
Di Chapter sebelumnya ....
Seminggu kemudian ... Selasa 21 April 2025
Dirumah. Lee Joon tengah merenung dan memikirkan sesuatu yang sepertinya bisa dijadikan petunjuk dan itu tidak asing belum lama ini, Lee Joon terus bergumam sendiri di kamarnya.
"Sepertinya aku melihat sesuatu di baju gadis itu yang mirip dengannya (Park Yoona) saat aku pingsan, tapi apa ya? oh itukan!!"
Lee Joon yang teringat ada sebuah petunjuk pada baju gadis yang mirip dengan Park Yoona itu merasa pernah melihat lambang atau tulisan seperti yang ada di baju gadis itu, walaupun samar tapi itu sangat mirip bagi Lee Joon.
Lee Joon langsung membuka lemari bajunya dan mencari-cari sesuatu yang sepertinya sudah ia simpan sejak lama.
"Ah kenapa tidak ada ya, padahal aku rasa meletakkannya disini, dimana ya?"
Setelah 10 menit mencari, akhirnya Lee Joon menemukan apa yang tengah ia cari itu, dan bukan lain itu adalah map yang ia temukan tempo hari yang lalu saat si kucing hitam polos mengejar tikus dan masuk kerumahnya lalu tak sengaja menabrak lemari tua dan membuat map tua itu terjatuh dari atas lemari.
Dan benar saja, Lee Joon tahu disudut map itu adalah hal yang membuat ia merasa janggal dan menjadi beban pikiran setelah beberapa hari yang lalu ia pingsan dan secara tidak sengaja melihat ingatannya yang hilang 10 tahun yang lalu walau tidak semuanya. Lee Joon sangat penasaran dengan apa yang ada di sudut map tersebut, dan map itu bukan seperti map biasa pada umumnya, map itu lebih terlihat seperti map khusus dengan tulisan yang ada disudutnya dan kalau dibaca bunyinya akan seperti ini.
"Aqila Family!"
Rabu ... 22 April 2025.
Seperti biasa, ini adalah suasana kampus seperti suasana kampus pada umumnya. Dan di kelas jurusan sastra Indonesia terlihat Lee Joon dan Jun Hyung yang tengah mengobrol di tengah ramainya suasana kampus.
"Hei! Lee Joon, apa tidak apa-apa begini?" tanya Jun Hyung yang cemas pada Lee Joon.
"Maksudmu?" saut Lee Joon singkat.
"Kamukan baru saja keluar dari rumah sakit, yah ... walaupun kamu tidak menginap dan keluar pada hari itu juga, tapi apa sebaiknya kamu istirahat saja dirumah, soalnya kamu belum terlihat fit betul," ucap Jun Hyung pada Lee Joon.
"Aku baik-baik saja, dan jangan ganggu aku," jawaban Lee Joon dengan nuansa kutub utaranya.
"Yah ... inilah kamu, tetap dingin seperti biasa. Oh ya, pak Kim bilang di acara ospek jurusan nanti beliau juga akan ikut hadir, jadi kamu juga harus datang Lee Joon, dan yang lebih menariknya lagi, aku baru tahu kalau si Park Yoona itu ternyata junior kita, dia baru lulus SMA dan masuk ke kampus kita ini. Dan pastinya dia juga akan hadir di ospek jurusan nanti," ujar Jun Hyung pada Lee Joon.
"Berisik, aku mau ke toilet dulu," jawab Lee Joon.
Lee Joon berdiri dan meninggalkan Jun Hyung sendiri, ia pergi ke toilet sambil melamun lagi, dan hampir saja kejadian serupa terulang kembali.
Bukg!!
"Aduh! siapa yang melempar roti ini?!" ucap Lee Joon dengan kesal.
"Aku yang melemparnya, memangnya kenapa hah?" saut Park Yoona lalu mendekati Lee Joon.
"Pa-Park Yoona?! apa maksudmu? kamu tahu aku ini adalah seni-"
"Aku tidak peduli! entah senior atau dosen, tapi kalau kamu melamun terus sambil berjalan bukankah itu berbahaya, dan itupun juga berbahaya bagi orang lain juga, bagaimana kalau kita bertabrakan lagi seperti sebelumnya, bukankah itu akan merepotkan, senior Lee Joon ...," ujar Yoona yang memotong perkataan Lee Joon dan menceramahinya.
