Aqila Family

Aqila Family
Chapter 9



Lee Joon termenung seakan pikirannya kosong setelah mendengar pertanyaan dari kakeknya, banyak hal yang ia pikirkan.


“Apa kau tidak akan mengabulkan permintaan kakek mu ini?” tanya kakeknya untuk yang kedua kalinya.


Mendengar perkataan kakeknya yang kedua kali, Lee Joon sadar dari lamunannya.


“A ... aku minta maaf, sesaat aku memikikirkan hal lain. Dan untuk permintaan mu, aku bersedia ... aku bersedia menerimanya, kakek,” ujar Lee Joon menjawab tanya kakeknya dan membuat kakeknya tersenyum haru.


“Apa ada yang tidak setuju dalam hal ini?” tanya kakeknya pada forum dalam ruangan megah itu dengan tegas.


“Tidak ada tuan besar! keinginan dan keputusan mu adalah perintah bagi kami!” jawab semua orang dengan tegas gemuruh.


Melihat jawaban yang diucapkan oleh semua anggota keluarga, kakek Lee Joon yaitu Abdul Muthalib telah resmi menyerahkan jabatan dan mahkotanya sebagai raja dari segala raja dunia bawah pada cucu satu-satunya, yaitu tuan muda Lee Joon.


“Baiklah, dengan ini saya akan mengetuk palunya pertanda bahwa sah dan resminya Aqila Family memiliki pemimpin baru yaitu cucu dari tuan besar Abdul Muthalib, tuan muda Lee Joon Muthalib,” ucap pak Kim sembari akan mengetuk palu pertanda sah dan resminya Lee Joon menjadi pemimpin baru Aqila Family.


“Tok! tok! tok!” suara palu yang diketuk oleh pak kim bergema dalam ruangan megah itu.


Semua orang berdiri dan memberikan tepuk tangan dengan meriah dan menteriakkan nama tuan muda Lee Joon. Sementara pak Lim, ibu Kang, Lisa ikut bertepuk tangan dari meja mereka, terutama pak Lim yang sempat meneteskan air matanya karena terharu dengan apa yang disaksikannya.


Dua jam kemudian. Disebuah ruangan VVIP hotel tempat Lee Joon menerima tahtanya tadi. Semuanya berkumpul disana, kakek Lee Joon, pak Kim, Miss Viola, ibu Kang, pak Lim, Lisa, dan orang yang menjadi pemimpin kelompok mafia terbesar di Asia dengan pengaruh yang mendunia, yaitu Lee Joon. M.


“Aku ingat kalian berdua, kalian adalah kedua tangan menantuku bukan, Lee Jae Hoon,” ucap kakek Lee Joon bicara pada pak Lim dan ibu Kang.


“Benar tuan besar, kami adalah tangan kanan dan tangan kirinya bos. Maafkan kami karena tidak mengenali anda sebelumnya,” jawab pak Lim sopan.


“Tapi saya tak menyangka, tuan besar serasa orang korea sungguhan, karena bahasa korea tuan besar begitu lancar bahkan sejak saat kita pertama kali bertemu,” sambung ibu Kang ramah.


“Haha ... kalian tahu itu karena menantuku Lee Jae Hoon, jika menantuku bukan orang korea untuk apa aku belajar bahasa Korea,” ujar kakek Lee Joon.


Kakek Lee Joon melihat Lee Joon yang masih diam seperti memikirkan sesuatu, dan beliau tahu bahwa cucunya itu sedang banyak pikiran dan pertanyaan kepada dirinya, kakek Lee Joon pun mulai membuka hal yang selama ini masih menjadi pertanyaan dalam benak Lee Joon.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya kakek Lee Joon pada Lee Joon.


“Entahlah ... aku merasa senang untuk beberapa alasan, tapi disisi lain aku masih merasa ambigu terhadap apa yang aku lakukan,” jawab Lee Joon tanpa melihat ke arah kakeknya.


“Aku tahu hari ini akan terjadi, jadi akan aku jelaskan semuanya pada mu-“


Kakek Lee Joon mengangkat tangannya memotong perkataan pak Kim yang sedari tadi sudah merasa bersalah dan tak enak pada Lee Joon.


