, dari arah lain seseorang tiba-tiba saja datang.
"tuan, aku ingin membeli makanan." kata orang itu sambil menyodorkan kertas pembayaran.
Pedagang kuliner itu menatap sosok yang baru datang itu sejenak, lalu penjual makanan kuliner tersebut pun berucap "kau! Bukankah kau ini homo deus?"
"ya, memang ada apa?"
"pergi dari sini! Homo deus sepertimu pasti bersekongkol dengan peneror LTU itu" pedagang kuliner itu melayangkan tuduhan kepadanya.
"apa? Jangan asal menuduh, wahai sesama penghuni tanah bharata."
"tak usah mengelak aku tahu kau itu sama seperti homo deus lainnya yang melakukan tindak kekerasan, pemerkosaan, pengrusakan, menghajar dan menghabisi para pejalan kaki, perampokan, penyanderaan dan bentuk kejahatan lainnya."
"itu semua tidaklah benar! Aku bukanlah makhluk seperti itu dan lagi asal kau tahu saja tuan pedagang bahwa tidak semua homo deus itu seperti yang dirimu sebutkan tadi."
Terjadi adu argumen yang sengit diantara dua orang itu sementara x-mart menyimak dengan seksama.
"kau dan kawan-kawan homo deus mu itu telah banyak melakukan hal yang menyimpang. Kenapa homo deus seperti kalian bisa ada didunia?! Harusnya yang ada hanyalah homo sapiens" kata pedagang itu.
"engkau sepertinya tidak melihat jauh kebelakang. Dalam sejarah, para homo sapiens lah yang berlaku tidak pantas kepada homo deus. Padahal kita semua masih sama-sama homo(manusia) masih satu ras yang sama" manusia homo deus itu menjelaskan.
"seharusnya, tidak ada perbedaan antara dua jenis homo. Akan tetapi, para homo sapiens yang diselimuti perasaan iri, benci, dan juga dengki hanya karena homo deus mempunyai kemampuan super sedangkan homo sapiens tidak" orang itu melanjutkan.
"akibatnya seperti yang kita semua tahu. Para homo deus dipisahkan, dikucilkan, dibasmi, dihabisi, diburu, didiskrimansi dan lain sebagainya. Bukan hanya itu saja, pemerintah avernia juga berniat melakukan genosida guna supaya homo deus punah dari dunia yang bulat ini!" orang itu berkata sampai wajahnya merah dan nafasnya seperti habis melakukan olahraga lari.
Pedagang itu terlihat tidak berkata apapun.
"dan yang ironisnya lagi, kami bahkan dituduh sebagai LTU dan pengikut-pengikutnya padahal kami homo deus juga melawan dan membasmi LTU."
"kau... seharusnya dirimu tidak ada disini! HEI PETUGAS KEAMANAN, LIHATLAH DISINI ADA HOMO DEUS SEGERA TANGKAP DIA!"
Pedagang itu berteriak memanggil petugas keamanan dan tak butuh waktu lama, para petugas keamanan yang dilengkapi berbagai teknologi canggih seperti contohnya, tas ransel bermesin jet. Langsung tiba di tempat ketiga makhluk itu.
"hei kau, segera menyerahlah!" mereka bertiga terkepung oleh petugas keamanan.
"sialan, aku harus pergi ke tempat lain." homo deus itu berkata mengumpat.