Lee Joon terdiam dan hanya menatap Park Yoona. Lain lagi halnya dengan teman Yoona, ia sangat terkejut melihat Yoona memarahi seorang pria yang mana itu adalah senior mereka sendiri, dan lagi pria itu sangat tampan. Teman Yoona pun tiba-tiba menarik Yoona pergi sambil meminta maaf.
"Ah ... jadi anda adalah senior kami, hehe ... tolong maafkan teman saya ini, dia memang agak tempramen belakangan ini, kalau begitu kami permisi dulu," ucap temannya Yoona sambil menarik lengan bajunya.
"Eh! Eh ... tunggu aku belum selesai dengannya," ucap Yoona yang juga mulai kesal terhadap Lee Joon.
"Sudahlah Yoona, apa kau gila, kita baru saja masuk ke kampus ini dan kamu mau membuat masalah," bisik temannya Yoona di telinganya.
"Bukan begitu ... hei! aku belum selesai dengan dia, tunggu du-"
"Ah maaf senior, hehe tolong maklumi ya," temannya Yoona menarik pergi Yoona.
Yoona diseret pergi oleh temannya sambil menutup mulut Yoona yang kalau tidak ditutup akan mengeluarkan kata-kata mutiaranya. Sedangkan Lee Joon, ia masih diam saja melihat Yoona yang semakin jauh dari lorong itu.
Saat Lee Joon hendak mau pergi, kakinya tak sengaja menyentuh roti yang dilemparkan oleh Yoona ke mukanya tadi, Lee Joon pun mengambil roti itu dan memakannya.
"Dasar wanita itu! bisa-bisanya dia mubazir makanan seperti ini, apa dia orang kaya?!" gumam Lee Joon dan menggigit besar roti yang dilemparkan oleh Yoona tadi.
Pukul 15.35 sore Jam pulang ....
Park Yoona dan temannya yang bernama So Min nampak baru saja keluar dari gerbang kampusnya. dan So Min sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Yoona tadi.
"Apa kamu gila ya, Yoona?! padahal kita baru saja lulus SMA, itupun beruntung karena kepala sekolah SMA kita mau memaafkan mu," ucap So Min pada Yoona.
"Kenapa kamu jadi mengungkit masa lalu itu So Min?" jawab Yoona.
"Kamukan tahu sendiri, saat SMA kamu sangat suka berkelahi, dan itupun 3 kali dalam seminggu, padahalkan kamu perempuan yang cukup cantik, pantas saja kamu tidak memiliki pasangan sampai sekarang," ejek So Min terhadap Yoona.
"So Min, aku rasa semangat berkelahiku belum padam sepenuhnya, apa kau mau mencobanya?" jawab Yoona yang kesal dengan perkataan temannya itu.
"Maafkan aku, hehe. Tapi tadi aku sangat terkejut karena kau berani memarahi pria yang tadi, senior kita," ucap So Min.
"Maksudmu Lee Joon?" jawab Yoona sambil menaikkan alisnya.
"Kamu kenal? kok bisa? bahkan kamu tahu namanya, apakah kalian sudah pernah bertemu sebelumnya? jawab aku Yoona," ucap So Min yang semakin penasaran tentang hubungan Yoona dan Lee Joon.
"Satu-satu dong kalau bertanya, aku beberapa hari yang lalu tak sengaja menabraknya di lorong itu, sama seperti tadi, dia juga sedang melamun sesaat sebelum kami bertabrakan," ujar Yoona menceritakan awal mula ia mengenal dan bertemu Lee Joon secara tak sengaja.
"Apa dia tipe pria yang suka melamun?" sambung So Min.
"Entahlah, tapi saat itu tatapannya saat melihatku seperti terkejut dan syok, seolah-olah aku ini adalah arwah gentayangan saja, lalu dia tiba-tiba ia memegang kepalanya karena kesakitan," jelas Yoona.
