Avernia

Avernia
Chapter31



Ilmuwan yang bekerja di avernia memang hebat seperti dugaan yang seharusnya." kata x-mart.


"apa kau bilang tadi? Ilmuwan?" ucap seorang homo deus.


"aku tidak menyangka bahwa orang seperti dia adalah seorang ilmuwan" ucap yang lain.


"sayangnya kenyataan menampar perkiraan kalian yang dangkal" kata x-mart dengan sarkas.


"jadi apa langkah kita semua selanjutnya?"


"aku sudah membuat perangkat yang mampu menunjukkan kemanakah kita selanjutnya. Maka dari itu aku mengambil benda buatan LTU." benjamin menjelaskan.


Benjamin mengeluarkan perangkat yang dia maksud. Perangkat buatannya itu berbentuk seperti jam tangan yang menempel pada benda buatan LTU yang ternyata adalah robot android yang ditenagai oleh Artificial Intelligence atau AI. Perangkat buatan benjamin melakukan proses hingga akhirnya selesai dan ternyata...


"tunggu, apa. Aku tak menyangka hal ini"


"ini seperti tidak nyata. Mana ada hal seperti ini."


"bukannya ini hanya dongeng saja?"


"memang dongeng tapi banyak yang berkata kalau itu benar-benar nyata."


"tapi kalau memang benar lantas kenapa pihak pemerintah avernia menyembunyikannya selama ini?"


"jawabannya hanya ada satu, yaitu kita pergi ke tempat ini dan membuktikannya sendiri."


Berbagai macam pernyataan muncul setelah hasil dari analisis perangkat milik benjamin keluar yang sangat mengejutkan mereka semua. Pasalnya, mereka mendapatkan hasil yang tidak mereka duga sama sekali. Siapa yang mengira kalau sesuatu yang selama ini dianggap hanyalah omong kosong belaka ternyata keberadaannya benar-benar ada. Dan itu adalah...


"agartha!" ucap benjamin.


Indahnya kosmos yang bertabur bintang, planet, asteroid, komet, galaksi, nebula, quasar, awan kosmik, dan banyak lagi benda-benda yang tak mampu dideskripsikan. Diantara objek-objek kosmos ada sebuah pesawat yang terbang diantara semua itu. Pesawat bertipe penjelajah itu ditumpangi oleh dua makhluk hidup yang berbeda ras dan juga spesies.


Mereka berdua tampak begitu menikmati waktu mereka dalam beraktifitas di sebuah kamar dalam sebuah adegan seksual yang begitu menggairahkan. Pesawat yang mereka tumpangi nyatanya bisa bergerak dengan sendirinya melalui teknologi kecerdasan buatan yang begitu canggih sehingga mereka tak perlu khawatir jika tak mengemudikannya.


"ke mana kita akan pergi dewi selene?" sosok laki-laki berambut pirang itu bertanya kepada perempuan berambut sewarna dengan bulan purnama yang sedang berada diatas dirinya.


Perempuan yang bernama selene itu merendahkan kepalanya dan mencium laki-laki dibawahnya dengan begitu mesra. Mereka melanjutkan aktifitas yang tampaknya menyenangkan tersebut hingga perempuan yang ternyata seorang titan sekaligus dewi itu bersuara. "sang raja universal yang menguasai suatu universum. Memiliki kehendak bebas atas universum tersebut entah itu waktu maupun ruang."


Laki-laki yang berparas sangat bagus itu sedang mencerna kata-kata yang dikeluarkan oleh veil yang begitu mencintai dirinya.


"dengan kata lain kita berdua akan ke tempat penguasa universal itu?" laki-laki itu menebak.


"seperti yang diharapkan dari kecerdasanmu yang tinggi itu, endymion ku tersayang."


"tetapi mengapa harus kesana? Dan lagipula memangnya ada ya yang namanya penguasa universal?"


"ya, itu memang ada. Makhluk yang memiliki otoritas atas suatu universum 3D dan segala hal yang ada didalam ruang lingkupnya."


"entitas ini adalah seorang veil yang pada awalnya adalah makhluk fana."


"makhluk fana bisa menjadi veil?"


"ya, apakah kamu baru mengetahui hal seperti ini?"


"bagaimana caranya? Apakah melalui suatu seleksi seperti sebuah turnamen dan semacamnya?"


"kurang lebih seperti itu. Mekanismenya adalah barangsiapa yang mampu menaklukan atau dipilih secara langsung oleh Jayabaya's Crown, maka dialah yang akan menjadi penguasa universal."


"Jayabaya's Crown? Apa itu?"


"apakah kamu tahu apa itu Grand Device?"


"tentu. Grand Device adalah sebuah benda/perangkat yang bersemayam dalam diri seorang makhluk fana. Grand device ini bisa berupa benda fisik ataupun sesuatu hal yang abstrak."


"ohh ya aku baru ingat kalau sangat sedikit bahkan sangat langka ada makhluk fana yang mempunyai grand device. Perbandingannya kalau dianalogikakan sama dengan satu berbanding seratus miliar." endymion menjelaskan.