“Biar aku yang menjelaskannya pada cucuku sendiri, aku yakin setelah aku menjelaskannya padamu, mungkin sisi ambigu yang kau bilang itu akan berubah menjadi sebuah tujuan,” ujar kakek Lee Joon sembari menoleh menatap Lee Joon.


Lee Joon menghela nafas panjang, ia masih berpikir keras kenapa ia harus mewarisi tahta dari orang nomor satu didunia bawah dan kegelapan,  yaitu kakeknya.


“Aku tahu aku ini adalah manusia paling hina dan penuh dosa, tapi asal kau tahu saja bahwa ayahmulah yang merubahku, makanya aku menitipkan anak kesayanganku satu-satunya, yaitu ibumu pada ayahmu. Aku menyelamatkan ayahmu dari misi yang ia kepalai sendiri, dan tujuan dari misi yang dijalankan oleh ayahmu itu adalah untuk menangkapku, tapi na’asnya, sebelum kami bertemu dan beradu pedang, ayahmu kami temukan sudah sekarat dan tak sadarkan diri. Kami pun menyiasati apa yang terjadi, dan kami menemukan fakta bahwa ayahmu telah dikhianati oleh teman dan negaranya sendiri,” ujar kakek Lee Joon dengan nada sayu menjelaskan.


Pak Kim, pak Lim, ibu Kang, Miss Viola, dan Lisa hanya diam mendengarkan penjelasan kakek tua itu pada cucunya.


“Aku tahu sedikit tentang itu, karena pak Lim sudah menceritakannya padaku,” ucap Lee Joon pada kakeknya.


“Apa kalian yakin ayahmu itu mengatakan semuanya pada kalian? ayahmu bukan orang yang seperti itu,” ujar kakeknya Lee Joon.


“Apa maksud anda tuan besar?” tanya pak Lim pada kakeknya Lee Joon.


“Bahkan tangan kanannya saja tak ia beritahu, Lee Jae Hoon adalah mantan komandan pasukan khusus Korea, aku tahu dia hanya memberitahukannya padaku dan istrinya. Musuh kalian yang sebenarnya bahkan lebih besar dan lebih kuat dari pada yang kalian bayangkan,” ujar kakek Lee Joon dengan serius.


“Apa maksud kakek? bukankah kakek bilang bahwa ayah dikhianati oleh rekan-rekan tentaranya, itu berarti pihak militer Korealah yang bertanggung jawab atas kematian ayah,” ucap Lee Joon pada kakeknya.


“Tenanglah tuan muda, biarkan tuan besar menyelesaikan penjelasannya terlebih dahulu,” saut pak Lim menyuruh Lee Joon tenang.


“Bukankah kau butuh kekuatan untuk membalas musuh ayahmu? kau pikir aku tidak mengetahuinya, alasan aku menyerahkan wewenang ku sebagai kepala keluarga pada mu adalah untuk ini, aku tahu suatu saat kau pasti akan mendatangiku untuk hal ini, karena ayahmu sudah menduga ini akan terjadi, jadi aku mempersiapkan diri dan singgasana yang akan kau duduki setelah aku, hanya itu yang bisa membantumu untuk membalas semua musuh ayahmu,” ujar kakeknya tegas.


Lee Joon terdiam, ia berpikir sejenak sebelum akhirnya menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan atau pun keberuntungan, ini merupakan takdir yang sudah tuhan dan ayahnya siapkan untuk dirinya.


“Apa itu berarti kakek menungguku selama ini?” tanya Lee Joon pada kakeknya.


“Benar, jika kau ingin tahu kenapa tidak sejak dulu aku yang menemuimu di Korea sana, jawabannya adalah negara itu sudah dipegang sepenuhnya oleh musuh ayahmu, dan mereka juga tahu keluarga kita ini adalah yang membantu ayahmu saat mereka menghianati ayahmu. Jadi, jika aku kesana dan menemuimu maka itu sama saja aku memancing peperangan dengan mereka,” jelas kakeknya panjang lebar.