"Kesakitan? jangan-jangan kamu-"
"Bukan seperti yang kau bayangkan So Min, aku sama sekali tidak memukulnya, bahkan menyentuh pun tidak."
"Terus setelah itu bagaimana?"
"Lalu setelah itu.. rahasia! Hehe."
"Ah ... Yoona ... ayolah, jangan membuatku mati penasaran begitu."
"Maaf So Min, sepertinya busku sudah datang, aku duluan ya, sampai jumpa lagi."
"Dasar Yoona, akukan jadi penasaran."
Park Yoona dan So Min berpisah di halte bus. Yoona yang tengah dalam perjalanan pulang ke rumahnya didalam bus tak menyangka akan bertemu dengan orang yang hendak mengganggunya.
Yoona didatangi oleh seorang pria yang cukup tua, seperti sudah berkeluarga atau berkepala empat.
"Maaf, apa boleh saya duduk disini?" ucap seorang pria misterius pada Yoona.
"Ah ... tentu pak, silahkan," jawab Yoona.
Bapak itu pun duduk disebelah kursi Yoona, namun Yoona tidak menyadari bahwa bapak yang duduk di sebelahnya itu mempunyai niat jahat padanya.
Yoona yang sedang memandang keluar dari jendela bus tak melihat tangan jahat yang hendak masuk ke selangkangannya, dan ketika jari bapak jahat itu 3 cm lagi menyentuh Yoona, tiba-tiba terdengar suara pria yang menghampirinya.
"Hei brengsek! itu tempat dudukku, bisakah kamu pergi."
"Lee Joon?!!" sentak Yoona yang terkejut melihat Lee Joon yang satu bus dengannya.
"Dasar anak muda ini, jaga mulutmu! memangnya mana buktinya kalau ini tempat dudukmu hah!" jawab pria aneh yang hendak berniat jahat pada Yoona tadi.
"Ini tiketku, dan nomor kursinya jelas di tempat bapak duduk sekarang, nomor 45," jawab Lee Joon dengan nada agak keras.
"Dasar anak kurang ajar, disanakan masih banyak kursi kosong!" pria aneh itu masih tak mau mengaku.
"Jadi bapak tidak mau pindah, kalau begitu sekalian saja aku buat bapak keluar dari bus ini bagaimana?" ucap Lee Joon dengan tatapan sinis.
"Hei! Lee Joon! apa-apaan kamu, diakan cuma orang tua, kamu saja yang mengalah sana," sambung Yoona yang tak tahu apa-apa.
"Kamu diam! jangan ikut campur! karena bapak brengsek ini mau mencabuli mu tadi," ucap Lee Joon dengan sorotan mata yang tajam ke arah pria aneh tersebut.
"Apa!" ucap Yoona tak percaya.
"Hei kamu jangan asal menuduh! bahkan kamu tidak punya buktinya!" ucap pria aneh itu dengan wajah yang mulai cemas.
"Bukti ya ...," gumam Lee Joon dengan tersenyum kecil.
Lee Joon mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan foto yang mana di foto itu adalah foto bapak-bapak yang akan mencabuli Yoona terlihat sangat jelas, dan tangannya yang akan meraba-raba di ************ Yoona. Melihat foto itu, spontan bapak-bapak itu berteriak pada supir untuk menghentikan busnya.
"Stop!! hentikan busnya sekarang!" teriak pria aneh itu dengan wajah cemas.
Bus berhenti dan orang jahat itupun ditendang keluar oleh Lee Joon dari pintu bus.
"Aduh!!"
"Dasar sampah! jangan pernah menunjukkan dirimu lagi dihadapan ku!"
Mendengar bentak Lee Joon, orang cabul itu pergi dengan cepat dengan wajah cemas dan takut.
Pukul 18.00 Di dalam bus ....
Lee Joon dan Yoona duduk bersebelahan. mereka terlihat canggung dan kaku. hingga akhirnya mereka sampai di halte tempat pemberhentian mereka. Lee Joon turun duluan dan disusul oleh Yoona. Mereka berjalan bersama walau tidak sejajar, Lee Joon berjalan lebih dulu didepan Yoona.
