
"kau tahu veila, tidak lengkap rasanya jika kita hanya melihat-lihat saja" ucap laki-laki itu, dia mengajak veila(perempuan kulit putih kebiruan itu) untuk ikut bergabung dengan orang-orang aborigin. Mereka berdua ikut serta dalam kebudayaan aborigin seperti, melukis di batu, melakukan upacara pemakaman, memainkan alat musik mereka yang khas, hingga menari bersama orang-orang aborigin yang diiringi sebuah musik. Semua mereka lakukan hingga lupa waktu.
"ini sungguh menyenangkan. Mengingatkanku pada kebersamaan dengan rakyatku dulu" veila berkata dengan begitu pelan ada perasaan sendu dan juga rindu tercampur didalam benaknya.
"hei kau mengatakan sesuatu?" ishkur rupanya mendengar ucapan veila.
"tidak, tidak ada." veila mengelak.
"sayangnya, orang-orang aborigin ini tersisihkan di tempat mereka sendiri" mendadak, veila terkejut dengan ucapan ishkur.
"apa maksudmu?"
Malam yang gelap tapi tak segelap kegelapan asli karena pengaruh bintang-bintang. Veila dan ishkur duduk bersebelahan dengan api unggun berukuran cukup besar terpampang di hadapan dan menemani. Padang pasir sejauh mata memandang disertai batu-batu berukuran besar menjulang tinggi. Tanah milik orang aborigin memiliki dua iklim cuaca, tropis diatas dan subtropis dibawah.
"kau tahukan saat kita tiba ditempat ini banyak orang non aborigin berkulit putih yang menyapa kita."
"ya, lalu apa hubungannya?"
"nah, asal kau tahu kalau mereka itu pendatang dari tempat lain."
"pendatang dari tempat lain?"
"benar, dan yang lebih menyedihkannya lagi, mereka merebut daerah yang luasnya 14.692.024 km² ini dari orang aborigin dan melabeli mereka sebagai makhluk rendahan." veila menjadi terkejut ketika mendengar hal tersebut.
"kau terkejut? Itu wajar bagi yang baru mengetahuinya. Aku pun sama ketika tahu kebenarannya. Dulu sekali, ada seorang penjelajah samudra dari distrik A melakukan penjelajahan demi mencari daerah yang belum diketahui keberadaannya. Hari demi hari, waktu demi waktu ia habiskan untuk mewujudkan tujuannya. Hingga akhirnya, dirinya menemukan daratan yang luas ini tempat para orang aborigin tinggal."
Gemuruh suara milik orang-orang aborigin memenuhi setiap sudut padang pasir disekitarnya. Semua orang bersenang-senang pada saat malam hari bersuka cita pada pada seluruh alam.
"si penjelajah kembali ke tempat asalnya dan memberi tahu apa yang telah dia temukan ke pada orang banyak. Tak butuh waktu lama, orang-orang dari distrik A datang ke daratan yang luas ini demi melihat sendiri hamparan tanah nan luas dan juga indah."
"lalu, apa hubungannya dengan orang-orang aborigin?"
Ishkur diam untuk sementara waktu. Dia menerawang jauh.
"itulah yang kumaksud tadi. Orang-orang dari distrik A merebut tanah ini! Merampasnya dari orang-orang aborigin, mendiskriminasi mereka semua, memperbudak mereka, dijadikan sebagai barang dagangan, dan yang lebih parahnya lagi mereka mengklaim tanah ini sebagai kepunyaan mereka."
Ekspresi kesal dan muak terpampang jelas saat lelaki itu mengatakan hal tersebut bisa dilihat kekuatan petirnya yang bereaksi. Veila terkejut mendengarnya.
"itu kejam sekali! Apa yang menjadi penyebab mereka berbuat keji seperti itu kepada sesama homo?"
"sepertinya itu hal yang biasa terjadi pada makhluk fana, tuan putri veila. Menurut catatan-catatan yang aku baca kalau makhluk fana selain homo seperti animathropeian, juga melakukan penjajahan dan perbudakan terhadap spesies animathropeian lainnya."
Veila terlihat bingung dengan apa yang dia dengar. Sebelum...
"aku pernah membaca dokumen dan skrip di duniaku bahwa spesies clavans melakukan penjajahan dan perbudakan kepada ras lainnya. Disitu juga tertulis mengenai ras elf, orc, dan goblin." veila menerangkan.
"mungkin itu adalah sebuah alasan tidak langsung mengapa clavans hancur karena peperangan" ucap ishkur yang membuat veila bersedih hati.