“Jadi pak Kim-“


“Iya, aku mengutusnya untuk menjaga mu, walaupun Korea sudah dikuasai oleh musuh ayahmu itu, tapi kami masih punya beberapa agen didalam organisasi mereka,” ujar kakek Lee Joon.


“Jadi kakek sudah mengawasiku dari dulu, apa kakek tahu bagaimana hidupku disana? apa kakek tahu apa yang aku makan disana? apa kakek tahu?. Aku tidak menyangka akan memakan nasi dan telur setiap hari, sedangkan keluargaku adalah orang terkaya di Asia,” ucap Lee Joon sedu.


Semua orang tertunduk sayu mendengar ucapan Lee Joon yang menceritakan kehidupannya yang dulu betapa menyedihkannya dirinya.


“Aku sengaja melakukan itu untuk menjaga mu, karena jika kau hidup dengan nama keluarga kita atau kekayaan dari keluarga ini, kau akan dalam bahaya karena musuh ayahmu juga ada disekitar mu, jika mereka tahu kau adalah cucuku dan anak dari orang yang gagal mereka bunuh dulu, aku yakin kita tidak bisa bicara seperti sekarang,” ujar kakeknya dengan suara padat dan tegas pada Lee Joon.


Lee Joon diam setelah mendengar penjelasan dari kakeknya, ia mulai menerima dan paham setelah semua dengan apa yang telah kakeknya jelaskan. Lee Joon tertunduk dan memeras otak serta hatinya untuk memahami semua yang telah terjadi, dan tiba-tiba Lee Joon terjatuh ke lantai dan pingsan.


“Tuan muda?!” ucap pak Lim dan ibu Kang.


“Cepat bawa dia ke ruangan sebelah sini,” ucap pak Kim sembari menuntun mereka ke sebuah kamar.


Pak Lim menggendong Lee Joon pergi ke kamar yang ditunjuk oleh pak Kim, dan diikuti oleh ibu Kang di belakang mereka. Dan kini yang tinggal diruangan megah itu hanya kakek Lee Joon, Miss Viola, dan Lisa.


“Apa kondisinya memang seperti itu belakangan ini?” tanya kakek Lee Joon pada Lisa.


“Iya tuan besar, aku dengar dari pak Lim dan ibu Kang bahwa tuan muda baru saja mendapatkan ingatannya kembali, tapi semenjak ingatannya kembali ia lebih sering pingsan ketika menerima informasi baru,” jawab Lisa pada kakek Lee Joon.


Kakek Lee Joon terdiam sesaat memikirkan sesuatu sebelum ia menjawab pertanyaan dari Miss Viola.


“Kita biarkan saja dulu, jika ibunya ada disini pasti dia bisa menyembuhkan anaknya sendiri,” ucap kakek Lee Joon menjawab Miss Viola.


“Maaf tuan besar, saya ingin mengatakan ini sejak tadi, tapi saya takut akan mengganggu percakapan tuan besar dengan tuan muda,” saut Lisa.


“Hmm? memangnya apa yang ingin kau katakan?” tanya kakek Lee Joon pada Lisa.


“Sebenarnya nyonya ada ditempatku, dan beliau sedang dirawat oleh orang-orangku di villa itu,” ucap Lisa pada kakek Lee Joon.


“Dirawat? apa yang terjadi padanya? aku tak menyangka Lee Jae Hoon menyembunyikan istrinya dengan sangat baik, sampai-sampai aku yang ayah dari istrinya saja tak ia biarkan untuk mengetahui keberadaannya. Aku tahu kau sangat mencintai anakku Lee Jae Hoon, tapi kau sudah bertindak terlalu jauh, aku sempat mengira bahwa putri satu-satunya sudah meninggal, dan itu membuat aku sangat terpuruk, hingga orang-orangku mendapatkan informasi tentang cucuku yang masih hidup, aku langsung mengutus Kim untuk mengurusnya,” ujar kakeknya Lee Joon.


Miss Viola dan Lisa hanya diam mendengarkan tuan besar mereka bicara, Lisa merasa bersalah karena tak memberitahukannya sejak dulu pada kakeknya Lee Joon, ia pun meminta maaf kepada tuan besarnya itu.