Tiba-tiba Lee Joon berhenti, dan itu juga membuat langkah Park Yoona ikut berhenti. Lee Joon membalikkan badannya dan menghampiri Yoona, dan sekarang mereka sedang bertatapan.
"Ada apa? kenapa kau kesini?" tanya Yoona yang sedikit mundur dari Lee Joon.
"Ada apa? bukankah kau perlu mengatakan sesuatu padaku," jawab Lee Joon.
"Apa maksudmu, memangnya aku harus mengatakan apa padamu," jawab Yoona yang bingung.
"Kalau tahu begini sebaiknya aku biarkan saja orang tadi mencabuli mu!" ujar Lee Joon pada Yoona.
Lee Joon membalikkan badannya dan kembali berjalan meninggalkan Yoona sendiri, namun langkah kaki Lee Joon terhenti karena tangan Yoona yang menahan baju Lee Joon.
"Terimakasih! terimakasih karena telah menyelamatkan ku ...," ucap Yoona dengan nada malu-malu.
Lee Joon terdiam, ia masih membelakangi Yoona, hingga Yoona berkata.
"Sebenarnya sejak awal aku sudah tidak nyaman dengan bapak itu, dan ternyata benar, dia mempunyai niat jahat terhadap ku, aku sangat berterima kasih padamu, Lee Joon," ujar Yoona yang berterimakasih pada Lee Joon.
Mendengar itu, Lee Joon membalikkan badannya dan menatap Park Yoona sesaat, lalu dia pergi begitu saja. Setelah Lee Joon pergi dan tak kelihatan lagi dari mata Yoona, tiba-tiba kata itu keluar sendirinya dari mulut Yoona.
"Apa itu tadi? kenapa dia tersenyum padaku?" gumam Yoona bicara sendiri setelah Lee Joon pergi meninggalkannya sendiri.
Setelah kejadian itu ....
Dirumah Park Yoona ... Pukul 20.00 malam ....
Park Yoona sedang melamun di kamarnya, entah apa yang membuatnya melamun namun itu tersadarkan dengan suara teko yang menandakan airnya sudah matang. Yoona mengambil teko listrik itu dan menuangkan air panasnya ke wadah yang didalamnya berisi ramyeon.
"Hampir saja ... kenapa juga aku memikirkan hal itu, padahal aku sudah berterima kasih padanya, tapi responnya ...," gumam Yoona.
Park Yoona kembali teringat dengan senyuman Lee Joon sebelum Lee Joon pergi meninggalkan Yoona pas di perjalanan mereka pulang tadi.
"Aaaahk!! kenapa ini? ada apa denganku?! kenapa wajah batu es itu tidak mau hilang dari kepala ku," gumam Yoona yang bicara sendiri seperti orang gila.
Ting!!
"Yoona, apa kamu sudah tahu kalau acara ospek jurusan kita akan diadakan pada malam besok, katanya kita akan ke puncak. Jangan bilang kalau kau lupa!" bunyi pesan yang dikirim oleh So Min pada Yoona.
Melihat pesan dari So Min, Yoona terkejut dan langsung membalas pesan dari temannya itu.
"Hehe, maaf So Min kau benar, aku kelupaan. Tapi jangan khawatir, aku sudah menyiapkan keperluan ku untuk itu, semuanya sudah kumasukan ke tasku,"
Ting!
"Apa? tas? heh Yoona, kita itu mau ke puncak dan berkemah disana, seharusnya kau membawa carrier (tas untuk mendaki gunung),"
Yoona baru ingat! kalau ospek jurusannya bukan di ruangan tapi outdoor di alam terbuka. Dia pun bergegas mengemas barang-barangnya tanpa membalas lagi pesan So Min.
1 jam kemudian ....
"Haah ... akhirnya selesai juga, aku bahkan tidak sempat memakan ramyeon ku, dan ini sudah dingin," gumam Yoona setelah mengemas barang-barangnya.
Ting!
"Satu lagi, besok kita di suruh berkumpul di depan gedung jurusan kita, dan mempersiapkan semuanya untuk acara kegiatan ospek jurusan kita, cepatlah tidur dan jangan sampai terlambat," satu pesan lagi dari So Min.