Para orang-orang aborigin terlihat berbondong-bondong pergi ke suatu tempat.
"mau kemana mereka?"
"entahlah aku juga bingung."
"ke mana?"
" ke tempat grinder."
"grinder? Siapa dia?"
"dia adalah seorang yang sangat hebat dari orang-orang aborigin. Dia layaknya seorang raja bagi kami, kemampuannya layaknya para veil, seorang thavmician yang dihormati bukan hanya oleh para homo tetapi juga oleh para makhluk fana lainnya." ucap seorang perempuan aborigin.
"aku baru tahu ada seorang thavmician disini" ucap veila.
"thavmician?" ishkur bertanya.
"kau tidak tahu soal itu?"
Ishkur menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"biar aku yang bantu menjawab. Thavmician adalah entitas makhluk yang mampu menggunakan dan mengendalikan keajaiban atau biasa disebut sebagai thavmic. Ini adalah suatu disiplin ilmu dengan tujuan awal untuk makhluk yang tidak punya keahlian atau kemampuan apapun sejak lahir."
"aku tidak setuju untuk kalimat terakhir. Menurutku, semua makhluk itu mempunyai keahlian sejak mereka lahir bahkan jika seseorang menjadi thavmician sekalipun bukankah itu juga sama saja kalau bakatnya memang dalam bidang ilmu thavmic?" ishkur menanggapi.
"aku sependapat denganmu bagiku thavmic bukanlah pelarian bagi mereka yang tidak mempunyai keahlian ataupun bakat" veila menyetujui argumen milik ishkur.
"baiklah aku hargai pendapat kalian tetapi lebih dari itu apakah kalian mau ikut?" wanita itu bertanya kembali.
Mereka berdua saling tatap sesaat sebelum akhirnya berkata "baiklah kami akan ikut."
"kau tahu sayangku cinta milikku ini hanyalah untukmu" sebuah suara feminim nan halus namum tegas terdengar di bagian dalam sebuah pesawat penjelajah yang begitu canggih. Pelakunya adalah seorang perempuan yang sedang duduk disebuah kursi singgasana didalam sebuah ruangan yang cukup luas. Didepan perempuan itu terdapat seorang laki-laki sedang duduk sambil fokus pada sebuah pemandangan yang ada didepannya.
Laki-laki itu adalah pengendali dari pesawat yang sedang mereka berdua tumpangi.
Perempuan dengan rupa tidak masuk diakal itu beranjak dari tempatnya dengan cara melayang sambil tertawa halus. Dirinya mendekati laki-laki yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya semula setelah sampai dirinya membisikkan sesuatu ditelinga laki-laki tersebut. Bisikkan yang mampu membuat makhluk maskulinitas itu memasang wajah kaget, nafasnya tersengal-sengal seperti kekuran oksigen, alat pemompa darah miliknya terpacu dengan cepat, cairan peluh seketika membanjiri tubuhnya, suhu tubuhnya jika dirasakan bercampur panas dan dingin; dingin yang mendekati nol mutlat dan panas yang mendekati inti sebuah dunia.
"dalam keadaan ini kau bisa dibilang sudah mati, kekasihku tersayang. Jantung dan otak milikmu sudah tidak berfungsi lagi karena akibat dari kata-kataku barusan. Kau mati karena tak sanggup mendengarkan kata-kataku yang penuh cinta kepadamu" perempuan itu memcium bibir laki-laki yang keadaannya telah pucat disekujur tubuhnya.
"tapi jangan khawatir aku bisa membangkitkanmu lagi."
Mata dari perempuan itu menyala dengan terang kemudian pancaran cahaya seperti tembakan sinar laser terjadi dan mengarah kepada laki-laki berambut pirang tersebut.
"uuhh apa yang terjadi padaku barusan."
"sepertinya keabadian yang kuberikan kepadamu waktu itu telah lenyap."
"hah? Kau dewi selene apa yang kau barusan lakukan kepadaku."
"sssttt tenanglah cintaku aku akan terus menjadi penjaga dan pendamping melebihi yang namanya 'istri' untukmu."
Dewi selene, begitulah dia dipanggil memberikan ciuman dibibir yang begitu mesra kepada laki-laki pirang kesayangannya yang membuat lelaki itu terlena akan pesona sang dewi dan jatuh kedalam pelukannya.
"ayo kita masuk ke kamar" selene membisik untuk sekali lagi setelah acara ciuman mereka selesai selama lima menit.