“Sebelumnya saya mohon maaf kepada tuan besar, karena tidak memberitahukannya pada tuan besar sejak dulu, itu karena saya sangka orang-orang yang tuan besar utus untuk menyelidiki saya adalah musuh-musuh bos yang masih mencari keberadaan keluarga bos yang masih hidup” jelas Lisa pada kakek Lee Joon dan memohon maaf.


Medengar penjelasan Lisa, kakek Lee Joon faham dengan situasi Lisa saat itu, jadi wajar Lisa menganggap orang suruhannya itu adalah musuhnya.


“Aku mengerti, kau tidak usah minta maaf,” ucap kakek Lee Joon pada Lisa.


Dua hari setelah hari dimana Lee Joon menerima tahta.


Disebuah kamar mewah dihotel yang sama, nampak Lee Joon sedang diperiksa oleh seorang dokter, semua orang ada disana kecuali kakeknya sendiri.


“Bagaimana dok?” tanya pak Kim pada dokter yang memeriksa Lee Joon.


“Aku sedikit lega karena syaraf otaknya sudah mulai berfungsi dengan baik, dari hasil tes yang bapak berikan pada kami dua hari yang lalu, saya rasa saya harus memberikannya langsung kepada walinya,” ujar dokter itu pada pak Kim.


“Baiklah, kalau begitu silahkan ikuti saya, saya akan mengantar anda pada walinya,” ucap pak Kim pada dokter itu dan pergi bersama ke ruangan kakeknya Lee Joon.


Kini di kamar tempat Lee Joon terbaring hanya ada mereka berempat, pak Lim, ibu Kang, Miss Viola, dan Lisa. Mereka berempat sempat kontak mata antara satu sama lain dan saling meremehkan antara Miss Viola dan ketiga orang kepercayaan Lee Joon.


“Aku yakin kalian tidak dapat menjaga tuan muda dengan baik, jadi aku ragu dengan keselamatan tuan muda yang dijaga oleh orang-orang seperti kalian,” ejek Miss Viola pada ketiga orang kepercayaan Lee Joon.


“Apa maksudmu berbicara begitu?!” sergah Lisa menanggapi perkataan Miss Viola.


Pak Lim dan ibu Kang hanya diam menatap Miss Viola dengan serius, mereka menahan diri dan tak akan terpancing oleh omongan Miss Viola.


“Maksudku, aku ragu kalau tuan muda masih bisa hidup besok jika orang-orang didekatnya adalah orang seperti kalian, haha,” ucap Miss Viola dan pergi meninggalkan mereka bertiga.


“Hei! Apa yang kau-“


“Lisa! biarkan saja, kita tidak punya waktu untuk itu,” sentak pak Lim menghentikan Lisa yang ingin mengejar Miss Viola.


“Tapi dia-“


“Benar yang dikatakan oleh pak Lim, kita tak tahu apa tujuannya berbicara seperti itu kepada kita, apakah dia hanya ingin mengetes kita atau dia memang sedang merendahkan harga diri kita. Aku tidak mau mengakuinya, tapi tidak sepenuhnya yang dikatakannya salah, kita masih belum bisa melindungi tuan muda dengan kekuatan kita yang seperti ini, walupun tuan muda sudah menjadi kepala keluarga di organisasi kita, itu tidak menjamin kalau tuan muda bisa aman,” sergah ibu Kang dan menjelaskan pendapatnya pada pak Lim dan Lisa.


Di ruangan kakek Lee Joon.


Pak Kim dan dokter yang memeriksa Lee Joon sampai diruangan kakeknya, dan pak Kim mepersilahkan dokter itu untuk menyampaikan hasil tes pemeriksaan Lee Joon langsung pada kakeknya.


“Ini tuan, hasil tes dan pemeriksaan tuan muda yang anda berikan pada kami dua hari yang lalu,” ucap dokter itu sembari memberikan sebuah map berisikan hasil tes dan pemeriksaan tentang kondisi Lee Joon.