Setelah membaca pesan dari So Min, Park Yoona pun bergegas tidur.
Keesokan harinya ... Kamis 23 April 2025.
Di depan gedung jurusan sastra Indonesia ....
Semuanya sudah ramai dan bersiap untuk pergi ke acara ospek tahunan ini. Nampak Jun Hyung yang sedang berdiri di depan anak-anak mahasiswa baru berteriak menyuruh semuanya berkumpul dan berbaris.
"Ayo semuanya, cepat berbaris yang rapi dan periksa kembali peralatan dan barang-barang kalian yang ada di dalam carrier," teriak Jun Hyung pada semua anak-anak mahasiswa baru itu.
Dan sampailah Park Yoona dan So Min, mereka langsung bergabung dengan yang lainnya. Namun dipikiran Yoona masih saja terbayang dengan senyuman Lee Joon kemaren.
"Yoona! Sadarlah ... sadarlah ...," gumam Yoona dalam hatinya.
Pak Kim datang menghampiri Jun Hyung, beliau bertanya pada Jun Hyung.
"Jun Hyung, apa semuanya sudah lengkap? kalau sudah suruh mereka masuk ke bus dan kita berangkat, sebelum harinya gelap, nanti kita terlambat," ucap pak Kim pada Jun Hyung si ketua pelaksana ospek.
"Ah iya pak, akan saya instruksikan kepada semua mahasiswa baru," jawab Jun Hyung.
Yoona yang mendengarkan pembicaraan pak Kim dan Jun Hyung itupun langsung menghampiri mereka ke depan.
"Tunggu dulu!" sergah Yoona pada pak Kim dan Jun Hyung.
"Park Yoona?!!" saut Jun Hyung dan pak Kim.
"Saya tidak melihat si manusia dingin itu, apa dia tidak ikut?" ucap Yoona menanyakan si Lee Joon.
"Maksudmu Lee Joon?" jawab Jun Hyung.
Pak Kim baru teringat, kalau anak itu belum terlihat batang hidungnya dari pagi, itu membuat pak Kim dan Jun Hyung khawatir.
"Haduh ... kemana sih anak itu, bikin khawatir saja," gumam Jun Hyung.
"Jun Hyung, coba kau hubungi dia dengan ponselmu," ucap pak Kim pada Jun Hyung.
"Baik pak," jawab Jun Hyung.
Disaat Jun Hyung mencoba menghubungi Lee Joon, para mahasiswa baru sudah bosan menunggu dan ingin segera cepat pergi karena mereka tidak sanggup lagi dengan teriknya panas matahari.
"Pak, kapan kita akan pergi, kami sudah lelah berjemur seperti ini, acaranya jadi gak sih?" tanya salah satu mahasiswa baru dari barisan.
"Ah tenanglah, kita akan berangkat sebentar lagi," jawab pak Kim.
Jun Hyung menghampiri pak Kim.
"Maaf pak, ponsel Lee Joon sepertinya tidak aktif, apa saya coba kerumahnya?" ujar Jun Hyung pada pak Kim.
"Kalau kamu yang pergi, aku tidak bisa mengontrol anak-anak mahasiswa baru, kau lihat saja mereka sudah tidak sabar untuk pergi," jawab pak Kim.
"Kalau begitu biar saya saja yang pergi kerumahnya!" sambung Park Yoona.
"Park Yoona! jangan sebaiknya kamu-"
"Tenang saja pak, saya saat SMA adalah juara lomba lari tingkat nasional, kalau begitu saya pergi du-" ucap Yoona yang memotong perkataan pak Kim.
Buukh!!
Yoona menabrak seseorang dan terjatuh.
"Kau buta apa memang suka menabrak orang sih?!" ucap seseorang yang ditabrak oleh Yoona.
Pak Kim, Jun Hyung, bahkan sendiri Yoona terkejut, bahwa orang yang ditabraknya adalah orang yang mereka tunggu.
"Lee Joon!" ucap Yoona, Jun Hyung, dan pak Kim secara bersmaan.