Selene mengiyakan penjelasannya, lalu berkata "yang terpenting adalah grand device ini mampu membuat pemiliknya memiliki kekuatan yang begitu menakjubkan salah satunya, jayabaya's crown yang kusebutkan tadi. Grand device yang mampu membuatmu menjadi sosok penguasa universal yang diberi nama...


chakravartin."


"aku begitu senang kalian dengan senang hati mau datang ke tempat yang begitu sederhana ini" ucap seseorang yang wajahnya terdapat tato bergambar mesin pemotong yang bergerigi. Didepan orang itu sudah ada banyak sekali orang lainnya yang jika dilihat seperti sedang menunggu atau tidak sabar akan suatu hal. Tampak juga dua orang berbeda jenis kelamin ikut bergabung dalam kerumunan orang-orang aborigin.


"mungkin dia itu grinder, veila." kata ishkur kepada veila.


"kira-kira apa yang akan dia lakukan?"


"menurutmu apa?"


"entahlah. Mungkin sebuah keajaiban".


"tepat sekali! Pak tua itu akan membuat sebuah keajaiban" seseorang dari suku aborigin tiba-tiba saja berbicara dihadapan mereka berdua. Dia adalah perempuan.


"keajaiban apa yang akan dibuatnya?" ishkur bertanya penasaran.


"umm kau akan tahu nanti" jawab perempuan aborigin tersebut.


"langit yang begitu luas yang menaungi avernia. Walau tidak seluas kosmos, namun dapat membuat orang-orang avernia mampu memahami bahwasanya dunia ini bukanlah hanya avernia saja" Grinder mengucapkan sebuah kalimat yang panjang.


"apakah dia membaca mantra?" tanya Ishkur.


"aku tidak tahu tetapi aku setuju pada bagian akhir yang dia ucapkan itu" Veila menanggapi Ishkur.


"aku sependapat denganmu" Ishkur berkata.


"tampaknya kau bukan dari avernia" perempuan aborigin tadi berkata pada Veila.


"bagaimana kau tahu?" veila terkejut mendengarnya.


"penampilan fisikmu berbeda dengan makhluk hidup yang tinggal di avernia" jawab perempuan aborigin itu.


Tampak grinder menyatukan kedua telapak tangannya dan yang membuat terkejut adalah kedua telapak tangan tersebut mengeluarkan cahaya. Hadirin yang menyaksikan memandang dengan takjub, tak terkecuali veila dan ishkur. Mereka berdua tampak kagum dengan kejadian yang jarang disaksikan oleh orang awam.


"astaga, ini di mana?"


"ini bukannya ruang angkasa?"


"jadi ini yang namanya ruang angkasa?"


"ya begitulah"


"tunggu, kau tak tahu apa itu ruang angkasa?"


"hehehe sebenarnya aku sudah beberapa kali dibawa kesini cuma aku tak tahu apa namanya"


"ini adalah ruang angkasa. Sebuah tempat setelah melewati atmosfer avernia disitulah kau bisa melihat hal-hal menakjubkan mulai dari bintang-bintang, galaksi-galaksi, planet-planet, supercluster, black hole, dan keajaiban kosmos lainnya." grinder menjelaskan.


Kedua tangan grinder berayun-ayun layaknya pemandu pertunjukan orkestra para hadirin yang menyaksikan berdecak kagum melihat benda-benda kosmos dibuat menari-nari oleh grinder—seolah-olah benda-benda itu adalah mainannya. Ishkur serta veila cukup terkejut melihat aksi yang dilakukan oleh pria tua bangka seperti grinder.


"hey ishkur bagaimana cara dia melakukannya?" tanya veila kepada ishkur.


"entahlah aku juga tak tahu. Nanti kita tanyakan itu nanti" jawab ishkur.


Banyak kejadian berskala kosmik yang terjadi, mulai dari tabrakan antar planet, bintang yang meledak, galaksi-galaksi yang saling bertubrukan, ledakan sinar gamma, lubang hitam yang menghisap apapun yang ada disekitarnya hingga fenomena lubang cacing yang membuat veila terperanjat.


"ini..."


"tak salah lagi"


"apa? Apa yang terjadi?"


"ini adalah fase akhir alam semesta yang ditandai dengan bintang-bintang dan galaksi-galaksi saling menjauh dan tak dapat diamati satu sama lain"


"benarkah? Wow itu keren!"


"keren apanya? Itu artinya semua yang ada, termasuk dirimu akan musnah."


"tampaknya orang itu punya pengetahuan tentang kosmos yang cukup luas"


"aku benci mengatakan ini tapi aku setuju denganmu veila"


"ini adalah fase terakhir dari alam semesta yang kita semua tempati. Segeralah bertaubat kepada para veil agar kesalahan-kesalahan yang kita buat perbuat dapat diampuni" ucapan itu terucap dari mulut grinder ketika dia menunjukan fase akhir dari suatu alam semesta yang membuat yang menyaksikannya begitu ketakutan.