Kakek Lee Joon pun mengambil map itu dan membukanya, beliau mengambil kacamatanya dari dalam laci dan mulai membaca hasil tes dan pemeriksaan dari kondisi cucunya Lee Joon. Tak lama setelah itu ia selesai membacanya dan melepaskan kacamatanya.


Tiba-tiba kertas yang ada diatanganya itu menjadi dua bagian hingga beberapa bagian, itu karena kakek Lee Joon tiba-tiba merobek hasil tes dan pemeriksaan kondisi cucunya. Melihat tuan besar yang tiba-tiba merobek kertas hasil tes dan pemeriksaan itu, pak Kim pun bertanya pada beliau.


“Ada apa tuan besar?” tanya pak Kim dengan resah dan penasaran.


Belum mulut tuan besar bergerak untuk menjawab, sang dokter sudah bicara dan menjelaskannya duluan.


“Maafkan kami tuan besar, kondisi tuan muda memang terlihat baik-baik saja, tapi amnesia yang ia derita masih belum sembuh sempurna-“


“Apa maksudmu? apa tuan muda tidak bisa mengembalikan ingatannya? tapi ia pernah bilang kalau ingatannya sudah kembali dan ia sudah ingat semuanya,” sergah pak Kim memotong perkataan dokter tersebut.


“Kami juga berpikir seperti itu sebelum hasil tes keluar, namun setelah hasil tes keluar ternyata, ternyata syaraf otaknya masih lemah, makanya setiap ia menerima informasi atau masalah yang tidak sanggup ia pikirkan, syaraf otak yang lemah itu akan bereaksi dan tegang karena beban pikiran yang sedang ia pikirkan,” jelas dokter itu.


“Apa tidak ada cara untuknya agar sembuh dan bisa mengingat kembali seperti sedia kala?” tanya kakeknya lesu pada dokter.


“Aku tidak yakin, tapi masih ada yang bisa kita coba agar ingatanya kembali,” jawab dokter itu.


“Bagaimana caranya? apa kau punya seorang kenalan yang hebat?” tanya kakek Lee Joon pada dokter itu untuk yang kedua kalinya.


“Ah ... kita tidak harus sampai seperti itu tuan besar, tuan muda cukup melakukan terapi dan menikmati suasana alam yang tenaang,” jelas dokter itu menjawab pertanyan kakeknya Lee Joon.


“Jadi maksudmu, dia hanya harus melakukan terapi dan berjalan santai di alam begitu?” ucap kakek Lee Joon menegaskan kembali perkataan dokter tersebut.


“Benar tuan, karena itu akan membuat syaraf otanya rileks dan lebih santai, sedangkan terapi untuk memulihkan syaraf otaknya yang masih lemah itu,” jelas dokter itu.


“Pak Kim,” ucap kakek Lee Joon singkat.


“Baik tuan besar, saya akan mengurusnya,” ucap pak Kim sembari pergi mengantar dokter yang telah memeriksa Lee Joon tadi.


Kini hanya tinggal beliau seorang diri diruangannya, kakek Lee Joon sangat prihatin dengan kondisi cucu kesayangannya, beliau merasa geram dan panas dengan apa yang telah dilakukan oleh musuh ayahnya Lee Joon terhadap keluarganya, bahkan tak hanya Lee Jae Hoon ayahnya Lee Joon, putrinya yang tak lain adalah ibunda Lee Joon pun ikut terkena imbasnya, padahal harapan kakeknya Lee Joon hanyalah untuk bisa hidup bahagia disebuah pulau kecil bersama cucu kesanyangannya itu. Kakek Lee Joon yang geram pun mengepalkan kedua tanganya hingga menjadi sebuah tinju, beliau tak terima dengan keadaan cucunya yang sekarang, padahal beliau sangat bahagia karena bisa bertemu dengan cucu semata wayangnya, tapi tak bisa dipungkiri bahwa keadaan cucu dan  ibundanya sangat membuat hatinya mendidih.


“Dasar manusia busuk! tunggu saja kalian, takkan kubiarkan keluargaku hancur begini, Seo Dae Young!” Ucap kakek Lee Joon geram.