Semua mahasiswa baru terutama para wanita sangat terkejut dan heboh. Kerena didepan mereka ada seorang malaikat tampan yang baru saja datang.
"Wahh ... siapa dia? tampan sekali."
"Iya, rasanya seperti melihat artis."
"Bukan artis tapi lebih ke aktor, ya kan. Duh ... tampannya."
Di tengah kehebohan itu, tiba-tiba Lee Joon mengulurkan tangannya pada Park Yoona yang masih terduduk di tanah.
"Cepat berdiri, apa kau mau membuat semuanya terlambat, nanti kita semua tidak jadi berkemah gara-gara kamu hanya duduk disitu,” ucap Lee Joon sambil mengulurkan tangannya pada Yoona.
Mendengar itu, spontan Yoona menepis tangan Lee Joon dan langsung berdiri.
"Gara-gara aku! kamu tidak melihat, karena kamu kami semua jadi terlambat dan harus berjemur ditengah panas seperti ini, ini semua adalah salah mu kenapa menyalahkan aku!" ucap Yoona yang kesal terhadap Lee Joon.
Melihat Yoona mengomeli Lee Joon, spontan lagi si So Min langsung menghampiri dan kembali menutup mulut Yoona dan kembali menariknya pergi sambil meminta maaf.
"Ah ... maafkan teman saya ya, saya rasa dia terlalu bersemangat untuk acara ospek jurusan tahun ini, haha ... kalau begitu kami permisi," ucap So Min pada Lee Joon, Jun Hyung, dan pak Kim sambil menarik Yoona pergi ke arah mahasiswa yang lain.
So Min pun membawa Yoona pergi dengan menyeretnya. Sedangkan pak Kim, Jun Hyung, dan Lee Joon masih berbicara.
"Kamu kemana saja? apa kamu-"
"Sudahlah Jun Hyung, sebaiknya kita berangkat sekarang, atau kamu ingin melihat para mahasiswa baru membunuh mu," ujar Lee Joon memotong perkataan si Jun Hyung.
Para mahasiswa baru yang kepanasan semakin ribut dan mulai tak terkendali.
"Jun Hyung, suruh mereka masuk ke bus, kita akan pergi sekarang," ucap pak Kim pada Jun Hyung.
"Ah baik pak."
Mereka pun masuk ke bus masing-masing sesuai dengan nomor tempat duduk yang telah dibagikan secara acak. Dan perjalanan ke puncak pun di mulai.
30 menit kemudian ....
Yoona terbangun dari tidurnya, ia melihat diluar bus masih dengan pemandangan hutan belantara yang rimbun dan lebat, saat Yoona tengah asyik memandangi hutan dari jendela bus, tiba-tiba seseorang yang duduk disebelahnya berbicara padanya.
“Kau sudah bangun? Aku tidak menyangka perempuan juga bisa mendengkur lebih keras dari pria.”
“Lee Joon! Kenapa kamu bisa duduk disini? Apa kamu dendam padaku? apa kamu merasa paling tam-“
“Bahkan saat kau bangun pun lebih berisik dari pada saat kau tidur, dan satu hal lagi, aku tidak dendam dan membuntutimu sama sekali, karena ini memang kursi ku,” ucap Lee Joon memotong Yoona yang mulai merepet.
Mendengar penjelasan Lee Joon, Yoona mau tak mau harus duduk disebelahnya seharian hingga sampai tujuan.
Malam pun tiba, dan mereka akan tiba di puncak pada saat pagi harinya, tepat setelah semua orang di bus telah tertidur pulas, dan hanya pak supir dan Lee Joon yang belum tidur, pak supir pun bertanya pada Lee Joon yang terlihat masih belum tidur dari kaca spion.
“Ehmm ... kenapa kau masih belum tidur? Tidurlah, nanti kau tidak fit ketika kita sampai di tujuan besok,” ucap pak supir pada Lee Joon sambil melihatnya di kaca spionnya.
“Saya tidak bisa tidur,” jawab Lee Joon yang juga menoleh ke arah spion.
“Apa kau mau minum kopi sebentar? Kalau kau mau kita bisa meminggirkan busnya sebentar untuk itu, lagi pula aku juga mulai mengantuk karena hawa dingin hutan ini, jadi bagaimana?” ujar pak supir pada Lee Joon yang mengajaknya minum kopi.
“Tidak terimakasih, saya akan coba untuk menutup mata saya saja,” pungkas Lee Joon menjawab tawaran minum kopi dari pak supir tersebut.
10 menit kemudian, pukul 01.23 wib ditepi lereng bukit dengan suasana hutan yang gelap dimalam hari, bus yang membawa rombongan mahasiswa itu berhenti tepat disebuah tikungan atas permintaan seorang yang menolak untuk minum kopi.
“Aduh! Panas ... panas ...,” sentak Lee Joon yang tak tahu kalau kopinya itu masih panas.
“Jadi ... apa yang membuatmu berubah pikiran? Bukannya tadi kau bilang tidak mau minum kopi?” tanya pak supir bus pada Lee Joo.
“Maaf soal itu, tapi apa tidak apa-apa kita seperti ini, bagaimana jika mereka bangun,” ucap Lee Joon dan bertanya balik pada si supir.
“Tenanglah, mereka tidak akan bangun pada jam segini karena aku sudah hafal betul apa yang akan kita lakukan dari awal sampai akhir perjalanan kalian ini, itu karena aku sudah menghabikan sisa hidupku ini hanya untuk menyupir bus kampus kalian ini,” ujar pak supir menjawab Lee Joon.
Mendengar itu, Lee Joon merasa tak enak dengan sikapnya pada pak supir itu tadi.
“Sepertinya saya sudah memperlakukan bapak kurang baik tadi, saya minta maaf kalau begitu,” ucap Lee Joon pada pak supir.
Pak supir itu hanya tersenyum sambil meminum kopinya mendengar permintaan maaf dari Lee Joon, dan pak supir itupun menjawab.
“Ah ... tidak apa-apa, tapi ini pertama kalinya ada mahasiswa tampan yang meminta maaf atas hal sepele seperti menolak ajakan minum kopi, haha,” jawab pak supir sambil tertawa ke arah Lee Joon.
“Saya tidak tampan sama sekali,” ucap Lee Joon yang salah tingkah dan menyeruput kopinya.
Tiba-tiba pak supir itu mengatakan hal yang membuat Lee Joon terkejut dan bingung.
“Ngomong-ngomong, buku apa yang kau baca tadi didalam bus? Aku tahu kau tidak tidur dan terus membaca buku itu,” ucap pak supir yang bertanya pada Lee Joon.
“Dari mana bapak tahu kalau saya sedang membaca buku?” tanya Lee Joon dengan wajah penasaran.
“Aku melihat semuanya dalam kaca spionku, dan aku juga melihat kau membenarkan posisi tidur pacar mu yang tidur disebelah kursi mu itu,” ujar pak supir pada Lee Joon.
Mendengar kata pacar Lee Joon sontak membantah dan salah tingkah.
“Apa? Pacar? Bukan, dia adalah juniorku, bahkan kami baru kenal baru-baru ini, bapak salah paham,” jawab Lee Joon.
Pak supir kembali tertawa melihat tingkah Lee Joon yang salah tingkah itu.
“Iya baiklah, tapi jika kalian ditakdirkan sebagai sebuah pasangan dimasa depan, aku orang pertama yang akan menyetujui hal itu, karena kalian terlihat sangat cocok dan romantis,” ucap pak supir lalu menyeruput habis kopinya.
“Tidak akan, aku rasa kami benar-benar tidak cocok,” jawab Lee Joon sambil memalingkan matanya.
“Iya-iya, cepat habiskan kopimu nanti kita akan terlambat ke puncak,” ucap pak supir pada Lee Joon.
Lee Joon langsung meneguk kopinya itu, dan membantu pak supir itu membersihkan gelas bekas mereka minum kopi.
Saat Lee Joon dan pak supir tengah membersihkan gelas bekas mereka minum kopi, ternyata Park Yoona belum tidur sama sekali, dia mendengarkan semua obrolan Lee Joon dan si pak supir itu dengan sangat jelas, karena mereka minum kopi tepat dibawah jendela tempat duduknya Yoona.